
Luke berlarian panik melihat apa yang terjadi pada Tuannya, ia langsung menerobos masuk dan melihat Xander yang berbaring memegangi lengannya yang berdarah.
"Anda tidak apa-apa, Tuan?" tanya Luke membantu Xander untuk duduk.
Xander hanya meringis kesakitan, tangannya terlihat berdarah, lututnya juga berdarah karena menghantam jalanan dengan keras. Selain itu tidak ada hal serius yang perlu dikhawatirkan. Xander sendiri tak mau memikirkan luka itu karena yang ada di otaknya saat ini hanya sosok Stella yang sempat dilihatnya tadi.
"Aku baik-baik saja," sahut Xander mencoba bangkit meski sempoyongan karena tubuhnya yang sakit semua.
"Kita harus ke rumah sakit," Luke ikut bangkit dan menahan tangan Xander agar tidak jatuh.
"Stella, aku melihat Stella di sana," Xander bersikeras untuk mencari Stella meski tangan dan kakinya sedang terluka cukup parah.
"Dimana,Tuan?" tanya Luke terkejut mendengarnya.
"Di sana! Aku harus kesana sekarang," ujar Xander bergegas berjalan mencari Stella yang sempat dilihatnya berada di pinggir jalan tadi.
Namun sudah tidak ada siapapun di sana, hanya beberapa orang yang berlalu lalang serta pedagang kaki lima yang masih berjajar menjajakan dagangannya.
"Stella ..." panggil Xander seraya menatap sekelilingnya, mencari apakah Stella masih ada di sana atau tidak.
"Dimana Nona Stella?" tanya Luke ikut celingkukan mencari Stella.
"Aku yakin tadi melihatnya di sini, dia bersama seorang wanita, Luke" ujar Xander menjelaskan dengan sangat yakinnya tak salah melihat orang.
"Coba kita tanyakan pada orang di sekitar sini, Tuan" meski sedikit tak percaya, namun Luke ingin membuktikan apakah yang dilihat Xander itu benar Stella atau bukan.
Xander mengangguk, ia segera bertanya ke sana kemari, menyebutkan ciri-ciri Stella apakah ada orang yang pernah melihatnya di sekitar sana atau tidak. Hampir semua pedagang dan orang yang lewat ia tanyai namun ternyata tidak ada yang pernah melihat Sheila atau mengenalnya sama sekali.
__ADS_1
"Tidak mungkin, aku benar-benar melihat Stella tadi di sini," ucap sender ingin sekali meremas kepalanya yang mendadak sakit karena memikirkan Stella.
"Kita sudah mencari tahunya Tuan, tapi tidak ada yang melihat Nona Stella disini mungkin anda salah lihat," ucap Luke.
Xander menggelengkan kepalanya, ia sangat yakin dan tidak mungkin dia salah lihat, ia sangat mengenali betul siluet tubuh istrinya meskipun itu dari jarak yang cukup jauh.
"Aku yakin Stella ada di sini," gumam Xander benar-benar yakin, hatinya pun seolah sangat yakin kalau Stella berada di kota Surabaya.
"Kita akan mencarinya lagi nanti Tuan, lebih baik kita ke rumah sakit, tangan Anda terluka parah sepertinya," ucap Luke menatap luka tangan Xander yang cukup parah tapi pria itu sama sekali tidak merasakannya.
Xander tidak membantah, ia setuju untuk dibawa ke rumah sakit karena ia juga merasakan tangannya sangat nyeri. Ia juga butuh perawatan dan pastinya tidak mungkin menemui kliennya dengan kondisi seperti ini.
*****
Stella sudah bersiap dengan rapi, setelah jalan-jalan tadi, ia langsung membersihkan dirinya dan bersiap untuk memeriksakan kandungan. Setelah itu barulah ia akan berangkat bekerja ke Restoran.
Hari ini ia akan ditemani Maira karena temannya itu ingin melihat bagaimana perkembangan bayinya, sebenarnya Daniel juga sempat meminta ia untuk menunda waktu pemeriksaannya agar pria itu bisa mengantar, namun Stella menolak karena ia cukup tak nyaman kalau pria itu bersamanya. Ia saja heran kenapa bisa seperti itu, padahal Daniel sangat baik padanya.
"Baiklah, aku juga sudah memesan grab, kita pergi sekarang saja," ucap Maira.
Stella mengangguk mengiyakan, mereka berdua lalu segera melakukan perjalanan menuju rumah sakit tempat Stella periksa yang letaknya tak jauh dari Apartemen. Tak sampai 30 menit, mereka sudah sampai di rumah sakit dan langsung menuju poli kandungan.
"Ingin memeriksakan kandungan juga?" tanya seorang salah satu ibu hamil yang berada di dekat Stella, kehamilannya terlihat sudah cukup besar mungkin sudah mendekati harinya.
"Eh? Ibu bicara sama saya?" tanya Stella sedikit terkejut saat orang itu mengajaknya bicara.
"Ya, hamil anak ke berapa?" tanya ibu itu lagi, ia tersenyum lembut membuat Stella tak enak jika tidak menanggapinya.
__ADS_1
"Anak pertama, ibu sendiri?" ujar Stella balik bertanya.
"Saya juga anak pertama, ini sudah tinggal menunggu harinya," sahut ibu itu mengulas perutnya yang membuncit dengan penuh kasih.
Stella ikut tersenyum memperhatikan perut ibu itu yang terlihat sangat menggemaskan, nanti ia juga akan seperti itu jug, pikir Stella.
Cukup lama Stella menunggu seraya memandang para ibu-ibu hamil lainnya yang periksa dengan ditemani suaminya. Stella ikut tersenyum, namun perasaannya mendadak tak enak, dia membayangkan bagaimana rasanya kalau ia juga akan ditemani Xander saat memeriksakan kandungan, Stella pasti akan menjadi wanita yang paling bahagia di dunia ini, namun nyatanya hal itu sangat mustahil terjadi.
"Nona Stella ..." panggilan dari perawat membuat pandangan Stella teralihkan, ia segera bangkit dan mengajak Maira untuk masuk ke dalam poli kandungan.
Setelah ditanya tentang bagaimana keadaan Stella, ia lalu disuruh berbaring di ranjang rumah sakit untuk bersiap melakukan USG. Ini pertama kalinya Stella melakukan USG kembali setelah 2 bulan yang lalu. Ia merasa sangat gugup dan juga tak sabar.
"Jangan tegang, bentar lagi kita akan lihat Dede bayi loh," ucap Maira mencoba menghibur Stella yang terlihat sangat gugup.
Stella tersenyum tipis, ia membuka bajunya agar dokter mudah untuk memberikan gel dan meletakkan alat USG di sana. Setelah memutar-mutar beberapa saat, terlihatlah sebuah bulatan kecil di layar monitor yang membuat jantung Stella seolah berhenti berdetak.
"Wah, bayinya sehat sekali. Sekarang sudah memasuki minggu ke-17 ya Nona. Besarnya sudah sekitar 200 gram, tungkai kakinya juga panjang, nanti sepertinya akan menjadi anak yang tinggi ini," Dokter menjelaskan saya terus memutar-mutar alat USG.
Mata Stella sudah berkaca-kaca, dunianya seketika hening seolah hanya ada dia dan sosok kehidupan kecil yang berada di layar monitor. Itu adalah anaknya, buah cinta yang sedang tumbuh di rahimnya.
"Dia anakku?" ucap Stella dengan suara tercekat, tak percaya jika ada bagian dalam diri Xander yang kini menyatu dalam dirinya.
"Bener Nona, anak Anda sangat sehat. Jika ingin melihat wajahnya dengan jelas Anda bisa melakukan USG 4 dimensi di rumah sakit yang lebih besar, namun USG ini juga sudah cukup bagus untuk melihat kondisi bayi, hanya saja jika menggunakan 4 dimensi anda sudah bisa mengetahui jenis kelaminnya," ujar dokter menjelaskan.
"Saya tidak ingin melihat jenis kelaminnya, Dok. Saya ingin menjadi kejutan nantinya," Stella mengangkat pandangannya dan tersenyum kepada Maira. Hatinya senang sekali saat tahu jika kondisi anaknya baik-baik saja.
Terima kasih Tuhan, sudah memberiku keajaiban terindah.
__ADS_1
Happy Reading.
Tbc.