Penyesalan CEO Lumpuh

Penyesalan CEO Lumpuh
SELIMUT BERNYAWA


__ADS_3

Arsakha mengambil ponsel milik Meidina.


"Bagus Meidina, kau sudah berani berselingkuh ya rupanya!"


Arsakha mengambil ponsel milik Meidina, tanpa melihat layar ponsel Meidina. Membuat Arsakha salah paham, siapa yang Meidina hubungi tadi.


"Coba tuan lihat, tidak mungkin aku berselingkuh dengan sahabatku sendiri. Apalagi dia perempuan" ucap Meidina, ia memalingkan wajahnya karena kesal.


Sakha langsung mencermati ucapan Meidina, ia langsung melihat layar ponsel milik Meidina.


Ternyata benar, Meidina sedang bertukar pesan dengan Adinda. Ia melempar ponsel itu ke sofa, Meidina kaget bukan main dan langsung mengambil kembali ponselnya.


"Aku ingin tidur" ucap Sakha seakan mengode pada Meidina.


Meidina pun menghampiri Arsakha, dan ia membantu Arsakha naik ke tempat tidurnya. Meskipun tubuh Meidina sangat kecil, bahkan seperti anak SD, tidak membuat ia mengeluh untuk selalu merawat dan menjaga Arsakha dengan sepenuh hatinya.


Kini arsakha sudah terbaring di ranjangnya, Meidina duduk di tepi ranjang, dan segera menaruh kembali ponselnya di atas nakas, tepat bersebelahan dengan jam beker.


Dengan pelan, Meidina memijit kaki lumpuh Arsakha.


"Percuma saja, mau sampai tua pun kau pijit, kaki ku akan tetap sama, tetap tidak akan bisa merasakannya" ucap Arsakha.


"Tidak apa-apa tuan, saya senang melakukannya" Arsakha hanya bisa pasrah, sebenarnya dia juga menikmati pijatan dari Meidina.


Sakha mulai menutup matanya, hingga suara guntur membuatnya terganggu.


"Aaaaa"


Meidina menjerit, ia segera menutup kedua telinganya dengan kedua telapak tangannya. Arsakha kaget dan membulatkan matanya.

__ADS_1


"Tuan, tuan saya takut suara guntur" tanpa basa-basi lagi, Arsakha langsung menarik tangan Meidina.


Dan Meidina pun berada di atas dada bidang Arsakha, ia segera menurunkan tubuhnya, dan mereka berdua sama-sama berbaring.


Yang membedakannya adalah, Arsakha yang kini tidak mau melepaskan pelukannya dari Meidina. Meidina bergetar hebat, ia menyembunyikan wajahnya di dada bidang Arsakha.


"Sudah tenanglah, aku disini. Jangan takut" Arsakha mencium singkat kening Meidina.


CUP


Meidina hanya mengangguk, yang berarti mengiyakan nya.


Suara rintik hujan terdengar sangat jelas, yang menandakan hujan sangat deras, entah bagaimana nasib si kembar Hendra dan Hendri yang tengah berjaga di luar.


Sekarang Meidina malah menggigil kedinginan, meskipun sudah Arsakha mematikan AC dan menyelimuti tubuh Meidina.


Tetap saja, Meidina terus-terusan menggigil kedinginan.


"Tidurlah, biarkan aku menjadi selimut bernyawamu" ucap lembut Arsakha.


Ia membelai dan mengecup pelan pipi meidina. Meidina terasa sangat nyaman berada di dalam pelukan, dan belaian Arsakha. Ia segera menutup matanya, dan mereka berdua saling terlelap terbawa arus mimpi bersama.


Hingga jam sudah menunjukan pukul lima pagi, alaram berbunyi. Arsakha yang terbangun lebih dahulu dari Meidina. Ia menatap istri kecilnya yang masih tertidur pulas.


Dengan bibir yang sedikit terbuka,cmembuat Sakha tergoda dipagi hari.


Cup


Arsakha mengecup singkat bibir istrinya, ia mendekati kursi rodanya dan berusaha untuk ke kamar mandi.

__ADS_1


Meidina terbangun dari tidurnya, ia melihat di sebelah mencari Arsakha. Tapi Arsakha sudah tidak ada. Meidina pikir, Arsakha sedang berada di kamar mandi, dan benar saja.


Sakha keluar dari kamar mandi, mata keduanya saling bertatapan. Tak lama dari itu, Meidina langsung beranjak dari ranjang, dan juga Sakha yang segera pergi ke ruang ganti.


Kedua nya sudah siap, antara Arsakha ataupun Meidina sudah rapih. Hanya saja, Arsakha lupa untuk memakai dasi.


"Meidina, pakai kan aku dasi ini" ucapnya, sambil memberikan dasi warna hitam bermotif kepada Meidina.


Meidina menerima, dan melilitkannya ke leher Sakha. Setelah hampir selesai, ia hendak ingin berdiri, nahas kakinya keram, membuat ia terjatuh dan Arsakha pun ikutan jatuh.


Tanpa Meidina sadari, ia masih memegangi dasi Arsakha saat ia terjatuh, alhasil Arsakha pun ikut tertarik oleh Meidina.


Posisi keduanya begitu menggoda Arsakha, Meidina dibawah Arsakha dan Arsakha di atas Meidina. Membuat keduanya menelan salivanya masing-masing.


Arsakha sudah tidak tahan akan gejolak yang ia pendam selama ini, ia mendekatkan wajahnya ke wajah Meidina. Menempelkan bibirnya ke bibir mungil kecil Meidina.


Meidina kaget bukan main, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ini adalah pertama kalinya ada seseorang yang mencium bibirnya.


Tok


Tok


Tok


Suara ketukan pintu membuyarkan semuanya, Sakha menjauhkan tubuhnya dari tubuh Meidina. Sedangkan Meidina mengancingkan kembali seragam sekolahnya.



Meidina membantu Arsakha ke kursi rodanya, ia dengan segera merapihkan kemeja yang berada didalamnya dan jas nya.

__ADS_1


Malam yang dingin, dan pagi yang sedikit begitu panas. Semua terrlihat jelas raut wajah masam Arsakha, ketika pagi yang panasnya harus berhenti begitu saja, hanya karena ketukan pintu.


__ADS_2