
Soraya berdengus kesal kepada Musa.
"Huh, coba sekarang cepat katakan padaku, kenapa kau memanggil polisi? Apa kau ingin memasukkanku ke dalam penjara Hah!" ucap Soraya dengan nada tegas.
Musa hanya tersenyum sambil terkekeh geli. "Memang kenapa jika aku menjebloskanmu ke dalam penjara?" ucap Musa seraya memberi kode pada Soraya.
Mendengar perkataan dari Musa, Soraya langsung bangkit dari berlututnya lalu pergi ke kamarnya untuk berlindung dirinya sendiri. Musa hanya menatap kepergiannya, tanpa memperdulikan Soraya yang akan kabur atau bunuh diri setelah itu.
"Biarkan saja dia, lagi pula aku tidak peduli dengan nya ataupun keluarganya. Aku hanya merindukan keluargaku dan juga istriku"
Suara ketukan pintu terdengar.
Tok... Tok...Tok... Merasa ada yang mengetuk pintu, Musa pun langsung bangkit dari duduknya dan membukakan pintu mansion yang besar tersebut.
"Iya, ada apa-apanya?" ucap Musa.
"Permisi pak mohon, maaf telah mengganggu malamnya... Saya di sini menjadi keamanan untuk mansion bapak, apa bapak tidak keberatan? Karena tadi kami mencari seorang buronan yang telah kabur, takutnya ia akan kabur ke mari karena mansion halaman rumah bapak yang begitu luas, akan leluasa untuk dia kabur" ucap jelas sang polisi menjelaskan kepada Musa.
Musa hanya mengangguk pelan. "Iya, tidak apa-apa, jika kalian ingin mencari sesuatu katakan saja aku akan segera mengambilnya. Dan juga jika kalian membutuhkan bantuan carilah petugas keamanan di mansion ini." ucap Musa, sang polisi itu pun mengangguk dengan pelan. Walaupun Musa sedikit heran dengan berlaga di kedua polisi tersebut.
"Apa ini perasaanku saja ya, sudahlah biarkan saja, toh mereka di sini hanya untuk menjalankan tugasnya saja" ucap Musa pada batinnya.
Ia tidak mengetahui apa yang nanti akan terjadi di masa depan, ketika ia membiarkan kedua polisi itu berada di halaman rumahnya.
"Kalau begitu, kami izin berjaga dulu pak. Setelah itu, kami akan pulang lagi ke kantor." ucap salah satu polisi di sana.
Musa hanya mengangguk pelan, "Ya sudah, kerjakan tugas kalian dengan benar." ucap Musa, ia menuntut pintu dan segera pergi ke dalam kamarnya untuk beristirahat.
Karena hari sudah semakin larut, dan juga semakin gelap. Mengingat sudah sangat melelahkan harinya yang menjadi seorang pengusaha yang membuatnya begitu kelelahan. Musa menutup matanya, ia terlelap dalam tidurnya yang begitu pulas.
.........
"Ummi..." lirih Moeza yang saat itu tengah menangis.
"Iya sayang, kenapa?" tanya Meidina.
"Oja mau puyang... Mau ketemu papa" ujar Moeza pada sang ibunda.
Meidina hanya tersenyum, sambil mengelus pelan pucuk kepala putranya.
__ADS_1
"Sayang, nanti juga dia akan datang sendiri tanpa kau minta" ujar Meidina.
Benar saja, Arsakha datang bersama Ayah Hamzah. Ia menjenguk Moeza yang tengah di rawat. Di tambah di belakangnya ada Nino, selaku anak dari Nico dan Naora yang ingin ikut bersama Arsakha.
"Mei, bagaimana keadaan Moeza?" tanya Ayah Hamzah.
"Dia sudah mulai membaik, Ayah. Kata dokter, Moeza boleh pulang setelah infusannya habis" jelas Meidina.
"Papa..." lirih Moeza yang menatap Arsakha.
Sakha mendekatinya dan memeluk Moeza. "Jangan menangis, aku tahu Moeza pasti kuat" ucap Arsakha sambil mengelus pelan pipi Moeza.
"Papa dia siapa?" tanya Moeza sambil menunjukkan jari telunjuknya ke arah Nino.
Arsakha meliriknya, dan langsung melirik Nino. Ia tersenyum pada Moeza, dan menjelaskan padanya siapa Nino.
"Dia Nino, Immanuel Arsenino Susianto. Anak dari teman ayah dan juga Om Adam, kalian harus menjadi teman yang akur ya..." pinta Arsakha.
Nino yang berusia lima tahun sedangkan Moeza tiga tahun, mereka hanya terpaut dua tahun saja. Moeza dan Nino berkenalan, layaknya seperti anak laki-laki biasa.
"Aku Oja"
Ucap mereka berdua saling bersapaan, Ayah Hanzah terseyum begitu juga dengan Meidina melihat Moeza yang langsung akrab dengan Nino.
"Arsakha" sahut Ayah Hamzah.
Sakha langsung menoleh ke arah Ayah Hamzah. "Iya Ayah" balas Arsakha.
"Mari mengobrol di luar, ada hal penting yang ingin ayah katakan" ucap Ayah Hamzah.
Arsakha hanya menurutinya, ia mengikuti Ayah Hamzah dari belakang.
"Oja, lihat ini. Aku membawa mainan, kau mau main?" tanya Nino, ia mengeluarkan mainan pesawatnya.
Moeza mengangguk sambil kegirangan. "Mau-mau-mau"
.........
Tokyo, Jepang.
__ADS_1
"Adam....." lirihn seorang wanita dewasa.
Adam menoleh ke belakang, ia membulatkan matanya. Menatap tak percaya wanita yang di depannya.
"Devanya?" gumam adam yang kebingungan.
Wanita itu langsung memeluk erat Adam, tanpa mempedulikan keadaan sekitar yang ramai di lalui warga sekita. Adam masih terdiam, melongo dan tak percaya dengan apa yang terjadi.
"Adam aku sangat merindukanmu..." lirih wanita itu.
"Maaf, maafkan aku..." ucapnya sambil terisak dalam tangisnya.
Adam segera tersadar dari melongonya, ia menghempaskan tubuh wanita itu hingga ia jatuh dan meringis kesakitan.
"Siapa kau?! Kau bukan Devanya, Devanya telah lama meninggal!" tegas Adam.
Ia segera pergi namun Anya segera menarik tangan Adam. "Aku... Aku Devanya, wanitamu... Berikan aku waktu untuk menjelaskan hilangnya aku, dan alasan aku kembali lagi..." lirih Devanya, seraya memegang kedua tangan Adam.
Adam terdiam, ia berada di ambang kebingungan. Antara percaya dan tidak percaya, "Pergilah, aku tidak mau melihatmu"
Adam melangkahkan kakinya, ia pergi dari hadapan Devanya tanpa mempedulikannya. Namun Devanya segera memeluk Adam dari belakang, hari yang begitu sial sekali baginya.
Ia bertemu dengan Frizka bahwa ia akan segera menikah, dan sekarang Adam di pertemukan dengan wanita yang selama ini ia coba lupakan karena telah pergi untuk selama-lamanya.
"Adam, aku butuh kau. Aku takut, aku telah mencarimu selama ini. Jangan biarkan aku di culik lagi." Tangisan Anya sudah tak terbendung lagi, ia menangis dengan begitu tersedu-sedu.
Orang-orang yang melihat kejadian itu merasa iba pada Devanya.
"Pemisi Mas, itu wanitamu jangan dibiarkan menangis. Kasihan dia" Ucap salah satu orang pejalan kaki di sana.
Ia melirik Adam dan Devanya, merasa kasihan pada Devanya. Tubuh wanita itu sudah kurus kering, hanya terlihat tulang dan seperti manusia tanpa daging.
"Kemarilah" Adam menarik tangan Anya, Adam tak pernah percaya bahwa ini akan terulang kembali.
Ia memegang tangan Anya yang begitu dingin, Adam masih tak percaya dengan apa yang telah terjadi.
"Kenapa takdir mempermainkanku dan juga Arsakha, bagaimana reaksi Musa ketika melihat sang kakak bangkit dalam kuburnya" batin Adam.
"Aku rasa Devanya memang benar bangkit dalam kuburya, tangannya sangat dingin dan juga kasar tak seperti waktu kuliah dulu... Aku harap, aku sedang tidak menggenggam hantu Devanya karena aku belum melupakannya." Batin adam masih menggrutu.
__ADS_1
Saat ia berjalan, Devanya terjatuh dan lemas untuk bangkit kembali. Adam melihatnya, ia menatap sendu sang mantan yang berpakaian lusuh dan juga tanpa menggunakan alas kaki. Yang membuat kaki mulus itu luka, dan mengeluarkan banyak darah.