Penyesalan CEO Lumpuh

Penyesalan CEO Lumpuh
BERTEMU SANG MANTAN


__ADS_3

...‘’ Kita sepakat, jika mengikhlaskan adalah perkara yang sangat sulit untuk dilakukan.’’...


...Meidina & Arsakha...


.........


... ...


Arsakha masuk kedalam ruangan kerjanya yang dipenuhi oleh berkas-berkas yan menumpuk di atas mejanya. Ia menjalankan kursi rodanya dengan sangat mandiri, sampai akhirnya Nico datang kehadapannya tanpa dosa.


‘’Hai…. My Friend!.....’’ ucap Nico, dengan nada tinggi yang tengah meneriaki sahabatnya tersebut.


‘’Cih, dia lagi-dia lagi’’ gumam Arsakha yang tengah memijat pelan pelipis matanya.


Melihat tingkah konyol sahabtnya yang satu ini, membuat Arsakha geleng-geleng kepala. Padahal, Nico adalah seorang mafia yang penuh dengan ketegasan dan kekejaman.


Syukurlah sahabatnya yang satu lagi masih waras, siapa lagi jika bukan Leonadam Abraham atau biasa dipanggil Adam, ia juga mantan kakak ipar dari Arsakha.


Nico berjalan pelan ke arah Arsakha yang tengah merapihkan berkas-berkas yang di atas mejanya. Nico duduk di sofa tamu, sejenak ia melihat pemandangan kota dari jendela transparan perusahaan Arsakha dari dalam.


Dengan kaki yang menopang sebelah, Nico menghembuskan nafasnya dengan sangat berat.


‘’Hushhhh…..’’ Nico mengeluarkan berat nasafnya, yang dapat didengar oleh telinga Arsakha.


Seketika itu, Arsakha pun langsung meliriknya dan mengerutkan kening.


‘’Kau kenapa Susi?’’ tanya Arsakha pada Nico.


Nico melirik sahabatnya itu. ‘’Tidak kenapa-kenapa, aku hanya rindu Naora dan putraku saja yang saat ini tengah berada di Negara Italia’’ ucap Nico, Arsakha mengangguk seakan-akan ia juga mengerti.


‘’Oh, kalau begitu kenapa kau tidak pulang saja Nico?’’ tanya kembali Arsakha.


‘’Ayah melarangku pulang, sebelum aku memenangkan kasus penggelapan dana perusahaan. Dan juga, masalah kematian Devanya yang masih misterius’’ jawab Nico, ia mengeluarkan keluh dan kesahnya.


Arsakha mendekati sahabatnya itu, ia menghampiri Nico dengan kursi roda canggihnya yang hanya tinggal berjalan sesuai keinginan Arsakha.


“Nico’’ saut arsakha yang langsung dilirik oleh Nico.


‘’Kematian Devanya adalah resmi dari pembunuhan, dan juga kekerasan terhadap wanita’’ ucap Arsakha, namun Nico menggeleng-gelengkan kepalanya.

__ADS_1


‘’Tidak Sakha, aku menemukan sesuatu hal yang janggal saat kematian para musuh-musuh kita’’ gumam Nico.


Arsakha yang kini tengah duduk bersebelahan dengan Nico, ia mencoba untuk mendengar dengan cermat apa yang Nico katakana.


‘’Jangal? Apa maksudmu Nico?’’ tanya Arsakha penu kebingungan.


Nico melirik intens Arsakha. ‘’Sakha, apa kau ingat dengan keluarga dari istrimu Soraya?’’ tanya balik Nico, namun Arsakha tidak menggubrisnya.


Ia malah balik menatap tajam Nico, dengan tatapan yang sangat tajam Arsakha berikan kepada Nico. Nico hanya menelan salivanya, ia tau betul aura Arsakha ketika sudah marah bagaimana.


‘’Seharusnya, aku tidak mengatakan ini padamu’’ ujar Nico, ia berdiri dari duduknya.


‘’Memang tidak harus’’ ketus Arsakha, yang menatap Nico dengan begitu intens.


Entah kenapa, Arsakha begitu sangat sensitive ketika mendengar nama “SORAYA’’ padahal, dia adala istrinya yang sampai saat ini masih menghilang.


Walaupun anehnya, uang nafkah yang Sakha berikan selalu habis di ATM nya.


‘’Sakha, aku ada urusan dengan Adam. Lain kali aku akan mampir lagi ke perusahaanmu, dan membawakan seorang wanita untuk kau nikahi lagi’’ ucapan Nico langsung didapati rautan wajah tak suka dari Arsakha.


Nico langsung berlari, meninggalkan Arsakha yang tengah seorang diri di ruangannya. Sekejap saja, ia teringat dengan perkataan Nico tentang istrinya.


Arsakhha langsung mengambil ponsel apple yang berada di dalam saku jas nya, ia membuka pola ponselnya dan menggeser jarinya ke suatu aplikasi bernama galeri.


‘’Aku sangat merindukanmu Meidinaku, atau Nurulku…..’’ gumam  Arsakha.


Ia menatap lama foto pernikahannya, tak disangka cairan bening yang keluar dari matanya membasahi pipinya.


Arsakha terdiam, ia mengusap kembali air mata itu dan membenahi kembali ponselnya ke dalam saku jas.


Dan melanjutkan hari-harinya sebagai seorang raja bisnis, Arsakha memulai dengan leptop hitam yang sedari tadi ia pakai untuk mengetik.


Seseorang masuk ke dalam ruangan Arsakha, tanpa ketukan dan sapaan. Orang tersebut datang tanpa dosa, langsung berdiri di hadapan Arsakha dengan menyilangkan kedua tangannya.


Arsakha yang melihatnya hanya menengguk salivanya dalam-dalam. ‘’Papah….’’ Adalah kata yang berhasil keluar dari dalam mulut Arsakha.


Papah Rendra menaiki sebelah alisnya, ia mendekati sang putra dan langsung menyeret kursi roda Arsakha. Arsakha yang sedari tadi tengah terfokus pada pekerjaannya, harus rela terganggu dengan kedatangan sang ayahanda ke kantornya.


‘’Ada perlu apa papah datang kemari?’’ tanya Arsakha to the point.

__ADS_1


‘’Tidak usah banyak bicara, ikut saja kemana papah akan membawamu’’ ucap papah rendra, ia langsung membawa sang putra semata wayangnya pergi dengan paksaan.


‘’Tapi pah, pekerjaan Sakha masih banyak’’ ucap Arsakha yang memberikan alasan.


‘’Kau tidak perlu berkerja untuk hari ini Sakha, kita ada pertemuan penting dengan Ayah Hamzah’’


DEG……


Seketika itu, jantung Arsakha berdetak sangat kencang. Ia tak habis pikir dengan apa yang ayahnya katakan.


‘’Tapi pah, Arsakha yang tidak bertemu dengan Ayah Hamzah. Arsakha malu pah, Arsakha…’’


Arsakha yang belum menyelesaikan bicaranya langsung dibungkam oleh Papa Rendra dengan sebuah berkas yang papah rndr bawa. Arsakha mengerutkan keningnya, ia terdiam dan mengerutkan keningnya.


‘’Apa itu pah’’ tanya arsakha yang bingung.


PLUK!


Berkas dokumen tersebut mendarat tepat di wajah tampan Arsakha, ia semakin bingung dengan apa yang orang tuanya katakana. Sakha membuka isi dokumen tersebut dan membacanya dengan sangat teliti.


 


Ia menelan salivanya dalam-dalam, ketika membaca judul dari isi dokumen yang papah rendra bawa. ‘’KERJA SAMA ANTAR DUA PERUSAHAAN VIRENDRA GROUP DAN HAMZ GROUP’’


Arsakha semakin tak percaya, ia menampar pipinya namun yang ia rasakan adalah nyeri, yang berarti ini adalah sebuah kenyataan.


‘’Ayo Arsakha, kita temui mantan mertuamu dan mantan besanku’’ ajak Papah Rendra, yang mendorong paksa kursi roda milik arsakha.


Arsakha menolak keras, sudah lama Arsakha dan Meidina tidak bertemu, dan kini mereka akan dipertemukan kembali.


‘’Tapi pah, Arsakha ada pertemuan penting dengan Pak Marvin’’ ucap Arsakha yang mencoba mencari alasan.


‘’Itu bisa ditunda, atau bisa diwakilkan. Lagi pula, kaulah rajanya Arsakha. Mengapa kau begitu takut, seharusnya mereka yang takut jika kehilangan dirimu’’ ujar Papah Rendra.


Arsakha tidak bisa membendungnya lagi, mau tidak mau ia harus menuruti kemauan sang papah.


Sekitan 20 menit papah rendra membawa arsakha yang tengah duduk diam dengan sangat tenang.


Mereka sampai di sebuah restoran korea bintang 5 di kota, Papah Rendra mengajak Arsakha turun dari mobil namun Arsakha menolak ia ingin turun sendiri walaupun menggunakan kursi roda nantinya.

__ADS_1


‘’Itu Sakha, Ayah Hamzah, Meidina, ibumu dan baby M. sudah menunggumu di sana’’ ucap Papah Rendra, Arsakha segera mencarinya.


Tepat di depan sana, mata Meidina dan mata Arsaka bertemu setelah sekian tahun tak bertemu. Arsakha segera memalingkan pandangannya, ia tahu kini meidina bukanlah lagi miliknya. Dan juga begitu dengan Meidina, mereka hanyalah sepasang masa lalu yang sama- sama belum melupakan satu sama lain.


__ADS_2