Penyesalan CEO Lumpuh

Penyesalan CEO Lumpuh
Pencarian


__ADS_3

Musa dan Abi Jefri sudah sampai di Negara A, mereka bergegas untuk pergi ke Mansion terlebih dahulu karena lelah dan hari juga sudah larut.


Mencari keberadaan Meidina dan Umi Kulsum akan di lakukan besok hari, meskipun Musa bersikeras ingin tetap mencarinya. Namun Abi Jefri melarang nya,bahaimana pun juga. Kesehatan harus di perhatikan.


Musa memasuki kamarnya, dan langsung membaringkan tubuhnya di sana.


Aku merindukanmu istriku. Gumam Musa dalam hatinya.


Drt... Drt... Drt.. ..


Ponsel Musa berdering, baru saja ia ingin beristirahat sudah ada yang mengganggu. Sejujur nya ia tak bisa beristirahat dengan tenang, karena belum menemukan istrinya.


Manusia mana yang beristirahat dengan tenang jika anggota keluarga nya menghilang.


Musa segera mengambil ponsel nya yang ia taruh di saku celana, dan mulai menjawab panggilan tersebut.


"Musa, apa kau masih mengenali ku?" ucap seorang pria dalam sambungan telepon tersebut.


Deg


Jantung musa berdebar dengan kencang, ia membulatkan matanya melirik nomor asing yang tengah menelepon nya.


"Apa kau tuli, sehingga tidak menjawab telepon ku" cibir nya.


"Aku mendengar mu Sakha" ucap Musa


"Bagus lah, itu artinya telinga mu masih normal" saut Arsakha


"Ck, katakan ada apa kau menelepon ku tengah malam begini. Jangan bilang kau merindukan ku Sakha?" tanya Musa menjaili Arsakha.


"Cuih, aku masih normal sialan. Kau sedang apa di sana dasar suami bodoh, aku dengar Nurulku hilang. Bukan mencari nya, kau malah santuy rebahan di sana" ucap Arsakha memaki-maki.


"Kau sudah tahu Sakha?" tanya Musa.


"Cih, jika aku tidak tahu. Tidak mungkin aku mengatakan nya pada mu dasar sialan" celoteh Arsakha.


"Ah iya, benar juga ya. Kenapa kau bodoh sekali, sehingga aku pun tak menyadari nya" ucap polos Musa membuat Arsakha semakin memanas.


"Sudah, kita harus mencari keberadaan Nurulku dimana. Awas saja jika ia sampai kenapa-kenapa, akan ku rebut kembali dia dan ku potong-potong pisang mu" ucap jelas Arsakha menggertak Musa.

__ADS_1


"Jadi kau ingin menjadi pebinor wahai sang raja bisnis. Semua jenis wanita akan takluk di tanganmu, tapi jangan istriku. Coba saja jika kau ingin mengambil Meidina, akan ku pecahkan telur mu" ucap Musa kembali menggertak.


Tak ada ujungnya jika menyaksikan perdebatan diantara suami dan mantan suami Meidina. Kedua lelaki ini melupakan tujuannya, yaitu mencari keberadaan wanita yang sedang ia rebut kan.


"Sudahlah percuma saja berbicara dengan orang bodoh seperti mu Musa" saut Arsakha, emosi nya meledak.


"Dan percuma juga berbicara dengan orang picik seperti Arsakha contohnya" ucap Musa, membut Arsakha darah tinggi.


"Jangan marah, aku hanya bercanda. Bagaimana kabarmu Sakha, maaf aku tidak bisa menjenguk mu tempo hari" lirih Musa.


"Alhamdulillah aku sudah membaik, aku hanya perlu melakukan terapi panjang untuk kesembuhan kaki ku yang lumpuh saat ini. Santai saja, aku mengerti Musa" ucap Arsakha dengan nada lembut.


Mereka melupakan saat di menit-menit mereka bertengkar, lalu sekarang akur kembali.


"Cih, sudahlah. Besok aku akan ke Mansion mu bersama Adam dan juga Nico. Mereka sudah melacak keberadaan Nurulku dan juga ibumu"


"Namun sayang nya, mereka belum menemukan posisi tepat dimana tempatnya" sambung Arsakha, Musa terdiam dan memijat pelipis matanya dengan pelan.


"Kau beristirahat lah, aku juga sudah sangat lelah. Besok kita mulai pencarian nya" ujar Arsakha.


"Hm, baiklah" saut Musa, sambungan telepon tertutup karena Arsakha yang menutup nya.


Setelah sudah, ia segera menutup dan menaruh buku itu di atas nakas. Merebahkan tubuhnya dan mulai memasuki alam mimpi.


Hari berganti, Musa sudah terbangun dari alam mimpinya sedari tadi. Suara bel terbunyi.


Ting.. Tong


Seseorang kepala pelayan membuka kan nya pintu. Nampak ketiga lelaki kekar itu tengah berdiri dengan wajah yang tampan. Dan yang satu nya lagi tengah terduduk di kursi roda, siapa lagi jika bukan Arsakha.


Mereka meminta izin untuk masuk, tentu saja di izinkan oleh Musa. Mereka berkumpul di ruang tengah, dimana di sana juga ada Abi Jefri.


"Jadi kau Pratik, mantan pacar Soraya?" tanya Abi Jefriel.


"Betul tuan" jawab Pratik.


Arsakha kaget, ia membulatkan mata nya ketika mendengar nama soraya.


Bukan Soraya penyelamat ku kan?. Batin Arsakha.

__ADS_1


"Lalu kenapa kau putus dengan nya?" tanya kembali Abi Jefri


"Karena" ucap Pratik menggantung.


"Karena apa?" saut Musa penasaran.


"Karena hubungan kami tidak di restui oleh keluarga nya, entah itu dari ibu atau pun kakek nya. Aku sudah membuktikan kesetiaan ku pada soraya, namun. Apalah daya aku yang seorang anak buah, bersanding dengan anak bos besar. Dan aku memilih menikah dengan seseorang yang mau menerima kekurangan ku"


Curhat Pratik, membuat semua lelaki di ruang tamu itu menangis tersedu-sedu karena mendengar cerita Pratik. (Tapi boong)


"Kasihan sekali nasibmu nak, masih mending aku yang ditinggal pergi oleh Naora" saut Nico mengejek Praktik.


"Tuan Nico juga sama, kau seperti orang gila ketika sedang mengejar cinta" cibir Pratik.


Pertengkaran kembali di mulai, antara Pratik dan Nico yang tengah adu mulut . Dengan sigap, Adam segera melerai pertengkaran kedua nya.


"Sudah, kenapa kalian jadi bertengkar. Kita fokus pada pencarian adik ku" saut Adam kesal.


Pratik dan Nico kembali berdamai, meskipun terpaksa. Seperti biasa, ponsel Musa berdering ke sekian kali nya karena selalu saja ada panggilan masuk. Musa mengangkat nya, tak lupa ia speker kan dengan kencang sehingga terdengar oleh yang lain nya.


"Datanglah ke pabrik x, di jalan s. Jika kau tak datang dalam waktu 30 menit, makan ibu dan istri mu akan mati bersama juga calon anak mu" ucap seorang pria paruh baya tersebut. Kembali menutup telepon nya.


Deg


Arsakha kaget dan lemas, "calon anak" gumam Sakha


Itu artinya, Nurulku sedang hamil anak Musa. Batin Arsakha.


"Sakha?" ucap Adam, Sakha pun melirik nya.


"Ada apa? kenapa kalian bengong saja. Ayo kita segera pergi ke sana, sebelum semua nya terlambat dasar bodoh" ucap Arsakha, ia menggerak kan roda kursi roda nya dengan tangan nya.


Musa mendorong kursi roda Arsakha, membuatnya mudah tak perlu Arsakha mendorong nya sendiri.


Sejenak ia melupakan hatinya, dan tak mempedulikan ego nya. Bagi Sakha keselamatan Meidina adalah yang terpenting.


Mereka masuki ke dalam mobil, Nico mengemudi kan nya dengan cepat karena mengajar waktu. Karena mereka semua hanya di beri waktu 30 menit saja, jika terlambat sedikit nyawa Meidina dan Umi Kulsum akan melayang begitu saja.


Sedangkan di pabrik terbengkalai itu, Meidina tengah di ikat bersama Umi Kulsum di samping nya. Mereka tidak tahu, jika pabrik itu adalah pabrik yang sudah usang dan akan roboh.

__ADS_1


__ADS_2