Penyesalan CEO Lumpuh

Penyesalan CEO Lumpuh
BELAJAR BISNIS


__ADS_3

Sesuai dengan apa yang Ayah Hamzah inginkan, Arsakha dimintai Ayah Hamzah untuk mengajarkan bisnis pada Meidina. Mau tidak mau, Arsakha menurutinya dan akan mengajar Meidina tentang bisnis.


Siang itu, Meidina menemui arsakha di perusahaannya. Yang kebetulan, sedang jam makan siang juga. Arsakha meminta Meidina mendatanginya di ruangannya, yang dahulu itu Meidina masih menjadi gadis remaja berusia 16 tahun, namun sudah menyandang status istri sah dari Presdir Arsakha sang raja bisnis.


Sekarang ia kembali, dengan diri yang sudah dewasa.


Meidina masuk ke dalam ruangan Ceo, ia tak perlu melakukan janji dulu. Arsakha memberikannya izin keluar masuk ke dalam ruangannya.


Meidina yang sudah berada di depan ruangan Arsakha Nampak ragu untuk melanjutkannya. “Apa aku ketuk saja ya, apa tidak” gumam Meidina yang kebingungan.


Dengan keberanian sebiji cabe, Meidina langsung mengetuk pintu ruangan Arskha.


Tok….. tok….. tok…..


Suara ketukan pintu itu membuat sang pemilik perusahaan langsung menyahutinya.


“Masuk” ucap Arsakha.


Meidina langsung masuk, ia menebarkan senyuman pada Arsakha walaupun merasa gugup. Arsakha yang seketika itu sedang fokus pada laptopnya langsung terhenti, ketika melihat Meidina di depannya.


Ia membuang mukanya, tersipu malu tentu saja.


“Duduklah Meidina” titah Arsakha, Meidina yang sedari tadi diam diambang pintu langsung mendekati Arsakha.


Arsakha bersikap dewasa, walaupun kadang sedikit was-was akan perasaannya saat ini. Namun, ia akan tetap menutup rapat-rapat pintu hatinya tidak untuk wanita mana pun.


Meidina duduk didepan kursi tamu Arsakha, Sakha mengeluarkan sebuah buku dari dalam laci kerjanya. Sebuah buku putih, dan juga sudah sangat berdebu. Ia memberikannya pada Meidina, Nampak jelas fisik dari buku tersebut sangat besar, dan juga tebal.


“Itu buku” ucap Meidina yang membulatkan matanya, sambil melongo begitu saja.


Arsakha melirik Meidina, sambil membersihkan debu-debu di atas buku yang super tebal itu.


“Hmmm, iya. Terdapat 5000 halaman lebih, kau baca dari halaman 1 sampai 1000 dulu” ucap Arsakha.


Meidina memang seorang penulis, membaca buku sudah menjadi makanannya.


“Bukan masalah yang besar” timpal Meidina yang menerima buku itu dari Arsakha, Sakha terekeh pasalnya Meidina tidak akan tahu jenis buku seperti apa yang tengah ia baca.


Lembaran pertama, Meidina sudah menafsirkan ini hanya akan seperti buku tulisan yang penuh dengan tulisan.


Nyatanya ia salah, terdapat banyak kode dan juga angka di dalam buku tersebut. Serta hitungan matematika yang sama sekali Meidina tidak ketahui.


“Jika kau tidak tahu, tanya kan saja padaku. Aku akan menjelaskannya secara detail” ujar Arsakha.


“Hmmm, baiklah” sahut Meidina, ia tengah serius dengan membaca.


Arsakha yang kala itu mengetik laptopnya hanya tersenyum, melihat Meidina yang tengah membaca dengan sangat serius.


“Aku menyerah” ucap Meidina yang secara tiba-tiba.


Baru saja sepuluh menit, Meidina sudah terkapar dengan memegangi kepalanya yang ia rasa sedang mengeluarkan asap.


“Cih, katanya bukan masalah besar” ketus Arsakha.

__ADS_1


“Memang, tapi perkataan dan bahasanya sang membingungkan. Lagi pula, siapa penulis yang menulis sampai 5000 halaman pada satu buku’’ cibir Meidina, ia membalikkan buku ke bagian depan.


Sehingga terdapat nama penulis dari buku tersebut, Meidina terkejut ketika membaca nama si penulis tersebut.


Puft, Meidina menahan tawanya.


Arsakha memasang wajah tak suka, ia melirik Meidina dengan tatapan yang begitu intens. Terdapat nama Arsakha, pada bagian depan nama penulis adalah.


Prsedesir Arsakha Virendra Alfarizqi CEO of Virendra Group Company.


Arsakha berdengus kesal. “Huh, lagi pula aku menulis untuk materi keturunanku nanti dari generasi ke generasi selanjutnya” ucap Arsakha.


Meidina mengerti, Sakha adalah seorang pebisnis dan anak tunggal. Sudah pasti ia akan menanggung dan memikul tanggung jawab yang sangat besar.


“Aku tidak ingin membaca buku tebal itu” ucap Meidina, Arsakha hanya membuang berat nafasnya.


“Tidak apa, aku tahu kau hanya hobi membaca cerita romance” cibir Arsakha, ia kembali mengambil bukunya dan meletakannya di laci.


“Aku sama sekali tidak mengerti tentang dunia kebisnisaan” keluh Meidina pada Arsakha.


“Kenapa kau tidak menggantikannya saja dengan Adam, dan kau yang mengurus café milik adam di jepang.” Saranan dari Arsakha cukup masuk akal juga, namun Meidina segera menghembuskan nafasnya dengan berat.


“Iya, jika ia mau. Aku sudah memintanya, namun Kak Adam begitu keras kapala” ucap Meidina yang berkeluh kesah.


“Itu gampang Mei, kau perlu datangkan saja Friska ke Indonesia. Aku jamin Adam akan langsung pulang ke Indonesia dan mau mengurus kembali perusahaan ayah hamah” ucap Arsakha, Meidina Nampak berpikir sejenak.


“Friska? Siapa Friska?” tanya Meidina yang bingung.


"Kemungkinan besar juga, Adam di sana tengah mengejar Friska.” ucap Arsakha dengan jelas.


Benar juga, Adam tidak ingin pulang ke Indonesia apakah ia sedang mengejar cintanya di Negara matahari terbit itu. Meidina berpikir keras, ia hanya memikirkan sang kakak untuk kembali pulang.


“Sudah jangan di pikirkan, urusan Adam biar aku dan Nico yang mengurusnya. Kau hanya perlu menghandle beberapa urusan saja” ujar Arsakha, ia membereskan berkas-berkasnya dengan sangat rapih dan apik.


“Kau akan tetap di sini atau pulang? Aku akan segera pergi karena akan menemui kollega bisnisku” ucap Arsakha pada Meidina.


“Aku akan pergi, karena sebentar lagi Moeza akan pulang dari tempat les melukisnya” ucap Meidina yang di balas anggukan oleh Arsakha.


“Ya sudah, apa kita searah? Jika ia, aku akan mengantarmu pulang’’ ajak Arsakha namun Meidina segera menggeleng-gelengkan pelan kepalanya.


“Tidak kak, kita berlawanan arah’’ ucap Meidina, Arsakha hanya mengangguk.


“Ya sudah, aku akan pergi dulu’’ ucap Arsakha, ia sudah bersiap-siap akan pergi.


Tepat di luar gedung sana, Nico kembali datang pada Arsakha. Ia tidak tahu, jika ada Meidina di dalam ruangan Arsakha. Nico berjalan menuju resepsionis, dan masuk ke dalam ruangan Arsakha tanpa permisi.


Nico dibuat bingung, atas kedatangan Meidina di perusahaan Arsakha. Dan lagi juga, mereka hanya berdua saja. Yang membuat Nico tidak mampu untuk mengontrok gelak tawanya.


“Sakha, apa kalian berdua resmi balikan? Tapi Meidina dan kau masih bersatus suami dan istri sah” ucap heran Nico.


Sontak saja, Arsakha dan Meidina langsung mengatakan hal yang sama.


“TIDAK!’’

__ADS_1


“TIDAK!”


Ucap Arsakha dan Meidina secara bersamaan, Nico hanya terkekeh geli ketika mendengar perkataan mereka berdua yang masih sama dan taka da berubahnya.


“Sakha, Meidina. Jangan dulu pergi, ada satu hal penting yang ingin aku katakan pada kalian berdua’’ ucap Nico, ia langsung menghampiri mereka berdua.


Arsakha sudah benar-benar muak, pada Nico yang selalu menguslinya. Nico menunjukan sebuah rekaman melaluia flash **** yang ia bawa, Arsakha mengerutkankeningnya.


“Apa itu?” tanya Arsakha yang kebingungan.


Nico memasukannya ke laptop Arsakha, namun Arsakha segera mengambil laptop kerja miliknya.


“Jangan sekarang Susi! Aku akan pergi, dan juga Meidina” ucap Arsakha, Meidina mengangguk.


“Kalian mau kemana, aku punya berita penting tentang Soraya dan Adam’’ ujar Nico.


Namun Arsakha dan Meidina tidak menggubris, mereka berdua pergi meninggalkan Nico yang seorang diri di dalam ruangan Arsakha.


“Cih, jadi aku di tinggal begitu saja?” gumam Nico yang kesal.


“Dasar badebah satu ini’’ umpat Nico.


Meidina dan Arsakha pergi berlawanan arah, Sakha nambak berpikir akan perkataan Nico yang barusan.


“Soraya’’ gumam Sakha.


Ia mengingat ingat kembali masa lalu nya ketika bersama Soraya dulu. Sebuah percikan kenangan terlintas, saat Soraya pergi begitu saja meninggalkan Arsakha yang sedang sakit-sakitan.


Kelumpuhan ini sangat menyiksanya, Arsakha tak akan pernah berhenti agar terus berobat.


Meskipun, dokter sudah mengatakan pada Arsakha bahwa ia telah lumpuh permanen.


Salah satu cara untuknya sembuh adalah, dengan adanya seseorangyang mendonorkan tulang sumsumnya pada Arsakha.


“Pak, kita mau kemana?” tanya Cahyo si supir pribadi Arsakha.


“Ke Resto Jepang” jawab Arsakha.


“Baik Pak.” Tidak ada jawaban dari Arsakha, ia hanya melamun sambil memikirkan


Meidina yang tengah pergi menjemput putranya.


Drt…


Drt… Drt….


Dering ponsel mengagetkannya, Arsakha yang tadi melamun langsung buyar dari lamunannya. Ia mengambil pponselnya dari dalam saku jas, melihat siapa si pemanggil tersebut.


“Adam?’’ gumam Arsakha bingung.


****


Maaf sudah membuat kalian menunggu lama, Thank you and see you ❤

__ADS_1


__ADS_2