Penyesalan CEO Lumpuh

Penyesalan CEO Lumpuh
BAB 88


__ADS_3

Meidina mengucek kedua matanya, ia melirik Musa yang sudah siuman.


"Sayang, kau sudah siuman"


Meidina kaget, ia hendak berdiri dan akan pergi. Namun Musa menahan nya, ia malah memeluk tubuh kecil istri nya tersebut.


"Apa kau tidak merindukan ku?" tanya Musa


"Aku merindukan mu, bahkan anak kita juga" saut Meidina.


Ia membalas pelukan Musa yang hanya sekadar terbaring di ranjang saja.


"Dimana yang lainnya sayang?" tanya Musa pada Meidina.


"Umi dan abi sedang tidur, mereka izin ingin beristirahat karena semalam telah menjaga mu. Sedangkan Kak Adam dan yang lain nya, mereka sudah berangkat ke bendara" ucap jelas Meidina.


Musa hanya pasrah, terlintas bahwa saat Meidina mengucapkan Anak-anak nya juga menunggu Musa siuman.


"Bagaimana keadaan anak kita?" tanya Musa penuh dengan mata berbinar-binar.


"Mereka semua baik"


Musa mengerutkan alis nya.


"Mereka?"


"Iya, mereka. Kudua anak kembar lelaki kita" ucap Meidina dengan tersenyum.


Air mata bahagia menyelimuti Musa, kabar tentang buah hati mereka merupakan kado terbaik untuk Musa.


"Apa Arsakha pergi?" tanya Musa sekali kagi, memastikan teman nya itu.


"Kak Sakha pergi, ia baru saja menikah kemarin dengan wanita yang sudah menyelamatkan nya" ucap Meidina.


"Jika tidak ada dia, aku pasti sudah tiada. Dia sudah berkorban untuk ku Meidina" ucap Musa lemah.


"Sudah jangan di pikir kan, sekarang pikirkan bagaimana kita membantu Kak Sakha agar tidak tersakiti. Aku kasihan melihat nya" lirih Meidina, Mus mengelus pelan rambut Meidina.


"Tentu, dia sudah berkorban untuk kita. Kita juga harus berkorban untuk nya" ucap Musa tersenyum.


"Sayang" saut Musa

__ADS_1


"Hm"


"Ngomong-ngomong, kedua sahabat mu sudah menikah. Tapi, kakak mu belum juga menikah sampai saat ini" celoteh Musa


Meidina menepuk jidatnya.


"AIGO! tanpa ku sadari kakak ku ternyata perjaka tua"


Musa mencubit kedua pipi Meidina yang terasa kenyal itu, ia terkekeh menahan tawa nya.


"Kau keseringan nonton drakor ya ternyata"


.........


Mansion Arsakha


Hari berlalu begitu cepat, biji-biji cinta mulai tumbuh di antara ke duanya. Soraya merawat Sakha dengan tulus, begitu pun sebaik nya.


Sakha nampak fun saja ketika di rawat oleh Soraya, sehingga saat beres-beres meja kerja suaminya.


Ia menemukan sebuah foto pernikahan Arsakha dan Meidina, saat tempo hari.


"Jadi ini mantan istrinya, masih kalah jauh" gumam Soraya.


Per ghibahan antara si kembar Hendra dan Hendra, selaku satpam di mansion Arsakha. Tak tertinggal berita, mereka membagikan per ghibahan nya pada anak buah Nico di markas.


Mereka berdua, tengah membicarakan Soraya. Yang kini telah menjadi Nyonya di mansion tersebut.


Nb: buat yang lupa siapa si kembar Hendra Hendri, jadi mereka itu keamanan atau satpam di mansion nya Arsakha. Di bab sebelumnya, mereka sempat sering terlihat karena latar bertujuan di Negara Indonesia.


"Hen, padahal aku sangat berharap Nona Meidina balikan dengan Tuan Arsakha" ucap Hendri frustrasi pada sang kakak.


"Sudahlah, bagaimana pun juga. Ini keputusan mereka, kita tidak bisa berbuat apa-apa hanya Author yang berkuasa di sini" ucap Hendra pasrah.


Mereka termenung di pos penjagaan nya, melirik Soraya tengah membersihkan ruang kerja Sakha yang terlihat dari atas.


"Aku harap, Nona Meidina tidak melupakan kita" ucap Hendri.


"Aku juga berharap seperti itu"


Hari berganti malam, Soraya dengan setia nya menunggu Arsakha di depan mansion. Sampai mobil itu, masuk ke dalam halaman mansion.

__ADS_1


"Tuan" Saut Soraya menghampiri Arsakha.


"Mari, aku akan membawa mu" ucap Soraya, ia mendorong kursi roda Arsakha masuk ke dalam mansion.


Sampai pada tengah, Soraya di minta untuk mengambil kan nya sendal. Ia pun menuruti nya, dan mengambil kan Sakha sebuah satu set sendal.


Saat Soraya pergi, Nico menelepon nya.


"Apa apa, apa Naora mu kabur lagi?" ucap Arsakha disambungan telepon tersebut.


"Cih diamlah, aku di usir dari rumah karena mengajarkan Putra ku menembak" celoteh Nico


"Kau gila Nico, anak kecil kau ajarkan menembak pakai senapan. Kenapa tidak au ajarkan dia mengurus perusahaan"


"Kau juga sama gila nya bodoh!"


Masih percakapan candaan di antara kedua nya, sampai Nico membahas tentang pernikahan Sakha dengan Soraya.


"Kau jangan terlalu memaksa dirimu sakha" ucap Nico


"Tidak apa, aku akan menerimanya" ucap Sakha


"Bagaimana pun juga, pernikahan mu atas dasar kekerasan orang tua Soraya" ucap Nico.


Deg!


Jantung Soraya berdetak kencang, "Atas dasar kekerasan?" gumam Soraya


Ia mendekati pelan Arsakha, dan ambruk di depan nya.


"Katakan sekali lagi" lirih Soraya.


Arsakha segera menutup telepon dari Nico, ia melirik Soraya yang tengah menangis tersedu-sedu di bawah lantai.


"Bangunlah Raya" titah Sakha.


Soraya nurut, ia bangun dengan setengah jongkok dan menatap kedua mata Sakha. Dengan cepat, Sakha segera menghapus air mata yang mengalir dari mata Soraya.


"Aku akan mencoba menerima mu, kau cukup jadi istri yang baik saja" ucap Sakha.


Sakha mengelus rambut panjang Soraya yang terurai, dan Soraya pun bangun dari duduk nya.

__ADS_1


Lalu pergi entah Kemana, menaiki anak tangga dengn begitu cepat.


Sakha segera menyusul nya.


__ADS_2