Penyesalan CEO Lumpuh

Penyesalan CEO Lumpuh
Melepas Keperjakaan


__ADS_3

Musa termenung di balkon, ia tengah menikmati secangkir teh di tangannya. Ia menatap bintang-bintang di atas langit.


"Apakah aku sangat egois, karena terlalu memaksa Meidina" gumam nya dalam hati.


Meidina datang, dan ia duduk di samping Musa.


"Kenapa belum tidur?, ini sudah sangat malam" ucap Meidina.


"Aku belum mengantuk" ucap Musa tersenyum.


"Tapi ini sudah sangat larut, ayo cepat tidur"


Meidina menarik tangan Musa, musa terkekeh di buat nya.


"Meidina" saut Musa.


"Hm, iya? " balas Meidina.


"Aku minta maaf" ucap Musa menatap Meidina dengan serius.


"Aku terlalu memaksa mu, aku bukan bermaksud memisahkan mu dengan Arsakha. Aku hanya, stt"


Belum selesai berbicara, mulut Musa di sumpal sebuah biskuit oleh Meidina.


"Aku ingin mencintai mu,aku ingin membuka lembaran baru. Meskipun aku terpaksa waktu itu, namun aku menerima mu menjadi suami ku sekarang" ucap Meidina tersenyum ke arah Musa.


Musa segera menghabiskan biskuit yang Meidina sumpalkan, ia menatap serius Meidina.


"Terima kasih,kau mau menerima ku menjadi suami mu" ucap Musa,mata nya sudah berair.


"Aku dengar, Arsakha sudah siuman. Apa kau mau pergi menengok nya"


"Jika suatu hari kau ingin kembali pada nya, aku akan ikhlas Meidina. Jika bersama ku kau tidak bahagia"


"Bagaimana pun juga,aku sudah memaksa mu menikah. Aku tidak akan menyentuh mu, jika kau belum mencintai ku"


Ucapan Musa membuat hati Meidin teriris, Musa yang selalu ada untuk nya di kala susah dan senang. Jika Musa meninggal kan Meidina, apakah Meidina akan bertemu dengan orang yang sangat tulus seperti Musa? Ku rasa tidak.


Meidina mendekati tubuh Musa.


"Ku mohon, jangan kata kan hal seperti itu lagi. Aku akan mencintai mu, seperti kau mencintai ku" ucap sendu Meidina.


Musa mengelus rambut Meidina yang terurai panjang, ia mencium kening istri nya.


Cup.


"Sudah,jangan menangis. Aku tidak mau melihat kau menangis" ucap Musa, menghapus air mata Meidina.

__ADS_1


"Sudah sebaiknya kita tidur, besok pagi Ayah Hamzah meminta kita datang menemui nya" ucap Musa.


Musa menggendong Meidina ala bridal style, ia membaringkan kan tubuh istri nya di ranjang. Saat akan bangkit, Meidina menarik tangan Musa, yang membuat adik kecil suami nya sontak terbangun merasa kan getaran.


"Mau kemana?" tanya Meidina.


"Aku akan tidur di sebelah mu" jawab Musa gugup.


"Kita belum melakukan malam pertama selama ini, apa kau mau?" goda Meidina.


Blush.


Pipi Musa mendadak merah merona.


"Aku dengar, jika seorang istri mengajak duluan suaminya. Ia akan mendapat kan pahala yang banyak, jadi apa kah kau mau,hm" ucap Meidina mencolek hidung Musa.


"Ta-tapi, aku belum siap" ucap Musa gugup.


"Kenapa hm"


"Aku masih perjaka" ucap Musa, ia memaling kan wajah nya seketika karena malu.


Dan ketika itu juga,Meidina terdiam. Apa dia masih perawan,dia juga sudah pernah menikah dan hamil. Berbeda sekali dengan Musa, Musa masih menjaga kesucian nya meski pun ia laki-laki.


"Dan aku sudah tidak perawan lagi" saut Meidina, raut wajah ceria berubah seketika, menjadi raut wajah suram.


Musa menyentil kening Meidina,itu yang membuat Meidina merintis kesakitan.


"Auw" rintih nya.


"Itu karena kau sudah pernah menikah" ucap Musa yang kali ini Musa menarik hidung Meidina.


Meidina segera bangkit dari tidur nya, ia mendorong Musa. Kini Musa terduduk di samping Meidina.


"Lalu, kenapa kau menikahi ku?. Kau kan bisa mencari gadis lain, aku hanya seorang janda" saut Meidina.


"Itu karena aku mencintai mu, karena aku ingin kau bahagia. Meskipun cara ku salah, tapi aku sangat serius dan bersungguh - sungguh Meidina" ucap Musa, ia membelai rambut Meidina.


"Aku berharap, Arsakha dapat menerima takdir nya saat ini. Semua manusia pasti pernah melakukan kesalahan, dari kesalahan itu kita belajar banyak arti dari makna kehidupan" ucap Musa, Meidina mengangguk kan kepala yang arti nya ia mengerti.


"Apa yang tadi kita lanjutkan" sambung Musa, ia berbicara tepat di telinga Meidina yang membuat nya geli.


"Apa? aku tidak tahu" elak Meidina.


"Yang tadi itu" saut Musa mengerutkan kening nya.


Meidina mengangkat kedua bahu nya. Musa langsung segera menyambar Meidina, dan kembali menindih nya.

__ADS_1


"Aku akan melepas keperjakaan ku malam ini, bersiap lah sayang" ucap Musa.


Ia langsung memulai ritual nya, layak nya seorang suami dan istri pada biasa nya. Ketika pertama kali melakukan nya, tingkah malu selalu muncul di antara kedua nya. Namun mereka menikmati malam yang dingin,dengan kehangatan karena menyatu kan tubuh.


Author : apa?, jangan minta adegan nya lebih panjang dan panas okei😭


Malam berganti menjadi pagi, Musa terbangun. Untuk pertama kali nya ia melihat tubuh istrinya, tanpa sehelai benang pun.


Ia mencium bertubi - tubi Meidina, mulai dari pipi, hidung, kening hingga ke bibir.


Aku sangat mencintamu istriku , aku harap. Kita selalu bersama-sama hingga di akhirat nanti,hidup bahagia bersama anak-anak kita. Batin Musa.


Ia bangkit dari tidur nya, melihat jam di dinding sudah pukul empat dini hari. Musa membangunkan Meidina, "Sayang bangunlah, mari kita sholat subuh bersama" ucap Musa, ia menggoyang-goyang kan tubuh istri nya.


Meidina terbangun, ia mengucek mata nya dan menguap.


"Sudah akan subuh kah?"tanya Meidina.


"Hm, sebaik nya kita bersih kan badan kita" jawab Musa.


"Jangan lupa, keramas dan mandi wajib setelah berhubungan" ucap Musa, ia mengucapkan tepat di telinga Meidina.


Sontak Meidina langsung mengambil selimut, dan berlari menuju kamar mandi. Terlihat jelas pipi nya memerah, musa hanya tertawa kecil melihat tingkah lugu istri nya.


"Istriku yang sangat manis" gumam Musa, ia memegang kening nya sambil menggeleng kan kepala nya.


Meidina keluar, sekarang tinggal Musa yang membersihkan badan nya. Beruntung nya, di kamar ada handuk. Jadi Musa bisa menutup tubuh bawah nya, agar tidak membuat sang istri tersipu malu kembali.


Aku sangat malu sekali, seolah-olah aku lah yang sedang di goda. Padahal, aku yang mencoba menggoda suamiku . Gumam Meidina dalam hati nya.


Mereka melaksanakan ibadah sholat subuh bersama, setelah melaksanakan ibadah. Musa meminta Meidina membaca kitab suci al-quran, dengan catatan. Jika Meidina salah, ia harus menerima hidung nya di tarik oleh Musa.


"Siapa takut" saut Meidina, merasa tertantang.


Meidina membaca nya dengan gugup, sudah beberapa kali ia salah. Dan Musa mengajari nya dengan benar, Musa juga menarik hidung Meidina dan mencubit pipi nya sebagai hukuman yang harus ia terima.


"Terlalu panjang"


"Terlalu pendek"


"Atur nafasmu"


Begitu lah Musa mengajari istri nya,agar membaca dengan fasih dan benar. Sebuah telepon menghentikan kegiatan mengaji mereka, Musa segera mengambil ponsel nya. Ia mengangkat telepon tersebut.


"Halo, Assalamualaikum" ucap salam Musa.


Tiba-tiba, Musa menjatuh kan ponsel itu. Ia pun juga terjatuh lemas, Meidina yang panik langsung mendekati nya.

__ADS_1


"Ada apa?" ucap Meidina, ia masih memakai mukena. Musa memeluk nya, dan tiba-tiba ia menangis.


__ADS_2