Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam

Penyesalan Suami : Pernikahan Balas Dendam
Mengahadapi Masalah.


__ADS_3

Stella sudah begitu sibuk di dapurnya, ia sengaja bangun pagi-pagi sekali karena ingin membuatkan sarapan untuk suaminya. Untuk pembantu yang ditugaskan oleh Xander di rumah ini sepertinya belum mulai bekerja, jadi Stella mengerjakan semuanya sendiri.


"Akhirnya selesai juga, sekarang aku tinggal bangunin Xander," ujar Stella tampak puas menatap semua makanan yang sudah terhidang rapi di meja.


Stella lalu beranjak pergi untuk membangunkan suaminya, namun saat di tangga bawah, ia hampir saja bertabrakan dengan Xander, pria itu tampak tergesa-gesa membuat Stella mengerutkan dahinya.


"Hubby udah bangun? Baru aja aku mau panggil," ucap Stella memandang Xander yang sudah rapi dengan setelan jas hitamnya.


"Ya, aku mau berangkat dulu ke kantor," sahut Xander terburu-buru, ia langsung mencium kening Stella lalu beranjak pergi begitu saja.


"Eh, tunggu dulu by, kamu nggak sarapan dulu? Aku udah masak banyak loh," ucap Stella menahan tangan Xander sebelum pria itu pergi.


"Aku sarapan di kantor aja nanti," ucap Xander benar-benar sudah tak sabar ingin ke kantornya, ia harus segera menyelesaikan semua masalah yang terjadi hari ini sebelum melebar kemana-mana.


"Apa ada masalah?" tanya Stella seolah tahu apa yang terjadi dengan suaminya, karena tak biasanya Xander bersikap seperti ini.


Xander menghela nafas panjang, dia harus mengendalikan dirinya. Jika ia terus bersikap seperti ini, Stella pasti akan curiga.


"Ya ada sedikit masalah dan aku harus menyelesaikannya," ucap Xander merasa waktunya belum cocok jika ia menceritakan masalahnya sekarang.


"Setidaknya sarapan dulu ya, aku udah masak banyak," ucap Stella perhatian, ia tak ingin suaminya lupa makan jika sudah bekerja nanti.


Xander mengangguk pasrah seraya mencoba tersenyum tipis, meski saat ini hatinya sedang ketar-ketir ia tak boleh mengabaikan begitu saja perhatian Stella. Apalagi wanita itu sudah bersusah payah membuatkan sarapan untuknya.


"Nah gitu dong, ayo makan dulu, hari ini aku masak makanan kesukaan hubby," ujar Stella menggandeng lengan suaminya menuju ruang makan.


"Kamu nggak perlu capek-capek, mungkin pembantu yang akan bekerja di sini besok sudah mulai bekerja," ucap Xander menyempatkan diri untuk mencium pipi Stella.

__ADS_1


"Nggak capek, cuma masak gini doang masak capek sih," ucap Stella justru senang jika dia punya aktivitas.


"Ya, tapi kamu tetap harus jaga kesehatan Sayang, kamu sedang hamil," ucap Xander mendudukkan dirinya di kursi. "Ini kamu semua yang masak?" tanya Xander begitu terkejut melihat banyaknya makanan yang terhidang di meja.


"Ya, nanti sekalian aku mau nganterin ke rumah Mama, aku juga udah lama banget nggak ke panti. Hari ini aku boleh ke sana 'kan?" ucap Stella memang sudah merencanakan akan hal itu.


"Oh, jadi ini ceritanya merayu gitu?" ucap Xander menarik sudut bibirnya.


"Hahaha bukan, aku memang sengaja memasak ini spesial untuk hubby tahu," ucap Stella memasang wajahnya yang imut.


Xander ikut tersenyum melihat hal itu, setidaknya ia masih bisa melihat senyum istrinya di antara masalah yang sedang menerjang dirinya.


"Nanti kamu biar diantar sopir, nggak perlu ke rumah Mama, biar mama aja yang ke sini," ucap Xander baru ingat kalau saat ini rumahnya sedang dikepung oleh wartawan, jika Stella pergi ke sana, Stella pasti akan tahu semuanya.


"Aku naik mobil sendiri nggak apa-apa, aku sekalian mau belanja kebutuhan rumah," ucap Stella tak keberatan jika membawa mobil sendiri.


"Tapi aku pengen belanja sendiri, gimana dong?" ucap Stella memandang Xander dengan raut wajah memohon. Ia benar-benar bosan jika di rumah terus.


"Kalau begitu, tunggu aku pulang saja. Nanti aku akan menjemputmu di panti sekalian kita belanja," ucap Xander tak berkutik jika Stella sudah memasang wajah seperti itu.


"Makasih by," ucap Stella mengembangkan senyum manisnya, ia senang sekali rasanya karena Xander mau mengantarkannya berbelanja.


"Ya, aku berangkat dulu kalau begitu. Kamu baik-baik di rumah, nanti akan ada supir ya datang," ucap Xander sudah menyelesaikan sarapannya.


Stella mengantarkan Xander sampai ke depan pintu, pria itu masih berlama-lama menciumi perutnya sebelum pergi ke kantor. Stella tersenyum seraya melambaikan tangannya, rasanya hidup seperti ini saja sudah sangat indah.


*****

__ADS_1


"Bagaimana Pa? Papa sudah mengurus semuanya?"


Melisa menghampiri suaminya yang sedang duduk di kursi kebesarannya, semalam ia sudah membicarakan semua tentang Joana dan segera menyuruh suaminya untuk mengurus masalah Xander. Melisa tak akan membiarkan pria itu lolos karena sudah membuat putrinya menderita seperti ini.


"Ya Papa sudah memberikannya sedikit ancaman kecil, saat ini saham perusahaannya sudah turun 30%," sahut Medison mengawasi semua pergerakan yang dilakukan Xander dari anak buah yang ditugaskan untuk mengintai pria itu.


"Papa harus ingat, Papa harus membuat pria itu hancur dan memohon kepada kita. Mama ingin pria itu mempertanggungjawabkan semua kesalahan yang dilakukan pada Joana," ucap Melisa dengan emosi yang menyala-nyala.


"Sebenarnya hal seperti ini tidak perlu dilakukan karena Mama tahu kalau Joana bukanlah putri kandung kita," ucap Medison memang sengaja tidak begitu mengurus permasalahan Xander karena Joana bukanlah putrinya kandungnya, ia lebih fokus mencari putri kandungnya yang asli daripada mengurus masalah yang menurutnya tidak penting.


"Cukup Pa! Berhenti menganggap Joana itu bukan putri kita, dia itu anak kita Pa, anak yang Mama lahirkan dan Mama besarkan. Mama tidak percaya kalau Joana itu bukan anak kandung kita," ucap Melisa menolak kenyataan yang ada.


"Ma, kita semua sudah tahu buktinya kalau Joana itu bukan anak kita. Asal Mama tahu, Papa lakukan ini semata-mata hanya karena Mama bukan karena anak itu," ucap Medison dengan suara tegasnya, ia sudah tidak bisa percaya kalau Joana itu adalah putrinya. Lagipula setelah dipikir-pikir, wajah Joana memang tidak mirip dengannya ataupun dengan istrinya, bahkan kelakuannya pun sangat jauh berbeda dari mereka.


"Terserah! Yang penting Mama mau Papa membawa Xander untuk Joana. Dia harus menceraikan Stella dan mau menikahi Joana!" ujar Melisa tidak peduli harus menggunakan cara licik untuk membuat Xander kembali pada Joana, baginya putrinya lebih penting dari segalanya.


Madison hanya diam saja ia memijit pelipisnya yang mendadak berdenyut. Ia tidak tahu kenapa istrinya bisa bersikap egois seperti ini, padahal biasanya Melisa orang yang sangat bijak dan memikirkan semuanya dengan matang-matang.


"Halo Arash, apa kau sudah melakukan apa yang aku minta?" Medison menghubungi seseorang dengan ekspresi wajahnya yang serius.


"Jangan! Jangan ke rumah, bawa saja ke kantor, aku akan melihatnya di sana nanti,"


Happy Reading.


Tbc.


Usahakan tinggalkan jejak ya gengs...

__ADS_1


Othor nggak minta muluk-muluk, cuma kasih like dan komen aja uda seneng ..


__ADS_2