Penyesalan CEO Lumpuh

Penyesalan CEO Lumpuh
BAB 44. PENEMBAKAN


__ADS_3

Anak buah Nico,sudah membawa keluarga Adelia ke markas. Mereka menantikan bos nya datang, Jerry sudah sangat geram pada mereka.


"Jerry" saut Naora


"Hmm"


"Dimana tuan Nico?" tanya Naora


"Tidak tahu" jawab ketus Jerry


"Cih"


Naora meninggalkan Jerry,ia sangat geram pada perilaku Jerry. Meraka sudah tiba di Markas Nico, Mikey membukakan pintu untuk mereka bertiga.


Lucifer dan Zexo,tengah berjaga di luar. Mereka berdua menghampiri Nico,dan yang lainnya.


"Tuan" ucap Lucifer dan Zexo,ia membungkuk kan kepalanya, Nico melirik begitu juga dengan Adam dan Arsakha.


"Semuanya sudah beres tuan,mereka sudah kami tahan di penjara mafia" ucap Lucifer


Arsakha mengerutkan kening nya,ia bingung apa yang dikatakan anak buah Nico


"Bagus, Sakha. Aku mempunyai kejutan untukmu" ucap Nico, Arsakha semakin bingung dengan ucapan sahabat nya. Tentu saja Adam sudah mengerti,kejutan apa yang akan Nico berikan untuk Arsakha


Nico berjalan masuk ke dalam markas,ia turun ke lantai bawah tanah,dan masuk ke dalam sebuah ruangan siksaan. Dimana ruangan itu untuk para tahanan,atau musuh Nico, Sakha membulatkan matanya. Ia melihat Adelia,dan juga beberapa orang yang tidak ia kenali,terikat lemas dibawah lantai


"Bajingan!,apa yang sudah kau lakukan pada Adelia!" teriak Arsakha sambil mencengkam keras kerah baju Nico. Nico tersenyum,ia menatap rendah lelaki yang ada di depan nya


"Kau bodoh,atau sangat bodoh Sakha" ucap Nico dengan nada mengejek


"Bajingan!" Arsakha sudah siap akan memukul wajah Nico,Adam memberhentikan,namun Arsakha masih memberontak. Hingga Mikey pun membantu menenangkan Arsakha


"Lepaskan,biarkan aku menghajar lelaki bajingan ini" tegas Arsakha,mencoba melepaskan dirinya dari cengkraman Adam dan Mikey.


Seorang lelaki turun,ia melihat pertengkaran putra nya dengan putra sahabat nya.


"Hentikan Arsakha!" ucap tegas papah Rendra


Mereka terdiam,papah Rendra mendekati Arsakha. Adam dan Mikey melepaskan Arsakha, Sakha membulatkan matanya. Bukan sembarangan orang yang bisa tahu markas Nico, tapi kenapa papah nya bisa tahu


"Papah" saut Sakha


Plak

__ADS_1


Sebuah tamparan keras melayang di pipi Arsakha, ia memegangi pipinya rasanya sangat sakit.


"Aku kecewa memiliki putra sepertimu" ucap papah Rendra


"Apa maksud papah?" tanya bingung Sakha


"Kau masih berani membela wanita gila ternyata" ucap papah rendra penuh penekanan


"Sudah,sebaiknya kita jangn berbicara disini. Mike, awasi keluarga sialan itu" ucap Nico memerintah Mikey


"Baik tuan" saut Mikey membungkuk kan badannya


Mereka semua pergi ke dalam ruangan Nico, Nico dan yang lain nya duduk di soffa besar. Ia menceritakan dari awal sampai akhir,hingga kejadian ini ia juga ceritakan


Arsakha tentu saja tidak percaya,dengan apa yang Nico katakan. Nico mengambil laptop nya,dan membuka bross yang ia berikan pada Meidina


Memang benar terdapat kamera dan GPS di dalamnya, Nico menghubungkan nya. Kejadian saat Martin akan menembak Arsakha,dan Meidina pun menyelamatkan nya terekam sangat jelas


Arsakha melongo,wanita yang tidak ia cintai berkorban banyak untuk nya. Sedangkan Adelia wanita yang ia cintai malah berkhianat dengan seorang pria yang tak ia kenal


"Lalu,apa maksudmu jika ayahku masih hidup" kali ini Adam yang bertanya pada Nico


"Itu benar,ayahmu masih. Om Rendra juga tahu kan?" ucap Nico yang melirik papah Rendra


"Benar,tapi semenjak ia menghilang tanpa kabar, baik aku atau pun zohan sudah tidak tahu lagi bagaimana kabar nya saat ini" ucap pasrah papah Rendra


"Dimana sekarang ayahku berada" ucap Adam tersedu-sedu


"Dia bersama papi ku,mereka aka segera datang kesini setelah permasalahan di Italia selesai"


Adam semakin terisak tangis nya, Papah Rendra mendekatinya dan memeluk Adam


"Sudahlah,sekarang yang kita harus cari tahu dimana keberadaan adikmu Nurul" ujar papah Rendra,dan di angguki oleh Adam


Mereka semua bermalam di markas besar Nico,hingga tak terasa malam yang dingin bergnti menjadi pagi yang hangat kembali.


Meidina terbangun dari tidur nya, melihat jam dinding ternyata sudah pukul 7. Ia lapar ingin makan,meidina bangun tapi badan nya terasa sakit dan juga infusan yang menempel ditangan nya. Ia berjalan dengan pelan mencari sesuatu untuk di makan,atau ia minum.


Dokter Anya berjalan ke arah ruangan nya.


Ceklek


Pintu terbuka,betapa kaget nya ia melihat sang adik tidur terkapar diruangan nya.

__ADS_1


"Astagfirullah,kenapa aku memiliki adik bujang seperti ini" ucapnya,sambil memijat pelan kening nya


Ia mendekati Musa,dan membangunkan nya. Namun Musa tak kunjung bangun,ia mengambil ponsel milik nya, dan memotret beberapa foto Musa yang tengah tertidur.


"Betapa menggemaskan nya adikku yang satu ini" ucap nya sambil mencubit pipi Musa


Sontak musa terbangun,ia melihat sang kakak tengah mengusili nya. "Kakak!" tegasnya,sambil melempar tangan kakak nya jauh dari kedua pipinya


"Ututu,adikku yang tampan dan menggemaskan ini sudah bangun ternyata" ucap kak Anya dengan suara manja nya


"Diamlah kak,bagaimana dengan keadaan gadis itu. Apa dia sudah bangun?" tanya Musa,kak Anya hanya tersenyum dan mencolek-colek pipi Musa


"Apa kau menyukai gadis,hmm" goda kak Anya


Blush, pipi musa pun merah merona


"Titidak" ucap gugup Musa


"Aku bukan kak Anya,yang baru pertama kali bertemu langsung jatuh cinta" ketus Musa,ia segera membuang muka nya. Kak Anya terkekeh geli ,ia tertawa ketika melihat Musa seperti anak kecil, yang merengek ingin dibeli kan permen.


Meidina keluar dari ruangan nya,niat hati ingin mencari udara segar. Ia malah berpapasan dengan mamah Devi


"Meidina" saut mamah Devi


"Mamah" kaget Meidina,dengan tergesa-gesa Devi segera menghampiri Meidina dan memeluknya


"Sayang kenapa kamu bisa di sini?" tanya mamah Devi


"Ada seseorang yang menolongku,dan membawaku ke Rumah Sakit mah" jawab Meidina


"Mah,bagaimana keadaan kakek dan juga nenek"


Belum menjawab mamah Devi nampak pucat, "Mei,kamu haru tabah ya. Mereka berdua sudah berpulang pada yang maha kuasa,saat tengah malam menghembuskan nafas terakhirnya"


Deg


Badan Meidina lemas,ia kaget. "Tidak,itu tidak mungkin kan" teiak Meidina,histeris


Mamah Devi menenangkan nya,ia tak kuasa mehanan tangis nya lagi. Mamah Devi,mambawa Meidina ke ruang Mayat


Dimana kakek dan nenek nya,terbaring kaku di dalam sana. Ia berlari dan memeluk tubuh kaku sang kakek, "Hiks..Hiks,kakek bangunlah" teriaknya, sambil menggoyang-goyangkan tubuh kakek Setya


Ia melirik ke arah sampingnya,nenek yang selalu menjaga dan merawatinya juga terbaring kaku. Meidina memeluk dan menangis histeris,ia tak peduli dengan rasa lapar nya saat ini. Ditinggalkan seseorang yang sangat kita cintai memanglah sakit,kita juga tidak bisa melawan takdir. Kita hanyalah manusia biasa,yang memiliki banyak kekurangan dan dosa.

__ADS_1


Pagi yang hangat,berubah seketika menjadi pagi yang pilu,seorang gadis tujuh belas tahun harus menerima takdirnya yang sedih ini. Menyerah dan putus asa,tentu saja bukan jati diri asli dari Meidina


Ia percaya,suatu hari nanti kebahagiaan pasti akan menemuinya.


__ADS_2