
Arsakha terdiam, sambil menatap Vina yang begitu sombong di hadapannya itu.
"Tuan Arskha Virendra, adalah seorang pebisnis yang hebat dan juga sangat tegas. Aku ingin tahu seberapa hebatnya dirimu, maka dari itu. Tolong ajarkan aku dan beri aku tutorial menjadi seorang CEO yang baik dan juga benar, hehehe."
Ucap Vina yang membuat Arsaka kesal, Sakha berdiri dari duduknya. Lalu berjalan mendekati pintu dan membuka pintu tersebut.
"Silakan keluar, Nona Vina." ucap Arskha, Vina berjalan sambil tersenyum kecut pada Arsakha.
Ia sedikit kesal, atas perlakuan dari Arsakha. Vina keluar dari ruangan Arsakha, dan Sakha pun kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat ia tunda beberapa waktu yang lalu.
Namun, pintu ruangan Arskha kembali terbuka. Namun bedanya, tidak ada ketukan pintu. Arsakha yang kesal, ketika melihat siapa itu yang datang membawa sebuah bunga mawar yang tengah ia genggam di tangannya itu.
Arsakha pun lantas terheran-heran melihat itu semua. Ia mengerutkan keningnya dan berkata kepada Adam, bahwa. "Jangan membawa sembarangan bunga ke ruangan, sungguh arshaka sangat alergi pada bunga mawar."
"Ada apa kau kemari? Apa kau tidak punya sopan santun untuk mengetuk pintu terlebih dahulu!" ucap ketus Arsakha kepada Adam.
Arsakha melirik Adam yang tersenyum, itu sambil menggaruk-garuk tengkuknya sendiri. Adam yang cengengesan itu pun, seketika membuat Sakha ja kesal dibuatnya.
"Tidak ada Arsaka, aku hanya ingin menyampaikan sesuatu padamu." ucap Adam dengan serius.
Ia pun mengambil sebuah surat undangan yang berada di dalam saku jas kantornya tersebut. Adam memberikan surat undangan, dan juga bunga mawar tersebut pada Arsakha, Arsakha pun semakin heran dengan apa yang Adam lakukan itu.
"Apa itu?" tanya rasakan dengan serius sambil menatap surat undangan pernikahan, dan juga bunga mawar yang Adam taruh di meja kantornya itu.
"Surat undanganku, aku akan segera menikah dengan Soraya minggu depan." jawab Adam dengan serius.
Seolah-olah tersedak oleh udara, Arsakha pun batuk secara tiba-tiba menatap surat undangan, dan juga bunga tersebut yang berada di atas meja kantornya.
"Uhuk-uhuk-uhuk. Kau gila adam!" ucapan Saka dengan tegas di setiap kalimatnya.
Ada hanya menggelengkan pelan kepalanya, Ia hanya tersenyum sambil menampakan giginya yang putih tersebut.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak gila, aku serius ingin menikahi Devanya minggu depan. Dan kau jangan lupa untuk datang bersama istrimu, ya." ucap Adam.
"Secepat itu Adam!" tegas kembali Saka.
"Bukankah lebih cepat lebih baik, Arsakha?Bagaimana jika nanti devanya diambil oleh kolega bisnisku? Seperti kau dan-"
Ucapan Adam yang sengaja ia gantungkan tersebut. Yang berhasil membuat Arsakha berdengus kesal, ketika mengingat Medina yang dulu pernah diambil paksa oleh Musa.
Dan akhirnya, Musa pun menikah walaupun Sakha haruskah harus menerima batunya. Karena tersiksa melihat orang yang ia cintai menikah dengan orang lain.
Sudahlah cepat pergi, aku sibuk. tegas Arshaka ia kembali mengetik di laptopnya itu. Adam pun semakin menjahili Arsakha. Ia merangkul bahu Arsakha yang sedang duduk di meja kebanggaannya tersebut.
"Kau sedang apa? Apa kau tidak memikirkan masa depanmu dan juga Soraya? Medina dan Musa sudah memiliki momongan. Apa kau tidak ingin membuat generasi Arsaka selanjutnya?."
Seolah-olah adam menginginkan bahwa Sakha bisa menerima takdirnya, yang saat ini menjadi seorang suami dari Soraya. Hubungan mereka berdua sudah lama, tidak ada salahnya untuk ia dan Soraya memiliki anak secepatnya.
"Entahlah Adam. Aku sedang tidak ingin memikirkan tentang itu, sebaiknya kau pergi saja sana!" Usir Arsaka pada Adam.
"Bagaimana jika nanti, Soraya malah memilih pria lain Sakha?" tanya Adam dengan serius.
Arsakha terkekeh geli mendengar hal tersebut. "Jika ia memilih lelaki lain, ya aku harus apa? Aku pun juga bisa dengan bersama wanita yang baru, secara kan aku kaya dan aku aku tampan." Jawab Arsaka yang begitu yang Pede.
Membuat Adam ilfil dan geli ketika mendengarnya. " Apa kau sudah melupakan adikku Sakha?" tanya kembali Adam.
Arshaka pun mengerutkan keningnya dan melihat Adam dengan Tatapan yang begitu dingin.
" Kenapa?"
" Tidak ada, aku hanya tidak ingin kau jatuh cinta kepada adikku lagi. Apa salahnya kan aku yang sebagai seorang kakak, melindungi adikku dari lelaki playboy sepertimu." ucap Adam yang sambil tersenyum mengisyaratkan bahwa Sakha memanglah seorang playboy sejati.
Yang bisa saja membuat para wanita terpanah olehnya, Arsakha berdengus kesal. "Aku tidak akan mencintai adikmu itu, namun jangan paksa aku untuk berhenti menyayanginya." sahut Arshaka.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya kembali Adam yang penasaran akan jawaban dari Arshaka.
"Aku menganggapnya sudah seperti adikku sendiri, dan aku tidak ingin kehilangan Nurulku kembali. Meskipun kau menghalangiku untuk bertemu dengan Nurul, akanku kejar Nurul sampai Ke Ujung Dunia sekalipun." ucap Sakha dengan penuh nada penekanan.
Adam yang seolah tahu akan isi hati Arshaka. Ia pun hanya mengangguk kecil dan memalingkan wajahnya. Lalu mulai mundur secara perlahan-lahan dari hadapan Arsaka.
"Sepertinya aku sudah lama di sini sebaiknya aku harus pergi. Karena aku akan bertemu dengan kolega bisnisku yang dari Amerika tersebut. Apa kau mau ikut denganku Sakha? Ia juga menawarkan dirinya untuk menjadi investor di perusahaanmu?." tanya kembali Adam dengan santai.
Arsakha pun menggelengkan pelan kepalanya. "Tidak, aku ingin pulang untuk tidur di mansion." jawab saka.
"Pasti kau ingin tidur bersama bantal gulingmu itu kan? bukankah itu adalah kebiasaanmu yang hanya pulang ke Mansion hanya untuk tidur bersama bantal gulingmu saja. Oh aku tahu, Kau pasti ingin tidur bersama bantal bergulingnya bernyawa bukan?!" ucap Adam yang sangat serius itu, sambil menunjuk arsakha menggunakan telunjuk jarinya.
"Jika ia benar. Memang kenapa?" ucap Sakha dengan spontan, yang membuat Adam seketika itu shock mendengarnya.
"Baiklah aku tidak akan mengganggumu, semoga kau segera memberiku keponakan baru. Karena Niko dan Meidina sudah memberiku keponakan. Dan yang sekarang , aku ingin kau memberiku keponakan perempuan" ucap Sakha
"Kau pikir apa, Kau pikir aku bisa memprediksi anakku perempuan atau laki-laki? dibandingkan mengurus masalah anak sebaiknya kau usahakan terlebih dahulu kecebongmu itu. Nanti akan sampai ke dalam telur Devanya tidak!" ucap ketus Arsakha.
Adam pun terkekeh geli mendengar perkataan dari Arshaka, ponsel Arsaka berdering yang membuat mata Adam mengalihkan pandangannya kepada ponsel tersebut. Ponsel yang tepat berada di atas meja kantornya itu. Adam melihat siapa yang memanggil arsaka tersebut.
Ia beranggapan bahwa itu adalah sekretaris Arsakha, namun tanggapannya selalu besar itu adalah Soraya yang menelpon Arsaka. Adam menatap serius kalimat yang terpajang di nama panggilan tersebut.
"Soraya sayangku." gumam Adam sambil menatapnya.
Sakha yang melihatnya tersebut langsung mengambil ponselnya dan lalu mematikan ponselnya tersebut.
"Jadi kau selama ini kau memanggilnya sebagai Soraya sayangku?" ucapan Adam yang mengejek.
Berhasil membuat Sakha kesal untuk yang kesekian kalinya, Sakha menghembuskan nafasnya dengan panjang. Lalu menggebrak meja dengan pelan namun keras.
"Sebaiknya kau keluar, sebelum aku yang akan membukakanmu pintu dan menendang bokong sucimu itu."
__ADS_1
Dan Adam pun segera pergi dengan langkah yang cepat dari ruangan Arsaka, ia tidak ingin diamuk habis oleh sang raja bisnis tersebut.