
Tidak mau ambil pusing, Sakha akan pergi ke tempat dimana Tuan Marvin katakan. Sebelum itu, bel apartemennya berbunyi terus menerus. Ia pun dengan rasa yang begitu malas dan bercampur lemas membuka pintu apartemennya itu.
Seseorang tengah memencet bel apartemennya dengan begitu cepat dan juga terus-terusan. Bahkan ia dengan tak segan-segan terus mengedor-gedor pintu apartemen Arsakha.
Sakha membuka pintu apartemen tersebut, betapa terkejutnya ia ketika melihat sahabat dekatnya menghampirinya. Padahal ia sedang berada di negara gingseng.
"Kau?! Kenapa kau bisa di sini!" ucap Arsakha yang tak percaya.
Nico hanya memberikan Arsakha sebuah senyuman kuda, dengan memperlihatkan gigi putihnya itu. Yang berhasil membuat Sakha semakin kesal dengan tingkah laku sahabatnya itu.
"Hai my brother, how are you?" tanya Niko.
"Aku sudah datang ke sini, kau kenapa tidak mau menghubungiku. Ayolah, kita ini sudah menjadi sahabar sudah sangat lama sekali. Bahkan saat di dalam kandungan sekali pun kita sudah berkawan." Sahut Nico.
Ia mendorong kursi roda Sakha.
"Kau masih menggunakan alat murahan ini? Apa kau tidak menjalankan operasi dan terapi, Arsakha?" tanya Nico.
Arsakha hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pelan. Sebenarnya ia ingin memberitahu masalah ini pada Nicho, namun Arsakha mengurungkan niatnya ketika akan memberitahu Nico.
Ia tahu betul, Tuan Marvin itu orangnya bagaimana. Jika saja Nico ikut campur, maka Soraya dan juga Meidina akan terancam nyawanya. Begitu juga dengan kedua orang tua Musa dan Devanya. Cukup Devanya yang telah pergi kabur, sehingga Arsakha cukup lega mendengar kabar kematian Devanya yang palsu itu. Entah bagaimana Tuan Marvin melakukan semua ini, ia sangat pinter untuk mensabotase.
"Nico, sedang apa kau di sini?" tanya Sakha, dan menatapnya dengan tatapan yang mengintimidasi.
"Tidak ada, hanya ingin bertemu sahabatku saja" jawab Nico dengan spontan.
"Jangan berbohong, aku sudah tahu kau pasti akan datang secara tiba-tiba jika ada urusan yang begitu penting kan?!" ucap Sakha pada Nico.
Nico tertawa kecil, ia duduk di sofa apartemen Arsakha. "Sakha, kau sudah tahu aku kan. Aku kira kau tidak mengenaliku, hahaha." Nico mencoba mencairkan suasana yang garing itu.
"Kau mau minum apa? Akan aku siapkan untukmu." Nico enggan untuk menjawabnya, ia malah sibuk dengan ponsel lnya.
"Kau mendengarku atau tidak? Jika tidak pergilah, kau ke sini untuk apa?! Tidak ada gunanya sama sekali." Tanpa perasaan yang berdosa, Arsakha mencibir Nico tanpa habis
Nico hanya terkekeh geli mendengarnya cibiran dari sahabatnya itu.
"Baiklah-baiklah sahabatku, maafkan aku. Baiklah, aku sini ada urusan yang mendadak. Karena Mikey menyuruhku untuk datang kesini dan menemuimu. Apa kau memiliki masalah Arsakha?" tanya Nico.
__ADS_1
Dengan spontan, Arsakha pun menjawab. "Tidak" dengan nada yang tak suka.
Sakha pergi ke dapur, untuk menyiapkan sebuah minuman lemon kesukaan Nico.
"Apa kau masih ingat dengan minuman kesukaanku?" tanya Nico yang mulai mempertanyakannya pada Arsakha.
"Tentu saja aku masih mengingatnya? Kenapa kau bertanya seperti itu?."
Arsakha berhasil dibuat keheranan oleh Nico, "Aku pikir, kau tidak ingat. Ternyata kau masih ingat dengan minuman kesukaanku. Tapi, apa kau masih tidak ingat denganku ketika sedang tertimpa masalah?."
Pertanyaan Nico seolah-olah menyeret Sakha untuk mengatakan apa yang sebenarnya telah terjadi.
"Tentu saja, kau kan sahabatku. Kita kan sudah berteman sangat lama" jawab Arsakha.
"Benarkah?" ucap Nico yang memberikan senyuman semringahnya.
Dengan serunya, Arsakha akan datang sebuah minuman yang ia bawa berada di pahanya. Ia membawanya dengan pelan-pelan, dan sangat hati-hati.
Arsakha berextra hati-hati, agar minuman itu tidak terjatuh dan mengotori lantai apartemennya. Nico pun bangkit dari duduknya, dan langsung mengambil Minuman itu dari paha Arskha.
Arsakha mendengar jelas perkataan Nico, yang seolah-olah Nico hanya ingin berteman dengannya karena Arsakha kaya raya.
"Jadi, selama ini kau bersahabat denganku karena aku kaya raya, begitu?" ucapan Arsakha berhasil membuat Nico tersedak.
Ia menahan tawanya, seolah itu adalah bualan omong kosong yang dikatakan oleh penjahat.
"Tidak, aku menganggapmu seperti saudara bagiku sendiri, dan begitu juga dengan Adam. Aku menganggap kalian seperti kakak dan adik yang aku sayangi." Jelas Nico.
Merasa muak dengan apa yang di katakan Nico, yang semata-mata tidak ada masuk di otaknya.
"Katakan saja, ada apa kedatanganmu kemari?!" tegas Sakha.
Nico menyerupu minumannya habis, minuman yang telah Sakha siapkankan itu.
"Aku sudah bilang, aku datang kesini karena Mikey menyuruhku untuk datang ke hadapanmu, dan lagi pun. Kau sudah tahu kan sifatku bagaimana?." ucap Nico.
Arsakha pun mengalah nafasnya dengan sangat berat, ia mau tidak mau harus mengatakan apa yang telah terjadi padanya selama ini. Mengatakan bahwa Soraya dan Medina telah diculik oleh Martin. Ya Marvin, yang seharusnya menjadi orang tua Soraya dan ternyata Tuan Marvin adalah adik dari Tuan Martin yang tidak lain adalah ayah dari Adelia.
__ADS_1
Mantan tunangan Arsakha yang meninggalkannya Arsakha karena lumpuh, dan hal yang paling mengejutkannya lagi adalah. Adelia berselingkuh dengan Arya, suami dari Devanya.
Sakha menghela nafasnya dengan panjang, menghembuskannya sampai ia bernafas kembali.
"Kau tahu Nico, dunia ini sangat sempit sekali. Aku kira, dunia ini akan indah jika kita saling mengenal. Namun aku salah, orang yang aku kenal kembali adalah orang-orang yang telah menyakitiku. Dan juga yang telah aku sia-siakan, kau tahu? baru saja tadi aku mendengar bahwa masa laluku dan masa depanku tengah terancam oleh seseorang. Kau pasti sudah tahu kan? Siapa orang itu kan?."
Merupakan sebuah tanda tanya besar bagi Nico, ia mengangguk dengan pelan yang mengartikannya sudah tahu siapa orang tersebut. Bukan Nico namanya, jika ketinggalan informasi ataupun berita
Dia adalah king of mafia, tidak ada yang tidak bisa ia lakukan sekalipun jika ia harus berhadapan dengan musuh paling berbahaya sekali pun. Namun jika mengingat Naora yang sekarang menjadi istrinya saat ini.
Nico akan sangat takut kepada istrinya itu, karena kegalakkan sang wanita tidak ada duanya dibandingkan kegalakkan harimau yang sedang marah.
"Katakan saja apa? Aku akan membantumu jauh sebelum saat ini terjadi. Aku sudah mengetahui rencana Marvin" ucap Nico yang membuat Sakha salut pada sahabatnya itu.
Sakha melongo tak percaya akan kehebatan Nico yang memang harus di acungi jempol.
"Baiklah, jika kau sudah tahu. Apa yang harus aku lakukan malam ini?"
Nico pun mengerutkan keningnya menatap Arsakha yang tak mengerti apa maksudnya.
"Maksudmu apa? aku tidak tahu soal itu. Aku tidak mengerti karena aku tidak tahu, hehehe" ucap Nico.
Arsakha menatapnya dengan tatapan yang begitu mengintimidasi. "Nico, bukannya kau adalah king of mafia? Apa sekarang kau berganti judul menjadi kiking of mafia?."
Nicho hanya mendengarnya namun tak menggubris perkataan dari Arsakha.
Secara, dia kembali menuangkan air lemon itu ke dalam gelas.
"Kau tidak usah khawatir, anak buahku akan membebaskan Soraya dan juga Meidina. Begitu juga dengan keluarga Musa Aldebaran, dia kan ikut serta untuk menyelamatkan istrinya dan juga ada orang tuanya." ucap Nico.
"Jadi si kampret itu akan ikut?" tanya Sakha, Nico pun mengangguk pelan.
"Sial" umpat Sakha.
...***...
See you di bab berikutnya...
__ADS_1