
Musa mengemudi kan mobil nya dengan kecepataan tinggi,tidak peduli lagi tentang keselamatan nya saat ini. Ia sedang berada di zona khawatir,di sepanjang jalan hanya Meidina yang terlintas dalam pikiran nya. Tepat di depan jalan,sebuah truk berhadapan dengan mobil Musa,dengan segera Musa membanting stir mobil nya. Hingga tanrakan maut itu berhasil Musa lewati,mobil Musa menabrak sebuah pohon. Untung nya,tidak terlalu parah kerusakan mobil yang ia alami.
"Bagaimana aku bisa konsentrasi dalam mengemudi,sedangkan pikiran ku hanya tertuju pada Meidina seorang" gumam Musa dalam hati nya.
Ia memukul stir,dan menyandar kan kepala nya di kursi pengemudi. Menutup wajah nya dengan tangan kanan nya,air mata tidak bisa ia bendung lagi.
"Aku tidak akan melepas kan mu Meidina,meski pun kau selalu tidak menganggap perjuangan ku'' gumam Musa.
Ia kembali mengemudi dengan pikiran yang jernih sekarang,terfokus pada jalanan dan mengemudi dengan kecepatan maksimal. menikmati angin yang berhembusan melewati kaca mobil nya. Setelah menempuh perjalanan pulang yang cukup dekat, Musa sampai di depan mansion nya. Ia di sambut oleh para pelayan yang berjajaran.
''Tuan muda'' ucap seorang pelayan muda,tengah tersenyum kearah nya
Namun Musa tak menghirau kan nya,ia fokus masuk ke dalam.
"Assalamualaikum" ucap salam Musa.
"Waalaikumsalam" ucap semua nya,yang berada di ruang tamu.
Musa menghampiri mereka semua,dan mencium telapak tangan Abi nya. Seorang pria memperhatikan nya dengan tersenyum, Musa juga menghampiri nya dan melakukan hal yang sama. Seperti tadi.
"Musa, perkenalkan ini adalah Om Hamzah. Beliau adalah sahabat abi, saat masih berkuliah" jelas Abi Jefri (Ayah Musa)
Mereka saling bertatapan,dan saling tersenyum satu sama lain. Ayah Hamzah mengulurkan tangannya ke arah Musa, dan berjaba tangan denga Musa.
"Hamzah" ucap Ayah Hamzah
"Musa om" ucap Musa tersenyum.
Umi Kulsum (Ibu Musa) datang membawa kan kopi, ia menaruh nya di atas meja,dan memperhatikan percakapan ketiga pria yang ada di depan nya. Sadar akan keberadaan Sang Umi,musa mencium telapak tangan Umi nya.
"Sudah pulang sejak kapan?" tanya Umi Kulsum
"Baru saja umi" jawab Musa.
"Musa, bagaimana hubungan mu dengan gadis itu" ucap Abi Jefri
"Gadis siapa?" tanya heran Musa
"Gadis yang bernama Meidina itu loh" ucap Umi Kulsum yang menyenggol tangan Musa, Musa tersipu malu.
"Sejauh ini baik - baik saja Abi" ucap Musa dengan pelan.
__ADS_1
Abi dan Umi saling melirik satu sama lain.
"Kau bicara lah dulu dengan Om Hamzah, kami tinggal pergi sebentar" ucap Umi Kulsum, ia menarik tangan Abi Jefri dan menarik nya menjauhi putra bungsu nya
"Kadang cinta itu butuh pengorbanan" saut Om Hamzah/ Ayah Hamzah yang menyerubut kopi nya.
Musa terdiam dan hanya memperhatikan nya,ia menatap heran Ayah Hamzah. "Apa maksudnya om?" tanya heran Musa.
Hamzah tersenyum ke arah Musa, ia melirik nya.
"Jika kau mencintai Meidina,berjuang lah sekeras mungkin. Karena untuk mendapatkan sebuah berlian, tidak akan semudah kau membelinya"
"Banyak pengorbanan,hingga rintangan yang harus kau hadapi. Jika kau ingin bersanding dengan putri bungsu ku" ucap jelas Ayah Hamzah.
Deg
Jantung Musa berdetak dengan kencang, ia menelan saliva nya dalam-dalam. Dan menundukkan kepala nya.
"Jadi dia adalah Ayah Meidina? kenapa Abi tidak memberitahu ku, jika Meidina adalah anak dari sahabat nya. Dengan begitu, dia tidak akan tersakiti oleh Arsakha" batin Musa
"Kenapa diam Musa" saut Ayah Hamzah heran menatap Musa.
Hamzah hanya terkekeh geli mendengar nya, ingin rasa nya ia tertawa menertawai lelaki tampan di depan nya.
"Kenapa gugup seperti itu?" ucap Ayah Hamzah
Musa terdiam, karena bingung apa yang harus ia kata kan pada pria di depan nya. Adalah calon ayah mertua nya sendiri.
"Namanya adalah Nurul, dia merupakan anak bungsu ku. Namun, saat kejadian kala itu, kami berpisah dengan nya" ucap Ayah Hamzah, ia menceritakan tentang kejadian yang dulu pernah terjadi saat dulu.
Tentunya membuat Musa menitik kan air mata nya, karena hingga saat ini. Meidina tidak mengetahui keberadaan keluarga nya, ia bahkan tidak tahu. Jika Ayah Hamzah meminta memberhentikan mencari Meidina, karena sudah mengetahui keberadaan Meidina dimana.
"Jika kau bersungguh - sungguh mencintai putri ku, dan bisa menerima masa lalu nya yang pahit. Kejarlah dia, aku akan merestui mu menjadi calon menantu ku" ucap Ayah Hamzah
Merasa sudah mendapatkan lampu hijau, Musa senang bukan main. Ia tersenyum bahagia dan memeluk Ayah Hamzah, setidaknya ia sudah mendapatkan restu dari orang tua Meidina. Meskipun Arsakha bersikeras merebut Meidina, Musa lah yang akan memenangkan pertarungan nya kali ini.
"Terima kasih calon ayah mertua,aku akan membuktikan pada mu. Jika aku bersungguh - sungguh pada putri mu" ucap Musa, Ayah Hamzah membalas pelukan Musa.
"Buktikan lah" seru Ayah Hamzah.
Musa melepaskan pelukan nya, ia tersadarkan jika Meidina memiliki seorang kakak laki-laki seusia nya.
__ADS_1
"Bagaimana dengan calon kakak ipar ku ayah?, apa dia setuju aku mendekati adik perempuan nya" saut Musa,dengan mata berbinar-binar ia melirik Ayah Hamzah.
"Dia akan setuju,jika itu demi kebahagiaan adik nya" ucap Ayah Hamzah tersenyum.
Nampak dari kejauhan, Abi Jefri dan Umi Kulsum memperhatikan mereka dari atas. Abi Jefri bernafas dengan lega, ia tersenyum ke arah istrinya.
"Akhirnya, putra kita kembali bersemangat mengejar cinta nya mi" saut Abi Jefri.
"Tapi, apa abi tidak masalah. Jika gadis yang Musa dekati, adalah seorang janda muda di bawah umur" ucap Umi Kulsum khawatir.
"Tidak,selagi Musa mencintai gadis itu dengan ketulusan. Abi tidak mempersalahkan nya" ucap Abi Jefri.
Sudah sangat larut, namun Ayah Hamzah harus segera pulang ke hotel. Ia juga berpamitan pada keluarga Abi Jefri, Musa sudah berada di dalam kamar nya. Ia menghubungi sang kakak, bahwa ia sedang bahagia kali ini.
"Halo, Assalamualaikum Musa. Ada apa menelepon ku malam-malam begini" ucap Kak Anta dengan nada kesal.
"Waalaikumsalm,kakak tahu tidak. Aku sedang bahagia sekarang" ucap seru Musa dalam panggilan telepon.
"Tidak" ketus Kak Anya
"Ck, kau sangat menyebalkan" ucap Musa
"Katakan ada apa? " ucap Kak Anta dengan nada meninggi.
"Aku sudah mendapatkan restu dari gadis yang ku kejar,aku sangat bahagia sekali kak" ucap Musa dengan bahagia .
"Bagus lah jika begitu, pejuang kan cintamu dah" ucap Kak Anta menutup telepon nya.
Musa kembali kesal akan sikap sang kakak, tapi itu tidak sebanding dengan rasa bahagia yang sedang ia rasakan saat ini.
"Meidina, tunggu aku menjadi calon imam mu" gumam Musa.
.
.
...- Tim Arsakha -...
...atau...
...- Tim Musa -...
__ADS_1