
Xander mengangkat alisnya saat melihat ekspresi takut di wajah Stella. Heran kenapa Stella begitu takut padanya, tapi baguslah jika Stella takut, wanita itu tidak akan berani lagi melawannya.
"Makan!" ucap Xander menunjuk makanan dengan dagunya.
"Kenapa?" ucap Stella memandang Xander sendu. "Kenapa kau harus menahan ku disini? Apa yang sebenarnya kau inginkan?" sambung Stella kemudian.
"Jangan mengulangi pertanyaan yang sama. Kau tahu jelas alasanku tak akan melepaskan mu," kata Xander sedikit terusik dengan tatapan mata sendu itu.
"Kau ingin aku hancur 'kan? Aku sudah hancur Xander, aku sudah kehilangan semuanya. Keluarga dan semua yang aku punya, sekarang apalagi yang ingin kau hancurkan?" ucap Stella menangis lirih. Ia kemudian bangkit dari duduknya dan mendekati Xander yang hanya diam terpaku.
"Tolong lepaskanlah aku Xander, aku akan pergi jauh, bahkan bayanganku tak akan pernah kau lihat. Kau bisa hidup tenang bersama Joana," kata Stella mengatupkan kedua tangannya, memohon dengan wajahnya yang sudah basah karena air matanya.
Meski sakit jika membiarkan Xander bersama wanita lain, tapi itu yang terbaik. Xander tak akan pernah melihatnya sampai kapanpun karena hati pria itu sudah tertutup oleh dendam dan amarah.
Xander mendengus kesal, ia memegang kedua lengan Stella erat. "Kau memang licik, kau ingin aku kembali pada Joana agar kau bisa bersatu dengan pria itu 'kan?" ucap Xander.
"Tidak Xander, aku tidak punya hubungan apapun dengan Daniel. Aku akan pergi sejauh mungkin dari hidup kalian," kata Stella menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak percaya padamu," ucap Xander mendorong Stella hingga wanita itu hampir saja terjatuh.
"Aku mengatakan yang sebenarnya Xander, tolong lepaskan aku, biarkan aku pergi," kata Stella tak menyerah untuk membuat Xander berubah pikiran.
Tapi hal itu justru membuat Xander kesal karena berpikir Stella akan kabur bersama Daniel.
__ADS_1
"Jangan melewati batasanmu! Aku tidak akan membiarkanmu pergi sampai kapanpun Stella!" kata Xander dengan suara tegasnya. Ia langsung saja pergi dari kamar itu karena tak ingin meladeni Stella yang membuat emosinya kembali naik. Ia tak berjanji untuk tidak melukai wanita itu jika sampai sedikit saja Stella memancing amarahnya.
*****
Stella menghabiskan waktunya hanya dengan berdiam diri di kamar, ia tak pernah keluar dari sana karena tak ingin lagi bertemu Xander. Mencoba keluar pun percuma karena penjagaan disana sangat ketat. Sebuah buku diary kecil yang berwarna biru muda menjadi teman Stella disana. Ia menuangkan segala perasaan yang dialaminya melalui sebuah tulisan daripada tangisan.
Sudah dua minggu ini Stella tak pernah bertemu dengan Xander, pria itu jarang terlihat di rumah dan tak pernah menemuinya lagi. Stella cukup senang karena Xander tak lagi menyiksanya, namun ia juga ingin sekali keluar dari tempat itu.
"Nona, saatnya makan siang," ucap Ming seperti biasanya mengantarkan makan siang untuk Stella tepat waktu.
"Terima kasih," ucap Stella tanpa menoleh.
"Ayo makan sekarang Nona mumpung makanan ini masih hangat, Saya juga membawakan Anda vitamin agar kandungan Anda sehat," kata Ming dengan suara ramahnya.
Stella mengerutkan dahinya, ucapan Ming sontak membuat ia menatap wanita itu heran.
Ming sedikit terkejut dengan pertanyaan Stella. Ia lupa dengan hal yang baru saja diucapkannya. "Saya, ehm …" Ming bingung harus menjelaskan bagaimana.
"Ming, kau tahu darimana? Apakah Xander?" tanya Stella sedikit mendesak.
"Tidak Nona, Saya akan menjelaskannya pada Anda," kata Ming menatap lekat wajah Stella.
"Apa maksudmu?" ucap Stella antara bingung dan cemas menjadi satu.
__ADS_1
Ming menghela nafasnya berkali-kali, ia mengunci pintu kamar Stella terlebih dulu lalu menghampiri Stella yang sudah tak sabar menunggu penjelasan darinya.
"Ming, Ada apa ini?" tanya Stella tak sabar.
"Nona, sebenarnya Saya bekerja disini karena perintah Tuan Daniel," ucap Ming.
"Daniel?" Stella menutup mulutnya tak percaya.
"Ya benar, waktu itu …" Ming menjelaskan bagaimana awal mula ia bisa bekerja disana. Saat itu Xander memang mencari orang untuk bekerja di Apartemennya, Daniel yang sudah mengawasi gerak-gerik pria itu pun langsung sigap memutar otak agar bisa mencari celah untuk menyelamatkan Stella.
Untuk itulah ia menyuruh Ming untuk melamar pekerjaan itu agar ia bisa tahu kondisi Stella dan tentunya menyusun rencana dengan sangat matang. Daniel tak ingin gegabah dan nanti bisa membahayakan Stella jika sampai penyamaran Ming terbongkar, maka dari itulah ia menyuruh Ming untuk berpura-pura berada di pihak Xander. Jika nanti mereka lengah, barulah Daniel bergerak untuk menyelamatkan Stella.
"Jadi selama ini?" Stella tak bisa menutupi rasa kagetnya mendengar penjelasan Ming.
"Ya benar Nona, untuk saat ini Saya belum bisa membebaskan Anda karena penjagaan Tuan Xander sangat ketat. Semoga Anda bisa bersabar Nona," ucap Ming jujur ikut prihatin dengan apa yang dialami Stella.
"Tapi Ming, bagaimana kalau Xander sampai tahu?" kata Stella lebih mengkhawatirkan Ming ketimbang dirinya, ia tahu bagaimana marahnya Xander jika sampai dirinya dikhianati.
"Kita harus tetap berhati-hati Nona, Saya akan keluar dulu, Anda jagalah kesehatan, Tuan Daniel berpesan kepada Saya agar memastikan Anda selalu minum vitamin Anda," kata Ming menatap Stella serius.
Stella tak bisa lagi berkata-kata, ia tak menyangka kalau Daniel melakukan semua ini untuknya. Pantaslah Ming seringkali memberikan ia vitamin dengan alasan kalau vitamin itu merupakan penambah imun tubuh, tapi sebenarnya vitamin itu dari Daniel.
"Terima kasih sudah membantuku, Kak" batin Stella entah bagaimana lagi harus membalas perbuatan Daniel. Pria itu terlalu baik padanya meski ia sudah pernah mengecewakannya.
__ADS_1
Happy Reading.
Tbc.