
Hari silih berganti dengan cepat, keadaan Stella semakin hari bukannya membaik justru semakin memburuk. Stella kini sering sakit kepala dan mudah lemas. Xander masih belum tahu keadaannya karena Stella selalu terlihat baik-baik saja di rumah.
Seperti pagi ini, Stella menyisir rambutnya yang semakin hari semakin tipis. Pipinya pun semakin tirus dan tubuhnya kurus. Tapi Stella sama sekali tak peduli dengan keadaannya sendiri, ia lebih memikirkan keadaan bayinya, yang terpenting bayinya sehat-sehat saja, sudah itu saja.
"Sayang, baju aku mana?" Xander terlihat keluar kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya, ia menggosok-gosok rambutnya yang setengah basah.
"Oh udah selesai? Hari ini jadi berangkat ke Kalimantan?" Stella bangkit dari duduknya, mengambilkan baju setelan suaminya untuk bekerja.
"Ya, aku harus datang kesana karena ada masalah di perusahaan. Kau tidak apa-apa 'kan aku tinggal?" sahut Xander sebenarnya masih ragu jika meninggalkan istrinya keluar kota.
"Iya by, aku nggak apa-apa. Nanti biar Mama yang nemenin aku di rumah," kata Stella tak keberatan sama sekali, ia menyerahkan baju-baju Xander agar pria itu segera memakainya.
"Terima kasih, kamu kalau ada apa-apa jangan ragu buat hubungi aku," ucap Xander mengelus pipi Stella sebelum memakai bajunya.
"Nggak ah, gimana kalau kamu sibuk?" ucap Stella memperhatikan suaminya berganti baju, hanya berganti baju saja Xander terlihat sangat menarik, sepertinya mau dalam keadaan apapun, Xander tidak pernah terlihat jelek.
"Nggak ada kata sibuk kalau buat kamu," kata Xander serius.
"Gimana nanti kalau kamu lagi meeting atau apa? Nggak mungkin 'kan kamu berhenti cuma buat ngangkat telepon aku," kata Stella mencari-cari alasan.
Xander memainkan mulutnya, ia menyelesaikan bersiapnya lalu menarik wanita itu agar duduk di pangkuannya.
"Jangan cari alasan, pokoknya aku akan selalu ada buat kamu. I'll give you everything," ucap Xander mencium pipi Stella gemas.
"Gombal banget, kalau aku minta dibuatkan seribu candi kaya Roro Jonggrang, emang kamu bisa?" ucap Stella merasa ucapan suaminya terlalu gombal.
"Akan aku usahakan, kalau bisa, aku malah ingin memberikan seluruh isi dunia ini buat kamu," kata Xander terdengar gombal, namun ia sangat serius dengan ucapannya.
"Berikan saja duniamu untuk anak kita nanti, kau harus selalu ada di setiap lembaran cerita yang dia lalui," ucap Stella menepuk-nepuk dada Xander pelan.
"Kalau itu pasti dong," sahut Xander.
"Ya, tugasmu nanti akan semakin berat by. Jika anak kita lahir, disitulah peran orang tua akan sangat dibutuhkan. Peran seorang Ayah yang menyambutnya pertama kali di dunia ini, seorang Ayah yang menyokong anak kita disaat terendahnya. Dan, saat anak kita tumbuh dewasa nanti, kamu akan berperan menjadi seorang Ayah yang mengandeng tangan anak kita untuk menjemput kehidupan yang baru," ucap Stella tersenyum hanya dengan membayangkan hal indah itu.
Xander terdiam, ia merasa tersentuh dengan kata-kata Stella yang mengharukan. Ia lalu mengambil tangan Stella lalu menciumnya.
__ADS_1
"Sampai saat itu tiba, kau mau terus mendampingiku 'kan? Kita akan bersama-sama mengantarkan anak kita ke pelaminan," ucap Xander lembut.
"Hm, tapi aku rasa, saat kau tua nanti, kau akan tetap menjadi Ayah terganteng dan terkeren di dunia ini," ucap Stella menanggapi perkataan Xander dengan guyonan, ia tak bisa menjanjikan hal yang hanya berupa harapan semua.
"Sudah mulai pinter gombal ya," ucap Xander mencubit gemas hidung Stella.
"Istrinya siapa dulu dong?" sahut Stella dengan cuping hidung yang mengembang, ia malu sendiri saat mengatakan hal itu.
"Yang pasti istri aku," bisik Xander mengeratkan pelukannya pada Stella.
"Mana mungkin aku istrinya Pak Wang," kata Stella asal saja.
"Eits, tidak boleh dong. Kau harus ingat kata-kataku, Stella milik Xander dan Xander milik Stella, forever to die," ucap Xander kini memandang Stella sangat serius.
Stella kembali tersenyum, momen ini adalah momen yang sangat membahagiakan untuk dirinya. Ia mendekatkan wajahnya mencium bibir Xander dan langsung dibalas lembut oleh Xander.
Ciuman hangat penuh perasaan tanpa balutan nafsu itu terasa sangat menyenangkan. Tapi Xander tetaplah Xander yang mudah terpancing hanya karena sebuah ciuman, ia memperdalam ciumannya pada bibir Stella.
Namun, ia merasakan ada yang berbeda, rasa asin dan anyir membuat Xander membuka matanya. Seketika ia terkejut saat melihat hidung istrinya yang berdarah.
Stella sendiri tak kalah kagetnya, ia menyentuh hidungnya yang terus mengeluarkan darah. Xander bahkan terkena sedikit darahnya.
"Kau kenapa? Kita harus ke rumah sakit," ucap Xander panik tentunya. Kenapa Stella tiba-tiba mimisan.
Stella menggelengkan kepalanya, ia segera berlari ke kamar mandi untuk membasuh darahnya. Xander mengikuti Stella tapi ponselnya berdering. Terlihat Luke yang menghubunginya membuat Xander langsung mengangkatnya.
"Sebaiknya ini penting!" bentak Xander tak bisa mengontrol nada bicaranya karena terlalu panik.
"Maaf Tuan, Saya hanya ingin mengatakan kalau pesawat Anda akan take off setengah jam lagi,"
"Batalkan saja penerbanganku hari ini. Kita tunda besok," ucap Xander tak memikirkan apapun lagi. Baginya Stella lebih penting dari apapun di dunia ini.
"Tapi Tuan ..."
"Lakukan saja perintahku atau kau aku pecat!" Xander kembali membentak kesal.
__ADS_1
"Tidak perlu By," Stella melarang saat mendengar suaminya akan membatalkan penerbangan.
"Stella, bagaimana keadaanmu? Kau kenapa? Kenapa bisa mimisan? Ayo kita ke dokter," ucap Xander mengabaikan teleponnya, ia langsung memegang lengan istrinya erat.
"Aku baik-baik saja by, sepertinya aku harus istirahat lebih banyak lagi," kata Stella.
"Tidak tidak, kau tidak baik-baik saja. Kau harus di periksa Dokter," ucap Xander tak percaya istrinya baik-baik saja, ia segera menggandeng tangan Stella untuk turun ke bawah.
"By, aku beneran nggak apa-apa kok. Cuma butuh istirahat doang," Stella tetap kekeh tidak mau diajak pergi.
"Stella!" bentak Xander dengan suara tertahan. "Aku mohon jangan keras kepala, aku yakin kau sedang menyembunyikan sesuatu. Ayo ke rumah sakit," ucap Xander sangat cemas sekali.
"By, kamu nggak percaya sama aku? Aku nggak sakit kok. Kamu jangan terlalu khawatir," ujar Stella.
"Kau istriku! Mana mungkin aku tidak khawatir denganmu Stella!" sumpah demi apapun, Xander rasanya ingin sekali mengumpat marah saat ini.
"Aku yang lebih tahu keadaanku By. Percayalah aku baik-baik saja," kata Stella namun tak membuat Xander percaya begitu saja.
"Gini aja deh, Hubby berangkat aja ke Kalimantan, nanti aku akan periksa dengan Mama, gimana?" ucap Stella mencoba bernegosiasi dengan suaminya.
"Tidak, aku yang akan menemanimu periksa." Xander berucap tegas.
"By please, dengarkan aku kali ini saja. I'm Fine and okey, aku akan lebih marah kalau kamu nggak mau dengerin aku," ucap Stella terpaksa mengeluarkan ancamannya agar Xander tidak membawanya ke rumah sakit.
"Aku nggak ngerti sama jalan pikiran kamu," ucap Xander tak tahu harus membujuk istrinya ini.
Happy Reading.
Tbc.
Mampir ke novel teman author yuk Kak ...
Judul : Wanita Milik Tuan Mafia ( Cinta Alisha )
Author : Nurmay
__ADS_1