
Arsaha melihat berkas-berkas tersebut lalu menganalisnya sebentar, Alifah hanya terdiam sambil memperhatikan sang CEO yang sedang menganalisis.
“Alif, kenapa peruahaan hanya mendapatkan 7% padahal kan kita bisa tembus di angka 10%?” tanya Arsakha dengan mode seriusnya.
Alif terdiam. “Itu, saya tidak tahu pak. Karena departemen keuangan hanya mengirimkan berkas itu saja terhadap saya, dan lagi mereka tidak mengkonfirmasi berapa banyak jumblah barang yang sudah terjual keras bulan lalu karena diskon.” Ucap Alif yang membela diri.
Merasa adayang tidak beres dengan yang terjadi di perusaahaannya, Arsakha pun langsung menelepon kepala departemen keuangan yang berada di atas Alif.
“Halo Pak” sahut salah satu pegawai di sana.
“Minta kepala departemen untuk datang ke ruanganku sekarang juga!” titah Sakha
“Baik Pak.” Arsakha memutus sambungan telepon tersebut.
“Kau duduklah dulu Alif” sahut Arsakha.
“Terima kasih Pak”
Alif duduk Sofa, tak lama Pak Bondan datang dengan membawa sebuah berkas ditangannya. Alif berdiri dan menghampiri atasannya tersebut, ia tersenyum begitu juga dengan Pak Bondan.
“Selamat pagi Pak Arsakha, saya sudah membawa berkas pembelian dan juga berkas barang yang telah perusahaan keluarkan Pak” sahut Pak Bondan.
“Sebelumnya saya ingin mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya pak, karena data-datanya belum sempat terkumpulkan semuanya saat bapak meminta. Dan keuntungan laba perusahaan yang 7% itu hanya untuk mendapatan di dalam negeri Pak, untuk pendapatan di luar negeri kami belum menghitung semuanya. Tapi kami menafsirkan, bersih laba perusahaan pusat sampai di angka 20% Pak.” Ucap Pak Bondan yang menjelaskannya pada Arsahkha.
Sambil melihat data yang Pak Bondan berikan. “Alif, apa kau baru magang disini?” tanya Arsakha.
Alif pun spontan mengangguk. “Betul pak, lebih tepatnya saya sudah magang sekitar 3 bulan yang lalu” jawab Alif.
Arsakha paham betul, karena ia juga baru melihat wajah Alif di kantor. “Lalu dimana yang lama?” tanya Arsakha.
“Dia masih ada Pak, bukankah bapa sendiri yang memerintahkannya untuk menjaga dan melihat kinerja Alif” jawab Pak Bondan.
Karena pekerjaan yang begitu menumpuk, Arsakha sampai lupa dengan karyawannya sendiri.
“Tenang saja Pak, laba perusahaan dalam negeri saja sudah banyak apalagi jika di satukan dengan yang di luar. Kami akan segera mendesak pengelola di sana agar segera mengirimkan data analisanya Pak” sahut Pak bondan.
“Heem,Baiklah. Kalian beerdua boleh pergi. Tapi tolong katakan pada pengurus kantin perusahaan aku ingin kopi hitam panas satu” ucap Arskha, Pak bondan pun mengangguk.
__ADS_1
“Baik pak, akan saya sampaikan. Kami permisi dulu” pamit Pak Bondan.
Mereka keluar dari ruanga Arsakha, dan tepat saat mereka keluar ada Soraya yang datang ke perusahan untuk menjenguk Arsakha. Sambil membawa makan siang untuknya dan juga untuk Sakha, melihat Sakha yang sedang sibuk dengan berkas-berkasnya, Soraya menghampirinya segera.
“Sakha!” sahutnya.
Mendengar suara sang istri, Arsakha pun menolehnya kedepan.
“Kau? Kenapa kau bisa di mari?” tanya Sakha yang penh kebingungan.
“Aku sengaja berkunjung dan membawakanmu makan siang. Lihatlah, kau pasti suka dengan makanan yang aku masak hari ini” ucap Soraya sambil mengangkat rantang berwarna ungu itu.
“Kau memakai warna ungu baik barang dan juga bajumu? Apa kau sangat menyukai warna ungu?” tanya Arsakha yang melihat Soraya seolah sangat aneh dengan style Soraya yang serba ungu.
“Ungu? Apa matamu buta Sakha? Baju yang aku pakai ini berwarna lilac dan rantang ini berwarna violet” jawab Soraya yang tak terima
“Tapi mataku hanya melihat satu warna saja Sora, yaitu ungu” ucap Sakha yang membela diri
“Itu karena kau hanya tahu warna dasar saja, coba kau perdalam dan gali semuanya. Aku yakin kau akan takjub melihat banyaknya warna yang belum sempat kau ketahui!” seru Soraya.
“Aku tidak peduli, aku sibuk cari uang untuk kita makan” celetuk Arsakha yang kesal.
Bertepatan dengan itu, kopi yang Sakha pesan di kantin perusahaan pun datang. “Permisa Pak,Buk. Saya izin mau mengantarkan kopi yang Pak Sakha pesan” ucap sang pengurus kantin perusahaan tersebut.
“Masuklah, simpan kopi itu di atas meja dekat sofa” ujarSakha, sang pengurus kantin pun masuk dan menaruh kopi Arsakha di atas meja.
“saya permisi dulu pak” sahutnya
“Heem”
Soraya yang melihat kopi di atas meja pun langsung menghampirinya lalu menutupnya. “Kau harus makan dulu Sakha, jangan pernah berani sekali pun menyentuh kopi ini, ku harus makan dulu. Mau atau tidak mau sekali pun!” ucap Soraya penuh ketegasaan disetiap kalimatnya.
“Baiklah istriku yang bawel” ucap Sakha
Sakha menghampiri Soraya yang berada di sofa, Sora membuka satu demi satu rantang yang telah ia bawa. Sakha duduk di sampingnya dan melonggarkan sedikit dasinya, yang membuatnya gerah.
“Kau masak apa hari ini?” tanya Sakha
__ADS_1
“Aku masak makanan kesukaanmu Soraya, ini rendang daging sapi dan capcay sayur kesukaanmu. Aku juga membawa buah-buahan untuk melancarkan pencernaanmu saat makan-makanan berat ini” ucap Soraya.
Melihat sang istri yang begitu pengertian padanya, membuat sakha tersenyum karena tuhan masih sayang padanya dengan memberikan istri yang begitu peduli padanya. Soraya mengambil lauk dan nasi untuk Sakha makan, dan untuknya juga pastinya.
Dua puluh lima menit berlalu, Sakha dan Soraya telah menghabiskan makananya dengan cepat. Karena, tidak ada topik pembicaraan sama sekali untuk mereka berdua. Demi memecahkan keheningan, Arsakha pun memulai pembicaraan.
“Soraya” ucapnya.
Soraya melirik arsakha, walaupun ia sedang minum dan belum sempat untuk menjawab ucapan Sakha.
“Heem” dehemnya.
“Apa hari ini kau ada jadwal pemotretan?” tanya Sakha, Soraya pun menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Tidak ada, tapi nanti lusa aku ada acara untuk menemani Meidina menghadiri acara perilisan buku barunya” ucap Soraya.
Sakha pun mengangguk. “Oh, kalau itu kita bareng saja. Aku dan juga Adam akan hadir di sana, Musa juga. Kami para pria akan menguruskan pekerjaan yang sangat penting” ucap sakha.
Soraya mengangguk. “Baiklah Sakha”
“Soraya, apa saat kau melakukan pemotretaan ada yang membuatmu tidak nyaman atau mencoba menggodamu?” tany Sakha serius.
Soraya pun menggeleng-gelengkan pelan kepalanyaa. “Tidak ada Sakha, justru mereka sangat sopan dan bahan sangat menghormatiku. Apa kau yang melakukan semua itu pada mereka?” tanya Soraya.
Arsakha berdehem kecil, “ Hem, itu memang perintahku. Katakan saja jika nanti ada orang yang mencoba menjatuhkanmu, kau dapat mengandalkan aku Soraya” Jawab sakha.
“Baiklah suamiku yang ber-uang, aku akan selalu merepotkanmu kedepannya. Jadi, bersiaplah untuk terus aku repotkan tuan!”
TO BE CONTiNUE
Hai bubu, jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Sambil menunggu karyaku yang ini up, jangan sampai tidak mampir ke karya baru yang berjudul. Pernikahan Rahasia Tuan Raib dan Panah Balas Dendam arjuna. Terima kasih, see you.
__ADS_1