Penyesalan CEO Lumpuh

Penyesalan CEO Lumpuh
Kritis


__ADS_3

Hai apa kabar kalian semua? semoga sehat selalu ya teman-teman. Sebelumnya aku mau ngucapin terimakasih buat kalian yang udah nunggu novel ini update, walaupun gak update-update 😂


Aku Goshting hampir sebulan kurang, tepat nya ditinggalin pas sayang-sayang nya. Ngenes amat ya, skuy lah lanjut .......


...HAPPY READING...


Dara terdiam, ia melirik Arsakha dengan rasa iba. Ia segera menggulung kembali tangan nya, dan meletakkan pitsol itu ke saku celananya.


"Baik, sebagai gantinya. Kau-lah yang akan menikah dengan Putriku" ucap Dara.


Ia meninggal kan mereka semua. Dengan masuk kedalam mobilnya dan pergi.


Semuanya membantu membawa Musa ke rumah sakit, darah yang sudah banyak mengucur sedari tadi.


"Bertahan lah, kau pasti selamat" ucap Meidina


Mereka membawa mobil dengan kecepatan tinggi, Meidina duduk di kursi belakang bersama Umi Kulsum.


"Sayang, suamimu pasti baik-baik saja. Jangan khawatir" ucap Umi kulsum menenangkan Meidina, padahal dirinya sendiri juga tegang.


Melihat putra nya yang kini menjadi anak semata wayang,setelah kepergian Anya selaku kakak dari Musa membuat luka mendalam di hati Abi Keri dan Umi Kulsum.


"Bertahan lah anakku" batin Umi.


Meidina memegangi tangan Musa sedari tadi, darah yang bercucuran keluar membuat mereka semua semakin panik.


Akhirnya, penantian mereka semua tersampaikan Nico memanggil para suster dan dokter untuk segera membawa Musa pergi.


Berlarian di lorong rumah sakit kota, dengan keadaan penuh luka dan darah.


"Bapak ibu tunggu di sini, kami akan memeriksa pasein" ucap salah satu dokter


Ia mulai masuk ke dalam, tangisan histeris dari Meidina terdengar jelas sekali.


Adam memeluk adik perempuan nya yang kini tengah mengandung itu, Abi dan Umi pun juga menenangkan Meidina.


Mereka juga tidak ingin Meidina dan janin nya kenapa-kenapa. Sesalan menggerak kan kursi roda nya. Mendekati Meidina yang tengah menangis.


"Sudahi menangis mu, Musa akan baik-baik saja" lirih Arsakha


Namun Meidina tak kunjung berhenti, sampai dokter itu kembali keluar pada mereka semua.

__ADS_1


"Dokter, bagaimana keadaan anak kami? "tanya abi jefri


"Tenang pak, anak bapak sedang kritis sekarang. Namun kami harus segera menindak lanjut keadaan nya, dengan operasi untuk mengeluarkan peluru yang berada di dalam tubuh putra bapak" ucap jelas sang dokter


"Apa kritis!" ucap Umi kulsum tak percaya


"Benar bu, mari ikut dengan kami untuk menyetujui operasi nya. Meskipun kemungkinan besar untuk selamat hanya 5%"


Mereka semua sejenak diam, namun abi jefri dengan segera angkat suara.


"Baik, kami akan setuju. Dimana kami akan melakukan konfirmasi operasi nya?" ujar abi jefri


Dokter tersebut pun ngarahkan kepada abi jefri untuk mengikuti nya, beserta Umi kulsum.


Tinggal lah di sana Meidina dengan Arsakha dengan and the geng nya. Adam memeluk Meidina dengan lembut, Mengelus pucuk kepala nya yang tertutup dengan hijab.


"Meidina, suami mu pasti akan baik-baik saja" saut Adam


"Benar, suami mu pasti akan segera sehat kembali" saut Nico


Kedua pria itu menenangkan Meidina yang tengah menangis dengan tersedu-sedu. Arsakha mendekati diri nya pada Meidina sekali lagi, mencoba menguatkan nya.


"Buruk, maksudku Meidina. Percaya lah, suami mu akan baik-baik saja. Ia sedang berjuang melawan sakitnya untuk mu, demi mu dan juga anak mu" ujar Arsakha.


"Kau sangat mencintai nya kan?, doa kan dia agar cepat siuman. Menangis saja tidak akan membuat keadaan membaik" sambung Arsakha.


Meidina melirik sayu Sakha, lalu membuang pandangan nya kembali. Tiba-tiba, Pratik datang dengan tergesa-gesa.


"Tuan-tuan" sautnya.


Arsakha and the geng meliriknya, begitu juga Meidina.


"Tuan ini"


Pratik memberikan sesuatu pada Adam, Adam mengambil nya lalu segera memberikan nya pada Meidina.


"Dik, kau harus membersihkan tubuhmu. Tidak mungkin kan, kau akan seperti ini terus dengan pakaian berlumuran darah" ucap Adam.


Seketika itu, Meidina tersadar.Ia langsung mengambil baju yang sudah di siapkan oleh Pratik.


"Bersihkan badanmu, aku akan meminta seorang suster untuk menemani mu. Jika perlu kau harus melakukan pemeriksaan, untuk mengetahui keadaan janin yang tengah kau kandung" ujar Nico

__ADS_1


"Itu benar, kau harus mengetahui perkembangan bayi mu Meidina" saut Arsakha.


Meidina hanya menuruti apa yang di ucapkan ke tiga abang nya, ia segera meninggal kan tempat tersebut dan mencari kamar mandi untuk dirinya membersihkan badan.


Hanya tersisa bayangan punggung Meidina saja, ketika ia di bawa oleh seorang suster untuk mengantar nya pergi.


"Sakha" saut Nico


"Kau yakin akan menikahi Seraya? " tanya Nico


"Aku yakin, ini semua demi keselamatan Nurul ku. Meskipun aku tidak bisa bersamanya, tapi biarkan ia bahagia dengan dunia nya yang baru "


"Aku sangat yakin, Buruk sangat mencintai Musa begitu pun sebaliknya. Aku tidak ingin membuatnya terluka kembali seperti dulu, biarkan aku menebus kesalahan ku"


Perkataan Arsakha membuat hati mereka ter iris mendengarkan nya, seorang Arsakha yang sukunya menyia-nyia kan Meidina.


Kini harus berkorban demi kebahagiaan Meidina.


...Tidak masalah jika kau tidak bersama seseorang yang kau cintai, asalkan ia tidak terluka dengan pilihan cintanya saja ...


...-Arsakha Virendra-...


"Tuan Sakha" Saut Pratik


"Ada apa Pratik?"


"Apa tuan benar-benar yakin? "


"Aku yakin, aku akan menikahi mantan pacarmu. Kau tak usah khawatir"


Pratik berpikir sejenak.


"Tuan, aku harap tuan tidak marah" lirih Pratik


"Kenapa memang?" saut Nico


"Aku dan sorayap" ucap Pratik menggantung


"Pernah apa" saut Adam


"Pernah"

__ADS_1


"KATAKAN PRATIK!" ucap tegas Adam dan Nico


"Kami pernah tidur bersama" lirih Pratik


__ADS_2