Penyesalan CEO Lumpuh

Penyesalan CEO Lumpuh
AKSI PENYELAMATAN


__ADS_3

Arsakha datang di sebuah pelabuhan, ia dengan tergesa-gesa mendorong roda kursi rodanya. Tanpa di bantu siapa-siapa, Sakha datang seorang diri dengan bertangam kosong.


Sesuai perintah dari Nico, Sakha datang menghampiri Tuan Marvin dan ketiga anak buah yang berada di belakangnya.


"Bawa dia ke kapal pesiar!" titah Tuan Marvin, pada anak buahnya.


"Baik tuan." Arsakha pasrah, ia di bawa dan di bantu oleh para anak buah Tuan Marvin.


Sakha nampak cemas, ia hanya menuruti apa yang Tuan Marvin mau.


"Lihat, apa kau mengenainya Tuan Arsakha."


Arsakha melirik ke sebelah kanannya, ia sangat terkejut ketika diberika pemandangan tak mengenakan itu. Sakha melihat, Soraya dan juga Meidina tengah terikat dengan mulut tertutup.


"Sora..." lirih Arsakha menatap sang istrinya.


"LEPASKAN MEREKA MARVIN!" tegas Sakha.


Marvin hanya tertawa terbahak-bahak mendengar Arsakha, dan ia menatap Arsakha dengan tatapan yang begitu hina. Sakha mengeraskan rahangnya itu, ia menetap wajah Marvin yang telah menculik Soraya dan juga Medina.


"Apa maumu! Cepat katakan!" tegas Arasaka dengan suara yang kencang atau lantang.


Marvin pun yang mendengar itu langsung menatap kembali Arsaka, ia mengeluarkan sebuah berkas yang telah anak buahnya siapkan itu, lalu memberikannya kepada Arshaka dengan cara dilempar.


"Ambil itu, dan tanda tangan lah. Itu adalah berkas pengalihan kekuasaan dan juga pertanda kepemilikan perusahaan Virendra Group." Jelas Marvin.


Arsakha mengambil berkas yang Marvin berikan. Ia mengambil pulpen yang selalu berada di dalam saku bajunya, Sakha membaca seksama kata demi kata bahwa Marvin memang benar-benar ingin menghancurkan Arsaka, dengan mengambil semua perusahaan pusat dan cabang-cabang Arsakha.


"Kau tinggal pilih saja Sakha, kau pilih aset berhargamu atau aset paling berhargamu."


Arsakha pun nampak berpikir keras, antara Soraya dan Meidina dan juga perusahaannya itu. Perusahaan yang telah menemaninya setelah sekian tahun merintih di dunia bisnis, dan akhirnya Arsakha bisa dikatakan sebagai raja bisnis.

__ADS_1


Tentulah bukan suatu hal yang mudah bagi untuk melewati semua ini, Arsakha nampak gemetar ketika akan menandatangani berkas tersebut. Namun suaranya yang Meidina seperti berteriak meskipun mulutnya terlakban.


Mereka hanya bisa pasrah menerima takdirnya kali ini, andai saja jika Soraya dan Arsaka tidak bertemu. Mungkin ini tidak akan pernah terjadi, batin Soraya terus menggerutu.


Namun pilihan Arsakha sudah tepat, ia akan menandatangani berkas tersebut meskipun jika memang harus berpisah dengan perusahaan-perusahaannya.


Dibandingkan mengorbankan kedua wanita yang ia cintai itu, meskipun nanti Nico akan selalu mencari jalan untuk mengambil kembali perusahaan Sakha. Namun Arshaka tidak bisa menahan ini lagi, karena Soraya dan Medina sudah sangat ia cintai.


"Cepat pilih! Wanita atau harta!" tegas Tuan Marvin.


Sakha mnghela nafasnya dengan panjang, ia hendak akan menandatangani berkas tersebut. Namun suara ledakan dari luar kembali terdengar sangat keras, sehingga membuat mereka mengalihkan pandangannya dan juga ketakutan dengan suara ledakan itu.


Sangat besar persis seperti bom, Sakha kebingungan ia melirik Soraya dan juga Medina. yang tepat berada di belakangnya.


"Cepat kalian lihat siapa itu?" tegas Tuan Marvin, menitah pada para anggotanya.


Mereka berlari mencari tahu siapa yang sudah membuat keributan di luar kapal pesiar. Namun tidak ada apapun dan tidak ada kerusakan sekalipun di kapal pesiar itu. Masih baik-baik saja, dan juga tidak ada yang berantakan.


"Sepertinya rencana Nico berhasil" ucap batin Arshaka.


Tuan Marvin melirik Arsaka dan langsung menunjuknya dengan tatapan yang tajam, dan juga wajah yang penuh kemarahan.


"Ini pasti adalah ulahmu ia kan? lihat saja kau! Aku akan membunuh kedua wanita ini!" ucap tugas Tuan Marvin.


Arsaka pun tersentak kaget dan membulatkan kedua matanya, ia melihat ke belakang Soraya dan juga Medina yang nampak kesedihan. Medina menggelengkan pelan kepalanya, Sakha menatap sendu Meidina yang kesakitan itu.


Ia menangis dengan berderaian air mata, Soraya yang melihat itu pun hanya bisa terpaku menatap suami dan mantan istrinya saling bertatap-tatapan.


"Cemburu? Apa hak aku untuk cemburu?! Arsakha kan memang mencintai Medina, dia kan mantan istri sekalipun cinta pertama Arshaka." batin Soraya


"Bertahanlah Soraya, meskipun di dunia ini tidak ada yang menginginkanmu, namun setidaknya kau masih punya dirimu sendiri, untuk menguatkan hatimu seorang diri."

__ADS_1


Arsakha melirik Soraya namun ia mendapati Soraya yang memalingkan wajahnya ke bawah, Arshaka menatap sendu wanitanya tersebut. Wanita yang telah menjadi istrinya itu, secara tidak langsung mereka saling mencintai namun terhalang oleh ego masing-masing.


"Soraya... istriku..." lirih Arsakha melihat Soraya yang begitu nampak ketakutan. Namun ia masih berusaha untuk tegar, "Dasar wanita ini..." batin Sakha


Hei Tuan Arsakha Virendra, cepat tanda tangan berkas itu! atau aku bunuh kedua wanita ini!." Marvin mengeluarkan senjata apinya itu, Arsakha pun terkejut bukan main melihat senjata api yang Marvin todongkan itu di atas kepala Medina.


"kumohon, janganlah. Jangan kau apa-apakan Meidinaku, aku tidak mau kehilangan Nurul lagi untuk sekian kalinya."


Ucap Arsakha dengan nada yang begitu sedih, ia sudah tak kuasa lagi menahan air matanya. Air mata yang bukan semata-mata untuk mengelabui lawan, itu adalah air mata yang mencintai Madinah.


"Kan, aku sudah yakin. Jika harus Arsakha memang masih mencintai mantan istrinya itu. Bersabarlah Soraya, mungkin ini adalah jalan cerita hidupmu jika kau tidak bisa bersama Arsakha ya sudah. Jangan memaksakan seseorang untuk bersamamu jika orang itu tidak mencintaimu, jika kau mencintainya maka Izinkanlah dia untuk bersama orang lain pertahankan cintamu dalam diam itu. Lebih baik dibandingkan harus memaksanya untuk mencintaimu Soraya." batin Soraya


Arsakha kembali akan menandatangani berkas tersebut. Namun suara ledakan itu kembali terdengar kali ini bukanlah hal yang biasa, Marvin langsung dihajar tanpa sisa oleh Niko dan juga Musa. Niko merampas paksa senjata api itu dari Marvin yang tengah memberontak dengan melawan Musa.


Mereka berdua melawan Marvin, Arsakha memanfaatkan situasi tersebut dengan membuka tali yang terikat di tangan dan juga kaki Medina. Ia melepas lakban itu dan juga mengelus pelan embun kepala Medina.


Medina menangis melihat sang suami yang tengah bertarung itu, Nico pun membantu Soraya untuk membuka tali ikatannya itu. Dan juga memerintahkan mereka bertiga agar untuk segera keluar dari kapal pesiar yang tengah menuju ke laut itu.


"Cepat keluar! Kapal pesiar ini akan meledak karena telah diisi bom oleh komplotan dari Marvin!." ucap Niko yang memerintahkan kepada mereka.


Arsakha pun mengangguk dan juga Soraya agar mengikutinya, Soraya yang membantu Sakha untuk mendorong kursi rodanya. Namun Arsakha menolak bantuan dari sang istri.


"AKU BISA SENDIRI!" Soraya hanya tersentak, ia menatap tak percaya sang suaminya itu karena berkata nada yang sangat tinggi padanya.


Ia pun hanya tertunduk takut dan malu pada Arsakha dan juga Medina. Karena ini adalah kesalahan yang ia lakukan, karena telah mengajak Meidina pergi keluar.


"Ini salahku... Ini Salahku...." lirih Soraya yang menyalahkan dirinya sendiri di batinnya itu.


...***...


Halo halo. Jangan lupa untuk selalu mengikuti alur cerita ini, meskipun cerita terbelit-belit... Hahaha, see you di bab berikutnya..

__ADS_1


__ADS_2