Penyesalan CEO Lumpuh

Penyesalan CEO Lumpuh
SALAH PAHAM


__ADS_3

Arsakha sudah sampai di mansionnya, Ia membawa Soraya dengan ala bridal style dengan membawa Soraya masuk ke dalamnya tersebut. Soraya yang nampak sama pulas tertidur dari tadi, ia tak kunjung bangun sampai akhirnya Soraya pelan-pelan membuka kedua matanya.


Lalu melirik Arsaka yang tengah menggendongnya tersebut, Soraya terkejut dan ia mendorong keras Arsakha sehingga mereka berubah pun jatuh ke bawah bersama. Sakha sangat meringis kesakitan, lalu ia mmenatap intens Soraya yang tidak tahu diri itu.


Ketika sudah dibantu, ia malah mendorong Arsakha. Sehingga membuatnya pun jatuh dan kesakitan. "Maaf, maafkan aku. Aku tidak sengaja." ucap Soraya.


Sakha berdiri, lalu merapikan bajunya itu yang berantakan. "Minggir, aku mau ke kamar, kau cepatlah berganti pakaian dan Istirahatlah di kamar!" tegas Arsakha.


Ia berjalan dengan cepat, menuju kamarnya yang berada di lantai atas. Soraya pun berjalan dengan pelan masuk ke dalam kamarnya. Namun Arsakha kembali menetapinya dengan tatapan yang begitu tajam. Sehingga, membuat Soraya bergidik ngeri melihat tatapan tajam Yang Arshaka berikan itu.


"Aku ingi akan beristirahat, kau beristirahat lah!" ucap tegas Sakha.


"Dia sangat galak, aku sangat takut" batin Soraya.


Arsakha masuk ke dalam kamarnya, dan menutup pintunya dengan rapat-rapat. Ia membersihkan dirinya yang sudah mulai kucel tersebut. Soraya Kembali keluar dari kamarnya, untuk mengambil makanan dari dapur. Namun hal sial menimpanya, ketika ia bertemu dengan Arsaka yang baru saja keluar dari kamarnya.


Arshaka melihat lekat Soraya, ia berjalan dengan pelan mendekati Soraya. Namun Soraya gugup, dan mencoba menetralkan kembali perasaannya yang tengah gemetar itu.


"Kau sedang apa?" tanya Sakha pada Soraya.


Ia mendongkak dengan pelan menetap suaminya tersebut. "Aku ingin makan, tapi bahan-bahan yang perlu ku butuhkan sudah habis" ucap Soraya, atau kapan melihat isi kulkas yang sudah kosong.


Dan tidak ada apa-apa, di dalam sana.

__ADS_1


"Apa pelayan kita tidak membeli bahan makanan? lalu apa saja tugas mereka di mesin ini selain menyiapkan makanan untuk kita?!" tegas Arsaka.


ia hendak akan pergi menemui para pelayan. Namun Soraya berhasil menghalanginya, Arsakha hampir saja akan membawa kekacauan malam-malam hari begini. Beruntungnya, Soraya berhasil menghentikan Arsakha yang akan pergi tersebut.


"Sudah tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Lagi pula, aku tidak terlalu lapar. Mungkin hanya perlu mengganjal perutku saja." ucap jelas Soraya.


Arsakha yang notabenenya tak gampang percaya kepada seseorang. Ia menetap kembali Soraya, lalu menggendong Soraya dengan ala-ala bridal style yang seperti tadi waktu pulang.


Soraya terdiam, ia masih bingung dengan sikap Arsakha yang mendadak seperti ini. Berbicara salah l, menendang salah. Soraya hanya memilih untuk diam untuk mencari amannya saja.


Arsakha membawa Soraya ke dalam kamarnya, ia Mengunci pintu itu. Dan menghempas Soraya di ranjang besar miliknya. Sorsya nampak ketakutan, keringat dingin dan keringat panas pun bersatu dengan bulu kuduknya yang berdiri.


"Hei, jangan berpikiran yang aneh-aneh ya! Aku tidak akan apa-apakan mu! Kau kan istriku, sudah sepantasnya kau berada di tempat tidurku." ucap Sakha.


"Ini, makanlah. Aku tahu, kau pasti sangat lapar tapi jangan terlalu banyak makan. Itu tidak baik untuk kesehatanmu" ucap Sakha.


Soraya pun mengambilnya, dan lalu membuka plastik roti gandum tersebut.


"Berhati-hatilah! Jangan sampai kau mengotori sprei kasurku! atau, aku akan menghabisimu malam ini juga!."


Ancaman Arsakha nyaris membuat jantung Soraya putus dan Berhenti Berdetak. Ia masih tidak percaya, dengan perilaku Arsakha yang gampang berubah saat ini. Arsakha mengambil sebuah laptopnya, yang berada di sofa dekat rak rak buku miliknya.


Ia duduk di sofa tersebut, lalu memangku laptop kesayangannya tersebut. Arsakha nampak seperti saat kelelahan, Soraya pun tersadar. Menjadi seorang Presedir Arsakha Virendra Alfarizqi, sangat tidaklah hal yang mudah bagi semua orang bisa melakukan semuanya.

__ADS_1


Soraya terdiam, sambil mengunyah roti gandum tersebut di dalam mulutnya. Di tambah lagi, ia disuguhkan pemandangan indah wajah sang suami yang selalu bersinar itu. Arshaka yang melihat dirinya di tatapi terus oleh Soraya mulai kesal. Karena Sakha merasa sedang diawasi.


"Alihkan pandanganmu l, atau aku akan mencabut kedua bola matamu itu." ucapan Sakha membuat Soraya kembali ketakutan.


Soraya pun tertunduk sambil menitikan air matanya, rasa takut pun menghantuinya. Tidak habis pikir, ternyata harus ada pria yang begitu yang suka Ngomel dan juga kejam. pikir Soraya dalam .


Percakapannya membuat panjang ia mendekati Soraya yang tengah terisak dalam tangisnya tersebut. "Sudah jangan menangis, aku hanya bercanda. Kenapa kau menganggap ku selalu serius!?" ucap Arsakha meyakinkan.


Ia berlutut kaki di hadapan Soraya, ia memegang kedua jari jemari Soraya yang begitu dingin tersebut melihat bola yang hitam dan bersih itu.


"Dengarkanlah, aku tidak akan pernah menyakitimu Sora. Meskipun aku membencim, tapi ingatlah aku tidak akan pernah melepaskan tanggung jawabku sebagai suamimu. Untuk melindungimu di setiap jiwa dan ragamu, kumohon jangan buat aku merasakan penyesalan ke yang dua kalinya.


Aku sudah sangat menyesal di Season 1, dan kali ini aku tidak ingin kehilanga wanita yang aku sayangi kembali kau mengganti. Soraya kadang masa lalu membuat kita lebih, dewasa dan juga masa lalu membuat kita berpikir akan kesalahan tersebut. Untuk tidak dilakukan kembali."


Ucapan Saka membuat Soraya semakin salah paham, ia berpikiran bahwa Arshaka belum bisa move on dari Medina.


Soraya yang mengangguk pelan, ia berdiri dari tidurnya lalu menghapus air matanya yang jatuh bergelimangan tersebut.


" Aku mengerti aku ingin di kamarku saja. Aku tidak ingin berada di kamarmu lama-lama, aku sadar diri aku siapa." ucap ucap Soraya.


Arsaka pun semakin frustasi dengan apa yang telah Ia ucapkan. Ia berpikir bahwa setiap kalimat yang ia ucapkan, selalu salah. Padahal memang hakikatnya wanita memang langsung dituntut. Untuk ketenangannya juga, untuk dipahami soalnya hendak akan melangkahkan kakinya namun menarik tangannya sehingga suaranya pun terjatuh di dalam pangkuannya.


Dan mereka jatuh ke kasur yang empuk itu. Suara yang jatuh di dalam bidang Arsakha, Ia menanamkan rasa malu karena wajahnya merah merona. Percaya bahwa hal ini akan terjadi dalam hidupnya, nampak terus frustasi juga dengan apa yang yang telah Ia beban selama ini.

__ADS_1


Soraya berdiri langsung kabur dari hadapan Arsakha tanpa sepatah katapun titik asal kau yang melihat tingkah konyol istrinya hanya mencoba tahan gelak tawanya itu seharusnya ia harus rajin mengerjai Soraya yang seperti gadis polos tersebut.


__ADS_2