
Naora datang ke perusahaan Nico, hanya untuk mengantarkan nya makanan. Tetapi Nico tidak memperdulikan kehadiran Naora, yang sedari tadi berdiri di hadapan nya.
"Nico" saut Naora, Nico hanya mendiami nya. "Nico, kau sangat tidak menghargai ku" Nico melirik ke arah Naora, ia memandangi Naora dengan tatapan sinis.
"Aku tidak memintamu kemari" ketus Nico, yang masih bersikap dingin pada Naora.
"Kau sangat menyebalkan" gumam Naora cemberut.
"Rara" saut Nico, yang menatap Naora.
Rara, adalah nama panggilan khusus dari Nico untuk Naora. Sejak kecil, Naora ikut bersama keluarga nya bekerja di mansion milik keluarga Nico, sebagai pelayan dan kepala pelayan. Mereka mengabdi pada keluarga Edson, hingga maut menjemput mereka,saat aksi menyelamatkan Nico, dari penembak yang membunuh ibu Nico.
Sejak saat itu, Nico lah yang menjaga Naora. Layaknya seperti ia menjaga adik perempuan nya sendiri, karna nya juga. Ayah dan ibu Naora meninggal.
Naora masih menggrutu kesal, ia bahkan sampai mengutuk Nico jika tidak memakan masakan nya. Mau tidak mau, Nico harus mengalah . "Baiklah, aku akan makan" ucap nya, ia datang menghampiri Naora. Seketika, Naora pun langsung tersenyum penuh kemenangan.
"Aku memasak makanan kesukaanmu" ucap Naora, sambil membuka satu persatu rantang makanan. Nico fokus pada ponsel nya, ia tidak melirik atau pun memperdulikan Naora. Seketika Naora langsung merebut ponsel milik Nico, dan menyimpan nya di atas meja.
"Apa-apaan" belum selesai bicara, Naora memotong pembicaraan Nico.
"Sudah cepat makan, jika tidak. Akan ku makan dirimu!" tegas Naora, memandang tajam Nico.
Seketika, nyali Nico langsung menciut. Nico mengambil makanan nya, dan memasukan sedikit demi sedikit ke dalam mulutnya. Nico menyodorkan sendok,yang berisi makanan ke arah Naora. "Kau juga harus makan" ucap Nico.
"Ternyata raja mafia sepertinya, bisa melakukan hal romantis seperti ini juga ya. Dia sangat manis, dan tampan " batin Naora, memuji Nico dalam hati nya.
"Jangan berpikir yang aneh-aneh, aku menyuapi mu, karena takut. Jika kau mati kelaparan di perusahaan ku,siapa nanti yang repot, sudah jelas Mikey akan kerepotan " ketus Nico.
Tentu saja Mikey, Nico tidak begitu peduli pada siapa pun,semua masalah dan tanggung jawab ia serahkan semua pada Mikey, yang merupakan tangan kanan nya.
__ADS_1
"Aku tarik kembali kata-kata ku barusan" umpat Naora dalam hatinya.
"Besok aku akan berangkat ke Negara B, kau ikut tidak? " tanya Nico pada Naora.
"Tentu saja. Aku akan ikut,kemana pun kau pergi" ucap Naora.
"Tapi, bagaimana dengan masalah perusahaan?" tanya khawatir Naora.
"Tenang saja, ada Mikey di sini. Sementara waktu, kau yang akan selalu bersamaku saat di negara B" jawab enteng Nico, seolah-olah tidak ada hal penting yang akan terjadi.
"Aku juga ada janji,yaitu bertemu dengan Arsakha" ucap Nico, ia mengambil sebotol air putih dan meminum nya. Naora hanya mengangguk mengerti,ia menuruti apa yang Nico katakan.
Mereka melanjutkan makanan nya, tak terasa waktu sudah menuju kan waktu nya beribadah. Meidina segera menyudahi makanan nya,begitu juga Musa.
Meidina membenarkan kembali cadar nya, bahkan saat makan pun orang-orang tidak bisa melihat nya. Walaupun dinegara ini sudah biasa, bagi seorang turis atau wanita yang belum menggunakan cadar. Ketika melihat wanita bercadar, di negara ini.
"Meidina, kau akan pergi beribadah kan?" tanya Musa,dan di angguki oleh Meidina.
"Tunggu disini sebentar,aku akan membayar bill nya dulu" ucap Meidina langsung meninggalkan Musa, ia membayar makanan yang baru saja tadi ia santap bersama Musa ke kasir. Setelah melakukan pembayaran, Meidina dan Musa masuk ke dalam mobil.
Seperti biasa, tidak ada pembicaraan antara kedua nya. Hingga mereka sampai di sebuah masjid,dan mulai melakukan kewajiban nya sebagai umat islam.
Tak lama setelah itu, Meidina keluar dari masjid. Ia lebih memilih, menunggu Musa di sebuah taman tidak jauh dari masjid tersebut. Musa yang kelabakan Meidina menghilang, langsung mencari nya ke segala arah. Mata nya tertuju pada seorang wanita, yang tengah terduduk di kursi taman seorang diri.
Tanpa pikir panjang lagi, Musa mendekati nya. "Kenapa kau disini, aku mencari mu" ucap Musa.
Meidina melirik Musa, ia duduk tak jauh dari Meidina. "Aku menunggu mu" ucap Meidina.
"Meidina" saut Musa. Meidina menoleh.
__ADS_1
"Iya?" ucap Meidina.
"Jika suatu hari aku meminang mu, apa kau akan menerimanya? " tanya serius Musa, pada Meidina.
"Itu tergantung" ucap Meidina, Musa mengerutkan kening nya. Ia bingung dengan ucapan Meidina, yang menggantung.
"Maksudnya" ucap heran Musa.
"Itu tergantung, kau mau menerima masa lalu ku yang kelam, atau tidak" ucap Meidina.
"Meidina, aku tidak peduli tentang masa lalu mu. Aku hanya ingin menikah dengan mu, itu saja" ucap Musa terdiam.
"Bahkan,jika dulu aku pernah menikah sekali pun. Apa kau akan menerima ku, yang berstatus janda ini?" ucap Meidina, membuat Musa membulatkan mata nya.
"Jadi karna ini, apa yang dia pikirkan. Mungkin kah dia berpikiran , jika aku akan kecewa, setelah menikahi nya" gumam Musa, dalam hati nya.
Musa tersenyum, kali ini ia mengerti. Mengapa Meidina berbicara, seperti itu.
"Meidina. Aku ingin menikahi mu,karena aku mencintaimu apa adanya dirimu. Aku tidak peduli tentang masa lalu mu, percayalah. Aku akan membahagiakan mu, tolong percaya pada ku" ucap jelas Musa.
"Jangan pernah tinggalkan aku, aku mohon" ucap Musa, dengan wajah memelas.
Meidina mengangguk, "Apa dia menerima masa lalu ku?" batin Meidina, yang masih bingung dengan keadaan.
Musa menangis di hadapan Meidina, ia tidak peduli lagi tentang harga diri nya sebagai seorang lelaki. Bagi nya, wanita yang ia cintai, merupakan harga diri nya. Meidina memberikan sapu tangan, yang di dalam nya ada rajutan hati di dalam nya.
Musa menolak mengambil nya, ia menghapus air matanya dengan tangan nya sendiri. lalu ia tersenyum ke arah Meidina, Meidina bingung dengan tingkah Musa.
"Maaf kan aku, karena aku. Kau melihat, hal memalukan ini" Ucap Musa yang menundukkan kepala nya. Meidina tersenyum ke arah nya, andai kan Musa melihat nya. Pipi Meidina, merona seketika
__ADS_1
"Tidak apa-apa" ucap meidina, mereka berdua pergi pulang. Musa juga harus segera pergi ke kantor,karena ada pertemuan penting dengan seorang klien.
Musa mengantar Meidina, tepat di depan rumah nya. Tak lupa, Meidina mengucapkan terima kasih pada Musa. Yang sudah mau menyempatkan waktu nya,untuk mengantar Meidina. Meidina masuk ke dalam rumah, ia membaring kan diri nya ke sofa. Tak lama, ia terlelap dalam tidur nya.