
Kalian fokus saja pada season 2, jika sudah lupa akan author ingat-ingatkan 😂
...Happy Reading...
.........
Sudah tiga tahun, hubungan Arsakha dan Soraya tanpa adanya kejelasan. Pernikahaan Meidina dan Musa juga terbilang sangat harmonis dan serasi, meski begitu. Arsakha harus menerima dengan berlapang dada, karena ini adalah takdirnya.
Tiga tahun berlalu bukanlah waktu yang sebentar, Arsakha menerimanya dengan hati yang kuat. Terlebih lagi, Soraya hampir saja membunuh istri Pratik. Kembali menjadi seorang CEO kejam yang sesungguhnya, dengan menggunakan kursi roda dan juga tatapan dingin yang kian melekat pada dirinya.
“Sakha” ucap seseorang wanita paruh baya memanggil nama anaknya.
Ya, dia adalah Mama Devi. Ibunda Arsakha, yang telah merawat anaknya. Meskipun begitu, Meidina sang mantan istri tetap berkunjung untuk melihat keadaan Arsakha.
“Sakha, apa hari ini kau pergi ke kantor nak?’’ tanya Mama Devi dengan nada yang keras, karena sang putra masih sedang berada di kamarnya.
“Iya ma” jawab Sakha, dari atas sana.
Terlihat jelas, seorang pria dengan menggunakan kursi roda tengah menuruni anak tangga dengan alat bantu khusus kursi roda. Ya, dia adalah Arsakha Virendra Alfarizqi sang raja bisnis!
“Ada apa memangnya ma?” tanya balik sakha pada sang mama.
Mama Devi menatap sebentar putra semata wayangnya, siapa sangka kesalahan kala itu membuat anaknya harus menerima penyesalan paling sesal seumur hidup, meskipun itu murni kesalahaan Arsakha sendiri.
“Tidaak, mama hanya ingin pergi makan siang bersamamu dan papa di luar. Kita sudah lama sekali tidak makan bersama, ada restoran baru yang sangat rekomendasi bintang lima. Apa kau mau ikut Sakha?” ucap Mama Devi menjelasan niatnya.
Arsakha membuang berat nafasnya. Hussssshhh, Sakha meraih roti dimeja makan dan mengoleskan selai nanas di atasnya.
“Tidak ma, aku ada meeting bersama klien siang ini sampai sore di kantor” tolak Arsakha secara halus.
Mama Devi menunjukan wajah kesedihannya. “Sayang sekali, padahal Meidina dan putra kecilnya Babby M akan datang”
BAAAM, Arsakha tercengang. Jika sudah menyangkut Meidina dan juga putra Meidina yang sering dipanggil dengan sebutan Babby M sang pangeran kecil, Arsakha akan menerima ajakkan apa pun itu jika ada Meidina.
“Sakha mau ikut ma”ucap Arsakha, sambil mengunyah roti berselai nanas itu dimulutnya.
Mama Devi yang melihat sang anak memakan roti berselai nanas yang asam itu langsung mengambilnya ditangan anaknya.
“SAKHA, SELAI NANAS INI RASANYA ASAM. KENAPA KAU MAKAN DI PAGI-PAGI BEGINI!” pekik Mama Devi.
Namun Arsakha tetap mengunyah dan tak mempedulikan sang ibunda tercinta.
“Rasa asamnya sudah berganti menjadi manis ketika mendengar nama Meidina maa” ucap Arsakha sambil cengengesan, Mama Devi memukul pelan bahu putra semata wayangnya tersebut.
__ADS_1
“Ingat, Meidina sudah menjadi milik Musa, Arsakha” Arsakha yang tadi penuh kesenyuman dibibirnya kembali menampakkan raut kesedihannya.
Mau bagaimana lagi, menerima kenyataan memanglah sakit, namun akan lebih sakit lagi jika tidak mau menerimanya.
“Aku tahu itu maa” ucap sakha pelan.
Ia mengambil botol berisi air putih dan menenggukknya hingga habis. “Sakha pergi ke kantor dulu ma, Tono juga pasti sudah menunggu Sakha dimobil’’ ucap sakha mengalihkan sedinya.
“Hmmm, baiklah. Hati- hati ya sayang’’ ucap Mama Devi.
“Hmmm, iya ma. Tolong beritahu papa, Sakha akan menemui Tuan Marvin siang ini” ujar Sakha, yang dibalas anggukan oleh sang mama.
“Iya sayang, akan mama beritahukan papamu” ucap Mama Devi, Sakha menyalami tangan sang ibunda lalu pergi dengan mendorong roda dengan mandiri sampai ke depan.
Seseorang menyambutnya dengan antusias, ia menundukkan kepalanya dengan rasa hormat.
“Selamat pagi Tuan Sakha, apa tuan sudah sarapan?” tanyanya, pria yang berdiri tepat di depan Sakha adalah Tono.
Sekertaris, sekaligus asisten barunya yang telah tiga tahun lamanya menemani Arsakha.
“Hmmm, sudah’’ jawab Arsakha.
“Syukurlah tuan, karena siang ini tuan memiliki agenda meeting bersama klien, dan setelah itu menemui Tuan Marvin untuk makan siang bersama sambil membahas kontrak kerja sama antara Virendra Group dan Saqahayang Group.’’ Jelas Tono, Arsakha hanya mendengarkannya.
Tono mendorong kursi roda Arsakha, hingga sampailah pada mobil bermerk BMW berwarna hitam dengan berplat -ARSKH- yang bertujuan bahwa mobil tersebut adalah mobil sang raja bisnis yang bernama Arsakha.
Dengan penuh kehati-hatiaan, Tono membopong badan kekar Arsakha yang kini otot-ototnya mulai menghilang. Arsakha diletakkan dikursi bagian penumpang belakang, sedangkan kursi rodanya ia taruh dibelakang bagasi mobil.
Tono masuk kedalam mobil, ia mulai mengendarai mobil itu dengan hati-hati dan teliti. Maklum saja, Tono berasal dari desa dan keluarga yang kurang mampu.
Jadi, jika ia melakukan kesalahaan, ia akan dipotong gaji. Sedangkan gaji Tono tidaklah seberapa dan tidak apa-apanya jika harus mengganti dengan menservis mobil BMW milik tuannya ini.
Mobil melaju dengan kecepatan yang sedang, seperti biasa Arsakha tengah terfokus ke ponselnya sambil menyandarkan kepalanya kedandaraan kursi penumpang.
Tono melihat tingkah tuannya tersebut, jujur saja ia malang dengan tuannya. Namun mau bagaimana lagi, jika nasi sudah menjadi bubur tidak akan berubah menjadi nasi kembali.
“Tono” beo Arsakha memanggil Tono yang tengah menyetir.
“Iya tuan, ada yang bisa saya bantu?” tanya Tono.
“Setelah pulang dari kantor nanti, kita ke toko buku sebentar. Aku ingin membeli sebuah buku” jawab Arsakha, yang dibalas anggukkan oleh Tono.
“Baik tuan” ucap Tono, setelah itu tidak ada pembicaraan lagi antara Arsakha dan Tono.
__ADS_1
Sampainya mereka didepan perusahaan Virendra Group, Tono membantu sang tuannya keluar dari dalam mobil dan membantunya duduk dikursi roda.
“Hati-hati tuan” ujar Tono, yang hanya dibalas “Hmmmm” saja oleh Arsakha.
Seorang pria berjas hitam keluar dari mobilnya, ia merapihkan jas dan menggunakan kaca mata hitam. Dengan langkah yang perlahan, ia mendekati Arsakha dan juga Tono.
“HELLO MY BEST FRIEND!” ucapnya menyapa Arsakha, dengan suara yang keras dan tanpa rasa malu.
Arsakha mendengus kesal, ia mencoba ingin pergi tapi sayang kakinya tak bisa ia gerakkan.
“Cih, dasar pria alay” cibir Arsakha pada pria yang ada di depannya itu.
Bukannya kesal atau marah karena sudah di cap alay, pria itu malah terkekeh geli.
“Hahaha, Sakha. Apa kau masih berpura-pura menjadi CEO lumpuh?” tanya pria tersebut.
Ia membuka kaca matanya, dan segera menyimpannya di dalam saku jas.
“Cih, kali ini aku benar-benar lumpuh sialan!” ketus Arsakha.
Pria tersebut mengisyaratkan pada Tono untuk pergi. Tono menurut dengan membungkukkan kepalanya lalu pergi, dan akhirnya. Pria itu pergi bersama Arsakha, dengan mendorong maju kursi roda Arsakha menuju kedalam perusahaan.
“Benarkah? Bukannya kau berpura-pura ya, hanya untuk mengetes kesetiaan pacarmu itu hmmmm?” ucapan pria tersebut lagi-lagi membuat Arsakha kesal.
“Jika kau datang kesini hanya untuk menggodaku, sebaiknya kau pergi saja Susi!” pekik Arsakha, ia menampakkan raut wajah kesalnya.
“Namaku Nico! Nico Edson Susianto!” ucapnya dengan penuh ketegasaan disetiap kalimatnya.
“Aku tidak peduli” saut Arskha, ia menghempaskan tangan Nico yang memegangi dorongan kursi roda.
Dengan sekuat dan semampu Arsakha sendiri, ia masukn kedalam lift khusus Ceo dan meninggalkan Nico seorang diri dibawah.
... ~♥~...
...Author ; ‘’Hayo loh,masih pada inget ngga sama babang nico? Btw, dia juga raja lho. Kira-kira, raja apaan ya? Ada yang masih inget mungkin?”...
📌 Beberapa Visual Arsakha Virendra Alfarizqi
__ADS_1