
Arsakha melirik jam tangan yang ia kenakan di tangan sebelah kanannya, dengan sabar Sakha menunggu namanya di panggil.
"Tuan Presedir Arsakha" Namanya telah di panggil, Arsakha dengan segera masuk ke dalam sambik mendorong roda kursi rodanya.
Ia masuk, dengan wajah yang sangat pucat Sakha segera menemui dokter spesialis yang telah merawatnya.
"Silakan pak, duduklah" ucap sang dokter mempersilakan Sakha.
Sakha bangun dari duduk di kursi rodanya, dengan di bantu sang dokter juga. Dokter itu pun memeriksa kaki Sakha, mulai dari menurutnya secara pelan-pelan.
"Apa bapak merasakan ada yang sakit sejauh ini?" tanya sang dokter.
"Tidak, saat operasi itu aku tidak mendapati efek samping yang datang ke tubuhku. Hanya saja kemarin, sekap enam bulan pasca operasi aku muntah-muntah sampai keluar darah" jawab Arsakha, memberitahuku keluh kesahnya.
Sang memeriksa kondisi kaki Arsakha. Ia mencari dengan teliti dan memeriksakannya, namun tidak ada hal yang mencurigkan sampai saat ini.
"Kau baik-baik saja tuan, namun jahitan di kakimu sedikit terbuka. Apa kau berlari?" tanya sang dokter.
Arsakha mengangguk pelan. "Ia, tadi dini hari aku berlari karena ingin memuntahkan makananku." Sang dokter pun menepuk jidatnya.
"Tuan, apa anda tau yang anda lakukan itu sangat berbahaya bagi tulang kaki Tuan" ucap sang dokter.
Arsakha hanya menggeleng, nyaris saja membuat sang dokter naik pitam. Ia harus sadar, siapa orang yang tengah ada di depannya ini.
"Tuan, anda jangan dulu berjalan tanpa alat bantu. Keretakan tulangmu kala itu nyari membuatmu lumpuh permanen, tuhan masih menyayangimu dengan memberikanmu kesempatan untuk sembuh" ujar sang dokter.
Sakha mencerna ucapan sang dokter, ada benarnya juga apa yang dokter katakan. Ia nyaris lumpuh permanen akibat kecelakaan di masa lalu.
Sakha menghela nafas. "Lalu apa yang harus aku lakukan dokter?" tanya Arsakha kebingungan.
Sang dokter berdiri lalu berjalan menuju meja kerjanya, ia mengambil sebuah buku note kecil dan menuliskan sesuatu.
"Gampang, Tuan hanya perlu waktu satu tahun lima bulan lagi untuk sembuh total. Selama itu, Tuan dilarang untuk menerjakan pekerjaan berat seperti berolahraga, gym, berlari dan juga loncat. Itu akan menurunkan kestabilan kaki anda, anda akan merasa nyeri dan linu." jawab sang dokter.
Arsakha hanya terdiam, ia memijat pelan pelipisnya dan sang dokter memberikannya sebuah note untuk ia terima.
"Itu adalah catatan makanan, tuan juga harus pentingkan kesehatan tuan fisik tuan" ujar sang dokter.
Lepas sudah kontrol pada sang dokter ahli spesalisnya, Sakha keluar dari ruangan tersebut. Namun siapa sangka ekor matanya melihat seseorang yang ia sangat kenali.
"Meidina..." lirih Sakha.
Ia menjalankan kursi rodanya dan menghampiri orang yang akan ia tuju.
"Meidina" sahut Arsakha.
__ADS_1
Meidina pun menoleh, ia mengerutkan keningnya ketika melihat Arsakha.
"Kak Sakha" ucap Meidina tak percaya.
"Sedang apa kau di sini, kau sakit? Atau Ayah Hamzah yang sakit?" Meidina refleks menggelengkan kepalanya.
"Bukan dua-duanya" sahut Meidina.
"Lalu, siapa?" tanya Arsakha yang semakin penasaran.
"Moeza, dia keracunan makanan saat di tempat les melukisnya" jelas Meidina.
Spontan Arsakha pun melongo. "APA, KERACUNAN!" ucap Arsakha penuh dengan nada ketegasan.
"BAGAIMANA BISA?!? APA KAU TI-"
Arsakha belum menyelesaikan perkataannya, namun Meidina segera memotongnya sambil mengisyaratkan Arsakha untuk diam dengan meletakan jari telunjuknya di bibirnya.
"Stt.... Ini rumah sakit, bukan perusahaanmu. Diamlah sedikit, jika kau ingin berteriak teriak saja di luar" ucap Meidina yang sedikit merajuk.
Arsakha hanya menampilkan senyum kudanya, ia memperlihatkan gigi putih serta menggaruk tengkuknya yang tak terasa gatal.
"Hehehe, maaf Mei maaf. Aku terbawa suasana, lalu dimana Moezaku?" tanya Arsakha.
"Ia di dalam, dan kau jangan mengganggu anakku! Dia sedang beristirahat" larang Meidina. Sakha memajukan sedikit bibirnya.
"Tidak!"
"Hanya lima menit saja, Meidina"
"Tidak!"
"Boleh ya..."
"Tidak!"
Arsakha berdecak kesal, "Ish!" Mendapatkan perilaku yang menyebalkan dari sang mantan istri, membuat Arsakha naik darah.
"Kau sangat pelit, dan galak. Sama persis seperti kakakmu!" Cibiran dari Arsakha, sukses membuat ia pun naik darah.
Meidina mengerutkan keningnya, dan dengan tak sopannya menendang kaki Sakha yang lumpuh tak berdaya itu.
Brugh... Suara dari tendangan Meidina, Sakha hanya meringis kesakitan.
"Sepertinya Kak Sakha sudah bosan hidup" ucap Meidina.
__ADS_1
Sakha terdiam sambik meringis kesakitan, ia baru ingat bahwa Meidina yang ia kenla dulu sangat berbesa dengan Meidina yang sekarang.
"Ti-tidak Meidina, aku mohon ampun" Mendengar pegampunan dari Arsakha, Meidina langsung pergi ke dalam ruangan Moeza tanpa mempedulikan Sakha sang mantan suami.
"Tuh kan, dia sama galaknya seperi kakaknya" cibir Sakha pada batinnya.
Tak mau ambil pusing, Sakha segera mendorong roda kursi rodanya ke tempat administrasi. Langkahnya harus terhenti ketika sebuah panggilan memanggilnya, Sakha berhenti dan menjawab panggilan tersebut.
"Nico..."
Sakha pun menjawab panggilan telepon tersebut, ia meletakan ponsel apel digigit ke sebelah telinga kanannya.
"Halo" ucap Sakha.
"Halo, Sakha. Bisakah malam ini kita bertemu, ini penting" ucap Nico di sambungan telepon itu.
"Hmm, baiklah. Aku akan segera pergi, kita bertemu di tempat biasa" ujar Arsakha.
"Baik, aku akan menunggumu (Daddy, Nino ikut)" Arsakha tersentak ketika mendengar ucapan sang keponakan kesayangannya.
"Aih, apakah itu King Nino?" tanya Arsakha, mendengar suara yang tak asing. Anak laki-laki yang berusia lima tahun seketika langsung mengambil ponsel dari sang ayah.
"Om Sakha, Nico mau mobil-mobilan dong" rengek Nino tanpa dosa.
Sakha yang mendengarnya hanya tertawa kecil. "Hahaha, iya-iya. Nanti om belikan ya, aku tidak menyangka bahwa kalian sudah datang ke Indonesia"
"Kami baru saja sampai tadi siang, Om"
"Oh benarkah? Om sudah tidak sabar untuk menemui keponakan kesayangan Om"
"Nino juga, Nino juga sudah tidak sabar meminta dibelikan mainan oleh Om Sakha"
"Kenapa tidak meminta ke ayahmu saja? Kami kan sama-sama kaya?"
"Tidak mau, Daddy sangat pelit dan suka bermesra-mesraan dengan Mommy di depanku" Ucapan Nino yang sangat polos itu nyaris membuat Sakha mengeluarkan gelak tawanya yang terbahak-bahak.
Nico yang menyadari sang putra mengatakan hal yang tidak senonoh, langsung merebut kembali ponselnya dari sang putra.
"Kembalikan pada Daddy!" tegas Nico pada Nino.
"Hei Nico, jangan terlalu kasar pada putramu" ujar Arsakha, Nico hanya berdengus kesal.
"Aku ingin menjualnya, apa kau mau Sakha? Akan ku berikan secara cuma-cuma" ucap Nico tanpa dosa.
"Cuma-cuma ya, lalu bagaimana dengan Naora? Kau bisa jamin dia tidak akn mengamuk?"
__ADS_1
Pertanyaan dari Arsakha menyadarkan Nico, jika saja Naora tahu. Nico sudah di pastikan malam ini tidak akan selamat, dari amukan sang istri walaupun hanya sebatas candaan.
BERSAMBUNG