
Soraya pergi ke dalam kamarnya, ia mengunci pintu kamarnya rapat-rapat. Arsakha yang melihatnya hanya tersenyum, sebentar lagi ia akan kembali pada pekerjaannya di kantor perusahaan Virendra.
Dan juga, Sakha memiliki janji dengan sahabatnya itu untuk mengurus permasalahan yang soraya .buat, di masa lalu dengan istri Pratik. Sebelum pergi ke perusahaannya, Arsakha akan datang menemui praktik untuk terlebih dahulu, karena ia harus membawa istrinya untuk disidang.
Karena saat itu, istri praktis hanya mengatakan iya saja. Namun tak dengn2an alasan yang jelas, saat Soraya menusuk perut istri praktik tersebut. Arsakha mengendarai mobilnya yang mewah itu, dengan membelah jalan kota. Sejenak, ia melihat ke arah kanan seberang jalan.
Ketika seorang anak kecil sedang digendong oleh ayahnya di atas bahu. Sakha teringat dengan Moeza yang selalu memanggilnya dengan sebutan ayah. Sungguh, Sakha sangat bahagia rasanya ketika dipanggil seperti itu. Karena ia sangat menginginkan buah hati dan mungkin akan segera ia miliki dengan Soraya.
Ia cukup dengan 15 menitan, Arsakha mengendarai mobilnya sampai di mansion ayah hamzah. Yang dimana Pratik adalah penjaga keamanan di sana, namun berita tentang soraya kembali disiarkan. Mereka bertanya-tanya, dimana Soraya saat ini berada.
Tidak mungkin jika ia bersama seorang pengusaha sukses dari asia, terlebih lagi Soraya adalah istrinya. Itu sangat tidak mungkin, untuk bedebah seperti seorang Soraya yang menikahi seorang pebisnis sukses
"Sialan! Mereka membuat berita siaran tentang istriku lagi!" Arskha memukul stir mobilnya dengan keras.
Ia tidak peduli betapa sakitnya, ia hanya bisa menampakan rasa kesal dan jengkelnya itu. Segera, Sakha keluar dari mobil dan menarik praktik masuk ke dalam mobil. Seketika itu, praktik yang mendapatkan perilaku mendadak dari Arsakha hanya terkejutnya.
Mencoba melawan, namun tenaganya kalah kuat dengan Arsakha Praktik pun diseret oleh Arsakha.
"Tuan Sakha... Tuan Sakha, kenapa kau membawaku pergi? apa salahku padamu? Tolong lepaskan aku, jika tidak Tuan Hamzah akan memarahiku." pinta praktik pada Arsakha.
Ayah Hamzah keluar dari dalam mandiin nya, karena ia mendengar suara gaduh dari luar itu. Ternyata itu adalah Arsakha yang tengah menyeret Pratik untuk masuk kedalam mobilnya. Tanpa disengaja, Adam juga ada di mansion Ayah hamzah karena ada sebuah hal yang perlu Adam bicarakan pada ayah hamzah.
"Kenapa sih bodoh itu udah di sini ayah?" tanya Adam pada sang ayah.
Ayah Hamzah hanya menaik turunkan kedua bahunya, ia tidak tahu apa yang telah terjadi.
__ADS_1
"Coba kau dekati dia, Dam" ujar Ayah Hamzah.
Adam pun mengangguk pelan, ia berjalan menuju mobil Arsakha. "Hei bodoh apa yang kau sedang lakukan di mari? tanya Adam yang datang menghampiri Arsaka.
"Aku mau pinjam dia sebentar" sahut Sakha.
Adam menyipitkan kedua matanya, "Dia? Maksudmu Pratik?" tanya Adam dan Arsakha pun mengangguk pelan.
"Iya, aku ada urusan penting dengannya. Ini masalah tentang Soraya yang isu nya kembali muncul lagi ke permukaan.
Adam tak habis pikir dengan apa yang sudah terjadi, karena Soya terus-terusan membuat masalah sehingga membuatnya pusing tujuh keliling.
"Ada apa kai datang kemari?" tanya adam dengan penuh penasaran.
Adam pun ingat dengan jelas, akan bayangan 4 tahun yang lalu ketika dirinya yang kala itu menjemput Arsakha yang tengah lumpuh, dan ia tak ingin ambil pusing tentang kejadian yang menimpa istri praktik, karena skandal istri Arsakha.
"Bukankah kau sendiri yang mengatakannya, tidak mau ambil pusing dengan masalah istrimu itu, dan kau sendiri juga tidak menganggapnya sebagai istrimu." ucap Adam yang membuat Arsakha kesal.
"Itukan dulu, bukan sekarang. Lagi pula, aku dulu masih lumpuh dan aku tidak sekuat sekarang. Kali ini, aku akan membalas siapa saja orang yang menyakiti orang-orang ku. Mereka belum tahu saja, kekuasaan Arsakha Virendra bagaimana."
Adam terkekeh geli mendengarnya, begitupun juga dengan praktik. "Oh benarkah Tuan? Aku sudah tidak sabar untuk mengetahui sebagaimana hebatnya dirimu." celoteh praktik.
Apa yang Adam katakan memang ada benarnya juga, apakah Sakha mencintai Soraya. Mungkin sekarang iya, ini adalah waktu tepat untuk mencintai Soraya.
"Sepertinya Tuan Arsakha mulai mencintai mantan pacarku, aku harap kau jangan tersinggung tuan." Ucap Pratik.
__ADS_1
Sontak membuat Arsakha menetap tajam Praktik, dengan tatapan yang tajam. Ia mencengkeram tangan Pratik dan juga menetapkan Pratik dengan tatapan yang begitu intens, Ayah Hamzah yang melihat hal tersebut langsung datang menghampiri mereka bertiga, untuk meleraikan mmasalah Arsakha dan juga Praktik.
"Kalian kenapa bengong di luar sini? Sebaiknya masuk terlebih dahulu, ayah sudah siapkan minuman enak untuk kalian bertiga." ujar Ayah Hamzah.
Ayah Hamzah menenangkan keadaan, dengan Arsakha enggan untuk menjawab. Karena ia masih kesal dengan ucapan praktik tadi itu.
"Ayolah tuan, saya hanya bercanda. Jangan pernah anggap serius perkataanmu saya yang tadi."
"Ayah hamzah dan juga Adam pun tahu, bagaimana sifat asli saya yang suka jahil itu." ucap Pratik.
Araakha pun masih diam tak bergeming, Adam merangkul pundak sahabatnya itu.
"Ayolah kawan, kita pergi saja. Bukankah kau akan menemui Nico di perusahaan? Tadi pagi Nico meneleponku untuk memintaku datang ke perusahaanmu.
Kebetulan kau ada disini, dan aku akan pergi bersamamu. Kau juga Pratik, kau akan pergi bersama kami untuk menjelaskan semua masalah ini terlebih dahulu. Kau harus membawa istrimu ke perusahaan, karena untuk di interogasi langsung oleh kami bertiga!"
Benar, analisanya dalam-dalam meningkatkan istrinya yang masih ketakutan akan kejadian tempo itu. Namun Pragik berhasil menutup luka dan juga menghibur sang istri, agar tidak trauma berkelanjutan.
"Ya sudah, jika kalian ingin pergi Ayah juga akan menemui Papa Rendra untuk datang ke perjamuan teh sore ini." ucap Ayah Hamzah.
"Baik, tapi ayah jangan banyak-banyak minum gula ingat kolesterolmu tinggi dan juga kadar gula mu juga tinggi." ujar Adam mmengingatkan sang ayah akan penyakitnya itu.
"Tentu saja, aku akan ingat selalu tentang penyakit itu." ucap Ayah Hamzah.
Baiklah ya sudah kalau begitu amit-amit izin untuk pergi ayah ujar adam pada sang ayah anda yaitu baiklah hati-hati dijalan dan juga kalian berdua hati-hati jangan ngebut membawa m,obil ingat dengan keselamatan kalian jauh lebih penting dibanding kan waktu puisi pula tu itu mengajarkan kita untuk disiplin tetapi keselamatan yang paling penting
__ADS_1