
Setibanya mereka didepan gedung perusahaan, lelaki itu menatap ketiga pria di depan nya.
"Siapa dia Dam?" tanya Sakha.
"Saya juga tidak tahu tuan" jawab Adam.
"Cih, dia Mikey bawahanku" saut Nico.
Adam dan Arsakha menatap heran ke arah Nico.
"Apa? tenang saja, dia tangan kananku yang baik" balas Nico.
Mereka bertiga berjalan ke arah Mikey yang sedang menunggu didepan pintu. Meskipun Arsakha lumpuh, tidak membuat kharisma nya turun sedikit pun.
Adam dengan setia mendorong kursi roda Arsakha, hingga mereka bertemu Mikey didepan pintu.
"Tuan muda" ucapnya sambil membungkuk kan badannya.
"Kenapa kau kesini?" tanya Nico.
"Ada sesuatu yang ingin saya beritahu, untuk Tuan Nico dan Tuan Arsakha" jelasnya.
"Masuklah, kita bicara di dalam ruanganku" ucap Sakha, memperbolehkan Mikey masuk.
Mikey berjalan dibelakang tuannya, hingga mereka sampai didalam ruangan Arsakha.
Sakha duduk di kursi kebanggannya, dan menyuruh Mikey dan yang lainnya duduk.
"Katakan, ada apa kau jauh-jauh kemari" ucap Arsakha melipat kedua tangannya di dadanya.
"Markas besar tadi malam diserang tuan" ucap mikey
__ADS_1
"Apa!" Ketiga pria yang mendengarnya sontak keget, bagaimana markas besar sang raja mafia bisa dengan mudah diserang.
"Benar tuan, mereka memiliki pasukan yang besar. Tanpa Tuan Nico, tentunya para anak buah kaget, mereka belum siap dan belum memiliki strategi yang tepat. Tapi untungnya kita ditolong, sekelompok yakuza tuan" jelas Mikey.
"Setau ku, Nico tidak memiliki musuh atau kerjasama dengan yakuza" saut Adam kebingungan.
"Itu benar" sambung Sakha.
Nico tengah berpikir, teka teki macam apa ini.
"Memang benar, tuan Nico memang tidak pernah memiliki musuh dan kerja sama dengan yakuza" ucap Mikey.
"Apa kau masih belum menemukan informasi nya?" tanya Nico.
"Kami mendapatkan informasi dari bawahan yakuza sendiri, pimpinan mereka adalah pria paruh baya yang dulu datang ke markas" jawab Mikey.
"Aku heran, mengapa dia datang ke markasku, dan juga yang paling anehnya. Mereka tau dimana letak markasku" ucap Nico penuh penasaran.
Nico dan arsakha berpikir sejenak, Sakha dibuat bingung. Mengapa orang itu mencari Papahnya juga.
Siapa lelaki tua itu, apakah dia teman papah ku. Gumam Sakha dalam hatinya.
Nico sudah sangat pusing, mau tidak mau ia harus segera pulang untuk membereskan masalah ini. Ia harus bicara langsung pada Papinya.
"Aku akan segera pulang, siapkan penerbanganku malam ini Mikey" ucap Nico.
"Malam ini tuan?" saut Mikey bingung.
"Iya malam ini, aku harus segera menemui Papiku untuk bertanya langsung. Kita sudah diserang, tidak mungkin kita diam saja" ucap Nico.
Ia menaiki kaki sebelah kanan nya ke sebelah kiri. Memijat pelan pelepis matanya.
__ADS_1
"Baik tuan" ucap Mikey.
Jangan salahkan aku, jika aku mulai kejam, kalian sendiri yang memulainya. Batin Nico.
Di Apartemen Adelia tengah menelepon seseorang.
"Setelah aku menguras habis hartanya, aku akan kembali padamu. Sabarlah sayang, aku tidak akan mungkin meningglkanmu demi lelaki lumpuh itu" ucapnya.
"Sampai kapan Adelia, sampai kau juga mengandung anaknya begitu" ucap seorang pria disebrang sana.
"Tidak Arya, cintaku hanya untukmu saja. Setelah aku menguras habis hartanya, kita akan hidup bahagia sayang"
"Cepatlah kembali adelia, aku tidak ingin kau mulai jatuh cinta padanya" saut Arya (Pacar Adelia)
"Bersabarlah, aku tidak mungkin jatuh cinta padanya. Kesucianku sudah aku berikan padamu, setelah aku berhasil, kita akan kaya raya sayang, dan hidup bergelimbang harta" ucap Adelia meyakinkan Arya.
"Hmm, aku tutup dulu telepon nya. Aku ada metting dengan klein penting " ucap Arya.
"Baiklah, semangat bekerjanya baby"
Panggilan terputuskan secara sepihak, Adelia tersenyum penuh harapan.
Tidak mungkin Sakha akan menolak ku, segera mungkin aku akan menguras habis dan membawa hartanya. Jatuh cinta pada pria lumpuh? sangat tidak mungkin. Gumam Adelia dalam hatinya.
Ia merokok, dan menengguk segelas bir anggur yang berada di atas nakasnya.
Lalu mengambil bingkai foto yang terdapat dirinya, dan Arsakha ketika masih kuliah bersama di sana.
"Sakha-sakha, kau sangat bodoh"
Ia meletakan kembali foto tersebut, dan meminum kembali bir anggurnya.
__ADS_1