Penyesalan CEO Lumpuh

Penyesalan CEO Lumpuh
DICULIK?


__ADS_3

Soraya pergi menuju tempat di mana Soraya dan Medina akan bertemu. Namun di saat di perjalanan, mobil yang Soraya tempati di bajak oleh beberapa orang menggunakan mobil hitam pekat. Soraya nampak ketakutan ketika mobil tersebut dipaksa untuk membuka pintunya.


Sang sopir pun membuka pintu taksi tersebut, dan para lelaki berbaju hitam dan menggunakan kacamata itu menghajarnya. Lalu salah satu diantara mereka menarik paksa Soraya untuk turun. Jalanan begitu sepi, jadi sangat minim adanya penduduk atau pengendara yang lewat jalan tersebut. Mereka membawa paksa Soraya.


Soraya hanya bisa berteriak meminta tolong. " Tolong! Tolong! Tolong!." Namun sayang tidak ada yang menyahutinya, ia dibawa masuk ke dalam mobil hitam tersebut.


Tangannya diikat dan juga mulutnya dilakban oleh lakban yang begitu pekat dengam lem. Sehingga suaranya pun tidak bisa untuk berteriak kembali. Masuknya Ia di dalam mobil, ia menatap seorang seorang wanita memakai hijab di dalam mobil Vans tersebut.


"Medina?" ucap Soraya di batinnya


Medina membuka kedua matanya, ia pun sama halnya dengan Soraya yang rasakan. Terkejut melihat Soraya bernasib sama dengan dirinya. Namun beruntungnya, Moeza tidak ikut bersama Medina, ia memilih ikut bersama Ayah Hamzah ke perusahaan.


Mereka berdua hanya saling tatap dan menatap, dengan mulut yang terkunci lakban dan tangan yang terikat. Mau bagaimana lagi, mereka berdua menerima nasibnya yang diculik oleh orang asing.


.........


Tokyo, Jepang


Adam Tengah membantu Devanya membereskan tempat tidurnya, Anya terus merengek ingin pulang dan tidak mau dirawat di rumah sakit dan dengan terpaksa. Adam membawanya pulang ke mansionnya.


"Kau sangat manja Devanya, tidak beda jauh seperti anak kecil yang terus-terusan merengek kepada ayahnya." cibir Adam tanpa melihat Devanya yang tengah memasang wajah cemberut.


"Aku ingin pulang, bagaimana jika mereka menemukanku Adam?" Adam pun sejenak melirik Devanya yang setengah ketakutan itu.


Devanya belum sembuh total dari trauma di masa lalu, mau bagaimanapun kejahatan di 3 tahun yang lalu adalah kejahatan yang besar. Sesudah kejahatan Adelia dsn sekarang Devanya yang menjadi permasalahan bagi mereka semua.


"Kau tahu di mana keluargamu ditahan?" tanya Adam.


Devanya pun mengangguk pelan, "Iya aku tahu, mereka disekap di sebuah pulau aku tidak ingat di mana itu. Hanya saja, aku ingat pulau itu sangat terpencil dan kemungkinan berada di tengah-tengah lautan. Karena aku sangat tidak mengetahui tempat itu di mana, mungkin karena sangat terpencil juga. Dan sepertinya, itu adalah pulau baru." jawab Devanya.

__ADS_1


Ia sejenak teringat kembali, akan di saat dia disiksa bersama keluarganya.


"Aku takut, jika mereka akan melukai kedua orang tuaku, Dam. Apa yang harus aku lakukan?" ucap Devanya.


Adam berjalan mendekati Devanya dan mengelus punggung Devanya dengan pelan.


"Sabarlah, mereka pasti akan baik-baik saja dan mereka pasti akan selamat." ujar Adam menyemangati Devanya agar tidak berpikiran untuk negatif.


"Kau bisa janji kepadaku kan?" pinta Devanya.


Adam menyipitkan kedua matanya, "Berjanji? Berjanji soal apa?" ucap Adam yang setengah kebingungan.


Devanya mengeluarkan sebuah kalung liontin berbentuk pedang itu kepada Adam. dan ia memberikannya, Adam pun segera mengambilnya menggunakan tangan kanannya.


"Simpan ini baik-baik, Dam." ujar Devanya.


Adam pun melihat liontin pedang itu, ia sedikit heran dengan liontin itu. Ia berpikir sambil melihatnya dengan seksama, "Sepertinya aku pernah melihat liontin ini? Tapi di mana ya."


Karena aku tanpa sengaja mendengar pembicaraan Tuan M bersama anak buahnya. Tentang Soraya yang bukan anak kandungnya, dan kemungkinan besar. Aku dan Soraya masih ada ikatan darah, walaupun hanya sebatas saudara tiri dari ayahku." ucap Devanya.


Adam pun hanya mengangguk pelan. " Aku tidak mengerti tentang masalah keluargamu Deva. Tapi aku akan selalu menjadi perisai pelindungmu, yang akan selalu melindungimu di setiap waktumu dan juga di setiap langkahmu."


Ucapan Adam yang berhasil membuat pipi Devanya merah merona. "Sudahlah. Ayo cepat kita bereskan tempat ini, katanya kau mau pulang?" tanya Adam.


Devanya pun mengangguk pelan. "Iya, aku mau pulang. Aku tidak betah di rumah sakit Dam" ujar Devanya.


Adam pun segera membantu membereskan bangkal VIP yang telah ditempati oleh Devanya. Sejenak saat dia sudah membereskan semuanya, dering teleponnya mengagetkan Adam. Adam pun segera melihat siapa penelepon tersebut.


Ternyata itu adalah Hendra, mengatakan bahwa jika Soraya telah pergi bersama Medina. Tidak ada jawaban dari Adam, Adam hanya menganggapnya itu biasa. Mungkin Soraya ingin dekat dengan adiknya, pikir Adam di dalam benaknya.

__ADS_1


"Kalian menghubungiku karena soal ini saja? Sungguh tidak ada pekerjaan sekali kalian ini!" cibir Adam.


"Tapi tuan..." sahut Hendri si adik.


"Kenapa?!" tanya Adam dengan tegas.


" Kami takut jika Nona Sora pergi, apalagi pergi bersama adik tuan. Mungkin saja Nona Medina akan dibawa ke mana saja oleh Nona Soraya. Apa Tuan tidak takut?" tanya Hendri kembali.


Adam masih bermuka datar, mendengar perkataan si kembar tersebut. "Aku yakin, adikku tidak akan seperti Soraya. Yang selalu main kabur-kaburan, yang ada dia yang selalu menunggu suaminya untuk pulang. Entah kapan ia akan kembali, karena ia tak pernah pulang-pulang seperti bang toyib." Cibir Adam pada Musa.


Devanya hanya mengerutkan alisnya, mengingat Musa adalah adik kandung Devanya, Adam yang melihat raut wajah Devanya yang merubah seketika, langsung mematikan sambungan telepon tersebut tanpa sepatah kata pun.


Hendri dibuat Kesal oleh Adam, ia mencoba menghubungi Adam kembali. Namun ponsel Adam telah ada ubah menjadi tanpa suara atau silent.


"Kay kenapa, Deva?" tanya Adam


"Tidak apa-apa. "Jawab Devanya dengan spontan.


Tidak mau ambil pusing Adam pun segera mengemasi barang-barang yang perlu ia bawa kembali ke mansion. Dan beberapa barang baru yang ia beli untuk Devanya kedepannya.


"Sebelum pergi ke mansion, aku akan pergi ke cafe dulu untuk mengatur keuangan cafe. Apa kau ingin ikut bersamaku?" Tanya Adam


Devanya pun hanya menggelengkan pelan kepalanya. "Aku tidak mau" ucapnya


Adam pun hanya bisa menghela nafasnya dengan panjang. "Baiklah, jika kau tidak mau ikut. Kau akan pulang bersama Armin sopir pribadiku, dia akan membawamu ke mansion, di sana juga kau akan bertemu dengan pelayan bernama Mikasa. Kau mintalah bantuannya untuk menyiapkan kamar mu, dan jika kau membutuhkan sesuatu panggilan dirinya, kau mengerti?" ucsp Adam


"Ia Adam. Aku mengerti"


"Bagus" ucsp Adam

__ADS_1


Mereka kaluar, dan berjalan dengan pelan menuju administrasi untuk membayar biaya rumah sakit.


__ADS_2