
Arsakha melirik gadis yang ada di depan nya itu. "Jadi kau adalah Soraya,gadis yang pernah menyelamatkan aku waktu tempo hari" ucap Sakha.
"Benar tuan" ucap Soraya sebari mengangguk.
Sakha terfokus pada ponsel nya,ia memberikan ponsel nya pada soraya.
"Ketik berapa nominal nya, hanya ini yang bisa aku lakukan sebagai ucapan terima kasih ku karena kau sudah menyelamatkan ku" ucap Arsakha amun soraya menolak nya.
"Maaf tuan, aku tidak bisa menerimanya" saut Soraya,Sakha mengerut kan kening nya.
"Kenapa memang?, apa ini masih kurang" ucap Arskah
"Tidak tuan, aku membantu mu dengan tulus" saut Soraya
"Baiklah, tapi jika ada apa-apa kau bisa menghubungi ku. Dan meminta bantuanku" ujar Arsakha
"Baik Presdir" saut Soraya tersenyum, soraya nampak melihat sebuah wallpaper di ponsel Arskha
"Itu, istri Presdir?" tanya Soraya
"Bukan, dia mantan istriku. Kau tahu, aku kecelakaan seperti ini karena kebodohan ku, sudah menyia-nyia kan nya" saut Arsakha tersendu
"Apa tuan Presdir menyesali perbuatan Presdir " tanya soraya menatap mata Arsakha yang tengah berkaca-kaca
"Hm, aku sangat menyesal. Andai saja waktu bisa ku putar kembali, ini semua tidak akan terjadi" ujar Sakha merebahkan diri nya di ranjang bangsal nya
"Penyesalan memang selalu datang di akhir Presdir, jika di awal itu namanya pendaftaran" celoteh Soraya
Sakha melirik nya, soraya tersipu malu.
"Aku memang menyesal, tapi siapa kau? menasihati ku seperti itu" ucap Sakha tak terima
Soraya dia tak bergeming, ia menundukkan kepala nya.
"Ma-maaf" lirih Soraya
"Hm"
Tidak ada percakapan di antara keduanya, mereka sama-sama diam mematung. Hingga akhir nya Arsakha membuka suara nya, ia memberikan pensel nya kepada soraya.
"Ini, catat nomerku" ujar Arsakha
"Baik" saut Soraya
Soraya mengambil ponsel milik Arsakha, dan mencatat nomer pribadi milik Arsakha.
"Itu nomer pribadi ku, awas saja jika kau memberikan nya pada orang lain" celoteh Arsakha, Soraya menelan salivanya dalam-dalam. Ia harus tahu, orang di depan nya adalah seorang raja bisnis yang kaya raya.
__ADS_1
Tentu saja menjadi sebuah keberuntungan jika kau memiliki nomer pribadi nya, semua wanita baik gadis atau tua sekali pun. Sangat tergila-gila pada ketampanan Arsakha, dan tajir melintir nya dia.
"Memang siapa yang menginginkan nomer Presdir, Presdir kan jelek" umpat soraya pada sakha
"Kau tidak tahu! banyak wanita yang tergila-gila padaku" saut Arsakha
"Oh, memang apa peduli aku padamu?" uca Soraya membuat Sakha geram
"Kau!" pekik Arsakh.
Mereka saling memandang satu sama lain, hingga sebuah getaran perasaan muncul di dalam hati Soraya.
Berhenti lah bergetar dan dag-dig-dug dasar hati yang bodoh, aku tahu. Pria yang ada di depanku kaya raya, dan tajir melintir. Tapi aku takut, jika memiliki suami galak sepertinya. Batin Soraya
Sakha menatap soraya kesal, dengan segera Soraya memalingkan muka nya.
"Ck, kau menyukaiku? tenang saja, aku tidak jatuh cinta padamu" ucap Arsakha.
Gleg! soraya menelan salivanya dalam-dalam, dan membulatkan mata nya.
"Aku tidak" ucap Soraya tergesa-gesa
"Tidak apa!" tegas Arsakha
"Tidak mungkin tidak mencintai pria yang ada di depanku" ucap soraya menggoda, ia mendekati wajah nya ke wajah Arsakha sebisa mungkin Arsakha memalingkan pandangan nya.
"Kenapa dengan tuan Presdir satu ini hmm, apa kau sudah jatuh cinta padaku" ucap soraya
"Mimpi saja kau, jika aku bisa mencintai mu!" tegas Arsakha
"Haha, aku hanya bercanda tuan Sakha. Mengapa kau terlihat polos sekali, untung pipi mu tidak merah merona" saut soraya di barengi gelak tawa
Arsakha kesal di buat nya, ia tetap bersikap dingin pada soraya yang ada di hadapan.
"Tenang saja, aku tidak akan menyukai mu tuan Presdir. Untuk itu, mari kita berteman namaku Soraya" ucap Soraya,tapi Arsakha tidak mempedulikan nya.
"Kau sangat menyebalkan, pantas saja mantan istri mu meninggalkan mu" saut Soraya
"Jangan bawa mantan istri ku, jika kau masih mau hidup di muka bumi ini" tegas Arsakha ia menatap soraya dengan sorot mata yang tajam.
"Baiklah, tuan Presdir yang galak. Kau mau tidak, aku akan membantu mu menyatukan mu dengan mantan istri mu kembali" ujar soraya, sontak Arsakha tercengang
"Maksud mu?" tanya arsakha
"Hadeuh, tuan Presdir mau CLBK tidak?" tanya balik soraya jengkel
"Apa itu CLBK?" tanya Arsakha bingung, soraya semakin jengkel di buat nya. Ia menepuk jidat nya
__ADS_1
"CLBK itu, cinta lama bersemi kembali" ucap Soraya yang hanya di balas kata "Oh" oleh Arsakha
"Cih, jadi Presdir mau tidak aku bantu" ucap Soraya
"Tapi, mantan istri ku sudah menikah lagi dengan teman ku" lirih Arsakha
"Tenang saja, tuan Presdir cukup menjadi pebinor dan rebut kembali mantan istri Presdir dari teman Presdir" seru Soraya
"Maksudmu,aku akan menjadi seorang perebut bini orang begitu" saut Sakha
"Betul sekali" ucap soraya
Arsakha hanya menggeleng-gelengkan kepala nya, terasa konyol bagi nya jika menuruti apa yang soraya kata kan.
...********...
Kabar kehamilan Meidina sudah terdengar oleh keluarga besar Meidina, dan keluarga Musa. Hadirnya sang calon bayi Meidina, membuat Ayah Hamzah dan Adam tersentak gembira.
Sama hal nya Ayah Hamzah pun senang mendengarnya, setelah kepergian nya Devanya. Membuat mereka semua di rundung pilu, dan sangat terpukul.
Terutama abi Jefriel, tentunya membuat hati dan pikiran nya kacau.
Sore itu, Musa mendapatkan telepon dari mafia asia itu. Ia enggan menjawab nya, karena percuma saja mengangkat nya. Ia pasti akan terus di ancam.
Ting... Tong
Bel Mansion membuat pikiran Musa buyar, yang tengah terduduk di kursi kebanggaan nya. Ia segera berjalan ke luar, dan menyambut nya. Tapi kepala pelayan Mansion Musa, sudah menyambut nya duluan.
"Kau sudah datang, cepat sekali" ucap Musa yang sebari menuruni anak tangga.
"Hai sahabatku,lama tak bertemu" saut nya
Ia duduk di kursi tamu, tersenyum ke arah Musa. Pria itu memiliki luka di tengkuk nya, dan mat sebelah kiri nya adalah mata palsu.
Musa duduk di samping pria tersebut, ia merebahkan tubuhnya yang ke lelahan sejak mendengar permintaan istri kecil nya yang tiada henti mengidam.
"Ku dengar kakak mu sudah meninggal? Aku turut berduka cita Musa, atas kepergian nya kakak perempuan mu" saut nya.
Musa bernapas berat, ia seperti enggan membuka lembaran hitam tersebut.
"Hm, terima kasih" ucap Musa.
"Zaidan"
"Aku meminta mu datang kemari untuk meminta bantuan mu, kau punya waktu tidak?" tanya Musa pada pria tersebut.
"Tentu saja, apapun untuk sahabat setia ku" sautnya, ia tersenyum pada musa.
__ADS_1