
Seperti biasanya, Arsakha dan Nico akan bertemu di suatu tempat nongkrong mereka saat itu, dan juga pastinya dengan Adam walaupun Adam tidak ada di sini, mereka akan tetap terus melestarikan tempat berejarah mereka untuk bertukar pikiran.
Sakha sudah sampai di tempat tersebut, sebuah caffe berlogokan 'SAN CAFE' Cafe milik mereka bertiga, hasil dari kerja sama antara Sakha, Adam dan Nico. Mereka bertiga berinvestasikan dengan mendirikan caffe atas nama mereka bertiga. Sakha menjadi tangan uangnya dan Adam yang mengatur, Nico hanya melihat pekerjaan Adam itu pun jika ia sempat.
Sakha duduk dikursi dekat pohon, ia tengah sibuk dengan ponselnya. Seseorang datang menepuk pundaknya.
"Hai brother!" sapa Nico.
Arsakha berdecih. "Cih, kemana saja kau? Aku menunggumu tahu!" gerutu Arsakha pada Nico.
Nico yang tak tahu malu itu pun hanya menyengir kuda. "Hehee... Maafkan aku Arsakha, aku harus menjinakkan singa betina dulu" gumam Nico, yang berhasil membuat Arsakha geleng-geleng kepala.
Ia terduduk di depan kursi Arsakha, sambil menyauti seorang pelayan cafe untum datang ke meja mereka.
"Iya Tuan, mau pesan apa?" tanya sang pelayan cafe pada Nico.
"Hmm, kau ingin memesan sesuatu tidak Sakha?" tanya Nico.
Sakha yang sedari tadi terfokus pada ponselnya langsung melirik Nico.
"Aku seperti biasa saja" ucap Arsakha.
Nico yang mengerti akhirnya memesan pada sang pelayan cafenya.
"Aku ingin dua pasta, dua dessert alpukat, satu roti panggang dan dua teh hangat." Ucap Nico, si pelayan itu pun langsung mencatatnya dengan cermat.
"Baik pak, silahkan tunggu" ucap sang pelayan, ia akhirnya pergi dan akan segera kembali membawa pesanan yang di pesan oleh Nico.
"Sakha" sahut Nico memanggil nama Arsakha.
Arsakha tersentak dan langsung melirik Nico. "Hmm, ada apa? Tidak biasanya kau memintaku untuk bertemu Nico" ucap Arsakha tak percaya.
Nico memberikan sebuah flashdisk pada Arsakha. Sakha mengerutkan alisnya dan mengambilnya walaupun ia setengah penasaran.
"Apa ini?" tanya Arsakha penuh kebingungan.
"Itu adalah flashdisk yang isinya tentang data-data istrimu dan juga Musa, kau tahu Sakha. Aku cukup terkejut mendengar mereka adalah seorang saudara, dan kabar yang ku dengar lagi adalah... Mereka berdua..."
Terasa berat rasanya untuk Nico mengatakan ini, namun ia harus mengatakannya jika tidak Sakha akan tambah menyesal.
"Mereka berdua akan menikah." ucap Nico.
Tidak ada reaksi dari Sakha, sehingga makanan pesanan mereka sudah sampai dan Sakha menyambarnya karena memang sudah lapar.
"Sakha" sahut Nico.
"Hemm"
__ADS_1
"Kau mendengarku tidak? Dasar bodoh!" umpat Nico.
"Hemm"
"Kau tidak peduli akan pernikahaan Soraya, Sakha?"
Arsakha hanya menggelengkan pelan kepalanya, sambil menyeruput pasta ke dalam mulutnya. Nico yang melihat ketidak peduliaan Arsakha hanya menghela nafasnya dengan begitu berat.
"Ia akan menikah bersama Musa, setidaknya kau menghentikan pernikahaan itu. Karena Nurulmu sangat mencintai suaminya, aku harap saat ia mendengar kabar ini tidak membuatnya begitu terluka."
Arsakha yang tadinya sedang menyeruput pastanya seketika itu ia langsung tersedak.
"Uhuk... Uhuk... Uhuk... APA!" Arsakha menyangka jika istrinya akan menikah dengan suami dari mantan istrinya.
Ia membulatkan matanya lebar-lebar, Sakha tidak percaya dengan apa yang Nico katakan.
"Tenanglah, kita bertiga pasti bisa menghentikannya" ujar Nico.
Sakha bernafas lega, ia meminum minumannya. "Aku tidak akan biarkan wanita piton itu menikah dengan manusia beku" cibir Arsakha.
"Aku juga, Adam juga. Kita semua pasti ingin yang terbaik untukmu, dan juga Meidina" ucap Nico menyakinkan Arsakha.
"Hmm, aku akan melakukan yang terbaik untuk Nurulku. Menebus dosa-dosaku di masa lalu" Sakha menyandarkan kepalanua di sandaran kursi.
"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Lanjutkan makanmu" ujar Nico, mereka segera menghabiskan makanannya walaupun sedikit mengobrol.
"MUSA!" teriak seorang wanita memanggil namanya.
Musa yang kala itu sedang membaca buku hanya terdiam, ia tidak tahu jika si wanita gila itu sudah berada tepat di depannya sambil bertolak pinggang siap menyambar Musa dengan amarahnya.
"Musa, lihat diluar! Lihat! Ada banyak polisi di sana, apa kau mau menjebloskan aku ke dalam penjara!" ucap Soraya dengan nada penuh Ketegasan di setiap kalimatnya.
Musa hanya tersenyum. "Kenapa memangnya, jika mereka membawamu. Apa kau khawatir akan di hukum mati" ucap Musa, namun tidak membuat nyalinya menciut.
"Untuk apa aku takut, toh aku tidak membunuh siapa-siapa"
"Sora, apa kau tidak ingat perlakuan ibu dan kakekmu?"
Soraya terdiam, kali ini nyalinya untuk membela benar-benar menciut.
"Itu..."
Musa hanya bernafas berat, mengingat masa lalu adalah cara untuk membuatnya sakit sendiri.
Flashback On
"Musa... Anakku..." lirih Umi Kulsum.
__ADS_1
"Iya umi..." Musa sudah menahan isak tangisnya saat kedua orang tuanya tengah terbaring di rumah sakit.
"Nikahi Sora... Dia saudara tirimu, dengan begitu masalah ini akan segera selesai, Nak" lirih Umi Kulsum nyaris membuat Musa meneteskan air matanya.
Musa menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Tidak Umi... Musa sudah menjadi milik Meidina, bagaimana bisa Musa meninggalkan wanita yang Misa cintai. Dan lagi, Meidina tengah mengandung anak Musa Umi... Musa tidak bisa... Musa akan sangat berdosa pada Meidina dan anak Musa. Maaf umi... Maaf untuk ini Musa tidak bisa patuhi perintah Umi..."
Isak tangis seorang Musa Aldebaran pecah, ia memeluk sang ibunda dengan lekat. Antara kedua orang tua, dan cinta harus ia pertaruhkan demi kedamaian masalah keluarganya.
Sangat sulit untuk ia jelaskan, Musa hanya bisa menangis menatap kedua orang tuanya yang sekarat atas perbuatan Dara selaku ibu dari Soraya.
"Tuan Musa..." ucap sang bawahan, ia datang ke ruangan Musa.
"Kau sudah dapatkan biodatanya?"
"Iya, sudah tuan. Ini berkas yang anda inginkan"
"Bagus, tetap awasi wanita gila itu. Jangan sampai ia menyakiti istriku dan juga anakku" titah Musa yang hanya di balas anggukan kecil oleh Musa.
"Baik tuan, jika tidak ada apapun saya permisi dulu"
"Hmm"
Musa membuka berkas tersebut, ia membacanya dengan sangat teliti. Mencerna kata yang ia baca, dan Musa segera meremas kertas tersebut di genggaman tangannya.
"Sial" umpatnya
Flashback off.
Soraya tengah mengoceh kesana dan kemari, mengutuk Musa agar segera menjadi keong racun karena ia adalah racun bagi Soraya.
"Musa, yang memiliki masalah adalah orang tuaku, jadi kau tidak berhak untuk menjebloskan aku ke dalam penjara" ucap Soraya membela diri.
"Orang tuamu kan sudah tidak ada, jadi kau saja yang mewakilkannya untuk masuk ke dalam jeruji besi dan menjadi tahanan internasional" ucapan Musa berhasil membuat Soraya bergidik takut.
Soraya berlutut memegang kaki Musa, ia memohon pengampunan dari seorang Musa Aldebaran.
"Aku mohon, ampunilah aku. Aku tidak mau masuk ke dalam penjara, reputasiku sebagai model akan hancur begitu saja" pinta Soraya.
Namun Musa bukanlah seorang pria yang lembek, ia tak bisa di rayu oleh wanita mana pun kecuali Meidina.
"Coba kau lihat wajahku" titah Musa.
Soraya menurut dan menatap lekat wajah Musa.
"Apakah aku peduli denganmu? Tentu saja tidak!"
BERSAMBUNG
__ADS_1