Penyesalan CEO Lumpuh

Penyesalan CEO Lumpuh
MEMULAI KEMBALI


__ADS_3

Sakha mengejar Soraya yang tengah berlari ke lantai atas, dengan kondisi seperti ini. Tentunya sulit untuk diri nya menaiki anak tangga, dengan mandiri Sakha menuju ke arah lift pribadinya.


Yang sudah ia bangun dari jauh-jauh hari sebelumnya, Terdengar suara tangisan menggema di dalam mansion.


"Apakah Soraya menangis?" gumam Sakha.


Ia membuka pintu, dan benar saja. Soraya tengah menangis, ia memasukan beberapa barang nya ke dalam tas kecil nya.


"Kau mau Kemana?" tanya Sakha pada Soraya.


Namun Soraya diam tak bergeming, ia sudah akan berangat membawa tas nya dan berjalan melewati Sakha.


"Jawab!" tegas Sakha


Dengan air mata yang berurai, Soraya hendak pergi namun Arsakha menahan tangan nya.


"Lepaskan!" lepaskan sekuat tenaga ia melepaskan, namun tenaga Sakha jauh lebih besar di banding kan Soraya.


"Kau belum menjawab pertanyaan ku" saut Sakha


"Aku ingin pergi, aku"


Blush.


Dengan berat hati, Sakha memeluk Soraya yang tengah berada di pangkuannya. Karena ia menarik tangan Soraya barusan, CUP.


Sebuah ciuman mendarat di pipi Soraya.


"Kau ingin pergi menemui Pratik? dia mantan mu kan?" ucap Sakha


"Ti-tidak" Soraya yang ambigu.


"Besok aku akan melakukan Trapi rutin setiap hari, kau mau kan menemani dan merawat ku" ucap Sakha


"I-iya"


"Anak pintar"


Arsakha mengelus rambut lembut Soraya, Sakha masuk kedalam kamar mandi dan mulai membersihkan badan nya.


Hingga malam pun berganti, tepat pukul 2 pagi Soraya terbangun.


Ia melirik Sakha yang tengah tertidur, Soraya bangkit dari tidurnya dan menyandarkan bahu nya.


"Sekarang aku harus apa?" batin Soraya


Sakha pun terbangun.


"Kau belum tidur?" tanah Sakha


"Aku kebangun" jawab Soraya


"Tidurlah lagi, apa kau tidak bisa tidur?"


"Aku hanya" ucap Soraya mengantung

__ADS_1


"Hanya apa?"


"Raya"


Saut Arsakha sambil memegang tangan Soraya.


"Sekarang kau istriku, jangan pernah berpikir macam-macam aku akan menyakiti mu. Perlu kau tau, aku sudah belajar banyak dari penyesalan" ucap Arsakha jelas.


"Apa tuan sakha masih mencintai mantan istri tuan?"


"Hm, aku memang masih mencintai nya. Namun sia-sia rasanya, jika aku bersama nya namun tak membuat dia bahagia" saut Sakha.


"Raya, bisa kah kau temani aku. Sampai aku sembuh nanti, kau bisa katakan harta apa yang kau inginkan"


"Aku tidak menginginkan nya sungguh" lirih Soraya.


"Aku, hanya ingin di cintai dengan sungguh-sungguh" sambung Soraya.


"Hmm" dehem Arsakha


"Gak usah Hm Hm Hm, sudah basi. Sekalian saja Naon!"


Soraya kembali melanjutkan tidurnya, begitu pun Arsakha yang diam membisu hanya menggeleng kan kepala nya yang pusing akan sikap istri baru nya.


"Ini sudah langkah yang tepat kan?"


...


Pagi harinya, Sakha terbangun dengan posisi tak menemukan soraya di samping nya.


"Kemana manusia itu?" gumam nya


Tiba saat nya, saat Arsakha akan pergi berangkat bekerja ia mendapatkan sebuah kabar dari Hendri.


"Tuan, nyonya muda pergi saat subuh tadi"


"Benarkah, pergi kemana. Dan kenapa kalian tidak melarang nya?"


"Sudah tuan, tapi nyonya bilang. Tidak perlu, ia hanya akan pergi untuk mencari bahan makanan saja. Lalu kembali lagi ke gubuk mewah ini"


Mengingat bi min yang sudah tidak bekerja lagi di sini, karena kondisi kesehatan yang tak memungkinkan ia akn kuat mengurus mansion arsakha


"Tak apa, tapi jika 10 malam ia tak kunjung kembali. Lakukan tugas mu yang sesungguhnya"


"Ay ay captain!" ucap Hendri sambil hormat di hadapan arsakha.


Sakha di bantu si kembar untuk masuk ke dalam mobilnya, dan hendra lah yang akhirnya mengantar sakha ke perusahaan nya.


Cukup 30 menitan mereka sampai, Arsakha di sambut oleh para pegawainya yang sudah tertera nama Arsakha disana.


"Welcome Back Presdir Tolil"


Padahal kemarin ia juga pergi ke kantor, walaupun waktu itu sangat mendadak dan membuat para pegawai - pegawai nya sangat terkejut.


Hendri membantu Arsakha masuk ke dalam ruangan nya, ruangan CEO dengan nuansa yang masih sama seperti dulu.

__ADS_1


Ceklek. Sekretaris Tyo masuk ke dalam ruangan Arsakha, yang sejak tadi sudah bersiap-siap.


"Tuan" saut nya.


"Hen, kau pulang lah. Di sini aku ada tyo"


"Baik tuan"


Ucap hendri sambil membungkuk kan badan nya, dan segera pergi dari mansion arsakha


"Tuan, tentang terapi anda"


"Hm, kau atur lah jadwal ku Tyo. Oh iya, tentang rapat pemegang saham tahun ini. Apa kau sudah siapkan semuanya? Aku akan melakukan pencarian pegawai baru" ucap Arsakha yang di mengerti oleh Tyo


"Baik tuan, saya juga sudah memecat beberapa pegawai yang menerima gaji tanpa bekerja di saat anda tidak ada. Beruntung nya ada sudah di sini lagi, jadi perusahaan bisa berjalan dengan lancar kembali" ucap Tyo.


"Dan untuk terapi kaki anda, akan di lakukan hari sabtu tuan" sambung Tyo yang hanya di jawab "Hm" oleh Arsakha.


Arsakha tengah terfokus dengan beberapa dokumen yang sudah menumpuk di atas meja kerja nya. Ia yang dulu duduk di kursi roda karena lumpuh bohongan,tapi sekarang harus menerima takdirnya atas kelumpuhan nya.


Karma tak semanis rambutan, ia datang di waktu yang tepat dan tepat pada sasaran nya.


Drt.. Drt.. Drt..


Ponsel Arsakha bergetar, tapi ia tak menyauti nya dan malah terfokus pada dokumen - dokumen nya.


Ponsel itu kali ini bergetar lagi, menandakan ada panggilan masuk. Dengan malas Sakha mengambil ponsel apel di dalam saku jaz nya, "Adam" adalah si penelepon tersebut.


"Ada apa si ****** ini mendadak menelepon ku!"


Ia segera menggeser tombol hijau, dan meletakan ponsel nya di atas berkas-berkas yang sudah menumpuk.


"Assalamualaikum ukhti cantik, kenapa lama sekali mengangkat telepon dari ku?" ucap adam disambungan telepon.


"Waalaikumsalam, kau ingin ku gampar dam!" ucap arsakha kesal


"Hehehe, aku hanya bercanda. Sakha?"


"Cih.. Katakan ada perlu apa kau menelepon ku!"


"Kau tahu tidak? " tanya adam


"Tidak!" jawab sakha


"Aku belum selesai bicara bodoh!"


Sakha memutar bola mata nya, enggak untuk berbicara dengan manusia pribumi seperti Adam.


"Katakan ada apa?" beo Arsakha


"Carikan aku wanita"


Sontak Sakha kaget dengan apa yang sahabatnya katakan barusan.


"Untuk apa? cari saja sendiri!"

__ADS_1


Tegas Arsakha, ia langsung menutup panggilan telepon tersebut. Sedangkan Adam kesal atas perilaku sahabatnya, tidak Nico tidak Sakha.


Padahal tujuan nya mencari wanita, adalah bagian dari sebuah suatu rencana.


__ADS_2