Penyesalan CEO Lumpuh

Penyesalan CEO Lumpuh
BAB 50. BERTEMU MEIDINA


__ADS_3

Setelah melewati perjalanan yang jauh, dan sangat melelahkan. Meidina sampai di tempat tujuannya, ia melihat sekeliling nya. Rasa rindu kepada orang yang ia cintai,pasti selalu ada,namun Meidina harus mengubur rasa nya dalam-dalam. Ia harus berjuang sendiri sekarang,menghidupi dirinya, dan mencukupi kebutuhan nya sendiri.


Akhirnya Meidina sampai pada negara tersebut, pesawat yang ia tumpangi turun. Meidina melihat banyak sekali orang keluar dari pesawat, ia turun dan membuang nafasnya dengan berat.


" Aku harus bisa melupakannya, dan memulai nya dari awal. Dengan lembaran baru" batin Meidina.


Satu bulan ia sudah tinggal di Negara A, Meidina saat ini sangat menutup diri nya. Berpakaian syari dan juga cadar, hanya mata indahnya yang bisa orang lain lihat. Tubuh dan kulit putih Meidina, ia tutup rapat-rapat. Merintih kembali karir nya dari nol, menjadi penulis terkenal bukan lah hal yang mudah. Meidina membuat nama pena nya dengan sebutan, Rindu.


Ia membuat naskah dalam satu minggu, dan menerbitkan buku nya dipasaran. Dalam waktu sebulan, buku itu laku di pasaran. Orang-orang bertanya, siapa menulis dari cerita menyedihkan itu,yang mampu membawa pembaca terhanyut dalam suasana.


Meidina membuat cerita, tentang kisahnya. Meski pun ending di dalam cerita versi buku Meidina,sangat membahagiakan hati pembaca, tapi tidak untuk Medina. Kisah nya sangat memilu kan, bahkan gadis di usia nya saat ini. Masih sibuk bersekolah,dan bergaul dengan bebas. Setiap malam ia menitiskan air mata nya, menatap bintang-bintang di malam hari. "Aku merindukan kalian" itulah yang pasti ia ucapkan.


Dengan berlapang dada, meidina menerima takdirnya saat ini. Bukan Meidina namanya, jika putus asa dan mudah menyerah. Ia merangkak sendiri dan berjalan sendiri, hingga sukses sampai sekarang di usia remaja.


Malam ini, Musa akan pulang ke negara nya. Yaitu Arab Saudi, negara kelahiran nya dan saksi bahwa ia tumbuh di sana. Tanpa Musa ketahui,gadis yang ia cari ada di negaranl nya sendiri. Arsakha yang mendengar jika Musa akan pergi, merasa sedih. Satu sahabat nya pergi, Nico yang palang ke Italia bersama ayah nya. Dan adam, tengah mencari keberadaan Meidina.


Ayah Hamzah dan Papa Rendra, kembali bersatu. Seperti sahabat yang saling kenal, meskipun Sakha pernah menyakiti Nurul. Tidak membuat Ayah Hamzah membenci pada Papa Rendra, toh yang salah adalah Arsakha bukan Papa Rendra.


Arsakha semakin bersalah pada semuanya, ia ingin menebus semua kasalahan nya. Dengan mencari dan membahagia kan Meidina, Sakha tidak tahu jika Musa juga mencari keberadaan Meidina.


Tepat pukul lima subuh, Musa menunaikan ibadah nya. Tidak lupa, Musa selalu mengajak Kak Anya untuk sholat. Meskipun Kak Anya, adalah orang yang sibuk. Sama hal nya seprti Musa. Musa sudah bersiap,dan Dafa menjemput nya di Bandara Alam Ghaib.


Musa menaiki pesawat pribadi milik nya, toh dia adalah anak sultan yang kaya raya dan tampan. Hanya saja, rumor mengatakan bahwa dia adalah gay. Musa tidak pernah mengencani,dan dekat dengan perempuan lain,selain Adelia. Hal yang membuat Musa membenci Adelia adalah, karena sudah merenggut kebahagiaan kakak nya. Dengan merebut kakak ipar nya, sehingga membuat Musa semakin marah.


Tidak hanya itu, saat masih berpacaraan dengan Musa, Adelia pernah tidur dengan sahabat Musa sendiri. Karena Musa tidak ingin menyetubuhi Adelia ,jika belum menikah.


Adelia selalu memaksa Musa, agar mau merasakan nikmatnya bercinta dengan nya. Usaha nya selalu sia-sia,karna Musa adalah lelaki baik-baik. Semenjak pengkhianatan Adelia, Musa menjadi tidak peduli lagi akan cinta.


Diperjalanan Musa tengah memikirkan Meidina, entah anak buah nya yang bodoh. Atau Meidna yang terlalu sulit ditemukan, "Kau dimana,aku sangat merindukanmu" gumam Musa dalam hatinya.


Sama hal nya seperti Arsakha, Sakha juga sangat merindukan dia. Wanita yang ia cintai sejak kecil, dan tuhan mempersatukan mereka. Namun Arsakha hanya menyia-nyiakan kesempatan emas, yang tuhan berikan untuk nya. Penyesalan memang selalu datang di akhir, jika datang di awal itu namanya pendaftaran.

__ADS_1


Tiga belas jam Musa menempuh perjalanan, hari sudah mulai menggelap. Musa memberitahukan kepulanga nya,kepada kedua orang tua nya. Ia bersedih,karena Kak Anya tidak ikut dengan nya. Namun tak apa, yang terpenting adalah, Urusan pekerjaan nya di Indonesia sudah selesai.


Musa dan Dafa, turun dari pesawat. Dibandara mereka di sambut, oleh bawahan yang sudah menantikan kehadiran Musa. Para bawahan nya, membuka kan pintu mobil untuk nya. Saat perjalanan, mereka melewati jalanan yang begitu sepi hanya ada lampu jalan yang menerangi. Musa membulat kan mata nya, ketika melihat seorang wanita bercadar,tengah akan di lecehka oleh preman jalanan.


"Berhenti" tegas Musa pada sang supir, Dafa seolah-olah mengerti apa yang akan Musa lakukan. Dengan sigap Musa membuka pintu mobil, dan berlari pada wanita yang hendak di lecehkan itu. Ia memukul ke lima laki-laki tersebut, Dafa tidak tinggal diam ketika melihat tuan nya sendirian melawan penjahat. Dafa ikut turun tangan, sang supir mengamankan Meidina. "Berbahaya di sana, ayo kesini" ucap sang supir, Meidina hanya mengangguk dan menahan isak tangis nya.


Musa selalu ada di saat diri nya dalam bahaya, atau pun membutuhkan seseorang yang membantu nya. Perkelahian di menang kan oleh Musa dan Dafa, Musa melirik wanita tersebut. Ia melepas kan jas nya, dan segera menghampiri nya.


Musa memakai kan jas nya,ke bahu Meidina. Ia menatap sendu wanita yang ada di depan nya, seketika pikiran nya hanya tertuju pada Meidina. Wanita itu memutihkan air mata, dengan lembut Musa mengusap nya.


"Jangan menangis" ucap Musa.


Meidina melirik Musa, ia memandangi lelaki yang tepat berada di depan mata nya. "Terima kasih tuan Musa" ucap Meidina, membuat,Musa kaget.


"Suara itu, apakah ini benar-benar kamu"


batin Musa, Dafa membulat kan mata nya. Kenapa wanita itu Bisa kenal dengan tuan Musa, pikirnya.


"Kau tahu namaku?" tanya Musa.


"Meidina" ucap Musa penuh penasaran.


"Iya" saut Meidina.


Musa tidak pernah melupakan Meidina,ia mencatat nama Meidina dalam otak nya. Gadis yang selama ini ia cari,ternyata datang pada nya sendiri. Musa tersenyum ke arah Meidina, ia menatap Meidina yang mata nya masih berkaca-kaca.


"Sudah jangan menangis, aku akan mengantarmu pulang" ucap Musa dengan tersenyum.


Hampir saja ia lupa, kenapa Meidina ada di negara ini. Itu yang membuat Musa terheran-heran, "Meidina, kenapa kau ada di negaraku?" tanya Musa, membuat Meidina terdiam.


"Nanti akan aku cerita kan" ucap Meidina,dan di angguki oleh Musa. Mereka mengantar Meidina ke rumah nya, walaupun rumah itu sederhana,tapi rumah ini lah yang menjadi. Tempat meneduh diri nya saat ini, Meidina membeli rumah minimalis modern ini, dengan uang nya sendiri.

__ADS_1


Tak mudah bagi nya, mencari uang di negri orang. Musa mengantar Meidina, saat hendak akan turun dari mobil Musa menghentikan nya. "Tunggu"


"Apa kau tinggal sendirian disini?" ucap Meidina, ia bingung kenapa Musa menanyakan hal itu.


Musa mengambil dompet yang berada di saku belakang celana nya, dan memberikan Meidina sebuh kartu nama. "Ini kartu namaku, hubungi aku jika ada apa-apa. Aku pasti akan datang dengan segera" ucap Musa meyakinkan Meidina. Meidina hanya mengangguk pelan, ia keluar dari mobil.


"Terima kasih" ucap nya sambil tersenyum, Musa masih diam tak bergunung. Dafa yang melihat tingkah konyol tuan nya, yang sedang jatuh cinta hanya geleng-geleng kepala. Musa masih tersenyum, meski pun ia tak bisa melihat wajah Meidina. Tapi mata indah nya, sudah membuat Musa mabuk kepayang.


"Tunggu saja, aku akan segera menikahimu" batin Musa.


Mereka melanjutkan perjalanan nya, ke Mansion milik keluarga Musa.


Di Italia


Novo terdiam diri di balkon kamar nya, seseorang masuk tanpa mengetuk pintu. Sudah tahu yang datang itu siapa, Nico tidak menggubris nya. Ia masih menikmati sebatang roko, yang berada di tangan nya.


"Berhentilah merokok" ucap Papi Edson. Ia merebut rokok tersebut , dan mematikan nya.


"Hmm" ucap Nice, tanpa mempedulikan sang ayah.


"Cih, kau ini" kesal akan perilaku anaknya, Papi Edson mengatakan hal yang tidak ini Nico dengar.


"Aku sudah tua, dan kau sudah Dewasa. Cepatlah menikah, aku ingin menggendong cucu Nico" ucap Papi Edson, membuat Novo geram.


"Aku tidak mau menikah" ketus Nico.


Plak


Papi Edson, memukul pantat Nico. Nico merintis kesakitan dan memegang pantat nya yang terasa nyeri karena pukulan Papi nya. "Auw" ringis nya.


"Rasakan itu,jika kau tidak mau menikah. Akan aku jodohkan kau, dengan Naora" ucap Papi Edson, meninggalkan Nico.

__ADS_1


Nico masih kesal dibuatnya, ia mematikan rokok nya dan berjalan memasuki ke arah ranjang tidur. Nico menatap langit-langit kamar nya, hingga sebuah pesan mengalihkan pandangan nya. Nico segera mengambil ponsel yang ada di nakas,dan membuka pesan tersebut.


Ia tersenyum manis, hanya sebuah pesan saja membuat nya bahagia dan tak keruan. "Aku juga merindukanmu, Jessica" ucap nya.


__ADS_2