
Meidina baru saja keluar dari ruang ganti, menggunakan pakaian tertutup.
Ia mengenakan baju tidur panjang berwarna biru muda. Dan tidak lupa, ia memakai kerudung jeblus berwarna putih.
Jam menunjukan pukul lima sore, Meidina turun menuruni anak tangga. Ia hendak ke dapur karena lapar. Di dapur, para pelayan tengah sibuk menyiapkan makan malam untuk keluarga Virendra.
Meidina menghampiri salah satu pelayan, dan bertanya padanya.
"Halo bu, boleh saya bantu?" tawar Meidina.
"Nona muda, tidak usah non. Ini sudah menjadi tugas kami" jawab sang pelayan ramah.
"Aku ingin membantu, plis" ucap Meidina dengan mata berbinar-binar.
"Jangan nona, nona sebaiknya duduk manis saja. Biarkan kami yang menyiapkan semuanya, nona ingin makan apa?"
Mamah Devi yang sudah kembali dari taman belakang, ia melihat Meidina sedang berada di dapur, segera menghampiri menantu kesayanganya.
"Meidina" saut Mamah Devi dari belakang.
Para palayan itu kaget, mereka dengan segera menundukan kepalanya.
"Nyonya"
Meidina dibuat terheran-heran, dengan polosnya ia mengikuti apa yang pelayan itu lakukan.
"Nyonya"
Mereka menahan tawanya begitu juga Devi, entah mengapa Devi sangat menyayangi menantu kecilnya yang satu ini.
"Sayang, sekarang aku mamahmu. Panggil aku mamah juga seperti Sakha memanggilku" ucap Mamah Devi, melemparkan senyumannya.
"Iya Mah" ucap meidina, ia juga membalas senyum Mamah Devi.
"Sedang apa kau disini sayang, apa kau lapar? " tanya Mamah Devi.
"Sedikit mah, aku jug ingin membantu para pelayan menyiapkan makanan" jawab Meidina, tanpa ragu.
"Oh begitu ya, baiklah mamah juga akan membantumu. Kita akan membuat makan malam spesial buatan kita berdua mau?" ajak Mamah Devi, spontan langsung mendapatkan respon dari Meidina.
"Mau mah, mau"
"Pelayan tolong tinggalkan kami, kami berdua yang akan memasak makan malam kali ini" ucap Mamah Devi kepada ketiga pelayan yang sedang berada di dapur.
"Baik nyonya"
Para pelayan segera pergi, tak lupa mereka membungkukkan badan mereka.
Pelayan yang bekerja Di Mansion Virendra sangat terbilang pelayan yang sangat penurut , dan juga sangat disiplin. Entah itu dari waktu, penampilan maupun bicaranya.
"Kita mau masak apa ya mah?" tanya Meidina kebingungan.
Devi berpikir sejenak, ia sebenarnya juga tidak tahu apa yang harus ia masak.
"Hmm, apa ya"
"Mah, apa makanan kesukaan Tuan Sakha?" tanya polos Meidina.
Mamah Devi mengerutkan keningnya. "Kau memanggil suami mu dengan sebutan Tuan?" tanya Mamah Devi.
Membuat Meidina ketakutan.
"Tidak, maksudku. Suamiku Arsakha, iya suamiku. Hehehe" ucap Meidina cengengesan.
Mamah Devi langsung tidak mempermasalahkan nya.
"Sakha sangat suka dengan makanan seafood " jawab Mamah Devi.
Ia juga mendapat kan ide untuk makan malam spesialnya.
__ADS_1
"Hmm, bagaimana dengan Papah Rendra, Mah?" tanya Meidina lagi.
"Dia juga sangat menyukai seafood " jawab Mamah Devi.
"Bagaimana kita masak itu saja mah, dan masakan aneka tumisan" ujar Meidina.
"Bagus, Adam juga sangat menyukai aneka tumisan. Bagaimana kau tahu?"
"Aku tidak tahu Mah, karena aku sangat suka dengan masakan tumisan"
"Berarti kalian punya selera yang sama"
"Hahaha, iya mah"
Mamah Devi mengambil dua buah celemek yang tergantung, ia memberikan satunya pada Meidina.
Mereka berdua siap untuk pertempuran nya di dapur.
.........
Sedangkan Di Virendra Group, telinga Adam hampir pecah mendengarkan semua ocehan-ocehan yang keluar dari mulut Nico.
Sakha masih bersikap tenang, ia tidak menanggapi dan memperdulikan Nico.
"Jawab aku sialan" tegas Nico, dengan nada penuh penekanan.
"Apa?" jawab enteng Sakha.
Nico makin naik darah, hingga ia berhenti terduduk lemas di sofa.
"Sudah bicaranya" ejek Sakha.
"Diamlah, dasar sialan"
Jam sudah menunjukan pukul 6 sore, mereka bergegas segera pulang ke Mansion.
Adam mendorong kursi roda Sakha, hingga membantunya naik ke dalam mobil, Adam mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, sedangkan Nico ia tertidur karena kelelahan memarahi Sakha.
Mereka sampai di Mansion, melihat mobil tuannya datang dengan segera sang satpam membukakan gerbangnya.
Mamah Devi dan juga Meidina yang baru saja selesai memasak, kedatangan tiga pria tampan yang sedang berjalan masuk.
Sedangkan Sakha hanya duduk di kursi rodanya yang di dorong oleh Adam.
"Kalian sudah pulang, cepat bersihkan diri kalian. Setelah itu kita makan" ujar Mamah Devi.
Mereka bertiga berpisah, Nico dengan mata sayu nya, memaksakan diri nya untuk ke kamar mandi. Membersihkan badannya, begitu juga dengan Adam dan Sakha.
Aktivitas di kantor, membuat mereka bertiga kelelahan.
Meidina masuk ke dalan kamar, Sakha masih ada di kamar mandi.
Meidina segera ke ruang ganti untuk menyiapkan pakaian yang akan Sakha kenakkan.
Ceklek.
Sakha kaluar dengan rambut yang basah.
"Baju sudah aku siapkan tuan, tuan mau sholat magrib dulu tidak?" ucap Meidina, mengingat ini sudah waktu Magrib.
Iya berniat untuk mengajak Sakha agar sholat bersama. Toh, dia ini istrinya.
Sudah kewajiban nya mengingatkan suaminya.
"Tidak" jawab singkat Sakha.
"Tapi, itu kewajiban semua umat muslim tuan" bujuk Meidina agar Sakha mau.
"Kau tuli ya! jika kau mau beribadah. Beribadahlah sendiri" ucap tegas Sakha.
__ADS_1
Tanpa menjawab, Meidina langsung kaluar dari ruang ganti.
Masuk kedalam kamar mandi untuk mengambil wudhu, ia kaluar dan langsung menggunakan mukena nya.
Lalu melaksanakan kewajibanya sebagai seorang muslim.
Sakha keluar dari ruang ganti, ia menatap Meidina. Meidina yang sudah selesai sholat pun segera membuka mukenanya, dan kembali mengenakan kerudung nya.
Meidina dan Sakha segera kaluar dari kamar, Adam menunggu mereka sedari tadi di luar. Mereka bertiga turun menggunakan lift.
Ting
Lift terbuka, segera mereka menghampiri keluarga di meja makan. Nico yang tadi sore mengatuk, sekarang sudah bersemangat kembali.
"Sayang, ayo sini. Kita makan malam" ajak Mamah Devi.
Para pelayan tengah sibuk menyiapkan makan malam yang Mamah Devi dan Meidina buat.
Meidina duduk disamping kanan Sakha, dan disamping kirinya ada Adam.
"Ayo silahkan di makan, ini masakan Mamah dan Meidina yang membuat tadi sore" ucap Mamah Devi.
Terdapat beberapa olahan seafood kesukaan Papah Rendra dan Arsakha.
Ada juga beberapa tumisan, sop dan daging olahan.
Mereka makan dengan lahap, Adam yang sangat menyukai tumisan yang Meidina buat, hingga meminta tambah lagi dan lagi.
"Hei, jika kau tidak bisa berhenti makan. Maka perut kotakmu akan lenyap dalam sekejap, Dam" ucap Nico, memperingati Adam.
"Biarkan, ini sangat enak" ucap Adam, tanpa memperdulikan nasib roti sobek nya.
"Benarkah Adam? Meidina yang memasaknya, kalian mempunyai selera makan yang sama sepertinya" ucap Mamah Devi.
"Masakan nona muda sangat enak, saya sangat senang bisa merasakannya" puji Adam pada Meidina.
"Terima kasih, Kak Adam" ucap Meidina, ia tersenyum ke arah Adam.
"Baru kali ini aku melihat Adam, makan dengan begitu lahap" ucap Papah Rendra.
"Biarkan aku mencicipinya" ucap Nico, ia merebut satu piring capcai yang sedang Adam makan.
Nico ketagihan, ia juga baru kali ini memakan masakan tumisan.
"Hei jangan dihabiskan"
Dengan segera, Adam mengambil kembali capcai nya, mereka sangat bahagia tak terkecuali Sakha yang tidak sama sekali membuka suaranya sedari tadi.
Ia menghabiskan makanan nya, lalu pergi ke kamar. Mereka bingung akan sikap Sakha, kapan ia bisa berubah.
"Mah, papah sudah selesai. Papah ke ruang baca dulu ya" ucap Papah Rendra.
Ia meninggalkan meja makan, Nico dan Adam pun juga sudah selesai. Mereka segera membantu Mamah Devi, dan juga Meidina yang membereskan meja makan nya.
"Adik ipar, masakanmu sangar enak. Sakha sangat beruntung memiliki istri sepertimu" puji Nico.
"Terima kasih, Tuan Nico" jawab Meidina.
"Benar, masakan nona muda sangat enak. Aku sampai hilang kontrol nafsu makanku barusan " ucap Adam.
"Hahaha, bukannya Adam memang selalu begitu jika makan dengan tumisan" ucap Mamah Devi dari belakang, mengagetkan mereka semua.
Mereka tertawa ria, sambil membersihkan piring dan alat dapur lainnya.
.......
.......
.......
__ADS_1
Jangan lupa kasih dukungan nya❤
Typo bertebaran dimana-mana, harap bijak dalam membaca :-)