Penyesalan CEO Lumpuh

Penyesalan CEO Lumpuh
Pengakuan Soraya


__ADS_3

Arsakha melamun, namun Nico segera menyadarkannya dengan menepuk pundak Arsakha dengan keras.


Arsakha tersadar dan langsung melirik Nico, ia masih tak percaya dengan apa yang telah terjadi ini.


"Nico, apa kau sudah tahu?" tanya Arsakha memastikan bahwa Nico sudah tahu atau belum.


"Apa? Musa dimana?" dia pun menaik turunkan bahunya.


"Aku tidak tahu, mungkin dia masih bersama Soraya."


arsakha mengalah nafasnya dengan berat, "Biarkanlah saja dia, aku tidak pantas untuk Soraya."


Nico yang mendengarnya hanya terkekeh. "Kau tidak diinginkan? Yang benar saja" ucap spontan Nico yang kala itu ruangan Arsakha sepi dan hanya tinggal mereka berdua.


Sakha menghela nafasnya dengan berat. "Kau lihat kondisi fisik ku yang seperti ini, mana ada wanita yang menerima aku seperti ini."


Mendadak seseorang datang dengan membuka pintu ruangan Arsakha, pintu terbuka dengan kencang sang wanita itu berdiri tegak menghadap pintu dan memperlihatkan badannya kepada Sakha dan juga Nico.


Nico dan Arsakha pun membelah kan kedua matanya melihat siapa wanita tersebut. Mereka berdua masih kebingungan, Soraya datang ke indonesia seorang diri. Ia kabur dari pengawasan Musa, Soraya berjalan di mendekati Sakha.


Nico segera menghentikannya dengan menghalanginya menggunakan tubuhnya.


"Mau apa kau kemari?" halang Nico.


"Ini aku, aku ada urusan dengan pria itu" ucap Soraya sambil menunjukkan jari telunjuknya ke arah Arsakha.


"Aku?" ucap Sakha yang mengisyaratkan kepada Soraya.


Soraya pun mengangguk, "Iya" sahutnya.


Tanpa tanpa basa-basi lagi Niko segera keluar dari ruangan Arshaka dan mempersilakan Soraya untuk berbicara kepada Arshaka.


" Katakan ada apa kau kemari!" tanya tegas Arshaka.


Soraya duduk di sofa tamu ia menatap lekat wajar Saka yang begitu tampan dan berwibawa itu.

__ADS_1


"Aku merindukanmu..." Arsakha pun hanya terkekang geli mendengar pernyataan dari istrinya tersebut.


"Kau merindukanku? Setelah sekian lama kau pergi ke mana saja? dan apa kau mengingatku? Aku tahu, kau pasti malu dengan fisikku kan?" ucap Sakha membuat Soraya membelakkan kedua matanya.


Arsakha segera mendekati Soraya yang duduk sambil membawa sebuah berkas penting di tangannya. "Ambil ini dan tanda tangan lah."


Soraya pun mengambilnya dengan hati yang deg-degan, "Apa ini?" tanya Soraya yang kebingungan.


" Itu adalah surat perceraian kita" ucap Arsakha, Soraya pun merobek kertas itu menjadi dua bagian sampai seterusnya menjadi 8 bagian.


"Aku tidak mau berpisah denganmu, kumohon dengarkanlah... Aku pergi karena ada urusan..." ucap Soraya membela diri.


"Urusan? urusan bersama pacarmu atau urusan mengejar karirmu Soraya?


Soraya, kau bisa meminta apa saja yang kau mau, dengan semua kekuasaanku di negara ini dan juga di dunia in. Popularitas atau kekayaan, kau akan dapatkan dengan menjadi wanitaku saja.


Tapi, dengan bodohnya kau malah meninggalkanku dan sekarang Terimalah akibatnya, aku akan mendepakmu jauh dari negara ini sampai kau pun sendiri tidak akan pernah bisa kembali ke negara ini!" ucap Arsakha penuh penegasan.


Soraya pun berlutut di kaki Arsakha sambil memegangnya. "Aku mohon, jangan usir aku aku mau ke mana lagi? Aku sudah lelah diculik. Apa kau tidak pernah mencariku selama ini? tanya Soraya penuh lirihan.


Apa yang diucapkan oleh Arsaka memang benar, Soraya tidak bisa berbicara. Ia hanya memilih bungkam untuk membela dirinya.


"Sakha, Aku bisa jelaskan semua ini jangan tinggalkan aku...." lirih Soraya, dengan penuh belas kasihan.


"Aku pun sebenarnya tahu, bahwa Soraya memanglah disekap oleh Musa. Tapi mau bagaimanapun caranya, dia adalah seorang buronan yang sedang menyamar, dan terlepas dari itu semua tentang keluarganya yang telah membunuh keluarga Musa. Masih menjadi tanda tanya besar untukku dan juga kematian Devanya yang secara itu membingungkan banyak orang. Karena kembalinya Devanya setelah 3 tahun mati" batin Arsakha.


"Sakha Aku bisa jelaskan" ucap Soraya.


Arsakha dengan tatapan yang begitu tajam menatap Soraya. "Jelaskan apa? Semuanya sudah jelas!" ucap spontan Sakha.


Soraya pun masih memegang kaki Arsaka, dan berharap sang suami mau membantu dan memaafkannya.


"Sakha... Tolong jangan usir aku, aku mohon aku takut dengan Musa, dia bisa saja melaporkanku kepada polisi aku tidak salah... Aku mohon, kau percaya kan kepadaku?"


Soraya membuat Arsaka guncang, ia sebenarnya juga kasihan kepada Soraya yang belum tentu salah. Karena yang salah adalah kedua orang tuanya, mereka sama-sama memiliki cinta namun terhalangkan oleh sebuah restu. Dan Soraya, adalah suatu bukti penyesalan seorang Jefri dan Dara ketika muda.

__ADS_1


karena tindakan tak senonoh yang mereka lakukan dengan berhubungan badan, saat masih berstatus suami dan istri orang. Arshaka menatap sendu wajah istrinya itu, sebenarnya Ia juga marah kenapa Soraya pernah tidur bersama Praktik yang merupakan anak buah dari Adam.


Arsakhan hanya bisa hela nafasnya dengan berat, mengingat kelakuan Soraya yang begitu kejam kepada Arsakha waktu di masa lalu.


"Apakah ini adalah sebuah hukuman dari Tuhan untukku, dengan mengirimkan Soraya yang tidak aku cintai dengan berbentuk seorang penyelamat waktu aku kecelakaan dulu" Arsakha membatin.


Ia sejenak berpikir mengingat tindakan heroik Soraya yang menyelamatkan Arsaka di jurang yang begitu dalam. Dengan tanpa alat bantu, dia seorang wanita yang tangguh menyelamatkan seorang pria yang tengah jatuh ke jurang dengan kedalaman hingga 20 meter.


Soraya pun melirik Arsakha dengan air mata yang telah mengalir. "Usap ingusmu atau ku tembak kepalamu!"


Soraya pun segera menghapus ingusnya yang keluar dari hidung. Dia sedikit sesegukan menangis sambil menatap Sakha. Ia menghapus ingus itu dengan bajunya, spontan membuat Arsaka membulatkan kedua matanya yang menatap kebodohan istrinya itu.


"Astaga Soraya...!" tegas Arsakha.


"Kenapa kau sangat jorok! cepat usap dengan tisu!" tegasnya kembali, Soraya pun segera berdiri dan mengambil tisu box di atas meja kantor Sakha.


Lalu membersihkan ingusnya yang ia jatuhkan tadi, sekitar 5 menit kemudian Soraya sudah membersihkan ingusnya dan segera kembali kepada Arshaka.


" Aku sudah membersihkannya. Bolehkah aku berbicara?" ucap ucap Soraya penuh harapan Sakha pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pelan, sambil bersilang tangan di dadanya.


"Tidak mau, aku tidak mau berbicara dengan istri pengkhianatan sepertimu!" ucap Arsaka, Soraya pun harus membalikan kedua otaknya.


Antara otak kiri dan kanan untuk membujuk Arsakha, memikirkan Bagaimana caranya supaya Arsakha mau menurutinya.


"Sakha... Aku mohon, aku akan memberikanmu es krim" ucap Soraya asal.


Arsakha pun hanya tertawa geli ketika mendengar kalimat es krim tersebut.


"Kau pikir... Aku anak kecil Soraya? aku tidak sebodoh itu, dan kau pikir aku apa? Aku adalah pria dewasa tahu! aku tidak suka es krim" Soraya hanya terdiam sambil menatap punggung Arsakha dari belakang.


****


Sorry baru up, author sedang berduka ini juga lagi makasih nulis. Sorry banget kalo udah lupa alur atau alurnya berbelit-belit, Author belum revisi semuanya.


Untuk typo maaf dimaklumkan ya, Author ngebut saat sedang buat cerita.

__ADS_1


Enjoy and have fun...


__ADS_2