Penyesalan CEO Lumpuh

Penyesalan CEO Lumpuh
BAB 87


__ADS_3

Nico menolak keras atas apa yang Sakha ucapkan.


"Tidak, wanita itu bekas Pratik. Pasti akan ada cara untuk menghentikan nya Sakha" saut Nico emosi.


"Aku tidak peduli Nico" ucap Sakha melemah


"HEH! Tuan Nico jangan asal bicara ya! aku pernah tidur bersama bukan berarti pernah melakukan hubungan haram. Aku saat itu tidak melakukan apapun!" tegas Pratik.


"Aku tidak percaya, biasanya orang pendiam dalam nya bar-bar" celoteh Nico.


"Tuan Nico tidak tahu apa-apa!"


"SUDAH DIAM!" Adam berteriak


"Kalian ingin aku menjahit mulut kalian berdua satu per satu!"


"Jika di jahit, lalu bagaimana nanti aku makan nya tuan?" ucap polos Pratik


Adam mencoba menahan emosi nya, ia melirik Arsakha yang sudah menutupi telinga nya dengan kedua telapak tangannya.


"Telinga ku hampir pecah mendengar kan celoteh recehan kalian bertiga" saut Arsakha


"Masih mending receh tuan, dibanding kan murahan seperti Tuan Nico" ucap Pratik membuat Nico marah.


"Kau benar-benar ingin ku hajar ya!"


.........


Dokter keluar dari ruangan operasi, mengabar kan kondisi dan operasi Musa.


"Bagaimana keadaan nya dokter, apakah operasi nya berjalan dengan lancar?" tanya Abi Jefri, pada sang dokter yang baru keluar tersebut.


"Operasi berjalan dengan lancar, kondisi pasien pun juga sudah mulai membaik. Pasien sudah melewati masa kritis nya, dan dua peluru sudah kami keluar kan" ucap jelas sang dokter.


"Alhamdulillah" ucap mereka bertiga.


"Saya permisi dulu" ucap izin sang dokter meninggal kan mereka bertiga.


Meidina nampak menangis haru, mendengar kondisi Musa yang mulai membaik. Sambil mengelus perutnya, yang kini tengah di huni dua makhluk yang di sebut janin tersebut.


...4 HARI KEMUDIAN ...


"Kak Sakha!"


Gadis itu tengah mengejar pria yang tengah berjalan, menggunakan kursi rodanya. Pria itu menoleh.


"Iya? ada apa Mei?" ucapnya

__ADS_1


"Bisa kita bicara sebenar saja?" tanya Meidina


"Hm, baiklah. Tapi jangan lama-lama, aku harus berangkat ke bendara sebentar lagi" jawab Arsakha


Meidina mengangguk, ia menuntun Arsakha sampai pada depan bangsal Musa.


"Kau ingin mengatakan apa, hm?" tanya Sakha


"Kak, aku ingin meminta maaf. Atas semua kesalahan ku, karena ku. Kau jadi menikah karna paksaan" lirih Meidina, Sakha hanya tersenyum.


"Tidak, kau tidak salah. Aku melakukan semua ini karena menyayangi mu, meskipun kau bukan milik ku lagi. Tapi biarkan aku menganggap mu sebagai adik perempuan ku, dengan begitu aku tidak terlalu sakit menyesali perbuatan ku di masa lalu"


"Meidina, satu hal yang perlu kau tahu. Aku menyayangi mu"


Flashback on hari kemarin.


Arsakha mengucapkan janji suci nya, dengan di saksikan oleh teman-teman nya dan juga keluarga Soraya.


Mereka meminta secepatnya Arsakha menikah dengan Soraya. Sedikit informasi, ibu Dara adalah wanita yang gila materi.


"Bagaimana para saksi sah?" tanya penghulu


Kata "SAH" yang kini terucap kan. Kedua orang tua Arsakha sudah tahu, begitu pun Ayah Hamzah.


Papa Rendra meminta Arsakha untuk membawa Soraya pergi, mengingat mereka adalah seorang pengusaha kaya raya.


"Nak, kau hebat. Berani mengorbankan kebahagiaan mu, demi Meidina" ucap Papa Rendra


Meidina melirih Arsakha, terlihat jelas. Arsakha tengah menahan air mata nya, yang akan sebentar lagi menetes.


Rasa bersalah semakin menyelimuti Abi Jefri, namun Sakha melurus kan nya. Agar keluarga Musa tak terlalu merasa bersalah, ia melakukan semua ini demi Meidina.


Cinta masa kecilnya, yang sempat ia miliki namun ia sia-sia kan.


Flashback off hari sekarang.


"Sampaikan salamku pada suami mu, jika ia sudah siuman. Aku pergi dulu" ucap Sakha mengelus pucuk rambut Meidina, yang tertutup jilbab syar'i nya.


Adam dan Nico datang menghampiri mereka berdua, Nico membawa Sakha pergi tak lupa mereka berpamitan pada Meidina.


"Adik ku, kau baik-baik di sini. Jika terjadi apa-apa, segera hubungi kakak lelaki mu yang tampan ini" ucap Adam, sambil memeluk Meidina dengan erat.


"Baik kak, kalian hati-hati di jalan. Maaf aku tidak bisa mengantar kalian semua, karena harus menunggu suamiku" ucap jelas Meidina.


"Tidak apa-apa Nurul, maksudku Meidina" saut Arsakha sambil tersenyum kuda.


"Hei Meidina, kau lupa kakak mu yang satu ini" celoteh Nico

__ADS_1


Adam segera menyeret Nico pergi.


"Sudahlah, Mei. Kami pergi dulu" ucap Adam.


Meidina tersenyum sambil melambaikan tangan nya, menatap kepergian abang-abang yang kini akan pergi ke bandara.


Setelah nya, Meidina masuk ke dalam bangsal Musa dan menatap sendu suaminya.


"Cepatlah bangun, aku merindukan mu"


.........


Di perjalanan menuju bandara.


"Sakha" saut Nico


"Hm"


"Apa kau akan membawa istrimu pergi?" tanya Nico, sedang kan Arsakha dan Adam tengah fokus pada leptop nya.


"Tentu saja, bagaimana pun juga ia istri ku. Dia sudah berada di bandara terlebih dulu bersama Pratik, aku akan mengajak nya tinggal di mansion ku" ucap jelas Sakha.


"Tapi, bagaimana pun juga. Pernikahan ini tidak akan berjalan lancar Sakha" saut Nico.


"Diamlah, kau sudah seperti tetangga saja. Yang menikah Sakha, mengapa kau yang sewot" celoteh Adam.


Terjadilah adu mulut antara Nico dan juga adam. Mereka berkelahi layak nya seperti wanita, namun tak hanya itu.


Sakha hanya menutup telinga nya, dan melanjutkan pekerjaan nya.


Sampainya ia di bandara, Soraya sudah menunggu nya bersama Pratik. Tidak ada aura kecemburuan muncul pada diri Arsakha, ketika melihat istrinya bersama mantan kekasihnya.


Pesawat akan lepas landas sekitaran 30 menitan lagi, mereka masuk ke dalam pesawat. Soraya mendorong kursi roda Sakha dengan serius, ia nampak gemetar melihat sorot mata Sakha.


..."Selamat tinggal masa lalu"...


Pesawat itu lepas landas, Soraya duduk di samping Arsakha. Ia merawat Sakha dengan baik.


Sejauh ini, ia belum tahu tentang rahasia ibu nya dan juga tentang pernikahan nya bersama Arsakha.


Di rumah sakit, Musa membuka pelan kedua kelopak mata nya. Meidina tertidur di samping nya, ia mengelus kepala Meidina dengan tersenyum.


"Apa kau selalu menunggu ku bangun sayang?" gumam Musa.


Ia kembali tertidur, rasa nya sangat sakit merasakan punggung nya yang telah di operasi kemarin.


Bayangan Arsakha terlintas di otak Musa, yang tengah merendah kan dirinya demi menyelamatkan nya dan Meidina.

__ADS_1


Sebelum akhirnya ia menutup kedua mata nya, dan pingsan kala itu.


"Dimana Arsakha?" batin Musa.


__ADS_2