Penyesalan CEO Lumpuh

Penyesalan CEO Lumpuh
TERNODAI


__ADS_3

Jam sudah menujukan pukul 8 pagi, Meidina tak kunjung Bangung. Arsakha dan Adam sudah pergi berangkat ke kantor sedari tadi, Adam menyarankan untuk tidak berangkat hari ini.


Namun Sakha bersikeras, ia ingin meninggalkan Meidina seorang diri. Tidak lupa, Sakha membelikan Meidina baju baru untuknya pakai nanti.


Meidina menggeliat kan badan nya, ia membuka mata nya dengan pelan. Merasakan sesuatu nya yang sangat sakit di area sensitif nya. Meidina membulatkan mata nya, ia melihat bercak darah merah di atas seprai berwarna putih.


"ASTAGFIRULLAH! " teriaknya.


Meidina beranjak dari ranjang, "Auw" rintihnya yang merasakan sakit, karena ini adalah pengalaman pertama bagi Meidina.


Ia pergi ke kamar mandi, dan memulai ritual mandi nya.


Ya tuhan, bagaimana ini. Aku sudah tidak suci lagi, siapa yang sudah menodaiku. Gumam Meidina dalam hatinya, ia menangis sesegukan sendirian di dalam kamar mandi.


Dia tidak tahu, bahwa suami nya sendiri lah yang sudah mengambil kesucian nya tadi malam. Ia menatap pilu diri nya sendiri di cermin.


Mencoba menghapus stempel kepemilikan, yang sudah Arsakha buat.


"Aku kotor, sangat kotor. Aku tidak pantas untuk Tuan Sakha" gumam Meidina yang menggosok paksa lehernya, agar tanda merah itu menghilang.


.........


Arsakha sangat bahagia, meskipun sangat lelah baginya yang hanya tidur beberapa jam, karena sudah melalukan olahraga malam pertama dengan istri sah nya.


Tidak membuanya mengeluh sedikit pun. Sakha tersenyum, bayangan-bayangan Meidina tidak bisa hilang dari pikirannya.


"Istri kecilku" gumamnya sambil tersenyum.


Sakha sudah seperti orang gila, ia selalu tersenyum dan membayang kan kejadian semalam. Ia berpikir sejenak "Siapa yang sudah menjebak istriku?" gumam nya yang tidak bisa habis pikir.


Arsakha pun memanggil Adam untuk ke ruangannya, Adam datang dengan sesegera mungkin "Ada apa?" tanya Adam.


"Kau sudah tahu, siapa yang sudah berani menjebak istriku?" tanya Arsakha pada Adam.


"Sudah" jawab enteng Adam.

__ADS_1


"Siapa Dam!" kaget Sakha.


"Adelia" Arsakha mengeraskan rahangnya, ia mengepalkan kan tangannya dan menatap geram Adam.


BRAK!


Sakha berdiri dari kursi rodanya, ia tidak peduli jika ada seseorang yang mengetahui rahasia nya lagi. Adam diam mematung dengan santai nya, ia sudah tahu sifat Sakha yang semakin kekanak-kanakam ini.


Meskipun d beri tahu seribu kali pun, Arsakha tidak akan percaya jika Adelia juga pernah membunuh ibu nya Nico.


"Jangan mentang-mentang kalian tidak menyukai Adelia, kalian menuduh seenaknya!" tegas Sakha.


"Terserah kau" Adam meninggalkan Arsakha, Sakha kembali duduk dan memijat pelan keningnya.


.........


Sedangkan di sisi lain, Meidina sudah siap akan pulang. Ia berjalan seperti ibu hamil yang akan lahiran, Meidina memakai pakaian yang ada di atas nakas. Karena pakaian yang semalam nya sudah di robek oleh Arsakha.


Ia mengambil ponselnya yang berada di atas nakas, terdapat tiga puluh lima panggilan tak terjawab dari Adinda. Seharusnya hari ini adalah rapat pemilihan Ketua Osis yang baru, Adinda mencalonkan dirinya dan meminta Meidina menemaninya.


Meidina keluar dari hotel, dan pulang menaiki taksi. Ia berhenti di sebuah tempat makan terlebih dahulu untuk mengisi perut nya yang sudah mulai keroncongan.


Sesudahnya, Meidina melanjutkan perjalanan nya untuk pulang ke mansion. Hendra membukakan gerbang untuk Meidina, si kembar membungkuk kan badan nya " Nona" Meidina tersenyum kepada mereka berdua dan mulai masuk ke dalam.


Itu kan Hendri, bukan kah semalam aku bersama nya pergi menyusul Tuan Sakha dan Kak Adam. Gumam Meidina dalam hatinya, ia mencoba mengingat kejadia semalam.


Hendri menatap punggung Meidina, Hendra segera memukul bahu adik nya agar sadar.


BUGH!


"Auw, sakit kak!" pekik Hendri, ia melotokan mata nya ke arah sang kakak.


"Kau sudah berani melototi ku, Dri!" tegas Hendra.


"Ah tidak Kak Hendra, aku hanya penasaran saja. Kenapa nona muda tidak pulang bersama tuan muda" ucap Hendri.

__ADS_1


"Memang nya kenapa, bisa saja Tuan Sakha sedang sibuk" ucap enteng Hendra.


"Tidak mungkin kak, semalam Tuan Sakha membawa nona muda ke hotel. Aku yang menyiapkan kamarnya. Dan aku sangat yakin, sebentar lagi tuan besar pasti akan segera memiliki cucu" ucap Hendri membuat Hendra bingung.


"Maksudmu?" tanya Hendra, Hendri pun segera menceritakan kejadian semalam.


Hendra terkejut ketika mendengar Meidina akan di lecehkan, dan lebih terkejut nya lagi. Ketika Hendri menceritakan kelumpuhan palsu yang ketiga tuan nya rencana kan.


"Astaga"


Hendra hanya geleng-geleng kepala, ia pusing memikirkan para ketiga tuan nya yang di juluki Handsome But Dangerous (Tampan Tapi Berbahaya)


Nico yang berkuasa, ia menjaga orang terdekat dan orang yang ia sayangi nya dengan sangat teliti. Nico akan sangat kejam jika sudah tidak bisa mengontrol emosinya sendiri.


Saat mendengar kepergian ibu nya, dirinya kala itu masih berkuliah di Jerman bersama Arsakha dan Adam. Itulah yang membuat Nico kejam, ia tidak akan pernah mengampuni seseorang yang sudah menyakiti keluarganya dan orang tercintanya.


Meidina masuk kedalam kamar, ia tidak melihat Bi Min sedari tadi. Sykurlah baginya, tidak ada yang bisa diajak bicara sekarang. Meidina membaringkan badan nya yang lemas di atas ranjang yan empuk.


Sesekali Meidina meratapi nasib nya yang sekarang.


"Aku sudah tidak suci lagi. Bagaimana nanti aku menjelaskan kepada Tuan Sakha, aku ini sangat hina" gumam Meidina, air mata bergelimangan membasahi pipi chubby nya.


Ia menutup mata nya, dengan perlahan memasuki ke dalam alam mimpinya.


.......


.......


...♥ Call Me Dede Author ♥...


...Jangan lupa untuk ...


...Like, komen, vote, rate...


...A u t h o r : Menurut readers karakter Sakha itu gimana sih ? dan juga menurut readers Meidina lebih cocok dengan Sakha atau Nico?...

__ADS_1


__ADS_2