Penyesalan CEO Lumpuh

Penyesalan CEO Lumpuh
SATU KASUR


__ADS_3

Bandara, Internasional.


Sakha dan Soraya turun dari tangga eskalator, dengan membawa sebuah tas yang di jinjing di tangan mereka berdua.


"Kita pergi ke negara mana? Apa kital akan lama di sana?" tanya Soraya pada Arsakha.


"Inggris" jawab Arsakha.


Arsakha menuntun Soraya berjalan di belakangnya. Ia melihat di ujung ekor matanya seseorang pria berkacamata mengikuti mereka berdua.


"Apa aku salah lihat?" tanya Arsakha di dalam batinnya sendiri.


"Ini tidak beres!." Sakha melangkahkan kakinya dengan cepat, ia sedikit  bertanya-tanya. Kenapa Sakha berjalan dengan cepat.


"Kenapa? Kenapa kamu berjalan begitu cepat, Sakha?!."


Heran dengan sikap sang suami yang gampang berubah-ubah, Soraya pun hanya mengikutnya dan sedikit terhuyung langkahnya ketika menyeimbangi langkah suaminya itu.


"Kau ikuti saja aku! Tidak usah banyak bicra, ikut aku!" ucap Arsakha dengan nada penuh ketegasan.


"Ba... baik..." sahut Soraya yang tengah ketakutan itu.


Mereka berdua naik ke dalam pesawat pribadi, namun terparkir di bandara. Hanya ada mereka berdua, Soraya semakin bingung dengan apa yang suaminya.


Raut wajah Arsakha nampak begitu kelelahan, ia bernafas dengan panjang dan juga dalam. Sambil menutup kedua matanya, Soraya yang sudah tidak nyaman dengan tubuhnya yang kucal dan lengket itu.


Ia sedikit bergusar, hingga Arsakha merasa tak nyaman dengan Soraya yang menggeliat.


"Cih! Kau belum mandi?" tanya Arsakha.


Soraya mengangguk pelan, "Hmm... Iya" lirih Soraya.


"Ck, cepat mandi sana! Di belakang ada kamar mandi pribadi, dan pakai pakaianmu yang telah aku siapkan di dalam sana" jelas Arsakha namun sedikit kesal pada Soraya.

__ADS_1


"Baik, Sakha."


Soraya langsung pergi ke belakang,  mencari di mana keberadaan mandi itu di mana. Sakha meliriknya kebelakang, ia hanya menghela nafas dengan berat.


"Huft.... Dia itu adalah istrimu, Arsakha." dengus Sakha pada dirinya sendiri.


Waktu berlalu, Soraya tengah kebingungan dengan apa yang ada di sana.


"Di mana bajuku" gumamnya.


Ia mencari dan terus mencari. "Nah, ketemu juga!." Ia memakai baju itu, dan segera bersiap-siap untuk menemui Arsakha yang sudah terlelap di ranjang pribadi yang berada di pesawat itu.


Soraya keluar dari dalam kamar mandi, dengan menggunakan baju yang telah mereka siapkan. Namun, baju tersebut bukan seperti baju tidur biasa, itu adalah baju dinas istri saat malam yang biasa disebut Lingrie.



Soraya berpikir sejenak, ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri, ia akan tidur di mana Tidak pernah mungkin ia akan satu ranjang bersama suaminya itu.


"Sakha..." sahut Soraya.


Arsakha yang melihat Soraya, langsung membuka matanya dengan bulat-bulat itu, ia tak percaya dengan apa yang ia lihat oleh kedua bola matanya itu.


"Ini benaran Soraya? Kenapa, si sialan itu memberikan Soraya baju ini?! Bisa gawat jika begini! tapi terus! " grutu Arsaka pada batinnya sendiri.


Masih terdiam, Arsaka belum menjawab pertanyaan dari Soraya, hal tersebut pun berhasil membuat Soraya bingung harus bagaimana.


"Sakha? Apa kamu mendengarku?" ucap Soraya, sambil melambai-lambaikan kedua telapak tangannya di hadapan wajah Arsakha yang tengah melongo tersebut.


Arsakha pun tersadar dari lamunannya itu, ia menepis pikiran kotor yang terlintas di dalam benaknya. "Jika kau melihat hanya ada satu ranjang, tidak ada pilihan lagi untuk kau tidur sama aku kan?" ucap arshaka.


Soraya pun mengangguk pelan, apa yang diucapkan oleh Sakha itu ada benarnya juga. Mau tidak mau ia harus tidur bersama suaminya itu. Dan jujur saja, ini adalah kali pertama, tidak-tidak-tidak, ini adalah kali kedua kalinya Soraya tidur satu ranjang berdua dengan Arsakha.


"Setelah ini aku akan membuat perhitungan padamu, Niko! Andai saja kau tidak menyuruhku untuk membawanya pergi Sora. Aku tidak akan mau membahayakan keselamatan Soraya" grutu Arsakha kepada batinnya lagi,

__ADS_1


Ia memaki-maki kembali nama Niko, karena semua ini adalah rencana dan juga dia sendiri yang telah menyiapkannya.


"Kenapa kamu melamun? cepat kemari dan tidurlah! " Pekik Arsakha,


Namun Soraya kembali berpikir sejenak apa yang ia lakukan ini benar atau tidak. Dan juga sifat Arsakha yang gampang berubah-ubah itu.


"Apakah aku boleh tidur bersamamu?" tanya kembali Soraya untuk memastikan agar ia dapat izin sepenuhnya dari suaminya itu.


Arsakha pun berdengis kesal "Cih, cepatlah tidur atau aku akan menyeretmu tidur di ranjang! Aku tidak akan mengucapkan kembali apa yang telah aku ucapkan!" tegas Arsakha di setiap kalimat.


Soraya pun segera menghadiri arsakha yang tengah berbaring dirancang itu. Ia mengambil selimut tebal dan memakainya untuk menutupi tubuhnya yang putih mulus itu. Arshaka terdiam, Ia sejenak melirik istrinya itu yang sudah menutup kedua matanya. dan disusul oleh Arshaka, yang menyusul Soraya ke alam mimpi.


Di pagi berikutnya, mereka terbangun dengan posii tidur yang tak teratur. Arsakha memeluk Soraya dari belakang, dan juga Soraya yang memeluk Arsakha dari depan. Mereka saling berpelukan tanpa sadar, saat mereka terbangun Arsakah pun langsung menghempaskan tubuhnya itu.


Sehingga tubuh kekarnya itu jatuh tersungkur ke bawah. Soraya yang mendengar sebuah teriakan dari samping Sana hanya menggeliat, Ia membuka pelan kedua bola matanya itu dan menguceknya hingga kedua bola mata itu pun terbuka dengan seluruhnya. Saat ia membuka seluruh kedua matanya itu, ia melihat Arsakha yang sudah jatuh terus sungkur sambil memegangi pantatnya yang tengah kesakitan itu.


"Arsaka! Kau sedang apa di bawah sana?" tanya Soraya tanpa dosa.


Arshaka memandang lekat istrinya itu, dengan mata yang tajam ia kembali berbaring di kasur empuknya Itu.


"Karena ini salahmu! Aku masih lelah dan ingin tidur! Jangan ganggu aku jika kau menggangguku lihat saja nanti akan aku buang kau dari atas sini! " ucap Arsakha, dengan penuh nada penekanan di setiap kalimatnya.


Merasa aneh dengan apa yang Arsakha katakan, Soraya pun tak ingin ambil pusing. Ia turun dari ranjang, dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan badannya itu. Sebelumnya, Soraya mencuci wajahnya dan sikat gigi terlebih dahulu.


Setelah itu, mereka pun kembali pada aktivitasnya mereka masing-masing. Arsakha yang melanjutkan pekerjaan kantornya di pesawat, dan juga Soraya yang tengah membaca buku yang telah diberikan oleh Meidina padanya saat tempo hari itu.


Di sebuah taman kota.


Meidina tengah menunggu Moeza yang tengah les melukis siang itu, namun ekor matanya melihat seorang wanita yang sangat ia kenali itu. dengan rasa penasaran yang tinggi, Medina pun melihatnya dengan Intens dan juga seksama siapa wanita itu.


"Soraya...?" gumam Meidina.


Iya mengerutkan kedua alisnya itu, sampai alis itu hampir berdempetan satu sama lain.

__ADS_1


"Bukankah Soraya dan juga Kak Arsakh pergi ke luar negeri? Dan juga kenapa Kak Sakha tidak membawa Soraya pergi? Sepertinya ada yang tidak beres"


Meidina sedikit berpikir. "Apa aku hampiri saja dia ya, kenapa Kak Sakha jahat sekali tidak mengajak Soraya pergi! dia kan istrinya. Aku harus mengatakannya pada Soraya!." ucap Meidina yang kesal pada Arsakha.


__ADS_2