
...Harap bijak dalam membaca dan berkomentar!...
...Ada adegan kekerasan dan sedikit 21+...
...Author masih dalam masa remaja, harap bijak dan dapat memaklumi. Adegan tidak pantas untuk di tiru!!!...
.........
Meidina meronta-ronta, seseorang terus menarik pergelangan tangan nya.
"Lepaskan, lepaskan aku!" teriak Meidina yang ketakutan.
"Cih, diam lah dasar bocah!" ucap salah satu seorang pria kekar disana.
Mereka membawa Meidina ke sebuah kamar, Jerry masih memantau di belakang. Dia tidak boleh gegabah, ini demi keselamatan istri tuan mudanya juga.
Seorang pria datang menghampiri mereka berdua, Jerry tampak gelisah melihat gerak - geriknya.
"Buka mulutnya" ucap seorang pria tersebut, kedua pria yang membawa Meidina pun membuka paksa mulut Meidina, dan pria itu memasukan minuman yang sudah diberi obat didalamnya.
Meidina memberontak, pria itu menampar pipi kenyal Meidina dengan sangat keras.
PLAK!
Seketika itu, Meidina pingsan. Mereka membawa Meidina masuk ke dalam kamar, Jerry tahu betul siapa yang sudah membawa Meidina pergi.
"Bajingan kau, Roy" ucap geram Jerry.
Tanpa basa-basi, Jerry langsung meninju kedua orang yang membawa Meidina tadi. Dengan satu tinjuan dari Jerry, membuat keduanya jatuh tersungkur penuh darah. Amarah Jerry menggebu-gebu, ia mendobrak paksa pintu tersebut.
BRAK!
Seketika, pintu itu pun rusak. Roy tengah akan membuka pakaian Meidina, Jerry melihat sebuah kamera yang tengah menyala, emosi nya semakin tidak terkontrol lagi.
"Dasar bajingan!, setelah kau rusak kakak ku. Sekarang kau akan rusak istri tuan ku! Tidak akan aku biarkan Roy!" ucap Jerry, ia menarik tangan Roy, dan terjadilah adegan saling tinju antara Jerry dan Roy.
"Cih, kakak mu saja yang so jual mahal" cibir Roy.
Jerry makin emosi, ia memukul pipi Roy. Roy meringis kesakitan, sebagian gigi nya copot karena terkena pukulan Jerry.
Jerry melempar kan Roy ke arah kamera, kamera itu sudah rusak karena jerry juga menginjaknya. Ia menaiki tubuh Roy yang terkapar dengan kaki nya.
"Uhuk...Uhuk sakit sialan" ringis Roy.
"Hah sakit? aku tidak salah dengar?" ejek Jerry.
"Sebentar lagi, kau akan menemui ajal mu Roy. Akulah orang yang akan mengirim mu ke neraka! " sambung Jerry, dengan suara khas nya.
Drtt... Drtt... Drtt
Ponsel milik Roy bergetar, Jerry dengan segera mengambil ponsel Roy yang berada di dalam saku celana Roy. Seseorang mengirimkan pesan lewat chat.
đź“© : Roy, apa gadis itu sudah ada di tanganmu?
Beruntungnya Jerry pintar, ia membuka ponsel Roy tanpa Roy beri tahu kode ponsel nya. Jerry segera membalas.
📤 : Sudah
Tidak lama kemudian, si pengirim pesan mengirimkan pesan nya lagi.
đź“© : Bagus, jangan lupa kirim kan aku video nya
Jerry menatap tajam pesan tersebut, ia masih berdiri tegak di atas badan Roy yang terkapar. Tanpa membalas pesan, Jerry langsung membanting ponsel itu ke arah muka Roy, ponsel itu terkena hidung Roy.
Alhasil hidungnya pun mengeluarkan darah, Jerry sangat marah ia turun dari atas badan Roy.
__ADS_1
Roy masih meringis kesakitan, ia mencengkram dagu Roy yang sudah sekarat itu.
"Aku sudah tahu siapa yang merencanakan ini semua, a de li a kan" ucap jerry, ia mengucapkan tapat ditelinga Roy saat mengucapkan nama Adelia, Roy seketika merinding.
Jerry yang dulu ia kenal, sebagai seorang lelaki cundang dan penakut. Tetapi kini berbanding terbalik dengan yang ia pikirkan, Jerry layaknya seperti binatang buas yang kelaparan, dan siap menerkam mangsanya.
"Aku akan segera menghabisimu kakak ipar, agar kau bisa segera menemui kakak ku di akhirat sana" ucap Jerry, Roy membulatkan mata nya.
"Tidak, jangan Jerry jangan, aku mohon. Aku akan bertobat"
Jerry tidak menggubris, ia menarik rambut Roy dan menyeretnya keluar. Jerry melirik ke arah Meidina, nampak Meidina sudah terkena pengaruh obat perangsang tersebut.
Jerry mengeluarkan ponsel nya, ia menghubungi Thomas agar segera kesini membereskan sisa nya.
.........
Beruntungnya Hendri sudah siuman, Hendri memegangi kepalanya yang terasa berat.
"Kau sudah baik kan?" tanya thomas pada Hendri.
"Hmm, kepala ku sangat sakit. Tunggu siapa kau? dan dimana nona muda" ucap Hendri kaget.
Thomas menceritakan apa yang sudah terjadi, Meidina kini sudah aman hanya saja ia terkena rangsangan dari obat perangsang. Tanpa menunggu lama, Thomas dan Hendri keluar dari dalam mobil.
Bertepatan dengan mobil Adam dan Arsakha yang baru sampai di depan club.
"Itu mobil Tuan Arsakha" ucap Hendri, Thomas pun melirik nya. Dengan segera Adam keluar dari mobil, dan membantu tuan nya keluar.
"Hendri, dimana Meidina?" tanya Sakha.
"Nona muda sudah aman tuan, dia ada dibelakang club, di sebuah kamar pengunjung. Tadi ada seseorang membawa nona, beruntungnya Jerry sudah membereskan semuanya" ucap jelas Hendri.
"Lalu kenapa kau ada disini, dasar bodoh!" tegas Adam.
"Tadi, kepala saya dipukuli oleh mereka tuan, Thomas yang menolong saya" ucap Hendri mulai ketakutan.
Mereka berempat pergi ke belakang club, kamar khusus untuk mereka yang akan menginap satu malam dengan pasangannya.
Saat di depan kamar, Hendri dan Thomas membulatkan mata nya.
Ada dua mayat pria yang sudah mati mengenaskan, dan satu nya lagi tengah sekarat. Nampak jelas disana, Jerry tengah santai menunggu kehadiran mereka berempat.
"Jerry!" saut Thomas, jerry pun melirik nya, ia melirik juga ke arah Arsakha dan Adam.
"Tuan" ucap Jerry, lalu ia membungkuk kan badan nya ke arah Arsakha.
"Dimana istriku?" tanya Arsakha.
"Didalam tuan" jawab Jerry.
Arsakha langsung masuk ke dalam sendiri, Meidina tengah menggeliat kesana-kemari.
"Sakhaaa, panas!" ucap Meidina penuh dengan nafsu.
Kelima pria itu menelan salivanya masing-masing, Meidina akan membuka baju panjangnya. Arsakha dengan segera berlari ke arah Meidina, dan memberhentikan niat Meidina.
Ketiga pria disana melongo, kecuali Adam. Mereka bertanya-tanya di dalam benak nya, Hendri menampar pipi nya, seakan yang terjadi ini adalah mimpi.
"Sekarang kalian bertiga sudah tahu rahasia ku" ucap Sakha yang menggantung.
"Tuan, anda tidak lumpuh" tanya heran Jerry.
"Tidak, ini semua karena rencana Nico" ucap santai Sakha.
"Sudah, Hendri cepat siapkan kamar hotel untuk ku" perintah Sakha.
__ADS_1
"Baik tuan" ucap Hendri, dan membungkuk kan badan nya.
"Thomas bawa mayat itu, dan Jerry bawa lelaki yang sudah mau melecehkan istri ku ke markas Nico" perintah Arsakha.
"Baik tuan" Thomas dan Jerry membungkuk kan badan nya.
"Adam, bawa aku ke hotel"
Mereka semua berpisah, Arskaha membawa Meidina ke hotel.
Ia menggendong Meidina layaknya pengantin baru, Meidina terus menerus ingin membuka baju nya.
"Sabarlah istriku"
Arsakha kini sudah tidak memakai kursi roda nya lagi, ia menaiki mobil yang Adam kendarai dan pergi ke hotel yang sudah Hendri siapkan.
"Adam, Hendri. Kalian istirahatlah di hotel ini" ucap Arsakha
"Baik tuan" ucap adam dan hendri
Arsakha masuk kedalam, tak lupa ia mengunci pintu. Membaringkan tubuh Meidina ke atas ranjang, dan membuka kerudung istrinya
"Sakhaaa" ucap Meidina dengan suara serak nya.
"Hmm" ucap Arsakha yang kini sudah terduduk di pinggir ranjang, Meidina yang terbawa pengaruh obat perangsang memeluk tubuh belakang Arsakha.
"Sakha, aku ingin" ucap Meidina yang menggantung, Sakha sudah tahu apa yang Meidina ingin kan, ia melepaskan pelukan dari Meidina dan naik ke atas tubuh Meidina.
Arsakha membuka jas dan kemeja nya, ia juga membuka semua pakaian Meidina. Kini mereka berdua sudah tidak memakai sehelai benang pun di tubuhnya.
"Ini akan sakit, kau tahan lah sebentar saja. Lepas itu, sakitnya akan hilang"
Arsakha memulai aksi nya, Sakha meninggalkan beberapa stampel kepemilikan nya, di leher Meidina.
Sakha mensudahi pemasan nya, dan memulai permainannya.
Cukup lama Arsakha melakukan pertempuran, ia menaruh benih di dalam rahim Meidina. Jam sudah menunjukkan pukul tiga dini hari, Arsakha tumbang dan memeluk tubuh mungil istrinya itu.
CUP
Ia juga mengecium kening Meidina, Meidina yang masih setengah sadar berbicara pada Arsakha.
"Sakha" ucap Meidina dengan suara yang serak.
"Hmm" ucap Arsakha yang sudah menutup mata nya, tetapi belum tertidur.
"Aku mencintaimu" ucap Meidina, ia menenggelamkan wajahnya ke dada bidang Arsakha, dan memeluk tubuh suaminya itu.
Arsakha membuka pelan matanya, dan tersenyum.
CUP
Sakha mencium pucuk kepala Meidina "Aku juga mencintaimu Meidina, istriku" Sakha menarik selimut, menutupi tubuh mungil istrinya.
Maaf Meidina, rasa cintaku padamu tak sebesar aku mencintai Adelia. Batin Arsakha, ada rasa bersalah dalam hatinya.
Ia membalas pelukan istrinya, dan mulai menutup kedua matanya.
Mereka berdua tertidur bersama, layaknya pengantin baru yang baru melakukan malam pertamanya.
.........
***Thank Yo so much yang udah baca đź’•, bab ini sudah di revisi. Jadi maaf jika kalian mengharapkan adegan yang lebih, sebaiknya kalian halu/bayang kan saja sendiri.
Author masih 17 tahun, masih berada di masa-masa remaja. Tidak pantas rasanya jika anak di usia seperti itu, menuliskan cerita HOT đź’¦***
__ADS_1
Ditambah, Dosa Jariyah. Dosa yang akan terus mengalir sampai kapan-pun, ketika kalian membaca cerita tersebut. Nauzubillah.
Sampai bertemu di BAB berikutnya, Papayo 👋🏻