Penyesalan CEO Lumpuh

Penyesalan CEO Lumpuh
PERGI


__ADS_3

Meidina melirik Arsakha, ia berpikir sejenak. Sekarang apa yang harus ia lakukan, canggung adalah kata yang tepat untuk keduanya.


"Tuan" ucap Meidina dengn suara pelan, ia tidak berani memandangi Arsakha.


Arsakha menatap sinis Meidina. "Apa yang sudah kau lakukan padaku?" tanya Arsakha, Meidina hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


Sakha bangkit dari duduknya di ikuti juga Meidina. "Anda mau kemana?" tanya Meidina.


"Tidak usah berbicara terlalu formal, aku tidak suka itu" ketus Arsakha.


"Aku akan menjauh darimu, lalu apa lagi?" sambung Arsakha.


"Tuan, tidak maksudku" ucap Meidina gugup, kali ini ia memandangi wajah tampan Arsakha.


"Apa!"


"Ku mohon jangan kembali kepada Adelia" ucap Meidina, ia memegang tangan Arsakha.


Spontan Sakha langsung melepas paksa.


"Memang kenapa jika aku bersamanya hah? kau iri jika dia bersamaku?" tanya ketus Arsakha, Meidina mencoba menahan sedihnya.


Ini semua ia lakukan demi keluarga suaminya, yang sudah sangat baik padanya begitu juga kepada kakek dan nenek.


Meidina menggelengkan kepalanya, tentu saja ia tidak ingin baik Arsakha atau pun keluarga besarnya dalam bahaya karena ulah Adelia.


Arsakha langsung pergi, ia baru saja melangkahkan kakinya beberapa langkah. Meidina menghentikannya dengan memeluk Arsakha dari belakang.


Sakha terkejut. "Lepaskan!"


Meidina diam tidak bergeming, ia masih memeluk erat punggung lebar Arsakha.


"Aku harap setelah kejadian ini, bisa membuatmu lebih menghargai hadirnya seseorang" ucap Meidina dengan menahan isak tangisnya.


Sakha melepas paksa pelukan Meidina, ia mencengkam dagu Meidina.


"Kau sudah berani mengajariku ya gadis kecil!" ucap Arsakha penuh ketegasan disetiap kalimatnya.


Ia melemparkan cengkeramannya dengan sangat kasar. Dan segera mungkin berjalan menjauhi Meidina.


"Sakha!" teriak Meidina, akan tetapi Arsakha tidak peduli ia tetap melanjutkan jalannya.


Meidina terdiam, dia menitiskan air matanya.


"Aku sudah berusaha sebisaku, dia memang tidak mencintaiku. Jadi untuk apa aku harus berjuang lebih keras lagi, wanita yang dicintainya adalah Adelia bukan aku."


"Sadarlah Meidina, meskipun kau snagat mencintainya, setidaknya jangan sakiti hatimu dengan mencintai seseorang yang tidak mencintaimu kembali. Itu hanya akan membuat hatimu sakit dan terluka."

__ADS_1


Ucap Meidina didalam batinnya, ia berdiri dan melangkahkan kakinya. Tak sanggup ia berjalan, namun ia paksakan.


Gadis labil yang sudah menginjak umur tujuh belas tahun, ia selalu mengharapkan ada seseorang yang mencintai dan menyayanginya dengan tulus.


Kisah cinta pertamanya tak semanis seperti kisah yang ada di novel atau pun film. Wajar saja Meidina tidak bisa melepaskan Arsakha, karena ia baru pertama kali merasakan rasanya jatuh cinta.


Tidak ada seorang pun yang mengetahui sedihnya ia, dari kecil ia selalu ingin dicintai dan disayangi keluarga yang utuh. Bukan kakek atau pun nenek, setiap semua anak pasti menginginkan hal kecil seperti itu dari kedua orang tuanya.


Tapi tidak untuk Meidina, saat ia mendengar cerita dari nenek Siti. Meidina dibuang oleh kedua orang tuanya. Ia pikir, dirinya adalah anak yang tidak di inginkan orang tuanya.


Meidina merasakan rasa sakitnya sendiri, tanpa menceritakannya kepada orang lain. Meidina sudah tidak sanggup lagi melangkah, dan.


Brugh....


Meidina jatuh pingsan, sudah tidak ada tenaga lagi untuknya melangkah. Padahal sedikit lagi ia akan sampai di permukiman warga.


.........


Sedangkan disisi lain, Adelia dan ibunya berlari menjauh dari hutan. Namun, Lucifer dan Zexo berhasil menangkap kedua wanita sialan itu.


"Kalian mau kemana hmm" ucap Lucifer, membuat keduanya merinding.


"Lepaskan aku sialan!" teriak Adelia, ia meronta-ronta melepaskan cengkeraman tangan Lucifer dari tangannya.


"Lepaskan!" kali ini ibunya yang berteriak, berusaha sekuat tenaga melepaskan tangannya dari cengkeraman Zexo.


Gleg...


Adelia dan ibunya terdiam, mereka berpikir jika Zexo adalah seorang kanibal yang memakan daging manusia, sementara itu Lucifer terkekeh ia ingin sekali tertawa terbahak-bahak ketika mendengar ucapan Zexo yang konyol dan asbrut itu.


"Sudah, ayo bawa mereka" ucap tegas Lucifer.


Adelia dan Ibunya dibawa paksa oleh anak buah Nico, mereka sudah menang melawan anak buah Martin. Nico dan Papah Rendra juga, mereka membawa Arya dan Martin ke markas.


Saat ditengah hutan, Arsakha bertemu dengan Adam dan juga Mikey


"Sakha!" teriak Adam, mereka berdua menghampiri Arsakha.


"Sakha, kau baik-baik saja, dimana adikku bukan kah dia tadi bersamamu?" tanya Adam, ia memegang kedua bahu Arsakha mengecek keadaan sahabat itu.


Dengan malas, Arsakha diam tak bergeming.


"Jawab Sakha!" ucap Adam, amarahnya mulai menaik sekarang.


"Aku meninggalkannya, kenapa memang?" tanya Arsakha tanpa rasa bersalah.


Bugh....

__ADS_1


Adam meninju perut Arsakha "Arghhhhh" Arsakha meringis kesakitan sambil memegang perutnya.


"Dasar bajing*an, seharusnya aku melenyapkanmu saja bersama wanita sialan itu!" tegas Adam, ia sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi.


Mikey memberhentikan Adam, ia menyadarkan Adam agar tetap tenang agar tidak termakan emosi.


"Jika kau bukan sahabatku, akan ku habisi kau bersama wanitamu yang sudah membunuh keluargaku dan membawa adik perempuanku pergi!" teriak Adam, ia masih dipegangi oleh Mikey.


Tentu saja, agar Adam tidak hilang akal sehatnya. Arsakha tercengang, apa yang dimaksud ucapan sahabatnya.


"Apa maksudmu?" tanya heran Sakha.


Adam mencoba tenang sekarang, Mikey melepaskan tangan Adam sekarang.


"Keluargaku terbunuh oleh kedua orang tua Adelia, aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Adelia dan ibunya membawa Nurul ku pergi" ucap Adam, membuat Arsakha membulatkan matanya.


"Dan sekarang mereka kembali hanya untuk menghancurkan keluargamu" sambung Adam.


"Kenapa kau baru mengatakannya!" pekik Arsakha.


"Aku sudah mengatakannya beberapa kali, namun kau tak juga percayainya, sekarang makanlah sendiri ulahmu!" ucapan Adam semakin tidak bisa mengontrol emosinya.


Arsakha semakin tidak percaya, mengapa Adam bisa tahu, selama ini yang hanya sakha dengar Adelia pernah membunuh ibunya Nico. Tapi sekarang Adam juga mengatakan hal yang sama, dengan keluarganya yang dibunuh oleh kedua orang tua Adelia.


Adam sengaja tidak menceritakannya pada siapa pun, sama seperti Meidina yang merasakan sakitnya sendirian.


Arsakha terdiam tak mampu berkata-kata, haruskah sekarang ia percaya apa yang dikatakan sahabatnya sendiri.


Masih dihutan, Meidina tak kunjung sadar. Ia pingsan dipinggir hutan dekat jalanan, tapi sayang tak ada seorang pun menyadari nya saat melintas.


Beruntungnya, ada seseorang yang menyadarinya. Seorang lelaki turun dari dalam mobilnya, ia mendekati Meidina yang tengah pingsan


Ia memeriksa denyut nadi Meidina. "Sepertinya dia masih hidup" gumam lelaki tersebut.


"Pak supir, tolong bukakan aku pintu mobilnya" perintahnya pada sang supir.


"Baik, tuan muda" sang supir itu pun keluar, ia membukakan pintu mobil untuk tuannya.


Lelaki itu menggendong Meidina ala bridal style, tanpa ia sadari bross yang Meidina gunakan di kerudung nya terjatuh. Kamera yang berada di dalam bross itu,menangkap punggung seorang lelaki yang membawa Meidina masuk ke dalam mobil nya.


...•••...


quotes :


...Meskipun kau sangat mencintainya, setidaknya jangan sakiti hatimu dengan mencintai seseorang yang tidak mencintaimu kembali. Itu hanya akan membuat hatimu sakit dan terluka....


...- Meidina -...

__ADS_1


__ADS_2