
Malam harinya, Adam menghubungi Devanya untuk menanyakan kabarnya setelah konversi press pada saat itu. Adam takut bahwa Devanya masih ketakutan akan mereka yang terus-terusan bertanya kepada Devanya. Baik di real life ataupun sosial media Devanya.
Adam menghubungi Devanya, dan Devanya pun menjawab panggilan telepon dari Adam.
"Halo sayangku, kau sedang apa?" tanya Adam pada devanya.
"Halo juga, aku sedang makan sandwich. Kau sedang apa?" tanya kembali Devanya.
"Jika aku memikirkanmu bagaimana?" ucap Adam
"Boleh saja, asalkan jangan terlalu lama"
"Kenapa?"
"Rindu itu berat, hanya Dilan saja yang kuat." ucap Devanya.
Adam pun hanya bisa terkekeh kecil, karena geli mendengar perkataan dari Devanya itu.
"Devanya, apa perbedaan bulan dan juga matahari denganmu?" tanya Adam pada Devanya.
"Sudah jelaskan, bahwa bulan dan juga matahari adalah sistem tata surya. Dan itu sama sekali tidak ada sangkutannya denganku." Jawab Devanya dengan spontan.
Adapun pemikirkan kembali, bagaimana cara untuk merayu Devanya. Karena ia tahu, ia tidak pernah menjalin hubungan dengan siapapun kecuali dengan Devanya. Wajar saja, jika Adam memang tidak ahli dalam bidang percintaan.
"Jika matahari menerangi bumi saat siang, dan jika bulan menerangi bumi saat malam. Maka, kaulah yang akan menjadi penerangku di setiap siang dan juga malamku." gumam Adam.
Ia pun sedikit tertawa kecil mendengar kalimat yang ia ucapkan sendiri itu. "Oh begitu, Aku kira apa" ucap Devanya.
Seketika itu, Adam pun teringat dengan perkataan para wartawan yang tidak mengenakan hati Devanya. Ada beberapa dari mereka yang mengatakan pada Devanya. Mereka hanya sekumpulan makhluk bernyawa yang tidak punya otak ketika bertanya.
"Devanya, sayangku..." lirih Adam.
"Hmm, iya sayang?"
"Apa kau baik-baik saja? Aku harap kau baik-baik saja, Sayang" ucap Adam.
Devanya tersenyum, ia menyandarkan kepalanya disandaran ranjang itu.
"Aku baik-baik saja sayangku, jangan khawatirkan aku
__ADS_1
Panggilan telepon tersebut pun akhirnya berhenti, malam yang dingin itu mereka lewati bersama dengan di ranjang masing-masing. Adam semakin tidak sabar untuk menghalalkan Devanya, yang sebentar lagi akan menjadi istri dan juga Ibu dari anak-anaknya.
Namun Adam sangat menyayangkan sekali, Devanya harus hidup di dalam ke traumaan dan Adam harus menyembuhkan traumanya itu terlebih dahulu.
"Devanya..." lirih Adam sambil menatap langit-langit kamarnya tersebut.
"Bagaimana bisa aku melupakanmu, sedang kau adalah wanita yang aku cintai setelah ibuku." gumam Adam di malam hari itu.
Sampai tak terasa waktu terus berjalan, Adam menutup kedua matanya lalu ia pun terlelap di tidurnya. Hari yang begitu cerah, menyelimut dua insan yang sedang jatuh cinta itu.
Antara Soraya dan juga Sakha yang saat ini tengah di mabuk cinta. Mau bagaimanapun juga, mereka akan tetap menjadi suami istri yang sah secara agama dan juga hukum. Arsakha tidak bisa memaksa Meidina untuk menjadi miliknya terus, ia sekarang adalah milik Musa begitupun juga Arsaka yang sekarang adalah milik Soraya.
"Sakha" sahut Soraya pada Arsakha.
Arsakha yang kala itu sedang membereskan beberapa berkas di ruang kerjanya melirik ke arah Soraya yang memanggilnya di ambang pintu.
"Makan siang sudah siap, apa kau mau memakan sesuatu? Akan aku bawakan ke atas" tutur Soraya.
"Tidak usah aku akan turun ke bawah, kau tunggu saja aku di meja makan." Ucap Sakha.
Soraya pun mengangguk faham dengan apa yang Sakha katakan itu. "Baiklah, aku tunggu di bawah ya" sahut Soraya.
"Baik sayangku."
Arsakha nyaris membuat Soraya sempoyongan kembali, Soraya turun dari bawah tangga. Arsakha tersenyum melihat tingkah Soraya yang begitu membuat hatinya berbunga-bunga.
"Meidina... singkatnya kisah kita seperti epilog tanpa prolog." Gumam Arsakha.
Ia menepis jauh-jauh nama Meidina, ia hanya menyematkan satu nama. Yaitu adalah, Soraya. Seberjalannya waktu, Sakha menerima Soraya dengan pelan-pelan. Dan mengikhlaskan Meidina sebagaimna ia menerima Soraya.
Dengan langkah yang pelan, Sakha berjalan menuruni anak tangga menyusul Soraya yang telah menunggunya.
"Tuan muda, nona muda sudah menunggu Tuan Muda sedari tadi" ucap Bi Min sang kepala pelayan.
"Hmmm, di mana dia? Kenapa tidak ada?" Tanya Arsakha.
"Nona Muda sedang menyiapkan makan siang kesukaan Tuan."
Arsakha menyipitkan kedua matanya, "Kesukaanku?"
__ADS_1
Bi Min mengangguk dengan pelan, "Benar Tuan, mari saya antar ke meja makan." tutur Bi Minah.
Sakha duduk, ia melihat Soraya yang tengah membawa panci sup yang berada di genggaman tangannya itu. Sebuah panci lengkap dengan sendoknya. Soraya membawanya ke meja makan.
"Apa kau ingin sesuatu?" tanya Soraya pada Arsakha.
Arsakha melihat apa yang Sora bawa itu, ia sebentar melihatnya dengan seksama panci sup yang dibawa oleh soraya.
"Ini adalah sup sayur asam kesukaanmu"
Arsakha mengangguk, "Kau tahu? kenapa tidak dari dulu saja kau memasak-masakan nusantara seperti ini."
Arsakha, ia pun langsung mengambil siuk nasi dan meminta Soraya untuk menuangkan sup sayur asam tersebut.
"Aku ingin, mana sini"
Sekitaran 20 menitan Sakha dan Soraya menyantap makanannya tanpa sepatah kata apa pun. Soraya memberanikan diri untuk bertanya pada Arsakha.
"Apa kau pergi ke kantor lagi siang ini?" tanya Soraya.
Arsakha yang baru saja beres menyantap makanannya đengan lahap itu mengangguk. "Iya, karena Nico ada perlu denganku di perusahaan." Jelas Arsakha.
Soraya mengangguk pelan, "Hmm, baiklah. Aku akan mensiapkan pakaianmu dulu." Soraya bangkit dari duduknya, namun Sakha segera melarangnya.
"Tidak perlu, hanya pertemuan kecil saja dan ini tidak terlalu formal. Apa kau mau ikut juga ke perusahaanku?" tawar Sakha.
Beribu pertanyaan muncul dibenaknya, Soraya sudah lama tidak muncul di publik. Dan publik tidak mengenalnya lebih jauh, apa jadinya jika ia kambli dengan menjadi istri dari seorang pebisnis ternama seperti Arsakha.
"Hmmmm... Aku sibuk dengan urusan job, lain kali saja Sakha." tutur Arsakha.
Arsakha faham dengan karir istrinya tersebut. "Baiklah, tapi saat ulang tahun perusahaan yang ke 7 tahun kau harus datang okei." ucap Arsakha.
"Ulang tahun perusahaan?"
Sakha mengangguk, "Iya, ulang tahun perusahaan. Tepat tanggal 7 bulan 7, Virendra Group Company berulang tahun yang ke 7 tahun." jelas Arsakha.
Soraya berfikir keras, jujur saja ini adalah suatu hal yang besar untuk soraya hadapi.
"Baiklah, aku akan segera mensiapkan semuanya. Menjadi seorang istri dari pengusaha sepertimu tentu saja membutukan perawatan kecantikan kan? Aku tidak ingin kau berpaling pada wanita siapa pun saar di pesta nanti."
__ADS_1
Soraya mengambil jurus kiss to me, dan Sakha mengerti kode itu. Ia mencium pipi kanan dan kiri Soraya, bukan Sakha yang minta tapi Soraya sendirilah yang berinsatif minta di cium.
Dan ini adalah hal pertama kali Soraya lakukan, sungguh ia sangat malu dengan dirinya sendiri.