
Meidina mengelus pelan rambut Musa, ia mencium pucuk rambut suami nya.
Maaf aku belum bisa menjadi istri yang baik untukmu. Batin Meidina
Melihat kondisi Kakak ipar nya yang sudah mulai memburuk, membuat Meidina khawatir. Begitu juga dengan Musa, mereka memutuskan untuk menginap di rumah sakit. Agar bisa menemani Kak Anya, dan mengetahui kondisi nya lebih lanjut.
Adam memutuskan untuk pulang malam ini juga, ia minta maaf ada sahabat nya karena tidak bisa menemani Arsakha sampai betul-betul keluar dari rumah sakit.
Ia tak bisa tenang, dalam pikiran nya hanya ada Anya tiada yang lain. Malam itu juga, Musa memberitahukan kepulangan nya kepada ayah Hamzah.
Tunggu pembalasan ku, tidak akan ku lepaskan pelaku yang sudah mencelakai Anyaku. Gumam Adam dalam hatinya.
Adam memakai jet pribadi untuk kepulangannya, dan di sambut hangat oleh anak buah nya yang sudah menunggu di lapangan lepas landas.
"Tuan Adam" ucap salah satu bawahan nya.
Adam sudah sampai di negara B, ia keluar dari jet pribadi nya dan langsung memasuki mobil mewah nya. Mobil mewah itu ia laju kan dengan sendiri nya, ia tak peduli berapa kecepatan yang ia kendarai.
Dan lelahnya ia, ketika harus bolak balik antara dua negara. Sekitaran 2 kilo meter lagi, Adam akan sampai di tempat tujuan nya. Yaitu Rumah Sakit XXX, dimana Kak Anya di rawat.
Kondisi kak Anya semakin memburuk, entah apa yang dokter itu suntikkan ke badan kak Anya hingga membuat kondisi nya sangat memburuk.
"Anya tunggu aku" gumam Adam.
Sampai nya di rumah sakit, ia bergegas masuk dan mencari di mana bangsal Anya. Adam menemukan nya, ia juga melihat adik dan adik ipar nya tengah tertidur satu sama lain.
Meidin terbangun, dan menyadari kehadiran kakak nya.
"Kak Adam? " sautnya.
"Tidurmu sangat nyenyak " ucap kak Adam tersenyum, ia berjalan mendekati Meidina dan Musa.
"Kakak pulang sejak kapan? " tanya Meidina
"Baru saja tadi, aku tergesa-gesa ke sini untuk melihat kalian" elaknya.
"Yang benar saja, kau datang ke sini untuk mengunjungiku" ucap Meidina tak percaya.
"Aku serius Meidina" ucap Kak Adam.
"Bagaimana dengan keadaan kakaknya Musa? " tanya Kak Adam.
__ADS_1
"Memburuk Kak" ucap sendu Meidina.
"Apa orang tua mereka sudah tahu?" tanya Adam.
Meidina menggelengkan kepalanya. Adam membuang nafasnya dengan berat, ia melihat jam tangan yang berada di tangan nya.
Sudah menunjukkan pukul 2 dini hari, sebuah alarm berbunyi dari dalam bangsal kak Anya. Mereka kebingungan, para dokter dan perawat berlarian masuk ke dalam bangsal kak Anya.
Musa terbangun, diri nya terkejut melihat Adam yang ada di hadapan nya. Dan juga para dokter yang masuk ke dalam bangsal jalannya, mereka membawa beberapa alat bantu.
"Ada apa ini, ada apa dengan kak Anya!" panik Musa.
Adam segera menenangkan adik ipar nya tersebut, ia sebenarnya juga panik sama hal nya seperti Musa.
Seseorang dokter keluar, ia melirik Musa dan Adam yang ada di hadapan nya.
"Permisi, di sini siapa yang keluarga pasien?" tanya seorang dokter tersebut
"Saya dok" ucap Musa
"Mari ikut ke ruangan saya" ujar sang dokter.
Musa menuruti nya dari belakang, Adam terduduk di samping Meidina. Sampai di ruangan dokter tersebut.
DEG
Jantung Musa berdetak kencang, ia membulat kan mata nya.
"Jangan bercanda dokter, kakak ku tidak akan meninggalkan" teriak Musa.
"Tenanglah pak, kami sudah melakukan yang terbaik untuk pasien. Namun dengan kondisi pasien yang saat ini sangat memilu kan, akan sangat sulit untuk nya tetap bertahan"
"Pasien mengalami luka dalam dan luka luar, rahim nya pecah dan **** ********** nya membengkak. Kemungkinan besar, pasien di gilir oleh banyak orang melebihi dari 10 orang"
Ucap jelas dokter tersebut, Musa semakin tak kuat. Tubuh nya melepas, mendengar penjelasan sang dokter membuat nya naik darah sekarang.
Ia mengepalkan tangannya, menggertak giginya. Sesabar apa pun manusia, pasti akan ada batas nya. Sama hal nya seperti Musa, kali ini dia sudah geram.
Musa keluar dari ruangan dokter tersebut, ia setengah berlari menuju bangsal kakak nya. Musa ambruk, ia tak kuat berdiri lagi.
Adam yang melihat Musa, langsung menghampiri nya. Sekuat tenaga Musa bangun, namun ia harus menerimanya dengan berlapang dada. Adam membantu Musa berdiri, dan menuntunnya.
__ADS_1
"Aku ingin ke ruangan kakak Anya" lirihnya menangis.
Adam mengerti dan segera mengantar Musa, ia membawa masuk Musa ke dalam bangsal. Di dalam sana, ada Anya tengah di pasangi banyak alat dan selang. Adam membulat kan mata nya, begitu banyak nya alat-alat terpasang di tubuh Anya.
"Kak, bangunlah" lirih Musa, menggoyang-goyangkan badan Kak Anya.
Adam menatap sendu gadis yang ada di depan nya adalah Devanya, mantan kekasih nya dulu. Ia menitik kan air mata nya, melihat memar di sekujur tubuh Anya.
"Musa tenangkan lah dirimu" ucap Adam.
Dokter datang memeriksa keadaan kak Anya, layar monitor di sebelah nya mendadak akan lurus. Yang mengartikan detak jantung kak Anya melemah, Musa dan Adam panik bukan main.
Mereka meminta agar dokter segera menyelamatkan nyawa kak Anya, namun. Takdir berkata lain, Kak Anya lebih di sayangi oleh tuhan. Kedua lelaki itu lemas, mereka terduduk di lantai.
Adam diam mematung, dan begitu juga Musa.
Mereka kehilangan sosok wanita yang sangat berharga di hidupnya, Meidina datang.
Ia terkaget-kaget melihat Adam dan Musa, sudah tergeletak di bawah lantai. Dokter meminta kedua lelaki itu agar tenang, dan bersabar.
"Kak" saut Meidina, ia melirik juga suami nya yang tengah memeluk jasad kakak perempuannya.
Meidina menghampiri suaminya, dan memeluknya.
"Tambahkan dirimu sayang" ucap Meidina, ia mengelus-elus punggung Musa.
"Kak Anya sayang, Kak Anya" lirih Musa pada istri nya
"Iya, dia akan aman di atas sana"
Meidina tidak berbohong, ia juga menangis tersedu dan merasa terpukul karna kehilangan kakak ipar perempuannya. Adam berdiri, ia terpaksa keluar sebelum ambruk di dalam sana.
Anya sudah pergi, itu tidak mungkin kan.
Adam menitik air matanya, ia menghampiri Musa di dekat jasad nya.
"Anya" saut Adam.
"Tidak Anya, jangan pergi ku mohon"
Musa dan Meidina terdiam, mereka melirik Kak Adam yang tengah menangisi Kak a2nya. Adam menggoyang-goyang kan tubuh Anya, namun mustahil.
__ADS_1
Monitor menunjukkan detak jantung nya, tidak berdetak. Adam merasakan tangan Anya yang sangat dingin, ia melihat bekas suntik kan yang di tangan nya Kak Anya memerah.
Kenapa bekas suntikan ini, membuatku curiga. Gumam Adam dalam hati nya.