Penyesalan CEO Lumpuh

Penyesalan CEO Lumpuh
MULAI MEMPERBAIKI


__ADS_3

Tok... Tok... Tok...


Suara ketukan pintu itu terdengar kembali, kali ini bukan sang sekretaris yang tengah mencari Musa melainkan Soraya.


"MUSA!" teriak Soraya, Musa kaget bukan main.


Pasalnya Soraya telah ia kurung, Soraya tersenyum ke arah Musa. Seakan, ia sudah menang melawan Musa.


"Halo saudaraku" sapa Soraya, namun Musa kembali tak menggubris.


"Apa kau tidak merindukan aku? Aku sudah mencarimu kemana-mana, ternyata kau di sini menjadi kutu buku ya" gumam Soraya, Musa menatapnya dengan tatapan yang begitu intens.


"Mau apa kau kemari? bukankah kau seharusnya menjalankan hukumanmu?" ucap Musa dengan nada tak suka.


Soraya berjalan mendekati Musa, ia duduk di sofa dengan bertopang kaki.


"Aih, Ayolah Musa. Aku ini saudarimu kan? mengapa kau begitu tega membiarkanku mencuci piring begitu banyaknya, kau tidak mau kuku saudarimu ini rusakkan?"


Musa tersenyum semringahnya. "Saudari? Sepertinya aku tidak memiliki saudari pembunuh sepertimu" cibir Musa, Soraya terdiam.


Ia melihat ke arah Musa yang tengah duduk, sambil memeriksa berkas-berkas hasil sekretarisnya tadi itu.


"Cih, pembunuh? Ayah kita sama-sama baji*ngan Musa, apa kau tidak tahu itu?" tanya Soraya penuh penekanan.


"Sora, jangan menggangguku. Lebih baik kau pergi sana, aku harus bekerja" tegas Musa.


Soraya malah semakin menjadi-jadi, ia mulai mendekati Musa dan menggodanya.


"Musa, apa kau tidak ingin memilikiku malam ini? hmm" Ucapan Soraya berhasil membuat telinga milik Musa gatal.


"Jangan bodoh, aku tidak mungkin melakukan dosa besar seperti ini. Lagi pun, aku sudah menjadi milik Meidina" ucap Musa dengan penuh ketegasan di setiap kalimatnya.


Soraya tersenyum sinis, ia memandang Musa dengan begitu lekat. Jarak di antara hidung Soraya dan Musa nyaris bersentuhan.


"Tapi aku menjmginginkanmu, Musa" gumam Soraya.


Merasa tak di anggap, ia memulai strateginya dengan mencari kelemahan Musa. Soraya berjalan di belakang Musa, ia memeluk Musa dari belakang. Spontan, Musa langsung melempar Soraya hingga ia jatuh dengan kepala yang bentur di meja kerjanya.


"Kau sangat berani juga ya" gumam Musa, lalu ia mengambil sesuatu di laci mejanya.


Sebuah sarung tangan hitam Musa kelurkan, ia memakainya di dua tangan kiri dan kanan.


"Pergi kau" Ucap Musa yang menarik kerah baju Soraya dan menendangnya kelar ruangan Musa.

__ADS_1


"Musa, dasar pria bajing*an kau!" Soraya menampakkan kekesalannya.


Ia di lirik oleh banyak pegawai Musa, Soraya membenarkan rambutnya sambil berjalan. Rasa kesalnya ia tumpahkan dengan berceloteh sepanjang jalan, tak habis-habisnya ia mengumpati Musa yang tak bersalah.


Musa terdiam sejenak, ia melepaskan sarung tangannya dan membuangnya ke tempat sampah.


"Meidina..." lirih Musa, ia mengingat kembali kenangan bersama sang istri.


"Aku harus segera mengakhiri masalah keluargaku, setelah itu aku bisa hidup dengan bahagia bersama Meidina dan anak-anakku" gumam Musa, ia kembali melanjutkan pekerjaannya.


Tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar, Musa menahan rindunya yang sudah menggebu-gebu. Tapi karena masalah keluarganya di masa lalu, membuat ia harus menjauhkan Meidina dari kehidupannya untuk sementara waktu.


"Aku akan segera kembali sayangku" ucap Musa sambil memandangi bingkai foto Meidina dan Moeza.


.........


"Umi, liyat lukisan milik Oja" Moeza memberikan kain kanvas yang telah ia lukisan.


Meidina mengambil hasil karya anaknya yang masih 3 tahun, namun sudah pintar melukis. Meidina tersenyum melihat lukisan milik Moeza, namun senyuman itu seketika sinah ketika Meidina tau dari arti lukisannya.


"Moeza, ini siapa?" Meidina menunjuk kepada dua lelaki yang di dalam gambar putranya.


"Ini Abi Oja, ini Papa Oja" ucap Moeza sambil tersenyum.


"Papa Oja sayang cama Oja, Oja juga sayang" ucap Moeza dengan penuh arti.


"Moeza sayang umi tidak?" tanya Meidina.


"Sayang, sama Kakek, sama Om Adam, Om Nico" jawab Moeza sambil tersenyum.


Menyisakan haru mendalam pada Meidina.


"Aku juga menyayangi kalian semua" gumam Meidina sambil memeluk sang putra.


"Umi, Oja ingin bertemu papa" sahut Moeza, Meidina hanya terdiam sambil tersenyum.


"Iya, nanti kita temui papa ya... " ujar Meidina.


Moeza pun tersenyum sambil memeluk dirinya. "Oja lindu Papa Saka" Moeza terlelap dalam tidurnya sambil memeluk sang ibunda.


"Musa, cepatlah kembali" Batin Meidina menggerutu.


"Anak kita sudah besar, apa kamu tidak mau melihatnya tumbuh dewasa nanti. Cepatlah kembali, aku menunggumu"

__ADS_1


Malam telah berlarut, malam yang dingin sambil di hujan dinginnya deraian hujan yang berjatuhan. Arsakha menatapi hujan sambik ditemani oleh susu cokelat panas, ia menghembuskan nafasnya dengan berat.


"Meidina..." Arsakha menghela nafas, ia menutup pintu balkon kamarnya agar air hujan tak masuk ke dalam kamarnya.


Sakha menjatuhkan dirinya di kasur kig bed nya, menatap langit-langit kamar yang begitu elegan dan mewah.


"Aku harus segera memperbaiki apa saja yang sudah aku rusak" gumamnya.


Sejenak Arsakha melirik ke nakas di mana ada sebuah cincin pernikahan. Cincin permata, berwarna gold berlian. Ia mengambilnya, dan menatapinya dengan begitu lama.


"Meidin, egoiskah aku? Jika mengambilnya dari Musa? Tolong maafkan aku, aku tak bisa melupakanmu"


"Aku egois, aku egois. Maaf Musa, kali ini saja. Barikan aku izin, untuk membahagiakan Nurulku." Gumam Arsakah, ia tertidur sambil memeluk kotak yang berisi cincin pernikahannya dulu saat bersama Meidina.


Ia terbangun saat pukul 2 dini hari, Sakha merasakan sakit yang begitu hebat di perutnya.


"Mengapa perutku begitu sakit" Gumamnya, Sakha segera berlari menuju kamar mandi.


Ia memuntahkan isi perutnya yang begitu membuatnya sakit. "Hoek... Hoek... Hoek..." Ia memegang perutnya, dan memijat pelan pelipis matanya.


Membasuh isian dalam mulutnya yang telah keluar.


"Setahuku, aku tidak memakan makanan pedas. Mengapa lambungku sangat panas."


Sakha keluar dari dalam kamar mandi, ia berjalan menuju kursi rodanya dan duduk di sana. Sakha keluar dari dalam kamar, dan segera menuju ke lift untuk pergi ke dapur.


Ting....


Lift terbuka, sangat sepi dan tidak ada orang di bawah sana. Sakha bergegas untuk mencari kotak obat di dapur, ia menggerakkan roda kursi rodanya.


Telinganya mendengar sebuah suara yang sangat mengganggunya. "Apa papa dan mama sedang..." ucapnya menggangtung.


Salah segera menggeleng-gelengkan pelan kepalanya. "Tidak, Aku tidak peduli dengan apa yang terlintas dibenakku. Biarkan saja, Papa membuatkan ku seorang adik" gumam Sakha tanpa dosa.


Ia segera mengambil kotak obat, dan mencari obat sakit perut yang berhasil membuatnya meringis kesakitan. Sakha segera meminum obat tersebut, setelah itu kembali ke dalam kamarnya melalui lift.


Mengingat, besok akan ada pertemuan penting dengan Nico. Membahas masa lalu mereka bertiga yang kelam, Sakha segera melanjutkan tidurnya. Sampai esok hari, sang mentari membangunkan dirinya.


***


Wah, Arsakha kok bisa lari ya? bukannya dia sedang lumpuh? penasara ga kenapa Sakha bisa sembuh.


Hmm, BTW... Aku mau mengucapkan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung karyaku yang recehan ini. Aku tidak pernah menyangka, apresiasi dari kalian yang sudah mendukung sampai mencariku untuk melanjutkan cerita ini.

__ADS_1


Terima kasih atas masukannya dari awal sampai saat ini, biarkan aku memberikan yang terbaik untuk kalian semua...


Love you all ❤


__ADS_2