
Setelah hari yang panjang itu berlalu, Adam mengajak mereka semua untuk double date ke sebuah restoran makan bintang 5 di Jakarta. Adam mengajak Nico, Arsakha dan juga Musa untuk ikut serta dan itu harus wajib untuk mereka ikuti.
Adam mengambil ponselnya yang berada di nakas, ia mencari nama Arshaka di dalam kontak pencarian tersebut. Adam pun menelepon Arshaka, dan saat itu Arsakha yang sedang mengadakan rapat bersama para pemegang saham di perusahaannya.
Tak bisa menjawab panggilan telepon dari Adam tersebut. Adam pun berdecak kesal, ketika panggilan teleponnya itu selalu di reject karena Arshaka sedang mengadakan rapat, dan yang memegang ponselnya adalah Tono. Yang merupakan sopir pribadi sekaligus asisten pribadinya.
Kabar berita tentang Arshaka yang sudah sembuh akan kelumpuhannya itu. Menjadi topik pembicaraan hangat bagi para warganet dan warga + 62.
Adam seolah tak percaya dengan kabar yang beredar tersebut, mereka membuat artikel hoax tentang Arsakha yang menyembunyikan kelumpuhannya itu. Mereka mengatakan, bahwa Arsakha memang sengaja berpura-pura lumpuh untuk mengelabui para investornya.
Untuk bisa di belas kasihan, nyatanya tidak. Arsakha melawannya dengan memberikan sebuah berkas-berkas dokumen, yang telah Ia lewati pasca operasi dan juga pasca kemoterapi kakinya ketika lumpuh kalau itu.
Sembuh dari kelumpuhan yang sudah membuatnya mati rasa dan tidak ingin mengenal dunia lagi. Namun, Arsakha bangkit dan memulai harinya dengan awal yang baik. Adam pun tak berhenti dari Arsakha, ia menghubungi Nicho dan hal sama pun terjadi.
Nico tidak menjawab panggilan teleponnya, selanjutnya Musa juga begitupun sama dengan Arsaka dan juga Niko yang tidak merespon panggilannya. Adam hanya bercak kesal,
"Cih, mereka ini sibuk sekali!"
Ayah Hamzah yang melihat tingkah putranya itu hanya tertawa kecil. Ketika Adam mulai kesal pada para sahabatnya itu.
"Kau kenapa Adam? Sebaiknya kau juga urus perusahaan Ayah, agar kau juga sama sibuknya seperti mereka." ucap Ayah Hamzah.
Adam pun malas untuk menanggapinya. Baginya membuka cafe yang cukup besar di luar sana sudah membuatnya pusing. Apa lagi jika ia mengurus suatu perusahaan pusat, tapi ya teringat akan Meidina. Dia tidak bisa membuat adik perempuannya itu menanggung beban.
"Ayah..." lirih Adam.
Ayah Hamzah pun mengerutkan kedua alisnya, hingga berdempetan. "Kau kenapa, apa kau sakit, Dam?" tanya Ayah Hamzah pada Adam.
Adam pun menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak Ayah, aku baik-baik saja. Malam ini aku akan pergi bersama sahabat-sahabatku, dan juga akan membawa adikku. Kami akan melakukan double date bersama Sakha, Nico dan juga Musa" ucap Adam
__ADS_1
"Memang kau punya pasangannya?" tanya serius Ayah Hamzah.
Adam menghela nafasnya dengan berat, "Tentu saja aku punya!" ucap Adam dengan Ketus
"Ayah tidak percaya, jika kau memiliki kekasih dan coba bawa kekasihmu itu ke hadapan ayah, dan kenalkan pada kami semua." Ucapan Ayah Hamzah membuat mood Adam semakin kacau.
"Bukankah Ayah sudah melihatnya saat di bandara saat itu?" ucap Adam
"Siapa?" tanya balik Ayah Hamzah.
Ia berpura-pura berpikir sejenak, merasa bingung dengan apa yang putranya yang itu sampaikan.
"Sepertinya Ayah pernah melihatnya. Tapi siapa ya?" tanya Ayah Hamzah yang pura-pura tidak tahu.
Dengan rasa yang malas, Adam pun pergi meninggalkan sang ayah keluar dari rumah membawa mobil BMW milik pribadinya itu.
Adam mengunjungi perusahaan Arshaka, namun sialnya ia malah bertemu dengan Nico dan juga Musa. Entah ini adalah kesialan atau keberuntungan baginya, agar bisa mengucapkan langsung niatnya datang ke perusahaan Arsakha itu.
Mereka berdua pun hanya menaik turunkan bahunya. Di ruangan tersebut, ada 4 pria yang tampan, dan juga gagah yang sedang asyik ngobrol bersama. Adam masih mengatakan niatnya tersebut, untuk double date pada malam hari ini. Karena kebetulan malam ini adalah malam Minggu, jadi sangat pas untuk pergi keluar bersama pasangan.
"Aku tidak yakin Naora mau ikut, tapi aku akan membujuknya untuk ikut bersamaku. Dan juga Arsenino yang akan aku aja juga." ucap Nico.
"Aku juga akan membujuk Medina agar ikut, dia pasti mau. Begitu pun juga dengan Moeza. Mereka berdua sangat penurut dan juga baik, tidak banyak meja dan meko." sambung Musa.
Arsakha hanya terdiam, ia tengah berpikir bagaimana caranya untuk membujuk Soraya agar mau ikut bersamanya.
"Entahlah, aku tidak tahu jika nanti Soraya tidak mau ikut denganku bagaimana?" tanya Arsakha kepada mereka semua-
Ketiga lelaki itu pun melirik Arsakha, Adam pun mengerti rasa gengsi Sakha memanglah sangat tinggi. Yang tingginya melebihi tinggi Gunung Fuji
__ADS_1
"Kau tidak usah khawatir, istriku akan mengajak Soraya untuk pergi bersama kita semua." Ujar Nico pada Arsaka.
"Betul, jangan khawatir Sakha. Meidina juga pasti akan mengajak Soraya untuk pergi bersamamu. Secara kau kan kau kaya raya, dan kau yang akan membayar makanan kami semua." Sambung Musa.
Mereka semua pun tertawa bersama, Adam yang mendengar perkataan konyol dari adik iparnya itu pun, hanya bisa tertawa cengengesan.
Sakha yang mendengar kalimat tersebut, yang menyudutkan seolah-olah bahwa Arsakha memanglah kaya raya. Arsakha menarik nafasnya dengan panjang, ia menyadarkan kepalanya menutup kedua matanya membayangkan bagaimana, saat ia hendak akan mengajak Soraya pergi malam itu juga.
Sebuah bayangan terlintas di benaknya. Bayangan Arsakha pada saat ia pulang ke rumah, dan lalu mengajak Soraya untuk pergi bersama.
"Sora, ayo ikut bersamaku pergi malam ini! bersama sahabat-sahabatku untuk melakukan double date!"
Namun bukannya mau, Soraya malah bergidik ketakutan melihat Arsakha yang menetapinya dengan tatapan tajam. Lalu Arsakha pun menggeleng-gelengkan pelan kepalanya, ia tidak ingin berpikiran terlalu banyak tentang Soraya yang tidak mau diajak olehnya.
Sakha mencoba untuk menghapus, menghilangkanp dan juga melupakan hal yang tadi terlintas di benaknya itu.
"Soraya pasti mau" ucap Adam pada Sakha.
Sakha kembali membuka kelopak matanya, ia menatap dinding ruangan kantornya itu. Sebuah hal baru terlintas di benaknya, kali ini adalah hal yang paling benar untuk Arsakha lakukan. Ia akan membelikan Soraya sebuah baju kasual yang Soraya sukai.
Dan mungkin termasuk selera fashion istrinya juga. "Baiklah, aku akan pergi malam ini, kita janjian di mana?" tanya Arsakha ada Adam.
"Di restoran bintang 5 Korea, aku akan membawa devanya pergi malam ini."
Musa pum seketika itu mengerutkan kedua alisnya, ketika Adam mengatakan nama Devanya. Yang secara tidak langsung, itu adalah kakak perempuan Musa.
"Apa! Kak Devanya?! Kenapa Kakak pergi bersama Kak Devanya? Dia kan kakakku, dan juga Kakak kan adalah kakak iparku." ucap Musa yang tidak terima, jika Adam membawa Kakak perempuannya itu pergi.
"Tidak usah khawatir Musa, sebentar lagi aku pun akan menjadi Kakak iparmu lagi. Dan kau akan menjadi adik iparku lagi, hehehe. Kita berdua akan sama-sama menjadi ipar" sahut Adam yang berhasil membua Musa tercengang.
__ADS_1
Arsakha pun mendapatkan ide untuk menjahili Musa. "Itu benar Musa, secara tidak langsung aku juga adalah Kakak iparmu. Karena Soraya kan adalah kakakmu juga." Musa semakin depresi, ketika mendengar ucapan dari Adam dan juga Arsaka.
Yang terus-terusan menjahili, mereka hanya tertawa dan mereka bertiga pun tertawa menertawai Musa berdecak kesal. Musa frustrasi akan hubungan keluarga, dan juga hubungan persahabatan mereka bertiga.