
..."Namanya juga manusia, mereka tidak akan pernah sadar sebelum ditampar oleh penyesalan."...
...-Nicholas-...
Sudah lima bulan berlalu, Nicho belum juga menemukan Naora. Meskipun Mike menyarankan Nicho agar dirinya untuk pulang ke Italia dulu.
Namun diri nya tetap bersikeras untuk menolak. Dirinya tidak akan kembali atau pergi, sebelum menemukan Naora.
Hari demi hari Nicho lewati tanpa kehadiran Naora di sisinya.
Hidup nya terasa sepi, dan hampa. Ia selalu melampiaskan nya dengan merokok atau mabuk, bayangan Naora selalu menghantui Nicho.
Setiap pagi, ia selalu teringat dengan gadis yang selalu membangunkannya untuk pergi bekerja. Siapa lagi jika bukan Naora?
Naora hidup mandiri sekarang, ia bekerja disebuah pusat perbelanjaan. Kandungan nya kian membesar.
Ia harus menerima semua hinaan karena dirinya yang hamil di luar nikah. Bayi yang berada di kandungan nya, yang selalu menjadi penyemangat bagi nya ketika lelah.
Alasan mengapa ia harus berjuang, dan masih hidup sampai saat ini.
Sebuah kenang-kenangan paling berharga, yang pernah Nico berikan untuk nya. Naora menutup hati nya, ia hanya fokus untuk masa depan anak nya kelah.
Bagaimana nanti Naora akan mengatakan pada anak nya, jika anaknya kelak menanyakan keberadaan sang ayah.
Tentunya itu akan membuat Naora bingung.
Di satu sisi, ia merasa sedih karena diri nya yang saat ini. Di satu sisi lain, ia harus menerima takdir dan menanggung semua derita dan kesakitan nya.
Naora sudah pulang dari kerja nya, ia berjalan menyelusuri jalannan khusus pejalan kaki. Sambil membawa sebuah kantong plastik di tangan nya, yang merupakan susu hamil, dan biskuit hamil nya.
Malam ini, angin bertiup dengan kencang. Naora pulang sendirian, ia melangkah kan kaki nya dengan cepat, karena tidak ada siapa pun di jalanan yang sepi ini.
Apalagi saat ini juga sudah malam, ketika Naora berjalan, mendadak sebuah komplotan gangster menarik belanjaan, dan tas berisi uang Naora.
Sontak saja, ia melawan. Tapi dengan kondisi nya saat ini, sangat sulit untuk Naora melawan.
"Tolong" teriak Naora
Sebuah mobil hitam mewah berhenti di depan nya. Seorang pria gagah itu turun dari mobil nya, dan langsung menghajar para komplotan gangster itu seorang diri.
Sangat kewalahan bagi nya, sudah seperti di keroyok, namun ia tidak menyerah. Ia berhasil mengalahkan komplotan gangster, mereka pergi meninggal kan si pria, dan wanita hamil tersebut.
Naora tidak tahu siapa yang sudah menolong nya, si pria tersebut mendapat kan luka, hingga membuat dahi nya mengeluarkan darah.
Ia membalikkan badan nya, mereka sama-sama membulatkan mata nya, masing-masing.
"Nicho"
"Rara"
Ucap Nicho, dan Naora bersamaan.
Naora segera pergi meninggal kan Nicho, tapi tidak dengan Nicho. Ia malah memeluk Naora dari belakang, dengan sekuat tenaga, Naora mencoba melepaskan pelukan dari Nico.
__ADS_1
Semakin keras Naora berusaha melepaskan pelukan dari Nicho, maka. Semakin erat juga Nicho memeluk nya.
"Lepaskan Nicho!" tegas Naora.
"Tidak mau" saut Nicho.
"Kumohon jangan pergi lagi Rara" ucap Nicho, ia membalik kan badan Naora, agar Naora bisa melihat nya.
Namun Naora masih bersikeras,tidak mau melihat Nicho.
Nicho memegangi tangan Naora, Mereka sekarang sudah basah kuyup karena terkena air hujan.
"Maafkan aku atas kebodohan ku Ra, aku sangat menyesali nya. Aku mohon, kembali lah" ucap Nicho.
Ia menangis di hadapan Naora, Naora masih bersikeras tidak mau melihat Nicho. Meskipun dahi Nicho yang sudah bercucuran darah.
"Aku sangat mencintai mu Ra, sangat mencintai mu" Nicho kini memeluk tubuh Naora dari depan, ia juga merasa kan perut Naora yang sudah membesar.
Nico melepaskan pelukan nya, ia setengah setengah berjongkok dan memegangi perut Naora, yang di dalam nya ada buah hati mereka.
"Hay sayang, ini Daddy. Dady datang untuk menjemput kalian berdua, tolong beri tahu Mommy mu, agar ia mau ikut pulang bersama Dady" ucap Nicho.
Naora membulatkan mata nya, seolah tak percaya dengan apa yang Nicho katakan.
Kenapa Nicho mengatakan bahwa dirinya, adalah ayah dari anak nya sendiri. Apa mungkin ia sudah tahu?
Naora melihat Nicho, Nicho sudah bercucuran darah di dahi nya. Naora memegangi kepala Nico, melihat apakah luka itu cukup dalam atau tidak.
"Nicho, luka mu" ucap khawatir Naora, Nicho tersenyum ke arah Naora, dan ia memeluk nya kembali.
Mereka saling berpelukan, di guyurnya air hujan. Untuk pertama kali nya, Naora melihat Nicho menangis.
"Ra, jangan tinggalkan aku lagi. Aku selalu mencarimu kemana-mana, ku mohon kembali lah" lirih Nicho, dengan nada memohon dan air mata yang berlinang.
Naora hanya mengangguk, seketika Nicho langsung mencium kening Naora.
Cup.
Karena mereka sudah basah kuyup, dan juga sudah malam. Nicho meminta Naora untuk pulang bersamanya, ke apartemen Nicho.
Naora menolak.
"Aku tidak mau" tolak Naora mentah-mentah.
"Aku mohon Ra" pinta Nicho.
"Huft, baiklah" Naora membuang nafas nya dengan berat.
Ia masuk ke dalam mobil Nicho, meskipun mereka berdua sudah sangat basah kuyup.
Naora menggil, Nicho juga sudah sangat kedinginan. Walaupun AC di mobil sudah di matikan, tapi tetap saja kedua insan ini sedang kedinginan.
Nicho melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang, meskipun kedinginan.
__ADS_1
Tapi keselamatan yang paling penting, mengingat ini sedang hujan dan jalanan pasti akan licin.
Mereka sampai di apartemen Nicho, Nicho menggendong tubuh kecil Naora ala bridal style. Dan membawa nya masuk ke dalam kamar nya.
"Ra,aku akan menyiapkan air hangat untukmu pakai mandi. Kau tunggu sebentar disini" ucap nico, ia setengah berlari ke dalam kamar mandi.
Meskipun luka di dalam kening nya masih terbuka, dan darah yang terus mengucur.
Nicho keluar dari kamar mandi, dengan wajah yang pucat dan bibir nya juga.
"Sebaiknya kau mandi, jika tidak. Kau akan jatuh sakit, untuk pakaian. Kau pakai pakaian ku saja dulu" ucap Nicho, ia memberikan handuk untuk Naora.
Naora pun mengambil nya, dan langsung pergi ke kamar mandi.
Nicho menunggu nya, ia tersenyum bahagia. Saat menyentuh kening nya, ia merasakan perih karena kening nya masih berdarah.
"Auw" rintih nya.
"Huh, setidaknya rasa sakit ini, tidak sebanding dengan rasa sakit yang Naora alami karena ku" gumam Nico.
Naora keluar dari ruang ganti, ia memakai training panjang milik Nico, dan kaus hitam Nico yang besar di ukuran badan Naora. Nico melirik Naora, pipi nya merah merona ketika melihat Naora. Apalagi Naora tidak memakai ****** *****, dan bra nya karena masih basah. Nico segera pergi dari hadapan Naora, tentu saja membuat Naora bingung.
Naora mencari kotak obat dan peralatan ketika sedang cidera, ia berniat untuk memperban luka di kening Nico. Dua jam kemudian, Nico keluar dari kamar ganti nya. Entah apa saja yang ia lakukan ketika saat di kamar mandi, hampir dua jam lama nya.
"Nico, kemari" saut Naora, Nico menurut. Ia menghampiri Naora yang sedang terduduk di soffa, dan ia juga harus menahan hasrat nya. Karena tidak mungkin kan Nico mengajak Naora , untuk bercinta dengan nya.
Naora memakaikan plester ke kening Nico yang berdarah, ia merasakan panas di kening Nico.
"Nico kau sakit, apa sebaiknya kita ke rumah sakit" ujar Naora, Nico menggeleng kan kepalanya.
"Tidak apa-apa, aku akan membaik dengan sendiri nya Ra" ucap Nico.
"Tidak, kau harus di periksa" Naora berdiri, dengan segera Nico meraih tangan Naora.
"Aku hanya butuh istirahat " ucap Nico memelas, Naora hanya pasrah. Meskipun dikatakan beberapa kali, Nico pasti akan bersikeras.
"Hm, baiklah. Kau istirahat lah dulu, aku akan memasakan bubur untuk kau minum, setelah itu minum obat" ucap Naora, Nico hanya mengangguk. Sepertinya ia ketakutan sekarang, Naora pergi ke dapur dan memasak bubur ayam dengan kecap kesukaan Nico. Tak lupa, Naora membuat minuman kesukaan Nico, yaitu kopi hitam tanpa gala.
Meskipun sangat pahit, tapi minuman itulah yang satu-satu nya paling Nico sukai. Naora berpikir sejenak, meskipun Nico sangat menyukai kopi, tapi tidak baik untuk kesehatan nya yang sekarang.
"Sebaiknya aku beri dia air putih saja" gumam Naora, ia segera datang ke Nico. Naora melihat Nico yang sudah berbaring, dengan selimut yang ia pakai.
"Nico" saut Naora memastikan Nico tidur atau tidak. Ternyata Nico belum tidur, ia bangun dan bangun dari tidur nya.
Naora mendekati Nico, ia terduduk di atas ranjang dan menyodorkan kan sendok yang teriak dengan bubur.
"Ayo makan" ucap Naora, ia mensuapi Nico dengan perlahan. Naora menatap Nico dengan memprihatinkan, ia bukan seperti Nico yang dulu. Badan Nico sekarang mulai kurus kering, dan juga kumis dan janggut yang sudah melebat. Saat membuka kulkas tadi, Naora sangat kaget melihat banyak nya botol bir dan alkohol.
Suapan terakhir sudah habis, ia memberi nico minum, dan obat. Nico menatap Naora, mereka saling pandang. Naora memalingkan pandangan nya, Nico mendekati Naora dan membelai pipi lembut Naora.
"Ra?" saut Nico, Naora hanya terdiam.
"Aku mencintaimu,mau kah kau menikah denganku? " ucap Nico, tentunya ia yang harus membuat nya senang. Karena Nico mengajak nya menikah, namun tidak.
__ADS_1
Naora mengerutkan kening nya, dan menatap Nico dengan sorot mata tidak suka. Ia menepis tangan Nico, tentu nya membuat Nico heran,kenapa Naora bersikap seperti tidak biasa nya.