
Keesokan hari nya, Nico dan Naora sudah bersiap-siap akan pergi ke negara B. Meskipun perusahaan mendapatkan masalah, tetapi Nico tidak mempedulikan itu semua. Bagi nya, lebih baik bertempur di medan perang, dibanding kan bertempur dengan berkas-berkas yang membuatnya pusing.
Noara menggrutu kesal, pasalnya Nico sangat menyebalkan akhir - akhir ini, hingga membuat Naora tidak berpikir dengan jernih. Ia selalu beranggapan, jika Nico sudah memiliki seorang kekasih. Namun ia segera singkirkan pikiran itu jauh-jauh, Nico adalah seorang raja mafia yang di takuti banyak orang. Ia akan menggila seketika, ketika tahu orang tercinta nya tersakiti.
Sangat sulit untuk memenangkan hati Nico, Mungkin wanita yang pernah tidur dengan nya,adalah wanita paling beruntung. Bagi Nico, tidur dengan wanita sama hal nya seperti mengganti pakaian. Ia bisa memilih dari banyak nya pilihan, dan membuang nya setelah Nico pakai. Terkadang Naora merasa sedih, ketika mendapatkan perilaku kasar dari Nico ketika di markas. Tentu saja itu karna kesalahan Naora sendiri, jika di rumah. 180° sikap Nico pada Naora, layak nya seorang kakak laki-laki yang sangat menyayangi adik perempuan nya.
"Nico" ucap Naora yang kesal, karena ditinggalkan oleh Nico.
Mereka sudah sampai di Negara B, negara yang dulu pernah Meidina tinggal. Nico memakai jet pribadi nya, tentu saja tidak akan lama untuk nya sampai.
"Nico,kita akan kemana?" tanya Naora,dengan nada kesal.
"Kita akan tinggal di Hotel untuk sementara waktu, dan kau. Sebaiknya kau pergi saja ke markas, aku ingin beristirahat" ucap Nico, ia meninggalkan Naora sendirian. Namun Naora,tidak mempedulikan perkataan Nico. Ia malah merangkul tangan Nico, sontak saja Nico memberhentikan langkah nya.
"Apa yang kau lakukan ra. Lepaskan!" bentak Nico pada Naora.
Naora menggeleng kan kepalanya, "Tidak mau, aku hanya ingin berada di dekatmu saja Nico" ucap Naora, penuh harapan.
"Cih, baiklah. Kau ikut bersamaku ke hotel" ucap Nico.
Seseorang datang pada Jessica, ia memberikan sebuah paket,kotak kecil pada nya. Jessica yang masih berada perusahaan,tidak terlalu mencurigakan gerak-gerik nya. Yang mereka tahu, Jessica mendapatkan sebuah kiriman dari kurir. Tanpa mereka ketahui, ternyata ini adalah sebuah rencana awal Jessica.
"Barang nya sudah ada di dalam jess" ucap Baron,kurir pengantar barang.
"Bagus, ini upah mu. Sisa nya akan aku transfer ke rekening mu, aku membutuhkan mu untuk menjalankan rencana ini" ucap Jessica, ia langsung pergi meninggalkan Baron. Begitu juga dengan Baron, ia juga pergi.
Jessica membuka kotak paket tersebut, dan mengambil nya. Ia tersenyum licik seolah-olah akan menang, sebuah botol kecil berisi cairan di dalam nya.
"Kau menghukum sepupu ku,dengan menjadikan nya mainan untuk anak buah mu. Lihat saja,malam ini akan ku buat kau menderita, dengan menggunakan racun perangsang ini, akan membuatmu mati karena tak ada wanita yang bisa kau tiduri. Dan kau, tentu saja kau akan mati Nico" gumam Jessica di ruangan nya, tak sengaja Arsakha mendengarkan nya.
"Cih, kau akan menyakiti sahabatku. Tidak akan ku biarkan,itu terjadi" batin Arsakha,ia kembali ke ruangan nya.
__ADS_1
Arsakha yang tadi akan meminta jadwal nya, mendadak mengurung kan niat nya, ketika mendengar perkataan Jessica. Dengan segera Arsakha menelepon Naora, yang kini bersama Nico. Sakha menjelaskan tentang rencana Jessica, tugas Naora adalah menahan Nico sebisa mungkin, agar tidak pergi dengan Jessica malam ini.
Kali ini Naora mengerti, mengapa Nico berubah akhir - akhir ini. Ternyata benar dugaan nya, Nico sudah memiliki kekasih. Ia melihat Nico yang tertidur pulas di ranjang nya, Naora mencoba mendekati Nico, ia menatap lama mata indah Nico. Bulu mata lentik milik nya, membuat si pemilik bertambah menggemaskan ketika tertidur.
"Pantas saja kau berubah, ternyata kau sudah memiliki kekasih" batin Naora yang merasa teriris.
"Aku akan berusaha melindungi mu"
Naora mengelus lembut rambut Nico, Nico nyaman dibuat nya. Tanpa diri nya sadari, ia tersenyum ketika Naora mengelus lembut rambut milik nya.
Hari sudah malam sekarang, Nico sudah bersiap akan menemui Jessica untuk makan malam. Dan Jessica akan memulai rencana nya malam ini, Naora memberhentikan Nico sekuat tenaga dan kemampuan nya. Ia sudah memberitahukan Arsakha, bahwa ini tidak akan berhasil. Mau tidak mau, mereka terpaksa mengikuti rencana Jessica.
Nico sudah berada di depan Apartemen Jessica, Nico menghubungi nya. Tak lama kemudian, Jessica datang dengan pakaian terbuka hinggs memperlihatkan belah dada nya. Nico tak mempedulikan nya, ia juga sudah biasa melihat tubuh wanita tanpa busana.
Jessica masuk ke dalam mobil Nico, ia mencium pipi kiri Nico. "Maaf sudah membuat mu, menunggu lama" ucap Jessica.
"Tidak apa-apa" ucap Nico, ia mengendarai mobil nya dengam kecepatan sedang. Tanpa Nico dan Jessica sadari, Arsakha dan Naora mengikuti nya dari belakang. Bahkan Naora, dengan berani nys ia meletakkan alat pelacak kecil pada Nico.
"Makanlah, aku sengaja meminta Bi Minah membuatkan dua makanan, agar berjaga-jaga jika nanti kau lapar" jelas Arsakha.
"Terima kasih Sakha" ucap Naora, yang mengambil kotak makanan tersebut. Ia membuka kotak makan dan mulai melahap nya. Sambil memperhatikan Nico dengan Jessica.
"Naora" saut Arsakha.
"Hmm" dahem Naora, yang seketika melirik Sakha.
"Ini pasti akan sangat berbahaya,mengapa kau bersikeras ingin ikut. Aku juga sudah meminta si kembar,untuk mengawasi Nico. Thomas dan Jerry untuk menjaga Nico " ucap Arsakha, seketika Naora memberhentikan makan nya.
"Kau tahu tidak Sakha, terkadang cinta membuta kan segala nya. Aku tidak peduli akan berbahaya atau tidak nya, yang aku ingin kan adalah, orang yang aku cintai baik-baik saja" Arsakha terdiam sejenak, ia mendengarkan perkataan Naora. Seketika Arsakha ingat dengan Meidina, ketika ia tak sadar kan diri dan Meidina mencoba menyelamatkan diri nya dari tembakan Ayah Adelia.
"Kau benar Naora,semoga saja Nico tidak seperti ku. Yang terlambat menyadari,ketulusan cinta dari seseorang yang mencintai nya" ucap Arsakha pasrah.
__ADS_1
"Apa kalian sudah menemukan nona muda?" tanya Naora.
Arsakha menggeleng - geleng kan kepala nya. "Tidak, kami terpaksa memberhentikan pencarian nya. Karena Ayah Hamzah melarang kami, begitu juga dengan Adam. Ia juga memberhentikan mencari keberadaan adik nya" ucap panjang lebar Arsakha.
Tepat bersamaan saat itu, Nico tak sadar kan diri. Jessica membawa Nico kedalam mobil, ia mengatakan jika Nico mabuk. Padahal itu adalah ulah nya sendiri, karena mencampur kan racun perangsang pada minuman Nico. Tentu nya dibantu dengan Baron, yang menyamar menjadi pegawai disana.
Jessica membawa Nico ke dalam kamar Hotel, tiba - tiba dirinya terkepung oleh anak buah Nico. "Bajingan,siapa kalian!" teriak Jessica.
Tanpa Jessica ketahui, disini adalah wilayah kekuasaan Arsakha dan Hotel ini adalah milik Arsakha. Si kembar membawa paksa Jessica pergi, dengam menyeret nya keluar.
"Kita kemana kan dia?" ucap heran Hendri.
"Kita bawa dia ke markas Tuan Nico" sahut Hendra.
"Thomas, bawalah Tuan Nico ke kamar VVIP" perintah Hendra. Thomas membawa Nico pergi, sedangkan Jerry menelepon Arsakha agar segera menemui Nico.
"Sialan, lepaskan aku, dasar kalian keparat! " teriak Jessica, dengan terpaksa Jessica berhasil Hendri lumpuh kan. "Dia sangat berisik, hingga membuat telinga ku sakit" ucap polos Hendri.
Arsakha dan Naora datang dengan tergesa-gesa, Naora sangat mengkhawatirkan Nico. Mereka sudah tiba di depan kamar VVIP 99,yang merupakan kamar Nico saat ini.
"Silakan masuk Tuan" ucap Jerry, yang menjaga pintu diluar kamar Nico.
Ceklek
Pintu terbuka, nampak hendra tengah kewalahan dengan sikap Nico yang panas. Harus ada seseorang yang memuasi ***** nya, karena pengaruh racun perangsang,tidak akan sama efek nya seperti obat perangsang.
"Tuan, Naora. Tolong aku" ucap pasrah Thomas, yang seperti akan siap Nico santap.
Thomas langsung berlari ke arah Arsakha, tidak ada pilihan lagi untuk menyelamatkan Nico. Selain Naora yang mau berkorban,untuk keselamatan Nico.
"Naora" saut Arsakha,seolah ia tahu apa yang akan Sakha kata kan.
__ADS_1
"Aku mengerti, kalian pergilah. Aku akan di sini bersama Nico" ucap Naora, ia mengusir Arsakha dan Thomas keluar. Tak lupa ia menutup, dan mengunci pintu kamar.