
...‘’Jangan pernah mengatakan perihal kesetiaan kepadaku, jika kau sendiri saja tidak pernah bisa untuk setia’’ – Meidina....
...…...
‘’Ayo sakha’’ ajak papah rendra, ia mendorong kursi roda milik arsakha.
Meidina yang melihat kedatangan arsakha langsung terdiam seribu bahasa, begitu juga dengan sakha yang tak berani menatap kagum wajah meidina yang selalu ia rindukan.
‘’Mama…. Mama…. Papa..mama… papa’’ saut baby m yang melihat arsakha, ia piker itu adalah musa ayahnya.
Mereka semua langsung melihat ke belakang, melihat Arsakha yang tengah di dorong oleh papah rendra. Ayah Hamzah tersenyum kepada mereka berdua, begitu juga dengan baby m yang langsung turun dari pangkuan Meidina lalu menghampiri Arsaka dengan berlari kecil dan memeluk kakinya yang lumpuh.
‘’Papa… Moeza mau es cim’’ ucap baby m yang bernama Moeza.
Gleg…. Arsakha terdiam, pipinya memerah. Rasa haru dan sedih menyelimuti dirinya.
‘’Apakah ini hukuman bagiku tuhan, yang sudah menyia-nyiakan bidadari yang kau titipkan dulu. Hingga hari ini, aku menyesalinya sangat begitu dalam’’ ucap Arsakha pada batinnya.
Moeza naik ke kursi roda arsakha, ia duduk di pangkuan arsakha sambil tersenyum dan menunjukan giginya yang sudah banyak berlubang karena permen dan ice cream.
‘’Moe, cepat turun’’ titah Ayah Hamzah, yang kini sudah menjadi kakek.
‘’Tidak mau, kakek dan umi jayat. Nanti Moe adukan ke Om Adam, biyar dimarahin huuuuu’’ ucap Moeza yang memonyongkan bibirnya.
Arsaka terkekeh geli melihat perilaku moeza yang begitu lucu, Papah Rendra pun tertawa melihatnya.
‘’Maaf, membuat kalian menunggu lama’’ ucap Papah Rendra, Ayah Hamzah tersenyum.
‘’Tidak apa, ayo silakan sini gabung’’ ajak Ayah Hamzah.
‘’Moe, ayo turun’’ titah Meidina pada Moeza putranya.
‘’TIYDAK MAWU, UMIY JAYAT!’’ ucap Moeza dengan nada tinggi layaknya anak kecil pada umumnya.
Mendengar Meidina yang di bentak oleh anaknya sendiri, Moeza yang tengah berada di pangkuan Arsakha langsung sakha cubit pipinya.
‘’Hei tampan, tidak boleh bicara dengan nada tinggi pada ummi mu’’ ucap Aarsakha, Moza menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
‘’Capi papaaa… umiy jayat sama oza, oza mawu beyi es cim ga boyeh cama umiy’’ lirih Moeza yang mengadu kepada arsakha.
Arsaka mengelus pelan rambut Moeza. ‘’Itu karna, gigimu sudah banyak yang rusak karena makanan manis. Coba sini, papa liat gigi Moe’’
Moeza langsung nurut, ia menunjukan giginya yang ompong dan hampir habis karena makanan manis yang membuatnya seperti itu.
Arsakha memijat pelan pelipis matanya. ‘’Nanti kiyta ke dokter gigi ya, Moe’’ ucap arsakha, dengan segera moeza menutup mulutnya menggunakan kedua telapak tangannya.
‘’Mmmmm’’ Moeza menutup dan langsung membungkam mulutnya sendiri.
‘’Moe tiydak mawu…..’’ Moeza menggelengkan kepalanya sambil menatap Arsakha, spontan perilaku Moeza dilihat oleh ibu dan kakenya.
Yang membuat orang disana ikut tertawa atas tingkah lucu Moeza yang takut pada dokter gigi.
Arsakha menepuk pelan keningnya, mau bagaimana lagi. Moeza adalah anak kecil, dulu Arsakha juga sama seperti Moeza yang suka makan makanan manis namun takut pada dokter gigi.
Waktu terus berjalan, kedua lelaki yang tak lagi muda kini saling mengobrolkan bisnis bersama putra dan mantan menantunya. Moeza dibawa oleh mamah devi keluar restoran, dan juga dengan meidina yng ikut bersama mamah devi.
Hanya tinggal ke tiga lelaki jantan tersebutlah, yang berada di dalam restoran tersebut.
‘’Jadi bagaimana Rendra, apa kau tertarik untuk berbisnis dengan perusahaanku?’’ tanya Ayah Hamzah yang tengah menyeruput secangkir teh miliknya.
‘’Pak Hamzah berbicara apa? Aku sudah tidak memegang kendali perusahaan lagi, kini anak ku lah yang memegang kemdali perusahaan virendra group’’ jelas Papah Rendra menjelasan pada Ayah Hamzah.
Ayah hamzah mengangguk, ia menatap arsakha yang tengah memakan sayur brokoli kesukaannya.
“Sakha’’ saut Ayah Hamzah, Arsakha yang tengah mengunyah sayur brokoli di dalam mulutnya langsung tersadar akan sautan dari ayah hamzah.
Arsakha menatap Ayah Hamzah tengan seksama, sedangkan Ayah Hamzah hanya tersenyum melihat tingkah laku mantan menantunya tersebut.
‘’Iya, yah…’’ saut Arsakha yang malu-malu meong.
‘’Hahaha, tidak usah begitu kaku. Panggil aku ayah, anggap aku seperti ayahmu’’ ujar Ayah Hamzah, Arsakha hanya mengangguki pelan.
‘’Baik ayah’’ ucap Arsakha.
‘’Anak pintar’’ ucap Papah Rendra yang menambahkan, dan melihat ke arah Arsakha.
__ADS_1
‘’Perusahaan HAMZ COMPANY akan dipegang oleh Meidina, jadi ayah harap kau bisa mengajari Meidina sedikit trik dan cara menjadi seorang ceo yang berwibawa sepertimu nak’’ ujar Ayah Hamzah, Arsakha menelan salivanya dalam-dalam.
‘’Tapi ayah, kenapa harus Meidina? Kemana Adam?’’ tanya Arsakha yang kebingungan.
‘’Adam masih di jepang, menjalankan bisnis café yang ia kelola sendiri. Anak itu semakin kesini, semakin kesana keras kepalanya Sakha’’ coloteh Ayah Hamzah, yang kembali menyeruput tehnya.
Arsakha dan Papa Rendra sama-sama memakan brokoli, sambil mendengar cerita dan curhatan dari Ayah Hamzah.
"Semenjak tiga tahun belakangan ini, Musa suami dari Meidina tak kunjung pulang ke Indonesia. Hanya sebatas memberi kabar, dan nafkah lahir saja pada Meidina dan juga Moeza"
"Ia meninggalkan Moeza saat usianya menginjak tiga bulan, Moeza selalu bertanya kepadaku dimana ayahnya, dimana ayah. Moeza sangat merindukan sesosok ayah untuknya’’ curhat Ayah Hamzah, yang di balas rasa iba oleh papah rendra dan juga arsakha.
Arsakha tersadar, memang benar setelah kejadiaan kala itu Musa tak kunjung pulang dan hanya mengatakan pada Arsakha untuk menjaga Meidina dan putranya.
‘’Apa ini semua ada hubungannya, dengan perginya soraya dan khasus pembunuhan Anya’’ gumam Arsakha padabatinnya.
‘’PAPAAAAAAA’’ ucap Moeza yang tiba-tiba memeluk kaki arsakha sambil menangis.
“Huaaa… mama dan nenek jayat, Moe mawu es cim paaa’’ ucap Moeza yang menangiis sambil mengadu kepada arsakha.
‘’Anak ini, anak ini kenapa mirip dengan putraku yang aku temui saat komo dulu. Dan anehnya, wajah dan rupa fisiknya sangat menyerupaiku’’ gumam kembali arsakha pada batinnya.
Arsakha menggores luka yang begitu dalam, sehingga ia sendiri saja bisa merasakan sakitnya.
‘’Tolong maafkan aku, Meidinaa’’ gumam Arsakha batinnya, sambil menitikkan air matanya.
Ia menghapus dan tersenyum ke arah Moeza, mengangkat tubuh kecil Moeza hingga dudukk di atas pahanya.
Sakha mengammbil sebuah brokoli, menggunakan garpu bekas pakainya.
‘’Ambil ini dan makanlah, rasanya tidak sama seperti es cream. Tapi ini menyehatkan tubuhmu’’ ucap Arsakha yang menjelaskan, seketika itu Moeza langsung menutup mulutnya dengan menggunakan kedua telapak tangannya.
‘’Mmmm, Moe tidak mau, Moe tidak sukya sayuwan paapah’’ jelas moeza, pada Arsakha.
Arsakha tersenyum, ia mencium pipi kanan Moe. Tingkah laku Moe sama persis dengannya saat kecil.
‘’Yang ini beda, ini brokoli yang membuatkanmu menjadi lelaki kuat nantinya’’ ucap Arsakha.
__ADS_1
Mata Moe langsung berbinar-binar, ia mengambil garpu tersebut dan tanpa pikir panjang langsung memakan brokoli tersebut.