
Malam itu, Arsakha dan Adam pulang terlambat. Seperti biasa, Meidina selalu menunggu kepulangan Sakha. Sudah hampir seminggu kejadian Meidina ternodai.
Meskipun belum muncul tanda-tanda Meidina hami, itulah yang membuat Meidina takut kan. Bagaimana jika nanti Sakha menceraikan nya karena Meidina tengah mengandung anak pria lain, bukan Arsakha.
Sakha tidak mempedulikannya, ia selalu mencampakan Meidina sudah ke sekian kali nya. Arsakha mulai kejam pada Meidina, seperti menyuruh Meidina tidur di bawah lantai tanpa alas apapun.
Meidina bingung kenapa tingkah dan sifat Arsakha yang telah berubah sekarang. Ia masih setia menunggu kepulangan suami nya, hingga suara klakson mobil Sakha menyadarkannya.
"Sepertinya Tuan Sakha sudah pulang'' gumam Meidina.
Ia segera turun dari anak tangga dengan semangat. Berharap sang suami menyapanya, karena Meidina selalu mengharapkannya, tetapi Meidina harus mengubur harapan nya itu dalam-dalam. Arsakha sudah tidak mencintainya lagi, pikir Meidina.
"Pergilah, aku malas melihat wajahmu" pekik Sakha.
Sakha meninggalkan Meidina di depan, ia meminta bantuan Hendra untuk naik ke lantai atas, tentu saja Hendra pun sudah tahu tentang kelumpuhan palsu Sakha.
Meidina nampak sedih, apa mungkin ini adalah balasan karena Meidina sudah di setubuhi oleh pria lain. Itulah yang selalu ia pikirkan di dalam benaknya.
Semenjak kejadian itu, senyum Meidina perlahan-lahan menjadi memudar, bahkan Adinda di buat terheran-heran tentang perilaku sahabat nya itu.
Meidina naik ke lantai atas, ia membuka pintu kamar dan melihat Arsakha di atas ranjang.
Ternyata sudah mandi. gumam nya dalam hati nya.
Tanpa Meidina tahu, Arsakha tengah Chatingan dengan Adelia. Adelia terus-terusan meminta uang pada Arsakha, dan bodohnya Arsakha selalu memberikan nya.
Di luar hujan begitu lebat, angin menggoyangkan pepohonan entah sedang badai atau angin ****** beliung yang saat ini terjadi. Meidina menggigil, jelas ia tidur di lantai bukan di sofa maupun diranjang.
Sakha tidak peduli, ia sudah mematangkan niat nya untuk meninggalkan Meidina. Dengan cara membuat nya tidak sanggup akan sikap Sakha, dan Meidina pun tidak tahan lalu meminta cerai pada Sakha.
Tidak ada yang peduli, Meidina menggigil hebat. Arsakha melemparkan selimut tebal yang sedang ia gunakan, ia melempar ke atas Meidina yang sedang berusaha untuk tertidur.
PUK
__ADS_1
Selimut itu mendarat di atas kepalanya, dengan segera ia pergi mengambil nya.
"Jangan berisik! aku ingin tidur. Jika kau masih berisik, tidurlah diluar!" tegas Sakha.
Ia membalik kan tubuhnya ke belakang Meidina yang tertidur di bawah ranjangnya.
Rasanya ingin sekali Meidina menangis, namun ia harus kuat dan tegar. Ia harus kuat menerima ujian semua ini, karena kedua orang tua Arsakha lah yang membantu kakek dan nenek nya melunasi hutang pada rentenir.
Kakek, nenek. Aku merindukan kalian berdua. Gumam Meidina dalam hati nya, ia menutup dirinya dengan selimut yang Arsahka lempar tadi barusan.
Sedangkan Arsahka tampak gelisah, Adelia mengirim pesan whatsapp pada Sakha. Ia ingin Arsakha segera menikahinya, Arsakha bingung harus bagaimana.
Ia masih berstatus suami sah dari Meidina, dan lagi jika Arsakha menceraikan Meidina ia tidak akan mendapatkan harta warisan apa pun.
Ia hanya bisa menunggu, hingga Meidina menyerah dengan sendiri nya. Jika Meidina yang meminta cerai, Arsakha akan tetap mendapatkan harta warisan dari keluarganya.
.........
📍D Apartemen Adelia
Adelia memecahkan benda-benda di sekitarnya.
"SIALAN, JADI SIAPA YANG MENYELAMATKAN ISTRI KECIL SAKHA!" teriak Adelia di dalam ruangan itu.
Sore tadi, Adelia mendapatkan laporan dari anak buahnya, jika Roy dan kedua bawahan nya sudah meninggal mengenaskan. Jasadnya ditemukan dibawah jembatan.
Adelia sangat frustrasi, ia berharap akan mendapatkan video Meidina. Tetapi, rencana buruknya gagal, ia tidak akan menyerah sampai Meidina di usir keluar dari keluarga virendra
Ia tidak peduli tentang keadaan kamar nya saat ini, Arya masuk kedalam kamar Adelia. Mata nya menatap ia segera menghampiri kekasihnya.
"Ada apa ini?" tanya Arya terkejut.
Adelia menoleh,segera ia memeluk tubuh arya dengan manja nya
__ADS_1
"Aku sudah gagal, Roy sudah di bunuh dan juga bawahannya. Sepertinya sudah ada yang membantu anak kecil itu" ucapnya.
"Sudah tidak apa, kita pakai cara lain saja" ucap Arya menyemangati Adelia, Adelia pun hanya mengangguki perkataaan Arya.
.........
Pagi hari nya, Meidina terbangun ia sangat merasakan tidak enak badan di seluruh badan nya. Perut nya seperti sedang di aduk-aduk, kening nya sangat panas. Meidina sudah tidak tahan lagi, ia segera berlari ke kamar mandi dan memuntahkan cairan yang keluar dari mulut nya.
"Hoek... Hoek... Hoek" rasanya sangat menyakitkan baginya, ia keluar dari kamar mandi tak lama ia masuk kembali, hanya untuk mengeluarkan cairan itu lagi.
Arsakha terbangun, ia terganggu akan suara Meidina yang sedari tadi. Sakha meraih kursi roda nya, ia masih melanjutkan rencana Nico.
Meidina keluar dari kamar mandi, ia nampak lesu dan memegangi perutnya.
Sakha melewati istrinya begitu saja, ia tidak memperdulikan keadaan istrinya. Meidina hanya bisa sabar, mungkin Arsakha juga sama kedinginan tadi malam.
Mungkin aku sakit. Gumam Meidina dalam hatinya.
Ia mengambil ponsel nya yang berada di atas nakas. Lalu menelepon Adinda, telepon sudah terhubung, Meidina mulai menceritakan keluhan pagi hari nya ke Adinda.
Jujur saja. Adinda merasa enek saat Meidina mengatakan nya. Apalagi saat ini Adinda baru saja bangun tidur, Adinda menyarankan Meidina agar ke dokter untuk di periksa lebih lanjut.
Meidina pun mengangguki, ia segera menutup telepon Adinda, tidak lupa ia mengucapkan terima kasih pada sahabatnya itu.
Dalam hatinya, ia bingung harus memberi tahu atau tidak tentang kejadian saat itu pada Adinda. Arsakha keluar dari kamar mandi, dan pergi ke ruang gantinya.
Meidina menatap sendu Arsakha, apa kata orang lain jika mereka tahu kenyataannya Meidina hamil. Ia menggeleng kan kepalanya, nampak pusing dan berat.
BUGH
Meidina terjatuh di lantai, Arsakha kaget dan ia langsung menghampiri istrinya, ia tentu saja meminta bantuan Hendra dan Hendri. Meidina pingsan, dan segera mungkin di bawa ke rumah sakit terdekat.
Arsakha tidak nenemani nya, padahal dia sendiri yang terlihat sangat khawatir pada Meidina. Iabih memilih ke kantor bersama Adam, meskipun Adam menyuruh Sakha untuk menemani istrinya, Sakha masih bersikeras tidak mau menemani.
__ADS_1
Setibanya di sana, Hendri dan juga Bi Min ikut. Mereka berdua mengantar dan menjaga Meidina, dokter memeriksa keadaan meidina.
"Bagaimana keadaan nona muda kami dok?" tanya Bi Min.