
"Sejak kapan hubby di sana?" tanya Stella kaget, kesal namun juga gemas dengan kelakuan suaminya ini.
"Menurutmu sejak kapan?" tanya Xander masih dengan senyum indahnya, ia berjalan mendekati Stella yang juga berjalan kearahnya.
"Jangan bilang hubby memang sejak tadi sudah ada disini?" tuduh Stella menatap suaminya dengan curiga.
Xander hanya tertawa akan tuduhan istrinya, Stella yang menyadari sudah di tipu oleh suaminya begitu kesal sekali.
"Ih, nyebelin banget sih!" seru Stella memukul-mukul dada suaminya. "Nyebelin, nyebelin!"
Xander semakin tertawa dan membiarkan saja apa yang dilakukan Stella, ia memang sudah ada di panti saat Stella menghubunginya tadi, namun ia memang belum masuk, tapi Stella sudah lebih dulu menghubunginya.
"Aduh, aduh, kenapa kau menyakiti suamimu, aku baru pulang loh," ucap Xander menangkap tangan Stella.
"Biarin, siapa suruh ngeselin," ucap Stella masih begitu sebal rasanya.
"Ngeselin tapi ngangenin 'kan?" Xander mengerlingkan matanya menggoda.
"Idih, nggak tuh," celetuk Stella menyangkal.
"Ya udah aku pergi aja kalau gitu," ucap Xander berpura-pura ingin keluar.
"Eh, jangan dong, baru juga pulang, masa mau pergi lagi sih?" ucap Stella menahan tangan suaminya.
"Berarti kangen 'kan?" Xander tersenyum menggoda, ia suka sekali melihat wajah istrinya yang bersungut-sungut kesal namun juga terlihat cantik.
"Udah deh by, jangan menggodaku. Ayo kita berangkat belanja sekarang, nanti kemalaman lagi," ucap Stella merengek karena Xander terus saja menggodanya.
"Eits, aku baru pulang kerja loh, aku capek," ucap Xander menahan tangan Stella, ia lalu menyandarkan kepalanya di pundak wanita itu.
"Banyak kerjaan ya hari ini?" tanya Stella mengelus lembut kepala suaminya.
"Iya, banyak banget," ucap Xander memejamkan matanya seraya mencium leher istrinya yang menenangkan.
"Mau aku pijitin?" ucap Stella tak tega juga melihat suaminya kecapekan.
"Enggak, tapi butuh amunisi," ucap Xander memandang istrinya sendu.
Stella menundukkan wajahnya menatap Xander. "Ehm, mau sekarang?" tanya Stella sudah hafal sekali tatapan suaminya ini.
__ADS_1
Xander mengangguk cepat-cepat membuat Stella cukup bimbang. Ia lalu menatap ranjangnya yang terlihat kecil. Jika Xander mengajaknya bercinta di sana pasti tidak akan nyaman mengingat bagaimana kelakuan bar-bar pria itu. Belum lagi kamarnya itu tidak kedap suara.
"Bagaimana kalau nanti di rumah saja?" ucap Stella bukan ingin menolak keinginan suaminya, tapi ia tak ingin gegabah untuk melakukan hal itu di sembarang tempat, apalagi di sana banyak anak kecil.
"Kenapa harus menunggu sampai rumah? Sekarang saja," ucap Xander ngotot.
"By, disini itu kasurnya sempit, nanti bagaimana kalau ada yang mendengar?" ucap Stella mencoba menjelaskan kepada suami mesumnya ini.
"Memangnya kenapa harus di kasur?" tanya Xander mengerutkan dahinya. "Jangan bilang kau berpikir kalau aku akan mengajakmu bercinta?" sambung Xander tertawa geli menyadari apa yang dipikirkan istrinya ini.
"Hah? Bukannya hubby-" Stella tak lagi melanjutkan ucapannya, ia menatap Xander yang masih tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha, ternyata pikiranmu tak sepolos yang aku kira Nona Stella," Xander semakin tertawa.
"Ih! Terusan minta apa dong! Katanya tadi minta amunisi!" Stella memekik kesal seraya kembali memukul suaminya.
"Amunisi bukan berarti bercinta, tapi aku minta ini," ucap Xander menyentuh bibirnya seraya masih terus tertawa.
"Bodo amat! Aku ngambek pokoknya," ucap Stella melipat tangannya di atas perut, ia malu karena sudah berpikiran mesum seperti tadi.
"Kalau ngambek aku cium nih," ucap Xander kembali meraih pinggang Stella untuk mendekat.
"Tapi aku mau," ucap Xander mendekatkan wajahnya hingga kening mereka berdua beradu.
Stella terdiam menatap mata Xander yang bergerak-gerak menatapnya. Xander lalu mengulurkan tangannya untuk mengusap bibir Stella sebelum menciumnya, tapi Stella langsung menggelengkan kepalanya hingga bibir mereka tidak jadi bersentuhan.
Xander mengerutkan dahinya, ia tak menyerah dan kembali mendekatkan wajahnya, tapi Stella juga menghindar membuat Xander tersenyum tipis.
"Gadis nakal," bisik Xander gemas sekali rasanya.
"Pria menyebalkan," sahut Stella mengulas senyum tipisnya.
Xander ikut tersenyum, ia memegang kedua pipi Stella lalu mencium bibirnya sangat dalam. Kali ini Stella tak menolak, ia melingkarkan tangannya ke leher Xander. Semakin lama ciuman mereka semakin dalam dan basah, erangan kecil beberapa kali terdengar dari mulut keduanya. Kalau saja tidak ingat mereka sedang berada di panti, mungkin Xander sudah mendorong wanita itu ke ranjang.
"Terima kasih, capek aku langsung hilang," bisik Xander mengusap bibir Stella yang bengkak karena ulahnya.
Stella hanya tersenyum malu, ia tak tahu harus bersikap bagaimana jika Xander seperti itu.
"Kita akan berangkat sekarang, sekalian pamitan sama ibu panti," ucap Xander merangkul pinggang Stella seraya mengajak wanita itu pergi.
__ADS_1
"By, tunggu sebentar," Stella menahan tangan Xander kembali, ia lalu mengambil tisu di dalam tasnya.
"Kenapa?"
"Ada bekas lipstik ku disini," ucap Stella mengusap sudut bibir Xander yang terlihat memerah karena ciuman mereka barusan.
Xander menyeringai. "Biarkan saja, biar orang melihat kebahagiaan kita," ucap Xander sekenanya.
Stella mencibir, ia segera membersihkan bekas lipstik itu lalu mereka berdua berpamitan kepada ibu panti dan langsung menuju Mall untuk berbelanja.
Pertama-tama, Stella membeli beberapa kebutuhan rumah seperti sayuran dan juga buah-buahan. Xander sebagai suami siaga, terus mengikuti istrinya seraya mendorong troli belanjaan mereka. Ia sama sekali tidak malu saat ada orang yang berbisik-bisik membicarakannya.
"Belanja apalagi ya by?" tanya Stella mengingat-ingat bahan apa saja yang dibutuhkannya.
"Memangnya apa lagi?" tanya Xander juga tidak paham apa saja yang Stella butuhkan.
"Kayaknya udah deh by," ucap Stella merasa semuanya sudah cukup.
"Ya udah, aku bayar dulu, habis itu kita makan," ucap Xander menggandeng tangan Stella menuju kasir untuk membayar semuanya.
"Eh susu, kamu tadi yang masukin by?" tanya Stella terkejut saat melihat beberapa kotak susu ibu hamil ada di troli.
"Ya, aku lihat kau jarang meminumnya. Ini sangat bagus untukmu dan anak kita nanti," ucap Xander memang sering memperhatikan Stella yang tidak pernah minum susu hamil, jadi ia berinisiatif membelikannya.
"Makasih by," ucap Stella tersenyum senang.
Xander balas tersenyum seraya mengelus rambut Stella, ia lalu membayar semua belanjaan mereka dan mengajak Stella makan di salah satu restoran di sana.
"By, aku tinggal ke toilet sebentar ya," ucap Stella mendadak ingin pipis.
"Akan aku antar," ucap Xander bangkit dari duduknya.
"Nggak usah, aku hanya sebentar kok by," ucap Stella menolak dan langsung pergi begitu saja.
Xander memperhatikan Stella sampai lenyap dari pandangannya, ia lalu membuka ponselnya seraya menunggu Stella kembali. Namun tiba-tiba ia dikejutkan dengan kedatangan orang yang sama sekali tidak diharapkan kehadirannya.
Happy Reading.
Tbc.
__ADS_1