Penyesalan CEO Lumpuh

Penyesalan CEO Lumpuh
KEDATANGAN MUSA


__ADS_3

"Nico, apa kau sudah memberitahu Adam?" tanya Arsakha, Nico pun mengangguk.


"Dia sudah tahu, namun Devanya dia tidak mengetahuinya. Karena aku marah padamu. Karena kau tidak mengatakannya, aku mengerti akan kesehatan Devanya yang kala itu masih belum pulih total. Ia harus dipindahkan ke rumah, karena kemungkinan besar takut untuk dirawat inap di rumah sakit.


"Jadi apa rencanamu kali ini?" tanya Arsakha dengan serius.


"Kau perlu mengikuti arahan dariku saja, Ayah Hamzah dan juga Papa Rendra akan ikut dalam misi terakhir ini."


Arsakha pun menyipitkan kedua matanya, ia tak bisa melibatkan kedua orangtua nya, membawa pria itu ke dalam urusannya.


"Kenapa kau mengajak mereka?! Apa kau sudah gila! Bagaimana jika terjadi apa-apa pada mereka berdua" ucap tegas Arsakha.


"Arsakha, apa kau lupa? Mereka sudah ahli dalam bidang berstrategi" jelas Nico dengan padat.


"Lalu bagaimana dengan istri dan juga anakmu? Apa mereka sudah tahu?" tanya kembali Arsakha.


Nico hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Mereka akan baik-baik saja, juga putra Meidina yang akan aman bersama kami"


"Kau tidak usah khawatir Arsakha, semua akan baik-baik saja." sambung Nico.


Bagaimana dengan nasib istri dan juga mantan istrinya itu? tak bisa Arsakha hindari ia mengutuk takdirnya yang selalu mempermainkannya.


Sampai saat ini, ia dipertemukan dengan Nurul kembali sebagai Meidina. Dan Arsakha melupakannya dengan hati yang sangat berat, paksaan membuatnya tersiksa. Dan lagi, sekarang Arsakha menikahi saudara tiri dari suami mantan istrinya.


"Dunia itu sangat sempit, dan juga takdir yang telah mempermainknku Nico."


Ucap Arsakha sambil menatap langit-langit apartemennya. Nico hanya menunjukkan senyuman sumringahnya, dan bersandar pada sandaran soffa tersebut.


"Kau baru tahu atau baru menyadarinya sekarang? Kau ke mana saja Sakha, saat ini dunia semakin sempit. Jadi jangan heran, jika kau menemukan tokoh yang itu-itu saja. Dan juga, tokoh yang memiliki ikatan dengan seseorang di tokoh sebelumnya. Ya, tokoh sebelumnya."


Jawaban dari Nico telah menjawab rasa penasaran Arsakha, mau bagaimanapun juga ini adalah takdirnya yang telah tuhan berikan untuknya.


"Tepat pukul 9 malam nanti, kau akan pergi bersama supirmu itu. Dan yang paling terpenting adalah,  bertingkahlah seolah-olah kau baik-baik saja. Merasa keadaan sedang baik-baik saja, beraktinglah jika kau sedang genting dan juga khawatir."


Nico menjelaskan semuanya pada Arsakha, Arsakha hanya menggangguk paham padahal ia tak penah mengerti apa yang Nico perintahkan.


Saat mereka tengah mengobrolkan rencana nanti malam, suara bel apartemen Arsakha kembali berbunyi lagi. Mereka sama-sama mengertukan keningnya, menatap pintu apartemen itu.


"Nico, apa kau memikirkan apa yang aku pikirkan?" tanya Sakha

__ADS_1


"Kurasa begitu" sahut Nico


"Kau saja yang buka" titah Sakha


Nico pun melirik Arsakha dengan begitu tajam, namun Arsakha berhasil mematahkan tatapan mematikan Nico itu.


"Baiklah, aku yang akan membukanya." Dengan penuh kewaspadaan, Nico membuka pintu apartemen itu.


Saat pintu terbuka, betapa terkejutnya ia ketika melihat pria berperawakan jangkung sambil menyilangkan kedua tangannya. Menatap Nico dengan begitu intens, Nico segera mengurungkan niatnya untuk mengambil pestol miliknya yang ia simpan di saku jasnya.


"Kau! Kenapa kau datang sekarang?" tanya Nico penuh dengan tanda tanya.


"Mana istriku? Di mana dia?!" tegas Musa


Nico pun menarik kerah baju kemeja Sakha, "Cepat masuk kau!  Dasar kampret!" cibir Nico.


Musa pun terjatuh, untungnya ia terjatuh di sofa empuk di apartemen Arsakha.


Musa mengelus pelan bokongnya yang terasa perih itu, karena dilempar oleh Nico dengan begitu keras tadi.


"Niko sangatlah berbahaya!" gumam Musa di dalam batinnya.


Seolah-olah ia mendamaikan Kedua lelaki yang tengah bergaduh itu, padahal kenyataannya. Mereka sama sekali tidak bertengkar.


"Aku tidak ada waktu untuk bercanda denganmu Nico, aku akan mencari istriku di mana dia ya?" tanya Musa dengan nada yang penuh kekhawatiran.


Niko pun tersenyum kecut padanya, "Istrimu? Bukankah dia calon janda sekarang, karena sang suaminya tidak pulang-pulang seperti Bang Toyib." Cibir Nico yang membuat Musa malu.


Arsakha pun tertawa kecil mendengar perkataan dari Nico.


"Sudah-sudah? Ayo cepat kita bahas masalah ini!" tegas Sakha.


Yang menatap serius kedua pria yang berada di hadapannya itu, sehingga berjalannya waktu jam pun sudah menunjukkan 9 malam.


Artinya mereka akan segera menjalankan rencananya, yaitu dengan menuruti apa yang Nico katakan sebelumnya.


"Ingatlah Sakha, kau janganlah panik kami ada bersamamu!" seru Nico.


Dia naik ke dalam mobil pribadinya dan sang supir mengemudikannya dengan kecepatan yang sangat sedang. Nicho dan juga Musa ikut pergi ke mana Arsaka akan bertemu dengan Tuan Marvin.

__ADS_1


Ayah Hamzah dan juga Papa Rendra mereka juga menuju pelabuhan yang akan Arsaka datangi. Tak bisa dipungkiri, keringat panas dan dingin pun keluar dari dalam tubuhnya mereka.


"Kenapa ini semua bisa terjadi begitu cepat" sahut ayah Hamzah


Papa Rendra menghela nafasnya dengan berat, "Semua akan baik-baik saja Kak. Bersabarlah" ucap papa rendra menyemangati.


"Jangan mengkhawatirkan ku, Rendra. Kau tidak tahu jika perusahaanmu sedang berada di ujung tanduk."


Papa Rendra seolah-olah tak memperdulikan kemiskinan mereka nantinya, ia tak peduli dengan kekayaannya.


"Untuk apa aku takut? perusahaan Virendra maju karena Arsakha sendiri. Aku hanya ikut menumpang nama saja" jelas Papa Rendra.


"Dasar!" umpat Ayah Hamzah.


"Hehehe, maafkan aku. Aku lupa dengan sifatmu" ucap ayah Hamzah


Mereka berdua datang ke sana, terlihat sepi dan seperti sedang dijaga ketat oleh penjaga berpakaian hitam.


"Sepertinya mereka sudah datang" gumam Ayah Hamzah


"Hmm, aku sudah bisa melihatnya" ucap Papa Rendra


"Bagaimana, apa kau sudah siap?" tanya Ayah Hamzah


Papa Rendra mengangguk pelan, "Hmm, sepertinya ia sudah sangat giat" ucap Papa Rendra.


"Lihat itu, Dra. Itu putramu bukan? Dia sedang bersama siapa itu?" tanya Ayah Hamzah.


Papa Rendra pun mengangguk, ia hanya tersenyum kecil menatap anak lelaki sekaligus anak semata wayangnya itu.


"Biarkan saja, aku yakin dia akan berhasil menyelamatkan Meidina dan juga Soraya" ucap Papa Rendra yang tak peduli pada Arsakha.


"Apa kau tidak peduli? Bagaimana jika anakmu itu akan terluka?"


"Diakan memang sudah terluka, terluka secara batin dan juga fisik pastinya" sahut Papa Rendra.


Seperti memang benar, papa Rendra sudah tak menyayangi lagi arsakha. Lalu bagimana jika Sakha terjadi apa-apa, apa Papa Rendra akan menyayangi Arsakha kembali atau menendangnya.


"Kita lihat dulu saja, apa yang sudah mereka persiapkan." ucap Papa Rendra.

__ADS_1


"Aku yakin dengan rencana Nico" sambung Ayah Hamzah .


__ADS_2