
Note Author : Halo readers semuanya,setelah sekian purnama dede othor gak update. Sekarang kembali update dengan sehari/dua bab, semoga kalian suka dan tetep setia membaca cerita ini sampai ending. Selamat membaca, dan selamat datang di kisah cintanya babang Adam ♥
Pratik diam tak bergeming, ia bahkan tak memegangi pipi nya yang Ayah Hamzah tampar.
"Ayah!" ucap Meidina kaget, Ayah Hamzah melirik putri nya.
"Pratik, segera selesaikan tugasmu untuk mencari pelaku tersebut!" titah Ayah Hamzah.
Pratik membungkuk kan badan nya,
"Baik tuan"
Ia segera pergi meninggal kan Ayah Hamzah, Meidina masih menatap bingung sang ayah.
"Maaf sayang, ini pelajaran untuk nya karena lambat mengerjakan tugas nya" ucap Ayah Hamzah.
"Tapi tetap saja ayah jangan memperlakukan nya dengan kasar" ucap Meidina.
Musa segera bangun, ia menguatkan dirinya untuk tegar dan menerima ini semua.
"Ayah,aku tidak bisa berlama-lama. Aku harus pergi menjenguk kak Anya, di rumah sakit XX" ucap Musa.
"Hm, kau pergilah nak" saut Ayah Hamzah.
"Aku ikut" ucap Meidina, ia menggandeng tangan Musa.
Musa tersenyum ke arah nya, ia mencium tangan kanan Ayah Hamzah. Meidina juga melakukan hal yang sama.
Di Rumah Sakit XX
Seseorang dokter wanita masuk ke dalam bangsal Kak Anya,ia menyuntik kan sesuatu ke tangan Kak Anya. Dokter wanita itu tersenyum sinis,ia segera membereskan barang-barang dan pergi dari bangsal Kak Anya.
Wanita itu memakai masker, lengkap dengan seragam dokter. Membuat mereka yang melihat nya, tak mengetahui siapa dia.
Musa dan Meidina sudah sampai di rumah sakit, Musa langsung bergegas masuk. Dan mencari bangsal di mana kakak nya berada, ia menemukan nya. Dan masuk ke dalam, saat masuk mata nya tertuju pada monitor. Detak jantung Kak Anya menurun, Musa yang panik langsung segera meneriaki dokter.
"Dokter" teriak Musa.
Kali ini seorang dokter pria yang datang, ia terkejut akan pasien nya yang mendadak kritis kemali.
"Bagaimana bisa, pasien sudah melewati masa krisis nya" ucap sang dokter itu terkejut.
"Bapa ibu, silakan keluar. Kami akan memeriksa pasien nya" lirih sang perawat di samping nya.
"Tolong selamat kan kakak saya dokter " ucap Musa frustrasi.
"Kami akan berusaha sebisa mungkin"
Dokter dan perawat itu masuk, ia nampak sangat panik. Meidina memeluk Musa, agar Musa tenang, tanpa mereka sadari Dokter wanita itu lewat di depan mereka. Dan sudah mengganti pakaian nya,menjadi baju biasa.
Ia menatap Musa, dengan sorot mata yang tajam. Lalu pergi dengan cepat, sebuah telepon masuk di ponsel Musa. Musa segera menghapus air mata nya, dan mengambil ponsel yang ia simpan di saku celananya.
__ADS_1
"Kak Adam"
Ya, kak adam menelepon. "Aku akan pergi mengangkat telepon dulu" ucap Musa dengan suara serak.
"Tidak,berikan ponsel mu pada ku. Biarkan aku yang menjawab nya" ucap Meidina.
"Tapi" saut Musa.
"Tidak ada tapi-tapian!,berikan ponsel mu" ucap lantang Meidina,membuat Musa kaget.
Istri nya yang lemah lembut, seketika menjadi galak. Dan Musa menjadi seorang suami yang takut istri. Musa memberikan ponsel nya, dan Meidina yang menjawab nya.
"Iya hali, Assalamualaikum Kak Adam" ucap lemah lembut Meidina, Musa menepuk jidat nya ketika melihat sifat istrinya yang langsung berubah seketika.
"Waalaikumsalam,dimana suami mu adikku?" tanya Kak Adam.
"Ada, dia sedang di sebelahku, ada apa mencari nya. Kak Adam merindukan suami ku, ketimbang aku yang adik mu" ucap manja Meidina.
"Mana ada, kakak juga merindukan mu" ucap Kak Adam.
"Kalia sedang apa? " sambung Kak Adam
"Kami sedang duduk,tengah menunggu dokter keluar dari bangsal"
Sontak mebuat Adam terkejut, "Apa, sedang apa kalian di rumah sakit?. Siapa yang sakit? , ayah tidak apa-apa kan? " ucap panik Adam.
"Haist,tenang lah. Ayah tidak apa-apa, kami menjenguk Kak Anya, dia adalah kakak ipar ku, kakak nya Musa" ucap jelas Meidina.
"Aku kira siapa,kau hampir membuat kakak jantungan Meidina" saut Kak Adam.
"Katakan ada apa menelepon,jangan mengganggu waktu ku. Aku sedang bermesraan bersama suamiku,jika kakak iri sebaiknya cari pasangan juga" ucap Meidina, membuat Musa geli di buat nya.
"Berikan ponsel nya, pada suami mu" ucap Kak Adam, Meidina menuruti nya. Ia memberikan ponsel Musa, ke Musa.
"Ini" saut Meidina.
Musa mengambil ponsel nya, dan menjawab panggilan dari Kak Adam.
"Ini aku kak" ucap Musa.
"Kau tidak jadi ke negara A untuk menjenguk Arsakha?" tanya Adam.
"Iya kak, aku harus mengurus kak ku dulu" ucap Musa.
"Baiklah,semoga kakak mu cepat sembuh" ucap Adam.
"Terima kasih kak,aku juga berharap Kak Anya cepat sembuh" ucap Musa dengan suara serak nya.
"Suara mu sangat serak sekali Musa" ucap Adam.
"Jagalah dirimu,jangan terlalu lama menangis. Semua pasti akan baik-baik saja" ucap Adam menenangkan Musa.
__ADS_1
"Iya kak adam, terima kasih" ucap Musa.
"Bagaimana keadaan Arsakha di sana?" tanya Musa.
"Keadaan nya sudah mulai membaik, namun ia menderita kelumpuhan sekarang " jawab Adam. Musa terdiam tak bergeming, ia hanya menatap Meidina penuh arti.
"Sudah,aku tutup telepon nya dulu" ucap kak adam, ia menutup telepon nya. Ia juga mengucapkan salam, dan Musa menjawab nya.
Musa melirik ke arah Meidina, ia menatap sendu istrinya. Meidina memeluk Musa, dan Musa pun membalas pelukan istrinya.
"Jangan berpikir macam-macam, aku hanya akan mencintai mu" ucap Meidina.
"Aku percaya" saut Musa.
Di Negara A.
Adam masih termenung di sebuah sofa, terlihat Arsakha yang tengah tertidur di bangsal nya. Ia melirik Arsakha, adam memijat pelan pelipis mata nya.
Siapa Anya?, kenapa aku baru tahu jika Musa memiliki seorang kakak wanita bernama Anya, aku jadi teringat Devanya. Kekasih ku dulu, saat masih berkuliah.
Gumam Musa dalam hatinya, ia memaksakan diri nya untuk tertidur. Namun hati dan pikirannya,masih belum tenang akan kabar tentang Kak Anya.
"Tidak mungkin, Anya ku mengatakan dia tidak memiliki adik. Mungkin aku terlalu merindukan nya, sampai-sampai mengkhawatirkan nya" ucap Musa.
Tanpa ia sadari, Arsakha sudah membuka mata nya. Dengan keadaan yang sangat lemah, karena sekujur tubuhnya terdapat banyak sekali luka-luka.
"Kau sudah sadar?" saut Adam, ia mendekati Arsakha.
Arsakha menatap haru pria yang di depan nya itu, Adam masih mengkhawatirkan diri nya.
"Aku sangat mengkhawatirkan mu, kau tidak apa-apa kan" ucap Adam, tanpa sadar.
Arsakha menitik kan air mata nya, meskipun perih terkena air mata. Ia menahan nya demi Adam, selama ini. Hubungan di antara keduanya sangat jauh, pertemuan terakhir mereka saat Adam meminta penjelasan tentang pencarian Meidina.
"Mengapa kau menangis bodoh!,hapus air mata mu. Kau sangat jelek saat menangis" ucap Adam, ia mengapus air mata Arsakha yang jatuh.
Sakha menggenggam tangan Adam.
"Adam, apakah kau masih membenci ku?" tanya Arsakha.
"Sudahlah, bicarakan itu nanti. Yang terpenting sekarang,adalah tentang kesembuhan mu" ucap tegas Adam.
"Aku tidak ingin sembuh, aku ingin Nurulku kembali" ucap Arsakha tersedu.
"Jangan keras kepala Arsakha,apa yang kau tanam, itulah yang nanti akan kau tuai. Ini adalah kesalahan mu sendiri, aku tidak bisa membantu mu"
"Adik ku sudah menikah, dan ia sudah bahagia dengan suami baru nya. Aku harap ku juga sama, menerima takdir ini dan memulai semuanya dari awal. Dengan membuka lembaran baru"
Ucap jelas Adam, membuat Arsakha terdiam. Nico yang sedari tadi di depan pintu bangsal, memilih mengurung kan niat nya untuk masuk. Ia memilih mendengar kan pembicaraan kedua sahabat nya, dari luar.
"Aku juga berharap begitu" batin Nico.
__ADS_1