
Sakha berjalan masuk ke dalam ruangannya, ia sudah sangat mengantuk dan kepalanya sedikit berat. Sakha melihat Soraya yang tengah tertidur di ruang tamu, tanpa pikir panjang. Sakha segera mengendong Soraya ala bridal style, dan membawanya naik ke atas.
“Sakha, kau sudah pulang…” lirih Soraya yang sedikit membuka matanya.
“Hmmm, kenapa kau tidur di luar?” tanya Sakha.
“Aku menunggumu” jawab Soraya yang spontan.
“Sungguh, kenapa kau selalu menungguku?” tanya kembali Sakha pada Soraya.
“Karena aku merindukanmu.” Arsakha terdiam dan tak bersuara, ia masih terpaku pada ucapan Soraya yang barusan.
“Selamat malam dan tidur Soraya” ucap Sakha yang membaringkan tubuh Soraya dikasur yang empuknya.
Sakha masuk ke dalam kamar mandi dan segera membersihkan badannya yang sudah sangat lengket dan juga gatal itu. Sakha menerbitkan senyuman di ujung bibirnya, ia tersipu malu pada tingkah Soraya yang begitu manis.
“Kenapa dia bisa manis seperti itu sih!” dengus kesal Sakha.
Ia kembali lagi, dan keluar dari kamar mandi dengan handuk yang terlilit dipinggangnya dan rambut kepala yang basah. Imannya tergoda, ketika melihat Soraya yang tengah tertidur. Namun, soraya tengah setengah tidur dan melihat Sakha itu.
“Sakha…” lirihnya.
“Aku ingin bicara denganmu sebentar’’ ucap Soraya, Sakha tengah nampak kebingungan dan juga kepanasaran.
Tanpa basa-basi, Sakha pun langsung berjalan menuju Soraya.
“Bicara apa? Katakanlah”
“Aku ingin kita membicarakan masa depan kita” sahut Soraya.
Arsakha menaikkan satu alisnya, “Kenapa? Bukankah masa depan kita berdua sudah sangat terang dan silau?” tanya sakha yang kebingungan.
Soraya bangkit dari tidurnya, dan ia duduk di pinggiran kasur.
“Apa kau tidak mau memiliki keturunanmu Sakha?” tanya balik Soraya.
“Tumben sekali Soraya membicarakan hal seperti ini, ada apa dengannya” batin Sakha yang kebingungan.
“Aku, aku mau ganti baju terlebih dahulu” Ucap sakha yang mengalihkan pembicaraan, dan Soraya pun secara spontan menarik handuk yang terlilit pada pinggang Sakha.
__ADS_1
“Ahhhh!” teriak Soraya yang menutup wajahnya.
Dan Sakha pun segera memasang kembali handuknya, walaupun Soraya terlihat malu namun ia tetap memaksa Sakha. Dan, karena sakha yang sudah mengerti apa yang Soraya maksud. Merekapun akhirnya berkebun dan bercocok tanam pada malam itu juga.
Mentari pagi memancarkan sinarnya, namun Sakha dan Soraya masih berada di dalam kamarnya. Sampai siang hari, Bi Minah nampak khawatir dengan kedua majikannya tersebut, namun kembali lagi karena mungkin arsakha dan juga soraya sedang kelelahan.
...…...
Adam dan Devanya tengah bersiap-siap untuk pergi ke dubai, tak disangka ternyata Musa yang selaku adik iparnya menjadi tamu untuk project besar nanti. Namun adam sedkit bersedih hati, karena sahabatnya yaitu Arsakha tidak mengikuti project itu.
“Kakak tenang saja, aku akan tetap mengajak Arsakha untuk ikut walaupun tidak membangun project, bagaimana pun juga arsakha adalah orang yang begitu berpengaruh di dunia bisnis” ucap musa menenangkan kakak iparnya tersebut.
Adam mengangguk pelan. “Baiklah, aku percaya padamu. Tolong kau ajak dia nanti di dubai ya” balas Adam
“Iya kak, nanti Sakha dan Aku akan menghadiri project besar itu. Tapi aku dan Sakha akan telat datang, karena kami pasti terjadwalkan dua hari setelah prmbahasan project” jelas Musa yang dipahami oleh Adam.
Dua pria dewasa itu mengobrol dengan seru, tanpa adam sadari. Sedari tadi ia telah mendiami istrinya tersebut.
“Kalian begitu serius” cibir Devanya yang hanya mendapatkan kekehan dari istrinya itu.
“Maaf, aku akan menelepon sakha dulu.” Adam pergi menuju kamarnya yang berada di atas, ia mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Sejenak ia mencari nama yang dituju, yaitu nama Arsakha Virendra lah yang ia akan hubungi.
“Kenapa dia tidak mengangkat teleponku” gumam Adam yang kesal.
Adam menelepon Sakha sekali lagi, panggilan yang kedua kali ini berhasil Arsakha jawab walaupun ia terdiam beberapa detik.
“Halo….” Ucap Sakha yang disambungan telepon dengan nada khasorang tidurnya.
“Halo Sakha, kau dimana? Bisa kita bertemu sekarang?” Tanya Adam spontan.
“Heeem, kapan…..?”
“Sekarang, di taman biasa kita nongkrong sewaktu muda”
Arsakha tidak membalas, ia terdiam dan mungkin saking mengatuknya Sakha ia menjawab panggilan telepon dengan masih mata yang menutup.
“Sakha? Sakha?” bingung dengan sambungan telepon yang dari tadi hanya diam. Adam pun sedikit berteriak, hal itu berhasil membuat Arsakha terkejut.
“APA!” tegas sakha yang terkejut.
__ADS_1
“Kenapa kau diam?”
“Aku masih mengantuk, Dam”
“Mengantuk? Kau tidur jam berapa memang?” tanya Adam yang begitu penasaran.
“7 subuh” Adam pun seketika itu melihat jam yang berada di dindingnya yang sudah menunjukan pukul 1 siang. Adam menepuk pelan jidatnya dan kembali mencibiri Sakha.
“Itu bukan subuh lagi, tapi sudah pagi! Aku tunggu kau jam 2 di tempat biasa, jika tidak datang akan aku tendang kau Sakha!” ucap Adam yang penuh ketegasan.
“Heem, tunggu aku bersiap-siap dulu” ucap Sakha dan ia langsung menutup teleponnya.
Sakha bergegas turun dari ranjangnya, dan ia segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan badannya yang sudah begitu lengket tersebut. Adam yang mendapatkan perilaku tersebut hanya menghela nafas panjang, pasalnya sikap Arsakha memang seperti ini dan tak kunjung berubah.
Ia kembali turun untuk membantu Devanya dan Musa yang sedang beres-beres, saat sampai Adam mendapatkan telepon yang ternyata itu adalah dari Vina. Anya melihatnya mendadak cemburu dan merampas telepon itu dari Adam, ia nampaknya tak suka jika Adam memiliki urusandengan wanita yang bernama Vina tersebut.
“Aku tidak mau kamu memiliki hubungan dengannya” ketus Vina.
Musa yang berada di sana pun tersenyum dan menaikan alisnya sehingga Adam melihatnya.
“Aku dan dia hanya rekan bisnis, tidak lebih dari itu Devanya” ucap Adam.
“Tidak! Aku tidak suka dengannya, dia itu sangat genit!” cibir devanya.
“Sudahlah kakak ipar, Kak adam mana mungkin mau dengan bocah bau kencur” sahut Musa yang mencoba menenangkan Anya.
“Itu kan benar, aku akan pergi dulu menemui Sakha di tempat biasa. Musa, kau juga ikut aku ya”
Musa mengangguk pelan, mereka melanjutkan lagi beres-beresnya. Karena yang Ada tahu, project besar ini akan memakan waktu yang cukup lama sekali sekitar 2 setengah tahun mereka akan berada di sana. Dan itu juga, Adam harus mempersiapkan persalinan Anya jika ia terpilih memegang tanggung jawab project itu.
Arsakha sudah siap, ia hanya perlu waktu tiga puluh lima menit untuk bersiap. Dengan menggunakan style yang santai saja bisa menambah kharismanya. Sakha mencium sebentar kening Soraya, ia berpamitan terlebih dahulu ke istrinya tersebut.
“Aku pergi dulu menemui Adam, kau jaga diri baik-baik ya. Aku hanya keluar sebentar” ucap Sakha pelan ditelinga Istrinya.
Ia berjalan pelan dan menutup pintu kamarnya, membiarkan Soraya yang masi terlelap dalam tidurnya itu.
...TO BE CONTINUE ...
__ADS_1