
Keadaan Arsakha kian memburuk, Nico datang bersama Naora. Mereka membawa pangeran kecil mereka, Gabbriel Nicolas adalah namanya. Papah Rendra,dan Mamah Devi tengah menunggu di luar. Pasalnya, dengan kondisi Arsakha saat ini. Mereka di larang oleh dokter, hanya satu orang saja yang bisa mengunjungi nya, itu pun juga terbatas.
"Om,tante" saut Nico.
Papah Renda dan Mamah Devi baru saja sampai tadi sore, mereka langsung segera datang ke Rumah Sakit. Nampak memprihatinkan kondisi Arsakha yang saat ini, sama seperti yang lain. Musa juga memikirkan bagaimana kondisi Arsakha, ia meminta Daffa untuk tidak jadi menjenguk nya. Karena Musa sendiri lah yang akan menjenguk Arsakha, bagaimana pun. Arsakha adalah teman nya.
"Aku harap kau baik-baik saja" gumam Musa.
Ia memilih masuk ke dalam ruang kerja nya, dan kembali melanjutkan pekerjaan nya. Meidina tengah memasak di dapur, hubungan di antara kedua nya mulai membaik sekarang. Meskipun Meidina belum sepenuhnya, menaruh hati nya pada hati Musa.
Hari demi hari berganti,kali ini Adam tengah menemani Arsakha di dalam sana. Nico masuk, ia melirik sedih sahabat nya itu.
"Adam" saut Nico mendekati Adam.
"Iya" lirik Adam.
"Kau masih belum ber baikaan dengan Arsakha?" tanya Nico.
"Hm, aku belum berbaikan. Tapi, aku sudah memaafkan kesalahan nya" jawab Adam.
"Sudah lah Adam, kita adalah sahabat dari muda hingga tua nanti" ucap Nico.
"Tapi, bagaimana pun juga. Aku adalah seorang kakak,aku akan sangat terluka jika adik perempuan ku di sakiti oleh seorang lelaki" ucap sendu Adam.
"Hm, aku mengerti Dam" ucap Nico, ia mengelus punggung Adam. Dan mereka berdua, menunggu Arsakha bangun dari koma nya.
"Aku harap, Arsakha bisa membuka lembaran baru. Dan melupakan adik ku" ucap Adam.
"Aku juga berharap seperti itu, ku dengar, adik mu sudah menikah lagi" saut Nico.
"Ya, dia di paksa menikah. Namun ayah membiarkan nya, karena inginia membuka hati nya untuk pria lain" ucap Adam bernapas berat.
"Lalu, apa kah adik mu menerima pria yang menjadi suaminya itu?" tanya Nico pada Adam.
__ADS_1
"Aku rasa, ia belum bisa membuka hati nya sampai saat ini" ucap Adam.
"Dia akan menerima nya cepat atau lambat, kau bersabar lah" ucap Nico,ia mengelus punggung Adam.
Adam terdiam,ia masih melihat sendu Arsakha yang tengah berbaring lemah. Papa Rendra sudah sangat kewalahan, ia harus membolak balik kan pikiran nya. Karena soal perusahaan Arsakha, dan bisnis-bisnis putra nya.
Ke esokan hari nya, mereka semua berdoa demi kesehatan Arsakha agar membaik, tak hanya mereka yang mendoakan. Musa pun juga, ia berdoa di negeri sebrang. Musa ingat akan persahabatan nya dengan Arsakha, ada rasa bersalah di benak nya karena sudah mengambil paksa Meidina.
Semakin hari, kondisi Arsakha mulai membaik. Dokter mengatakan, kemungkinan besar seminggu lagi Arsakha akan bangun dan tersadar. Meskipun sangat lemah, itu pun ia harus melakukan terapi setelah kondisi nya membaik.
Semuanya tentu sangat bahagia ketika mendengar kabar tersebut, dengan fisik yang lemah. Arsakha perlahan-lahan membuka mata nya, ia melihat bayang-bayang Meidina di sisi nya.
Meidina tersenyum ke arah nya, dan Arsakha pun ikut tersenyum. Tiba-tiba, sebuah cahaya putih muncul kembali dan menyilau kan mata nya.
"Dimana aku?" gumam Arsakha dalam mimpi nya.
"Meidina?" gumam nya, ia melihat Meidina tengah bergandengan tangan dengan seorang anak kecil. Dan perlahan mulai menghilang, dari hadapan nya.
"Tidak" Sakha mengejar kilat cahaya itu, sangat berat untuk nya berlari hingga ia terjatuh. Dan tersadarkan, Sakha melihat buram langit-langit ruang rawat nya.
Ia merasakan kaki nya tak bisa di gerak kan, Sakha mengibaskan selimut nya dan membulatkan mata nya, ketika ia melihat banyak nya perban yang melilit di kaki nya.
"Ada apa dengan kaki ku!" teriak Sakha.
Papah Rendra dan Mamah Devi yang berada di luar pun, segera masuk kedalam.
"Sakha" ucap sendu mamah devi.
"Mah, apa apa dengan kaki ku" ucap Sakha histeris.
Mamah Devi datang, dan memeluk putra nya. Sangat sebuah keajaiban, Arsakha bangun dan pulih dengan cepat. Papah Rendra menatap Arsakha lama, ia menitik kan air mata nya dan memeluk putra semata wayang nya.
Nico dan Adam memanggil dokter, Adam memutuskan untuk di luar menunggu kabar lebih lanjut nya. Sang dokter masuk ke dalam ruang rawat VVIP, Nico menemani Adam di luar.
__ADS_1
"Dimana si pangeran kecil?" tanya Adam pada Nico.
"Dia bersama mommy nya di hotel, kau tahu. Mengurus seorang anak sangat lah melelahkan, dan menjengkelkan" jawab Nico, ia menyandarkan kepala nya di dinding.
"Memang kenapa?" tanya Adam.
"Mereka selalu menangis,dan sangat manja. Aku lebih baik berperang di medan perang,di banding kan harus merawat anak" ucap Nico.
"Dam, kau tidak melihat Arsakha ke dalam?" sambung Nico, Adam hanya menggeleng-geleng kan kepala nya.
"Apa kah Arsakha akan menerima takdirnya, menjadi seorang pria lumpuh sekarang" ucap pasrah Adam.
"Entahlah, dulu ia hanya pura-pura lumpuh karena sangat tergila-gila pada Adelia. Sekarang, ia harus menerima kenyataan bahwa ia lumpuh sungguhan" ucap Nico dengan suara pelan.
Di dalam, Arsakha tengah di periksa oleh Dokter. Luka-luka pada tubuh Arsakha tidak akan sembuh dengan cepat, begitu juga dengan kaki nya. Kemungkinan besar, ia tidak akan bisa berjalan, dan memerlukan kursi roda untuk membantu nya.
"Mah, pah" saut Arsakha.
"Tidak apa sayang, kau pasti akan sembuh" ucap Mama Devi.
Arsakha menggeleng kan kepala nya.
"todak mah, bukan itu. Dimana Meidina?" tanya Arsakha, sontak mereka berdua diam.
Papah Rendra pun bingung untuk mengatakan hal apa, apa ia harus mengatakan Meidina sudah menikah lagi, pikir nya.
Arsakha teringat Musa, ia menitik kan air mata nya.
Apa aku harus ikhlas,melihat Meidina bersama Musa. Mau bagaimana pun, ini semua adalah kesalahan ku sendiri. Putraku,maaf kan ayah yang karena sudah menyakitimu dan bunda. Ayah sudah menerima karma atas kesalahan ayah, kau baik-baik lah di atas sana. Ayah akan selalu mendoakan mu, dan kebahagiaan bunda. Batin Arsakha.
Arsakha menangis, ia melirik sebuah jam di dinding. Tepat pukul lima sore, ia mengingat kembali kenangan bersama Meidina saat di Mansion. Meidina yang selalu merawat dan menjaga nya, namun kini.
Ia harus berdiri seorang diri, atas kebodohan nya di masa lalu membuat nya menyesal. Menyesali perbuatan nya yang sekarang, itu sudah terlambat. Arsakha harus melakukan pengobatan untuk kaki nya, ia ingat ada seorang gadis yang pernah menolong nya.
__ADS_1
Sakha ingat jelas gadis itu, di sela - sela akan pingsan nya. Gadis yang sudah menyelamatkan nya kala itu, Adam dan Nico datang ke dalam. Membuat Arsakha sangat terkejut, Adam sangat membenci Arsakha kala itu.
Mereka bertemu hanya satu kali saja, saat Adam menelepon Arsakha meminta bantuan untuk mencari keberadaan Meidina. Arsakha nampak lemah menatap Adam,yang berada di depan nya.