
Adam begitu telaten membersihkan kulit Devanya yang terlihat kotor. Ia mengusap dengan sebuah sapu tangan yang telah ia basuh dengan air hangat. Adam melihat wajah Devanya dengan begitu lekat, ia hanya bernafas berat ketika mendapatkan takdir yang menghukumnya dengan begitu berat.
Ia menghela nafasnya dengan panjang, "Kau akan baik-baik saja Devanya, tenanglah sekarang. Ada aku yang akan selalu melindungimu di sampingmu." Kata Adam sambil mengelus pelan pergelangan tangan Devanya.
Sejenak Adam mengingat masa lalunya yang kala itu, ia mengingat semua kejadian-kejadian yang pernah terjadi dan menimpanya kala itu. Sebuah insiden yang takkan pernah Adam maafkan pada dirinya sendiri. Karena telah mengabaikan perasaan dan tidak memberanikan diri untuk mengungkapkan cintanya.
"Aku tahu, ini bukanlah waktu yang tepat. Tapi setidaknya, aku ingin memperbaiki masa lalu" ucap Adam.
Jam menunjukkan pukul 02.00 dini hari, Adam masih diam berada di ruangan Devanya tanpa melangkahkan kakinya. Ia hanya keluar untuk mencari makan, dan kembali lagi untuk makan di dalam ruangan Devanya sambil menunggu dev1anya bangun.
Rasa traumanya yang dulu pernah ia rasakan ketika tidak memperjuangkan Devanya. Dan sekarang, mungkin ini adalah kesempatan terakhir Adam untuk memperjuangkan cintanya untuk Devanya.
Drt... Drt... Drt...
Suara ponsel berbunyi, Adam pun segera meraih ponselnya yang ia letakkan di atas nakas. Dan memeriksa siapa sih penghubung tersebut, Adam menggeser tombol hijau pada teleponnya itu, nampak tertulis jelas nama Musa di sambungan telepon tersebut.
"Halo, assalamualaikum" ucap salam sapa Adam di sambungan telepon.
"Iya Halo Kak, Waalaikumsalam. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan kakak"? ucap Musa pada sambungan telepon tersebut.
Dengan segera Adam pun mengangguk pelan, "Aku pun juga ada hal penting yang ingin aku berbicarakan denganmu." ucap Adam
"Aku dengar kakak, bertemu dengan Kak Anya, Apakah itu benar?" tanya Musa.
"Iya aku menemukannya tadi siang, dia begitu lusuh dan layu. Tubuhnya kurus kering, aku sempat tidak percaya bahwa itu adalah Devanya. Kau sendiri tahu kan, Devanya telah meninggal dunia semenjak 3 tahun yang lalu, aku memiliki firasat bahwa apa yang dikatakan oleh Devanya itu memang benar." ucap Adam pada Musa .
Musa pun mengerti, bahwa kakaknya memanglah diculik dan disembunyikan oleh orang jahat.
"Kau benar Kak, Kak Anya diculik. Aku masih heran dengan siapa si penculik tersebut, dan video yang mereka kirimkan itu serta jasad yang polisi temukan tempo hari kala itu."
Adampun merasa kebingungan dengan apa yang Musa ucapkan, ia sejenak berpikir saat mengingat waktu itu Devanya telah dinyatakan meninggal dunia, dan ditemukan di sebuah karung dekat sungai.
__ADS_1
"Yang sekarang kita lakukan adalah, mencari tahu siapa orang jahat yang telah menculik Devanya, dan juga yang telah membuat keluargamu hancur berantakan
Musa kau masih ingat dengan adikku kan? Sebaiknya kau cepat pulang ke rumah, atau jika tidak akan aku depak kau selamanya. Dan aku akan menikahkan kembali Medina dengan Arsaka!." Ucapan Adam spontan membuat busa membulatkan kedua matanya.
Jika Medina dan arshaka di persatukan kembali, itu artinya perjuangannya selama ini akan sia-sia dan juga gagal.
"Jangan kak, jangan pisahkan aku dengan Meidinaku dan juga putra kami." pinta Musa kepada Adam.
"Maka dari itu, cepatlah pulang! jika tidak aku akan segera mengurus perceraian kalian. Tentunya Arsakha tidak akan mempermasalahkan ke jandaan Meidina dan juga putramu itu. Dia akan sangat senang menyambut kembali cinta lamanya." sahut Adam berhasil menggertak Musa.
"Baiklah-baiklah, aku akan segera kembali setelah masalah di sini beres" ucap Musa.
"Sampai beres? Kau kira masalah ini hanya butuh waktu sehari dua hari untuk menyelesaikannya. Dasar bodoh! cepat kembali malam ini, atau tidak akan ku hajar kau sampai babak belur saat aku pulang nanti!."
Musa hanya menelan salivanya dalam-dalam, mengingat kegalakan Adam yang tiada tara membuatnya takluk di hadapannya setelah Abi Jefri.
"Baik-baik, aku akan pulang malam ini, tolong jaga kakakku ya Kak Adam, aku mempercayaimu" ucap Musa.
"Sudah ya, Aku akan segera menutup panggilan ini karena sudah malam" ucap Adam.
"Baiklah, tolong jaga adikku di sana"ucap Adam.
Sambungan telepon pun terputus antara sang adik ipar dan calon Kakak ipar. Adam sedikit tersenyum mengingat kembali masa lalunya yang tak selalu kelam itu. Ia melirik Devanya yang telah membuka kedua matanya.
Adampun segera beranjak dari sofanya dan menghampiri Devanya yang telah siuman.
"Apa kau membutuhkan sesuatu?" Devanya pun mengangguk pelan.
"Iya. Aku mau minum" ujar Devanya sambil melirik sebuah botol minuman yang terletak di atas nakas.
Adampun segera mengambilnya dan membuka tutup botol itu, lalu memberikannya kepada Devanya dengan sangat pelan-pelan. Devanya sangat rakus karena ia sangat haus, sampai-sampai ia pun kesugukan karena minum yang terburu-buru.
__ADS_1
"Uhuk-uhuk-uhuk."
Adampun segera menepuk pelan punggung Devanya. "Hati-hati Anya" ujar Adam kepada Devanya.
Devanya pun melirik ke arah Adam, seketika itu matanya saling bertemu dengan insan yang dulu pernah ia abaikan.
"Terima kasih Leonard" ucap Devanya, namun Adam hanya mengurutkan kedua alisnya.
Sambil menatap Devanya yang begitu penuh keheranan. Aku bukan Leonard aku Leonadam" ucap Adam pada Devanya.
Devanya pun segera menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Idak tidak kau Leonard bukan Leonadam!" tegasnya dengan suara yang cukup keras.
Adam tersentak kaget mendengarnya. "Anya. Pelankan suaramu! kau baru saja siuman, jangan terlalu memaksakan pita suaramu untuk mengeluarkan suara yang keras seperti itu!" ucap Adam.
Namun Devanya hanya menampilkan wajah yang cemberut, dan enggan menatap Adam. Adam hanya menghela nafas sambil menutup kembali tutup botol minuman itu. Lalu meletakkannya kembali di atas nakas.
"Devanya..." lirih Adam.
"Sebaiknya kau beristirahat, karena besok aku memiliki sebuah pertanyaan yang teramat penting untuk kau jawab." ucap Adam sambil mengelus pelan pucuk kepala Devanya.
Devanya pun masih nggak untuk menatap Adam karena kesal. "Baiklah-baiklah, cepat tidur kembali atau jika kalau perlu sesuatu panggilan saja aku, aku akan selalu ada disampingmu" ujar Adam.
Namin Devanya sekali lagi tidak menatap Adam. "Aku bisa sendiri Leonard. Pergilah! kau tidak pernah memperdulikan aku!" ucapan Devanya yang membuat Adam tersentak kaget.
Apa yang diucapkan devanya memanglah benar, Adam memang tidak pernah peduli kepada Devanya. Sekalipun Devanya yang mengalahkannya, dia hanya bisa menelan nafasnya dengan berat Menerima takdir yang telah mmenghukunya kali ini.
****
Hi, sebentar lagi kita akan bertemu di konflik. Dan konflik tidak akan berat-berat, karena ini adalah konflik penutup yang nanti semuanya akan terjawab.
Semuanya akan bahagia dengan pasangan masing-masing, ada yang bisa tebak nanti gimana end nya?
__ADS_1
happy end atau sad end?
Jangan lupa untuk support terus aku ya, agar aku semangat ngetiknya. Terima kasih banyak :-)♡